
Maha patih Sastro bersama putranya Wiryo Sangkolo. Mereka berdua membawa 50 pasukan yang kemampuannya diatas para prajurit lain. Setelah berpamitan pada sang raja maha patih dan patih muda itu berangkat beserta 50 prajurit.
Sang raja dan permaisuri menyaksikan kedua patih menjalankan tugas hanya bisa berharap mereka berhasil menemukan anak gadisnya.
* * * * * * *
Ditempat lain tak jauh dari pusat kerajaan mataram sekelumpulan orang dengan serius membahas sesuatu. Meraka adalah kumpulan manusia yang haus akan kekuasaan. Ki Ageng Gumilar beserta 4 anak buahnya sedang berunding untuk melaksanakan rencana yang mereka susun sebelumnya.
Ki Juru Sentanu akan menyerang dari arah selatan, ki Kebo Abang akan menyerang pertahanan kota dari barat kota raja, ki Wanoro Seto akan menyerang bagian timur kota raja dan mengambil alih pintu gerbang sebeh utara kota raja dan ki Suro Manggolo akan menyerang di jantung kota bersama Ki Ageng Gumilar.
"Kalian berempat jalankan sesuai rencana yang telah aku susun, aku tak mau gagal!" Perintah ki Ageng Gumilar pada empat pendekar andalannya.
Ki Ageng yakin rencana yang dia susun 4 tahun lebih akan berhasil. Dan memang rencana dari ki Ageng sangat rapi serta licik dia tahu bagai mana melemahkan pertahanan kerejaan Mataram. Bahkan ki Ageng telah menguasai sebagian prajurit benteng pertahanan kerajaan Mataram.
Begitu rapinya rencana ki Ageng Gumilar sampai-sampai maha patih kerajaan mataram pun tak tahu, walau di hati raja Cokro sedit curiga dengan perdana menteri tersebut.
Mengingat ki Ageng adalah kakaknya sang raja sedikit ragu dengan apa yang dia tuduhkan. Ki Ageng adalah anak selir terkasih sang raja terdahulu. Dari sini dugan sang raja bahwa kekacauan yang terjadi di kerajaan Mataram di dalangi oleh ki Ageng. Sang raja menduga bahwa ki Ageng pasti ingin merebut kekuasaannya.
Setelah maha patih dan putranya berangkat kemataram rencana ki Ageng mulai dilancarkan. Selama ini ki Ageng menunggu waktu yang di rasa tepat. Bukan karna dia takut dengan maha patih yang terkenal sakti, tapi dia ingin mengurangi korban di pihaknya jika bentrok langsung dengan kerajaan yang di pimpin maha patih tersebut. Walau dia pun tahu maha patih tidaklah lebih hebat darinya.
Flash Back
Terlihat tiga orang pemuda yang sedang berlatih silat. Sang guru menyaksikan ketrampilan ke tiga murid tersebut.
Ageng, Sastro dan cokro... mari kesini...!" Pangil sang guru pada tiga murid yang sedang berlatih.
" ada perintah apa guru?" Tanya Ageng muda mewakili dua orang lainnya.
"Kalian memang murid baik." Ucap sang guru memuji ketiga murid tersebut. Dia bangga pada tiga murid berbakti ini. Dia memandang satu-persatu murid-muridnya.
Tiga pemuda yang duduk bersimpuh didepan sang mendengar dengan cermat apa yang guru mereka bertiga pesankan.
"Ageng, kau lah murid tertua serta yang paling hebat diantara adik-adik mu. Kamu harus menjaga mereka berdua dengan baik, bersikaplah rendah hati fikirkan baik dan buruk dalam bertindak jangan terbawa nafsu mu" pesan sang guru pada Ki Ageng Gumilar
"Sastro kau juga hebat,kekuatan tubuhmu luar biasa kuat, lindungilah saudara-saudara mu, dengan kemampuanmu guru yakin kau akan jadi orang besar. Berjalanlah pada jalan yang benar, jadilah ksatria yang selalu rendah hati , bela kebenaran dan tumpaslah kebatilan." Pesan guru pada Sastro muda, guru ini tahu bahwa satro adalah cucu dari maha patih kerjaan Mataram darah pahlawan mengalir pada anak muda ini.
"Kenapa guru tidak mendoakan aku menjadi orang hebat seperti adik-adik ku ini...apa guru tidak ingin muridmu ini jadi orang hebat atau penguasa?" Ucap Ki Ageng dengan nada bercanda, walau bercanda sebenarnya dia berkata serius hanya saja tak enak, takut menyinggung sang guru.
Dua pemuda lain hanya tersenyum mendengar ucapan kakang mereka, serta membenarkan ucapan kakang mereka itu.
"Kelak tugasmu lebih berat dari adik-adik mu ki Ageng, kau juga akan jadi orang hebat,tapi ingat tugasmu adalah menjaga adik-adik mu." Sambung sang guru.
" baik guru, aku akan menjaga mereka. Dan jika kelak aku menjadi penguasa...akan aku satukan nusantara menjadikan nya di kenal oleh semua negri sebrang." Ucap pemuda tersebut dengan penuh semangat.
Sang guru hanya bisa tersenyum melihat ambisi yang besar dalam ucapan ki Ageng. Sang guru sadar bahwa pastilah Cokro yang meneruskan tahta raja Mataram karana pemuda ini adalah anak raja dengan permaisuri jadi Cokrolah pangeran muda kerajaan mataram.
Ageng adalah anak dari selir bukan permaisuri, tapi dia ber keinginan jadi raja hebat kelak. Hal ini yang membuat rasa kawatir pada guru ini.
"Cokro apa kau juga ingin jadi raja seperti kakang mu?" Tanya guru sembari melihat murid paling muda diantara ketiganya.
"Tidak guru...aku tak ingin jadi raja biar kakang Ageng saja. Aku hanya ingin hidup damai dengan masyarakat, entah kenapa guru aku suka melihat orang-orang disekitarku bahagia?" Jawab polos cokro muda pada sang guru.
"Lalu kau Sastro?" Tanya guru pada murid yang mempunyai postur tubuh tegap dan gagah itu.
"Seperti pesan guru....aku akan jadi pembela kebenaran dan menumpas kebatilan." Jawab sastro singkat, karna pemuda ini memang tak pandai bicara seperti yang lainnya.
Ketiga pemuda ini memang akrab dari kecil hingga dewasa, sampai pada akhirnya kebencian di hati Ageng Gumilar muda pada Cokro Kusumo timbul waktu penobatan putra mahkota,yang dinobatkan buka dirinya(Ageng Gumilar) melainkan adiknya yang dia rasa tak pantas menjadi seorang raja.
Menurut Ageng Gumilar sang adik terlalu lemah dalam ilmu kanuragan serta sikapnya yang Diplomatis, hal ini yang akan menyebabkan kerajaan tak bisa berkembang pikir dari Ageng Gumilar.
Puncak kebencian ki Ageng Gumilar mana kala sang putra mahkota melamar putri dari kerajaan pajang Roro Ayu Sekar Kedaton. Seorang putri cantik,kakak perempuan Sultan Hadi Wijaya.
Roro ayu Sekar Kedaton merupakan anak raja pajang terdahulu dari selir pertamanya. Usia Roro Ayu lebih tua 2 tahun dari Sultan Hadi Wijaya,raja Pajang saat ini.
Karana pada waktu yang sama Ageng Gumilar juga suka denga putri tersebut. Tapi sultan Cokro melamar sang gadis, dan kerajaan Pajang pun menerima Lamaran dengan senang hati.
Semakin bencilah Ageng Gumilar muda pada Sultan Cokro Kusumo. Karna Ageng merasa kalah dalam segala hal, dia berencana memberontak dan mengambil semua yang dimiliki sang raja jika waktunya sudah tepat.