
Pagi mulai menyingsing, terlihat dua pasang insan manusia sedang sibuk memilih kuda yang baik untuk melakukan perjalanan. Mereka berdua adalah Wisang Geni dan Lokahita. Mereka mengamati satu persatu kuda yang ingin mereka beli.
Lokahita sebenarnya merasa tidak enak, karna pemuda yang menjadi penyelamatnya begitu baik padanya. Walau dia juga sering menerima kebaikan dari patih Wiryo Sangkolo, tapi lain dengan pemuda yang ada disampingnya. Lokahita seakan-akan merasa tidak enak, tidak sama dengan rasa ketika patih muda itu memberikan perhatian lebih padanya.
Wisang Geni terkesan dingin pada Lokahita, bukan maksud Wisang Geni berlaku seperti itu. Dia merasa malu dengan gadis cantik yang ada disampingnya. Geni merasa setiap mereka berjalan pasti ada pandangan miring tentang mereka berdua. Dengan penampilan Wisang Geni yang terkesan misterius serta gadis yang cantik disampingnya.
"Berapa harga kedua ekor kuda ini paman?" Tanya Lokahita pada paman penjual kuda. Kuda teraik yang dijual oleh paman penjual tersebut.
"Kedua kuda itu lumayan mahal nona muda, sepasang kuda itu berharga 200 kupang perunggu" jawab paman penjual kuda tersebut.
"Hah...mahal sekali paman,tolong paman beri kami keringanan,kami pengantin baru paman, kalau uang buat beli kuda semua lalu bagai mana kami bulan madu?!" Tawar Lokahita kepada paman tersebut.
Wisang Geni yang mendengar percakapan itu hanya bisa tersenyum kecut, apalagi Lokahita mengaku mereka berdua adalah pasangan suami istri.
"Melihat kalian pasangan baru baik... 2 kuda ini bisa nona beli dengan 180 kupang perak" setuju paman itu.
Lokahita melihat pemuda disampingnya dengan memberikan kode bahwa penawaran yang dia lakukan berhasil.
"Ini paman...karana paman bersidia mengurangi harga maka sisanya uang nya buat paman saja" ucap Geni sambil menyerahkan 10 kupang emas yang setara dengan 200 kupang perak kepada paman itu.
Lokahita yang melihat pembaran pun cemberut karana Wisang geni membayar dengan uang yang sama seperti harga yang belum dia tawar.
"Dasar pria bodoh, tahu seperti itu kenapa juga aku tawar" batin Lokahita sambil tersenyum masam.
Kedua muda-mudi itu pun melakukan perjalanan santai sambil mengendari kuda. Terlihat dari keduanya sudah tidak canggung lagi.
"Kakang...benar kakang belum punya kekasih atau teman wanita?" Lokahita tiba-tiba bertanya pada pemuda yang ada di sampingnya.
"Itu...aku...kekasih aku belum punya, tapi aku punya kenalan di desa bambu kuning" jawab Geni dengan nada gugup.
"Apa dia cantik kakang?" Tanya Lokahita dengan nada sedikit kecewa. Entah kenapa hati Lokahita tetasa tidak suka dengan jawaban Wisang Geni.
"Dia gadis yang baik dan cantik." Jawab singkat wisang geni.
"Apa aku tidak cantik kakang dan apa aku juga tidak baik" gerutu Lokahita pada Wisang Geni, dia merasa panas hatinya mendengar pemuda ini memuji gadis lain.
"Tidak...bukan begitu maksud ku, kamu gadis yang cantik sekali, juga sama baik juga." Jawab Wisang Geni serba salah.
Walau hatinya panas tapi Lokahita merasa senang dengan pujian dari pemuda di sampingnya.
Tanpa di sandari, ternyata benar apa yang di katakan pepatah zaman dulu, "WITING TRESNO JALARAN SAKO KULINO"(cinta tumbuh,bersemi karna sering bertemu dan berintetaksi) hal ini lah yang terjadi pada gadis muda ini, dia sendiri pun tak sadar dengan hal itu, hanya dia merasa nyaman berada di sisi sang pemuda.
" Kakang apa kakang suka pada gadis itu?" Selidik Lokahita pada Wisang Geni.
"Kalau seandainya ada gadis yang suka sama kakang bagaimana?" Tanya Lokahita lebih menjurus pada suatu masalah.
Wisang Geni mulai pusing dengan pertanyaan uang di ajukan Lokahita. Dia berfikir untuk balas menggoda sang gadis.
"Aku rasa untuk saat ini tidak ada ada gadis yang akan suka pada ku...karna disamping ku ada istri ku yang cantik dan bawel sekali..." jawab Wisang Geni sembari memacu kudanya lebih cepat.
Lokahita yang mendengar pernyataan Wisang Geni pun menjadi malu. Pipi yang kemerahan pun tambah merah,dia pun tak tahu mengapa begitu senang mendengar pernyataan pemuda yang mulai menjauh dari dirinya itu.
"Kakang tunggu aku!" Teriak Lokahita sembari mempercepat laju kudanyanya menyusul pemuda tersebut.
Tak ada percakapan lagi diantara dua muda-mudi itu, mereka asyik dengan lamunan masing-masing. Pipi Lokahita bertambah merah waktu kedua mata mereka saling bertemu, dia merasa bahagia saat ini.
Perjalanan muda-mudi ini sudah berjalan satu pekan, jadi hampir setengah dari perjalanan yang mereka tempuh sudah terlewati. Tepat didepan mereka terdapat hutan yang cukup luas. Mau tidak mau mereka harus menginap di hutan ini.
"Kakang hutan mentaok ini cukup luas, apa kakang pernah lewat sini sebelumnya" tanya Lokahita pada wisang geni. Walau dia seorang pendekar tapi Lokahita adalah seorang putri kerajaan diamana belum terbiasa hidup dihutan seperti ini.
Sepintas banyangan wisang geni kembali kepada 4 tahun silam di ditemukan oleh Resi Tomo di hutan ini. Tapi Wisang Geni sendiri tidak ingat dimana di dulu bertemu sang guru.
"Kakang...kenapa melamun?" Tanya Lokahita pada Geni.
"Maaf...aku teringat kejadian 4 tahun silam" jawab Geni dengan mimik muka sedih mengingat peristiwa tersebut.
Lokahita yang melihat perubahan wajah Geni pun tahu akan cerita pemuda yang berada disampingnya. Dia ingin segera bertanya pada sang ayahanda perihal kejadian yang menimpa wisang geni dan calon prajurit pajang 4 tahun lalu.
"Ah...sudahlah, kamu kumpulkan kayu kering aku akan berburu kelinci atau rusa buat makan nanti malam" perintah Geni pada Lokahita.
Dua kelinci gemuk telah di dapat Geni, sedang Lokahita sibuk dengan api yang di minta oleh pemuda itu. Setelah semua sudah siap mereka berdua membakar kelinci yang ditangkap Geni.
"Lokahita...setelah makan kita harus cari gua untuk bermalam" ucap Wisang Geni pada Lokahita, tidak mungkin dia membiarkan gadis cantik ini tidur diatas pohon seperti yang biasa dia lakukan selama ini.
"Baik kakang" jawab singkat Lokahita sembari menikmati kelinci yang di panggang Wisang Geni. Gadis ini masih tampak kawatir. Tapi dia mencoba tenang,karna saat ini ada Wisang Geni yang menjaganya.
"Ayo...segera habiskan makanan mu,mumpung belum terlalu gelap!" Perintah Wisang geni pada gadis itu. Sore tadi dia melihat ada gua yang cukup besar dan cocok untuk bermalam.
Muda-mudi ini segera menuju gua yang di temukan Wisang Geni. Gua yang cukup nyaman untuk beristirahat, mereka segera membersihkan tempat tersebut.
"Kakang..." teriak gadis itu sambil lompat memeluk Wisang geni. Gadis tersebut langsung dalam gendongan Geni.
"A...ada apa?"tanya Wisang Geni tetap dalam posisi berdiri dan menggendong gadis ini. Dia kaget kenapa gadis ini tiba-tiba melompat sambil menyembunyikan muda di dadanya.