
"Ayahanda bagai mana rencana selanjutnya? " Tanya Gesang mewakili mereka yang berada di tempat itu.
"Mungkin kita akan ke kerajaan Pajang, aku sudah tak ingin memikirkan kerajaan." Ucap raja Cokro, beliau sudah pasrah, walau raja minta bantuan Kerajaan Pajang untuk merebut Mataram kembali pasti akan sulit. Ditambah lagi pasti banyak korban yang berjatuhan baik dari prajurit atau pun rakyat jelata.
"Bagai mana pendapat mu Geni? Aku sudah terlalu tua untuk berebut kekuasaan" Ucap raja Cokro yang memang tak mau berebut kekuasaan.
"Apa ayah tega menyaksikan pemerintahan yang tak adil, yang saya kawatirkan raja Cokro akan berusaha menaklukan kerajaan lainnya, perang pasti memakan banyak korban" Jelas Wisang Geni pada ayah angkatnya raja Cokro yang sudah mulai akrab dengan sebutan ayah.
"Lalu bagai mana rencana mu Geni?" Tanya raja Cokro pada pemuda yang telah menyelamatkan keluarga serta dirinya. Rasa kagum dan bangga rasa hati sang raja mempunyai anak yang memang pemberani dan sakti ini.
"Aku pun bingung ayah, jika masalah menyusup dan menyamar aku ahlinya tapi kalau urusan strategi perang aku tak paham. " Jawab Geni dengan polos.
"Kakang aku punya rencana yang bagus, bagai mana kalau kita gunakan strategi memancing harimau keluar sarang" Ucap Pitaloka disela-pembicaraan tersebut.
Semua mata langsung tertuju pada gadis cantik ini, mereka semua tak begitu paham dengan apa yang di ucapkan sang gadis. Bahkan raja Cokro selama ini enggan belajar strategi perang karna sang raja memang cinta damai dan malas dengan kata-kata yang berkaitan dengan perang.
"Tolong jelaskan putri ku ayahmu ini tak sepandai kamu dalam masalah seperti ini." Pinta raja Cokro yang memang bingung.
"Kita harus memancing pasukan yang di pimpin paman Ageng keluar keraton dengan begitu pertahanan kerajaan akan melemah dengan begitu kita dapat menyerbu kerajaan" Jelas Pitaloka pada semua yang ada di situ terutama sang ayah.
"Aku paham sekarang, jadi selama ini kakang Ageng menerapkan strategi ini untuk merebut kekuasaan ku" Jawab raja Cokro sedikit geram menyadari kebodohannya.
Semua yang mendengar ucapan raja Cokro pun sekarang sudah paham akan cara kerja strategi ini.
"Lalu apa kita harus berbuat sama dengan paman mu Ageng yang menyebabkan kerajaan jadi kacau lagi? Kalau begitu aku tak setuju, dengan begitu rakyat akan menderita kembali. " Ucap raja Cokro yang memang tak dapat disangkal kebenarannya.
Diah Pitaloka pun bingung harus memancing dengan cara bagai mana. Kalau diterapkan seperti cara ki Ageng pasti rakyat jadi korban, dan lagi ki Ageng pasti juga menyadari akan situasi seperti itu.
Wisang Geni yang mulai memahami situasi serta strategi memancing harimau keluar sarang, pemuda ini mempunyai rencana untuk menjalankan siasat ini.
"Ayah aku punya rencana yang cukup baik, tapi harap ayah dapat mengikuti semua rencana ini... " Ucap Geni dengan percaya diri.
"Apa rencana mu anak ku? Coba kau katakan. " Pinta raja Cokro pada anak angkatnya. Beliau sudah percaya sepenuhnya dengan anak muda ini. Dengan rencana yang dibuat pemuda ini, dirinya(raja Cokro) dapat keluar dari penjara Mataram.
"Ayah pergi ke desa paling selatan di Kerajaan Mataram desa Daun hijau di kadipaten Gunung Kidul. Disana saya punya gubuk, ayah bisa tinggal sementara waktu sembari mwngawasi penduduk disana yang sedang membuat senjata." Pinta Geni pada ayah angkatnya.
"Lalu bagai mana rencanamu bisa kau jelaskan?!" Pinta raja Cokro penasaran setelah semua siap pasti akan saya sampaikan rencana selanjutnya." Jelas Wisang Geni pada ayah angkatnya.
Akhirnya Wisang Geni menjelaskan daerah desa Daun hijau pada raja Cokro yang memang belum pernah ke desa tersebut. Serta menyarankan perjalanan lewat jalur sungai dengan rakit supaya tidak terlihat prajurit Mataram. Serta disarankan lebih baik perjalanan pada malam hari supaya lebih aman.
Raja menyanggupi apa yang telah direncanakan Wisang Geni. Dan yang akan menjadi pendayung rakit adalah paman Markum dan Mantang.
"Ayah aku ingin ikut kakang Geni" Ucap Diah Pitaloka pada raja Cokro.
"Aku tetap mau ikut, jika tak boleh aku akan kabur" Ancam Pitaloka pada ayahnya.
"Baiklah kau boleh ikut tapi jangan buat onar lagi" Kata Wisang Geni menimpali perkataan Pitaloka agar tak menjadi perdebatan, karna dia tahu betapa keras kepalanya gadis ini.
Raja Cokro pun mengijinkan Diah Pitaloka pergi bersama Wisang Geni, karna raja Cokro yakin bahwa pemuda tersebut mampu melindungi anak gadisnya.
"Terserah kau saja lah... Yang penting jangan merepotkan kakang mu" Ucap raja Cokro pada anak gadisnya.
"Trimakasih ayah" Kata Diah Pitaloka sambil memberikan senyum termanis nya.
Akhirnya mereka bergerak masing-masing, rombongan raja Cokro akan berangkat nanti malam. Hari ini mereka semua terfokus pembuatan rakit dari bambu. Setelah semua selesai raja beserta rombongan pun bersiap untuk berangkat. Mereka menunggu matahari condong ke barat agar lebih aman.
Raja beserta rombongan pun berangkat, permaisuri sebenarnya kurang setuju dengan tindakan anak gadisnya tapi dia merasa kedua muda-mudi itu biar saling mengenal satu sama lainnya.
"Jangan merepotkan kakang mu ya Pitaloka" Pesan permaisuri diatas rakit yang mulai bergerak.
"Ibu tenang saja,aku akan jadi gadis yang baik" Teriak Pitaloka sambil membalas lambaian tangan ibunya.
"Apa rencana kakang selanjutnya? " Pitaloka yang tiba-tiba bertanya pada Geni yang sedang melamun.
"Besok Kita akan ke Pajang, selanjutnya akan kita pikirkan nanti" Jawab Geni kepada Pitaloka.
Pitaloka hanya mengangguk tanda paham.
"Lalu kita kesana jalan kaki atau dengan rakit kakang?" Tanya Pitaloka yang memang pernah melaksanakan perjalanan dengan kapal.
"Aduh kau ini... Tentu dengan itu" Jawab Geni sambil menunjuk dua kuda yang sedang istirahat.
"Oh iya aku lupa... Jawab Pitaloka menutupi rasa malunya.
Malam ini mereka berdua tetap berada dalam gua tempat awal yang mereka pilih untuk singgah sebelum bertemu permaisuri. Malam itu terasa sunyi karna hanya tinggal mereka berdua. Tiga pekan berlalu tempat ini seakan-akan meninggalkan kenangan tersendiri bagi Pitaloka.
Pagi pun telah tiba, Wisang Geni pun sudah bangun dari fajar, dia sudah bersiap untuk melaksanakan perjalanan.
"Bangun Pitaloka sudah pagi, cepat bersihkan diri lalu kita berangkat." Ucap Geni membangunkan sang gadis yang masih terlelap.
"Iya kang... " Ucap Pitaloka langsung menuju Sungai yang berada di depan goa tersebut.
Setelah semua siap dengan perlengkapan masing-masing, akhirnya mereka menuju Pajang. Mereka akan melintasi hutan yang tiga pekan lalu mereka lalui, ditepi hutan perbatasan Pajang dan Mataram. Disitulah tempat dimana jati diri Pitaloka terungkap. Perjalanan mungkin akan lebih cepat karna mereka menggunakan kuda yang didapat dari kerajaan Mataram.