SATRIA PININGIT

SATRIA PININGIT
KENANGAN YANG MEMALUKAN



Perjalanan kedua muda-mudi menuju kerajaan Pajang akan segera dilaksanakan. Mereka berdua jalan dengan santai sambil menikmati udara pagi. Mereka berdua seakan tak ada beban sama sekali. Terlebih lagi Pitaloka yang telah mengetahui semua anggota keluarga dalam keadaan sehat. Dan lagi mereka telah melewati tempat ini,jadi kedua muda-mudi sudah tidak asing dengan jalan ini.


"Kakang apa rencana kakang selanjutnyaselanjutnya?" Tanya Pitaloka sambil mengendari kuda di samping Wisang Geni.


"Kita akan menuju kerajaan Pajang aku ingin meminta bantuan beliau untuk membantu Kerajaan Mataram." Jawab Geni seperti sedang memikirkan sesuatu.


Pitaloka semakin kagum dengan pemuda ini, dia(Wisang Geni) bukan anggota kerajaan atau pejabat Mataram tapi dia memikirkan nasib kerajaan yang dipimpin ayahnya.


"Apa sebelum nya kakang pernah bertemu paman Hadi wijoyo(raja Pajang)." Tanya Pitaloka


"Aku sama sekali belum pernah bertemu, kapan terakhir kamu bertemu beliau?" Tanya balik Wisang Geni pada Pitaloka.


"Dulu kakang waktu aku masih kecil ya kurang lebih waktu usiaku 7 tahun, semoga paman masih ingat aku"Jawab Pitaloka dan gadis ini berharap sang raja masih ingat dengannya.


Perjalanan kedua muda-mudi ini tak mengalami kesulitan yang berarti, hanya medan yang mereka tempuh terkadang sedikit berat mengingat jalan yang mereka tempuh melewati lebatnya hutan. Perjalanan sudah hampir setengah perjalanan mereka tempuh.


Diwaktu istirahat malam di bawah pohon yang pernah mereka datangi sebelumnya, mereka berdua kembali istirahat di tempat itu. Tempat dimana Pitaloka yang diserang birahi karna menelan pil asmara pemberian para rampok waktu menyelamatkan keluarga paman Bejo yang sedang menuju ke Semarang karna Mataram dalam keadaan kacau.


Entah kenapa Pitaloka memilih tempat tersebut, kejadian yang sangat memalukan itu sepintas teringat di benak kedua muda-mudi ini. Kejadian yang yang tak mereka inginkan tapi di sisi lain ada rasa aneh yang menuntut batin kedua muda-mudi ini ingin mungulanginya lagi.


"Kakang ini makan... " Ucap Pitaloka menyerahkan bekal yang dia bawa dari desa sebelumnya. Mereka duduk bersebelahan di depan perapian yang di buat untuk mengusir hewan buas serta penghangat udara dingin.


"Trimakasih..."Wisang Geni makan tanpa bicara sedikitpun. Pemuda ini malu mengit kejadian waktu itu. Dia hanyut dalam lamunan walau sedang dalam keadaan makan. Pitaloka bicara banyak hal dengan pemuda yang ada disampingnya.


" Kang... Kakang... Ach kakang melah tidak mendengar perkataan ku" Lirih gadis yang jengkel dengan Wisang Geni karna perkataannya tak didengar.


"I... Iya apa pita Pitaloka" Jawab Geni yang baru tersadar dari lamunannya.


"Aku sudah bicara banyak kakang malah melamun, malas ach" Pitaloka jengkel dengan pemuda yang ada di sampingnya.


"Iya... Maaf coba kau katakan ulang aku pasti mendengarnya." Pinta Geni pada gadis ini.


"Kakang ingat tidak tempat ini?" Tanya Pitaloka dengan wajah memerah karna malu.


"Ingat, tempat kau terkena racun pil jahanam itu kan?! " Jawab Geni dengan muka sedikit tertunduk karna malu.


"Ternyata kakang ingat juga... " Ucap pelan Pitaloka.


Wisang Geni memang mencoba melupakan kejadian tersebut, tapi sampai saat ini pun tak bisa. Karna itu pengalaman pertama bagi nya bersentuhan dengan gadis secantik Diah Pitaloka. Tak jauh beda dengan Diah Pitaloka, sampai saat ini pun masih bisa membayangkan bagaimana mana rasanya saat itu. Terkadang ada kalanya dia ingin merasakannya lagi, tapi memang mereka belum ada suatu ikatan.


"Kakang boleh aku tidur didekatmu? Aku masih takut kalau tidur di hutan seperti ini, kalau di goa aku berani" Ucap Pitaloka pada pemuda yang membuat hatinya tak karuan.


Wisang Geni hanya mengangguk tanda setuju. Bukan tak mau bicara tapi tenggorokannya seakan kering jika mengingat kejadian waktu itu.


Malam itu mereka tidur dengan bayangan dan khayalan masing-masing. Terutama sang gadis yang terkadang senyum-senyum sendiri. Tak beda dengan Geni, walau duduk dalam posisi meditasi kali ini pikirannya tak dapat fokus pada latihan pengumpulan tenaga dalam yang biasa dia lakukan.


Suara jangrik mulai bersenandung, hembusan angin malam serta lalu-lalang hewan malam menambah syahdu malam ini. Telihat dua insan manusia sedang hanyut dalam buaian mimpi masing-masing. Sang gadis tidur menyamping sedang Sang pemuda duduk dengan tenang. Angin malam seakan menjadi selimut bagi mereka berdua.


Pagi pun menyingsing, cahaya merah keemasan mulai tampak di ufuk timur, menandakan Sang surya akan segera menyinari bumi.


"Bangun... Sudah pagi" Ucap lirih Geni membangunkan Pitaloka. Setelah bangun Pitaloka tak menyapa Geni dia langsung membersihkan diri dan makan pagi bersama.


"Kakang... Boleh aku tanya sesuatu pada kakang? "Ucap Pitaloka sambil berbenah melakukan persiapan untuk melanjutkan perjalanan. Pemuda tersebut hanya mengangguk tanda setuju.


" Kakang bisa tiba-tiba punya barang yang tidak kakang bawa dari mana? Misalnya pedang terus kayak selimut ini" Sambil melipat selimut dan menyerahkan kepada Wisang Geni. Pertanyaan ini memang pernah dilontarkan Pitaloka sebelumnya, karna belum mendapat jawaban saat ini ditanyakan lagi.


Wisang Geni merasa tak ada salahnya jika orang lain mengetahui tentang pusaka yang dia miliki, toh hanya Pitaloka yang tahu jadi tak masalah.


"Aku menyimpannya disini,gelang ini pusaka pemberian guru pertamaku " Jawab Geni memperlihatkan gelang dari kayu yang melingkar di tangan kirinya, gelang dengan bentuk ular naga kecil berwarna coklat tua itu.


"Benarkah kakang, boleh aku melihatnya kakang" Dengan heran gadis ini melihat gelang yang dipakai Geni. Kemudian Wisang Geni melepas gelang tersebut dan menyerahkan pada gadis itu. Pitaloka memang heran tapi dia sendiri belum percaya tentang keterangan tersebut karna belum melihat langsung.


gedis ini menyerahkan kembali gelang tersebut pada Wisang Geni. Pemuda itu sadar bahwa Pitaloka belum percaya, hal ini dapat dilihat dari raut wajahnya yang masih ragu-ragu. Geni langsung mengenakan gelang tersebut serta mempraktekkan dengan memasukkan selimut yang diserahkan Pitaloka.


"Wah... Memang benar-benar ajaib... " Ucap gadis yang berada disamping Geni yang langsung menarik tangan dari pemuda tersebut untuk melihat gelang itu lagi.


"Barang apa saja yang bisa disimpan dalam gelang itu kakang? Apa semuanya bisa disimpan dalam gelang itu?" Tanya penuh penasaran Sang gadis pada Geni.


"Hanya benda mati yang dapat disimpan pada gelang ini, gelang ini juga ada kapasitas tampungnya jadi tetap ada batasan untuk memasukkan barang ke gelang ini" Penjelasan yang cukup untuk menerangkan pada Pitaloka.


Akhirnya mereka berangkat menuju kerajaan pajang, perjalanan tinggal sebentar lagi mereka tak ingin berlama-lama lagi.


Tak terasa mereka sebentar lagi memasuki kawasan kadipaten semarang, lalu mereka berdua ingat tentang keluarga paman Bejo yang pernah mereka selamatkan waktu itu.