
Setelah berbasa-basi sebentar akhirnya Geni pamit pulang guna melihat hasil kerja para pembuat senjata yang ada di desa ini.
"Terimakasih paman... Kami kembali dulu" Ucap Geni di iringi lambaian tangan.
" Geni itu kunci apa? Kenapa kau merahasiakan dari kami, aku dan ayah lebih dari 3 pekan berada disini kenapa belum tahu tentang hal ini" Tanya Pangeran Gesang yang penasaran.
"Nanti kakang dan ayah pasti akan segera tahu" Jawab Geni yang malah membuat mereka penasaran.
Setelah sampai pada rumah Wisang Geni mereka bertiga langsung disambut oleh ke tujuh bawahan Wisang Geni, Pitaloka dan permaisuri tentunya memasak, entah kenapa gadis cantik ini sekarang lebih senang dengan urusan seperti itu, padahal sebelumnya dia lebih senang pergi berlatih silat.
"Selamat datang tuan" Sapa Macan Kumbang mewakili yang lainnya.
"Sudahlah paman tak perlu seperti ini, toh aku pergi juga disekitaran sini saja. " Ucap Geni sambil merajuk.
Mereka mengikuti Wisang Geni menuju rumah yang selama ini belum pernah di lihat oleh Raja maupun pangeran.
Terlihat satu rumah tersebut sangat ketat penjagaan nya serta adanya gembok yang terkait di kedua daun pintu rumah tersebut. Layak sebagai tempat yang sangat rahasia dan penting.
" Mari ayah dan kakang kita masuk" Ucap Geni setelah gembok tersebut terbuka.
"Apa... " Ketujuh bawahan Wisang Geni berteriak kaget melihat isi dalam rumah yang terkunci dan tempat yang diperuntukan gudang penyimpanan tersebut. Tak hanya ketujuh bawahan yang terkaget-kaget, bahkan sang raja dan pangeran pun sama halnya dengan ketujuh bawahan Wisang Geni.
"Ini... " Ucapan pangeran Gesang yang tak terselesaikan. Sang Raja mampu mengatasi keterkejutan nya dan mulai masuk dalam rumah tersebut. Beliau memeriksa barang yang berada dalam gudang tersebut.
"Senjata-senjata ini pasti akan dapat membantu perjuangan kita ayah" Ucap Wisang Geni sambil memegang anak panah serta busur yang diserahkan pada sang raja.
Dalam gudang tersebut banyak sekali anak panah dan busurnya serta senjata-senjata lain yang tak kalah banyaknya.
"Wisang Geni... " Ucap raja Cokro sambil memeluk putra angkatnya, dia tidak menduga bahwa ucapan serta persiapan yang dilakukan anak angkatnya bukan bualan semata, kini dia semakin yakin dengan apa yang diucapkan pemuda ini.
"Tenang ayah, semoga apa yang kita rencanakan tidak akan gagal, tinggal sedikit lagi" Ucapan Geni dengan penuh rasa percaya diri.
"Baik... Kita akan berjuang untuk rakyat Mataram" Ucap raja Cokro terharu dengan tindakan Wisang Geni.
"Hidup raja kecil... " Teriak ketujuh bawahan Wisang Geni secara bersamaan.
"Kenapa kalian ikut-ikutan warga memanggilku seperti itu" Celoteh Wisang Geni menegur bawahannya. Ketujuh orang ini seakan sadar bahwa mereka tidak salah menjadi pengikut Wisang Geni, disamping nama mereka kini lambat laun bisa dibersihkan, mereka juga Seakan-akan menjadi pejuang yang membela kebenaran. Perasaan ini timbul mana kala Wisang Geni akan mengikutkan mereka merebut kembali kerajaan Mataram yang sekarang di pimpin raja yang semena-mena, dan hanya ingin membuat bumi Jawa takluk ditangan penguasa baru tersebut.
"Besok kita menuju desa Bambu kuning guna mempersiapkan segala sesuatunya ayah" Ucap Geni disertai anggukan oleh yang ada dia tempat tersebut.
Malam itu suasana menjadi ramai karna mereka makan malam bersama serta Geni dan rombongan ingin meminta ijin pergi menuju desa Bambu Kuning bersama raja, pangeran dan tentunya ketujuh bawahan andalan Wisang Geni. Permaisuri juga ingin ikut, alasannya ingin menemani sang raja.
"Ini pertempuran yang berat, kau jangan ikut" Pinta Geni sambil meminum teh yang ada di depannya.
"Kalau semua berjuang aku juga harus ikut, aku tak mau berpangku tangan saja" Ucap Pitaloka dengan nada sedikit ngeyel. Raja serta permaisuri tahu bagaimana keras kepalanya putri mereka.
"Kau boleh ikut tapi ingat jangan sampai merusak rencana kakang Geni mu" Ucap Permaisuri yang melihat anak gadisnya sudah mulai merah padam mukanya tanda dia akan marah.
Wisang Geni hanya menghela nafas panjang atas ijin yang diberikan pada Pitaloka oleh ibu angkatnya. Kesepakatan telah terjadi akhirnya mereka ber 12 orang akan berangkat setelah fajar, agar tidak membuat suasana desa menjadi lebih gaduh.
"Enak saja... Pasti kakang ingin bertemu gadis centil itu" Batin Pitaloka dengan nada sedikit kesal karna sempat dilarang ikut tadi.
Gadis ini hanya pernah mendengar kisah Diah Ayu dari Geni dan pastinya belum pernah bertemu langsung gadis desa tersebut.
" Ibu malam ini aku akan bantu kang Geni berkemas-kemas" Ucap Pitaloka meminta ijin pada ibu serta ayahnya.
"Iya, jangan lupa istirahat biarkan kakang mu tidur lebih dulu kasihan dia, kelihatan kurus" Ucap permaisuri prihatin dengan kondisi anak angkatnya.
Seperti biasa Geni duduk meditasi, istirahat sembari menghimpun tenaga dalam. Kalau sudah seperti itu Pitaloka tak berani mengganggu pemuda ini. Setelah semua perlengkapan Geni siap Pitaloka kembali istirahat bersama ibunya.
Permaisuri salut dengan keteguhan pemuda yang selama ini bersama putrinya, dia yakin bahwa kedua muda-mudi ini tidak pernah melakukan perbuatan yang seperti layaknya pasangan suami istri.
Fajar pun menyingsing, seakan memberitahukan bahwa hari ini mereka harus segera bergegas berangkat menuju ke tempat selanjutnya, Desa Bambu Kuning.
Perjalanan cukup jauh, dapat menempuh waktu 10 hari sampai 2 pekan.
Setelah semalam berpamitan kepada pengurus rumah serta keluarga paman Marlan rombongan Geni berangkat menuju Desa Bambu Kuning. Banyak sekali yang menjadi beban pikiran pemuda ini, mulai dari rencana perebutan kembali kerajaan Mataram hingga masalah asmara yang bergejolak dalam hatinya.
Perjalanan terasa begitu cepat, Pitaloka sering kali mengajak Geni berbincang-bincang seperti biasanya, tapi kali ini lain, pemuda ini seakan enggan bicara baik dengan dirinya atau siapa saja.
Mereka memahami apa yang menjadi beban pikiran pemuda ini, Serta apa yang menjadi beban pikirannya. Lain dengan mereka semua Pitaloka merasa Geni memikirkan gadis desa tersebut.
"Wajah Geni semakin tirus tanda berat badan pemuda ini turun, dia makan hanya sekedar saja, tidak seperti biasanya.
" Geni... Kau kenapa? Kalau memang rencana itu terlalu membebani mu tidak usah dilaksanakan, kami juga sudah bahagia hidup seperti ini, lihat ayah mu juga semakin gemuk" Ucap permaisuri mencoba bercanda dengan anak angkatnya.
"Aku tidak apa-apa ibu, kalian jangan khawatir aku dalam kondisi yang baik" Ucap Wisang Geni menjawab pertanyaan sang ibu dengan sedikit lesu.
Mereka semua menghawatirkan pemuda yang memang dari awalnya juga tidak banyak bicara tersebut.
Ketujuh bawahan Wisang Geni juga tidak ingin mengganggu tuannya karna memang Geni seperti sedang banyak pikiran.