SATRIA PININGIT

SATRIA PININGIT
PEMBANGUNAN PENGINAPAN



Kamar yang diperuntukkan Geni dan Pitaloka hanya terdapat satu dipan(tempat tidur), tidak masalah 1 tempat tidur karna setahu paman Bejo Geni dan Pitaloka adalah pasangan suami istri.


Geni dan Pitaloka duduk diteras rumah menunggu malam, tidak ada aktivitas yang mereka kerjakan.


"Pitaloka kenapa kau tampak bersedih waktu makan tadi, apa ada yang mengganggu hati mu" Tanya Geni pada Pitaloka.


"Tidak kang... Aku hanya teringat keluarga ku, harusnya keluarga ku bisa menjamu kakang seperti yang dilakukan keluarga paman Bejo." Jawab Pitaloka pada pemuda yang ada disampingnya itu.


"Sudahlah... Kelak pasti ada waktu untuk semua itu, semoga keadaan Kerajaan Mataram bisa kembali seperti semula" Ucap Geni menenangkan Sang gadis yang tampak sedih.


"Uhuk... Uhuk..." Tiba-tiba Pitaloka membenamkan wajah pada dada bidang Wisang Geni.


Walau sedikit kaget Geni tetap diam karna menyadari beban mental yang dialami Pitaloka.


Begitu cepat waktu berlalu tanpa disadari kedua insan ini, sinar keemasan di ufuk barat telah nampak. Pertanda malam akan segera tiba, setelah membersihkan diri kedua muda-mudi ini membantu keluarga paman Bejo mempersiapkan makan malam, kali ini makan malam di rumah paman Bejo bukan di kedai seperti tadi pagi.


Para wanita tampak sibuk mempersiapkan segala sesuatunya, sedang Geni dan paman Bejo berada di teras rumah sambil menikmati teh yang telah disediakan bibi tinah.


"Paman,... Apa paman kenal dengan petugas yang dipelabuhan?" Tanya Geni sambil minum teh dari cangkir yang terbuat dari tanah liat.


"Apa yang nak Geni maksud kang Waryo?" Tanya balik paman Bejo pada pemuda yang ada di sampingnya.


"Benar paman... apa paman kenal beliau? Kembali Geni melontar kan pertanyaan.


"Kang Waryo adalah kakang ku, dulu saya pergi ke Semrang ya ingin menemui kakang Waryo dan keluarga karna kerajaan Mataram kacau." Ucap paman Bejo.


"Sebulan yang lalu ada pemuda dan gadis yang menitipkan kapal pada kang Waryo, yang ciri-cirinya mirip dengan nak Geni, apa memang nak Geni dan nona Pitaloka yang menitipkan kapal tersebut?" Tanya paman Bejo dengan penuh penasaran. Wisang Geni pun meng iya kan semua dugaan paman Bejo.


"Sungguh pemuda yang sangat kaya, apa dia anak dari pejabat kerajaan? " Batin paman Bejo menduga-duga.


"Paman apakah kuda yang saya titipkan masih ada?aku ingin menggunakannya paman, dan akan kuganti dengan dua kuda baru aku bawa" Pinta Geni pada paman Bejo.


"Masih ada nak Geni, itu adalah kuda nak Geni jadi tak perlu menggantinya" Jawab paman Bejo. Beliau tak keberatan karna kudu itu dulu hanya dititipkan padanya, ditambah lagi pemuda ini telah menyelamatkan dia dan keluarga, seandainya kuda itu miliknya sendiri dan diminta Wisang Geni pasti akan dia serahkan secara iklas.


"Paman... Apa paman punya keinginan untuk mendirikan penginapan?" Tanya Geni mulai mempunyai ide yang cukup baik menurutnya.


"Aku tak berfikiran sampai kesitu nak Geni, karna pasti mengeluarkan dana yang cukup banyak. Paling tidak membutuhkan dana 10.000 kupang perunggu atau sekitar 2500 kupang emas" Jawab paman Bejo dengan jujur.


"Itu tak jadi masalah paman," Jawab Geni pada Paman Bejo.


Bukan tanpa alasan Wisang Geni punya ide seperti itu, jika dirinya dapat membangun penginapan maka dengan mudah dia dapat mencari informasi atau mendapatkan informasi. Karna di daerah Semarang cukup strategis apalagi dekat dengan pelabuhan pasti penginapan tak akan sepi yang pasti informasi akan lebih mudah didapat.


Kata-kata Wisang Geni tak begitu ditanggapi oleh paman Bejo. Walau pemuda ini kaya tak mungkin dia akan bepergian dengan membawa uang dalam jumlah yang begitu banyak.


Mereka semua akhirnya makan bersama, kali ini Pitaloka tak nampak sedih karna perasaannya telah disampaikan pada kang Geni. Keluarga paman Bejo pun bahagia dapat bertemu serta menjamu penyelamat mereka. Akhirnya acara makan malam pun selesai dan anak paman Bejo dibantu Pitaloka membersihkan bekas acara makan malam tadi. Kedua anak paman Bejo saling bercanda terlihat keakraban antara gadi-gadis muda itu.


"Paman Bejo, bibi Tinah...saya ingin bicara dengan paman dan bibi" Ucap Geni setelah keluar dari dalam kamar dan membawa buntelan yang tidak begitu besar.


"Ada yang bisa kami bantu nak Geni?" Tanya paman Bejo.


"Perihal masalah pembuatan penginapan paman, saya dan istri sudah bicarakan hal ini dan istri saya sudah setuju" Jawab Geni dengan nada serius.


Wisang Geni langsung membuka buntelan yang dia bawa, terlihat langsung kupang emas yang jumlahnya 3000 kupang.


"Hahhh... " Ucap paman Bejo dengan mulut ternganga tak dapat berkata, bibi Tinah langsung pingsan melihat uang yang di tunjukan Geni, bibi Tinah belum tahu rencana yang sudah di bicarakan paman Bejo dan Wisang Geni.


Wisang Geni langsung memegang pundak bibi Tinah dan menekan tengkuk bagian belakang guna menyadarkan bibi Tinah.


"Jadi saya minta bantuan paman dan bibi untuk mengelola penginapan tersebut. Paman tetap bisa membuat kedai di penginalan, masalah pembagian untung terserah paman dan bibi." Ucap Geni setelah bibi Tinah sadar kembali.


Kedua orang ini belum bisa menguasai keterkejutannya, melihat uang yang mungkin seumur hidup mereka tak akan mampu memilikinya.


"Aku harap paman dan bibi mau serta bersedia bekerjama dengan kami (Geni dan Pitaloka)" Ucap Wisang Geni menunggu persetujuan dari paman Bejo dan bibi Tinah.


"Ka... Kami bersedia nak Geni... Kami bersedia" Jawab paman Bejo pada lemuda yang ada dihadapannya. Bibi Tinah juga mengangguk tanda setuju.


"Jadi semua sudah beres paman, untuk masalah pembangunan dan tanggung jawab pengawasan akan saya serahkan sepenuhnya pada paman dan bibi, kelak jika sudah berjalan terserah paman dan bibi mengelolanya." Pernyataan Geni yang mempercayakan sepenuh nya pada keluarga paman Bejo.


"Baik nak Geni...paman dan bibi akan berusaha semampu kami agar nak Geni tidak kecewa, dan saya harap nak Geni bersedia menunggu sampai pembangunan selesai." Pinta paman Bejo pada pemuda bertopeng ini.


"Kalau itu saya tidak janji paman, karna besok saya beserta istri akan pergi ke kerajaan Pajang" Penjelasan Geni yang pada paman Bejo agar beliau tidak kecewa.


"Oh iya paman... Lebih baik paman Bejo minta bantuan paman Waryo bagai mana baiknya bentuk penginapan nantinya" Saran Geni agar kakak paman Bejo ikut memberi saran dalam proses pembangunan penginapan yang dia inginkan.


"Benar... Kang Waryo adalah ahli pertukangan kayu jadi dapat memberi saran" Jawab paman Bejo menyetujui usulan dari Wisang Geni.


"Baik paman semua sudah jelas, saya mau istirahat dulu" Ucap Geni mengakhiri pembicaraan masalah penginapan.


"Silahkan nak Geni, semoga dapat beristirahat dengan nyaman di gubuk kami" Jawab paman Bejo mempersilahkan tamunya untuk istirahat terlebih dahulu.


Wisang Geni yang sudah meminta ijin pun langsung menuju kamar yang sudah di peruntukan bagi mereka berdua.


PENGUMUMAN.


pada episode selanjutnya banyak konten dewasa harap bijak menyikapinya.