SATRIA PININGIT

SATRIA PININGIT
PENCULIKAN LOKAHITA



Wisang Geni yang melihat mayat ketua kelompok bertopeng itu pun merasa ngeri. Wisang Geni kembali meminum obat penawar racun, dia terkena banyak sekali luka sayatan. Walaupun tak begitu parah tapi luka sayatan itu beracun.


Wisang Geni duduk memulihkan tenaga yang habis terkuras akibat pertarungan. Dia berfikir bagai mana menguburkan semua mayat ini. Sejenak dia lupa akan keadaan dua orang yang dia tolong.


"Tuan pendekar... Mohon selamatkan Lokahita?!" Pinta sang Patih pada Wisang Geni yang sedang duduk meditasi.


"Lokahita?...aduh kenapa aku lupa gadis itu!" Jawab Wisang Geni bingung. Dia pun tak tahu kalau Lokahita di culik dan dibawa lari kemana.


"Kisanak kau minumlah pil ini,setelah keadaan membaik carilah bantuan mengubur mayat-matat ini, aku akan menyelamatkan istrimu" jawab Wisang Geni kepada Patih Wiryo.


"Aku bukan kekasihnya pendekar, mereka membawa Lokahita dengan menggunakan perahu pendekar" Patih menunjukan kemana arah perahu itu pergi.


"Baik akan aku kejar para penjahat itu, dan ingat kuburkan mereka!" Pesan Wisang Geni pada Patih Wiryo. Bukan tanpa alasan Wisang Geni mau membantu gadis itu, dia teringat adik perempuannya dan Diah Ayu, gadis yang dia suka.


Wisang Geni mengejar perahu yang dimaksud Patih Wiryo sangkolo, walau baru sekali bertemu dengan gadis yang hendak dia selamatkan tapi perasaan kawatir terlintas di raut wajahnya. Dia tidak tak ingin terjadi sesuatu yang tidak di inginkan pada gadis itu. Walau tenaga dalam belum pulih setidaknya fisik Wisang Geni masih cukup kuat.


Wisang Geni berlari menggunakan tenaga biasa karena dia berusaha tidak menggunakan tenaga dalam dahulu. Pengejaran terasa lama karena di menyusur sungai yang berliku-liku.


Matahari mulai condong ke barat, hari menjelang sore perahu itu belum terlihat. Wisang Geni sudah hampir putus asa karna dari siang dia menyusur sungai belum terlihat satu perahu pun.


Dia putuskan untuk tetap berlari disamping mengejar Lokahita di berharap dapat bertemu pemukiman penduduk untuk beristirahat.


Usaha Wisang Geni membuahkan hasil,nampak dari kejauhan terlihat perahu yang cukup besar. Wisang Geni menduga kapal itu yang menculik gadis yang bernama Lokahita. Wisang Geni pun bingung menuju perahu tersebut, lompatannya tak akan sampai apalagi tenaga dalamnya belum pulih.


Sungai ini cukup lebar lebih darih 100 meter, mungkin itu tak jadi masalah yang berarti jika tenaga dalamnya tak habis. Tanpa ilmu tenaga dalam mungkin dia membutuh kan 4 Sampai 5 loncatan menuju perahu. Itupun harus ada lonjakan benda terapung seperti kayu atau pun batu.


Wisang Geni teringat akan perlengkapan yang di simpan gurunya pada gelang ruang naga. Didalam terdapat banyak perlengkapan yang belum pernah terpakai tapi Wisang Geni sudah pasti dapat mempergunakannya, dia telah menguasai ketrampilan yang diwariskan sang guru.


Terdapat kunai yang gagangnya belubang, Wisang Geni mengikat ujung kunai dengan tali. Tali tersebut cukup panjang dan kuat,dia bermaksud untuk menggunakan alat tersebut.


"Aku butuh tempat yang tinggi" ucap lirih Wisang Geni sambil mengamati tempat yang dirasa tepat untuk melempar kunai itu. Suasana yang mendekati malam mempermudah Wisang Geni bersembunyi tanpa takut ketahuan.


Setelah dimenemukan tempat yang tepat, tebing yang lumayan tinggi dan terdapat tempat bersembunyi berupa semak belukar.


Wuzzst ... Clap... Bunyi lemparan Wisang Geni tepat mengait salah satu tiang layar perahu tersebut.


Para penjaga tidak merasa jika salah satu tiang mereka telah terikat tali yang di pegang Wisang Geni. Mereka tak merasa kawatir dengan ketua mereka, kelompok ini yakin bahwa ketua dapat mengatasi pemuda yang tadi siang menyerang mereka.


Setelah tali terikat Wisang Geni mendekati mereka dari dalam air. Dia menarik tali yang dia pegang perlahan-lahan guna mengurangi suara yang tidak diinginkan.


"Kakang gadis ini begitu cantik...kasihan kalau di bunuh apa boleh kita bersenang-senang dengannya dulu?" Ucap salah satu dari penculik Lokahita.


"Aku juga sependapat dengan mu, ketua juga tak akan marah, ha..ha..ha." tawa penuh kemenangan penculik yang lain.


Wisang Geni yang mendengar percakapan mereka sontak menjadi marah,emosi nya meluap-luap. Semula dia ingin menghabisi para penjahat secara diam-diam kini malah menantang mereka secara terang-terangan.


"Bedebah kalian...!!!" Teriak Wisang Geni dengan penuh emosi,seketika dia melupakan tenaga dalamnya yang belum pulih. Sontak para penculik bertopeng keluar kapal dan langsung mengepung Wisang Geni.


"Rupanya kau bisa lolos, tapi kali ini kau akan mati...serang!!!" Perintah dari salah satu orang bertopeng itu.


Swing...tring...Trang bunyi beradu senjata, pertarungan terjadi. Wisang Geni bertarung dengan emosi dan kondisi yang lemah, banyak pukulan dan tendangan yang dia terima.


Walau serangan dari lawan tak berdampak begitu bahaya Namum luka lebam pun tampak disekitaran mata ataupun pipinya. Wisang Geni tak dapat membunuh dengan cepat karna kondisinya lemah.


Wisang Geni mampu mengimbangi mereka walau dengan kondisi lemah,tapi tidak dengan para penjahat itu yang merasa terpojok oleh jurus-jurus yang di gunakan Wisang Geni. 2 orang penjahat itu behasil kabur dan 8 orang lain meregang nyawa dengan luka yang hampir sama dengan kejadian pertempuran sebelumnya.


Setelah membunuh penjahat dan membersihkan kapal dari mayat para penjahat Wisang Geni menuju Lokahita. Kondisi Lokahita sangat memprihatinkan, banyak luka sayat dan terdapat luka panah pada pundak sebelah kiri.


Wajah gadis itu mulai membiru,kondisi badannya lemah tapi dia tetap dalam kondisi sadar. Di dapat menyaksikan pertarungan yang terjadi antara para penculiknya dan Wisang Geni.


Walau hidupnya telah diselamatkan oleh orang yang dia kira komplotan penjahat, kewaspadaannya tak menurun tapi sayang badannya sudah tak dapat di gerakkan.


"Trimakasih pendekar telah menyelamatkan saya, Budi ini akan saya balas kelak di kehidupan selanjutnya" ucap Lokahita pada Wisang Geni,di sudah putus asa karna dia sadar luka yang dia derita sulit untuk disembuhkan karena senjata yang di gunakan para penjahat tersebut di beri racun.


Wisang Geni yang tersadar akan lamunannya segera menuju gadis tersebut, dia memeriksa sang gadis.


"Racun yang cukup berbahaya...tenang nona aku akan berusaha semampu ku" jawab Wisang Geni dengan nada datar dan terkesan tak ada rasa kawatir pada raut wajahnya.


"Maaf nona tenaga dalam ku telah habis...aku bisa mengeluarkan racun di tubuh nona dengan..." Kata-kata Wisang Geni terputus sambil melihat anak panah yang tetancap pada pundak di bawah tulang belikat sang gadis.


Wisang Geni ragu untuk melanjutkan kata-katanya, dia malu jika harus berterus terang pada gadis ini.