SATRIA PININGIT

SATRIA PININGIT
TERUNGKAP II



Serangan yang di lancarkan lokahita walau terkesan ngawur dan asal-asalan tapi memang kemampuannya diatas empat prajurit tadi. Sayatan dan tebasan Lokahita begitu hebat tak ayal mereka pun terpojok.


Wisang Geni tak ingin terjadi Korban langsung terjun dalam area pertempuran,dia menangkis serangan Lokahita yang mengarah pada leher salah satu prajurit.


Tring...tang...bunyi pedang Lokahita Dan Wisang Geni sailing beradu.


"Cepat kalian pergi!"perintah Geni pada para prajurit, dia tak ingin terjadi pertempuran yang tak di inginkan.


Sontak para prajurit itu pergi setelah mendapat perintah dari Wisang Geni.


Dengan ganas Lokahita ganti menyerang Wisang Geni. Pemuda ini tak tahu apa yang membuat Lokahita begitu marah hingga seperti ini.


"Lokahita tolong hentikan!"pinta Wisang Geni pada gadis yang sedang dalam keadaan marah menyerang  dirinya. Gadis ini seakan-akan tak menghiraukan ucapan Wisang Geni dan masih terus menyerang dirinya.


"Kakang memeng bodoh apa pura-pura bodoh?!"ucapan Lokahita dengan tetap melancarkan serangan pada Wisang Geni.


"Apa maksudmu Lokahita aku tak tahu?" Tanya Wisang Geni yang masih bingung.


"Aku akan menyelamatkan raja Cokro" jelas Lokahita menerangkan maksudnya.


"Tapi sabar kita perlu rencana!" Jawab geni sambil menangkis serangan dari Lokahita.


"Sabar...apa kakang akan sabar jika ayah kakang dipenjara?"jelas Lokahita masih tetap menyerang Geni.


"Aku masih belum faham maksudmu"jawab Geni tambah bingung.


"Dengar kakang...aku adalah putri raja Cokro!" Jelas Lokahita dengan nada emosi.


Mendengar penjelasan Lokahita bagai disambar petir disiang bolong.


Yang semula Wisang Geni menangkis menangkis kini hanya pasrah bantinnya terguncang hebat. Pedang Lokahita yang melayang kini tanpa penghalang mengarah ke leher dari Wisang Geni.


Lokahita sendiri tak mampu mengedalikan pedang yang meluncur kearah leher Wisang Geni. Geni Sangat emosi mendengar pernyataan Lokahita, ingin sekali dia menghanjar Lokahita karna dia anak dari orang yang selama ini dia benci.


Emosi Wisang Geni mulai muncul mana kala dirinya dikatakan "bodoh", tapi Geni masih bisa manahan. Tapi setelah mengetahui identitas asli Lokahita kemarahannya kembali memuncak, tanpa sadar tubuhnya menyarurkan tenaga dalam gumbolo geni yang mengalaliri tangannya.


Pedang Lokahita tepat mengenai sasaran, tepat muka Wisang Geni yang mengenakan topeng terkena tusukan, topeng yang di kenakan Wisang Geni terlepas.


Sebelum serangan melukai dirinya Wisang Geni memegang bilah pedang yang menuju padanya. Setelah mematahkan pedang Lokahita dia mendorong pedang tersebut.


"Hentikan..." bentak Wisang Geni kapada Lokahita. Pemuda ini masih bisa menahan emosinya, jika tidak satu pukulan dari pemuda ini pasti dapat membunuh sang gadis.


Tring...bugh....suara pedang Lokahita yang patah,gagang pedang yang gadis itu pegang menghantam pundaknya sendiri. Lokahita jatuh tersungkur, tangannya merasakan Panas luar biasa pada gagang yang dia pegang.


Lokahita yang sadar akan kesalahan yang dia perbuat duduk diam bersimpuh. Dia baru menyadari bahwa apa yang di perbuat pada Wisang Geni Salah hanya bisa menangis. Batinnya kacau, tapi yang lebih membuat batinnya sakit adalah bentak kan Wisang Geni, sebelumnya pemuda itu tak pernah berbuat kasar padanya seperti sekarang ini.


Wisang Geni langsung lompat menjauh dari Lokahita, batinnya juga sedang bergejolak. Pemuda itu duduk bersandar pada sebuah pohon satu kakinya lurus kedepan kaki lainnya ditekuk. Tampak rasa kecewa,putus asa,marah dan sesal pada raut wajah pemuda itu.


"Nona...nona...ini makanan yang suami Nona pesan tadi." Ucap paman penjual makanan menyerahkan buntelan pad Lokahita.


"Jika saya boleh memberi saran pada nona...seandainya tadi nona menang melawan prajurit mataram, tidak menutup kemungkinan mereka Membawa bala bantuan. Maka nona dan suami pasti lebih repot lagi. Jadi dalam hal ini suami nona yang benar" pesan paman penjual makanan sambil melihat wisang geni terduduk lesu.


Lokahita telah menyadari apa yang dia perbuat Salah,dia berjalan menuju Wisang Geni sembari memungut topeng pemuda tersebut. Nasehat Paman warung benar batin Lokahita,tapi yang membuat dia agak sedikit malu bahwa paman tadi mengira dia istri Wisang Geni.


Setelah sampai disamping Wisang Geni Lokahita melihat tangan pemuda tersebut terluka akibat manahan pedang dari serangannya. Terbesit rasa bersalah dalam hatinya.


Wisang Geni tertidur dalam duduknya, rasa capek,letih Serta marah menjadi satu dalam hatinya sehingga baru duduk tak berapa Lama dia sudah tertidur pulas. Kewaspadaan pendekar hebat pun seakan-akan hilang.


Lokahita mengobati luka pada tangan pemuda ini,dia menyobet sebagian kain yang dia gunakan sebagai ikat pinggang lalu membalut luka tersebut.


Wisang Geni merasa tangannya disentuh Lokahita dia tetap diam,walaupu  sebenarnya dia sudah terbangun. Dia hanya ingin memastikan apa yang akan di perbuat gadis ini.


"Maafkan aku kang...telah melukai kakang, selalu membawa masalah pada kakang,tanpa kakang mungkin aku sudah mati 2 bulan lalu" sambil membalut luka Wisang Geni Lokahita menyesali semua perbuatannya.


"Disaat seperti ini kakang malah tidur" gerutu Lokahita pada Wisang Geni


"Kang...kakang bangun kang!" Lanjut Lokahita sambil mengguncang bahu Wisang Geni.


Wisang Geni yang sudah bangun menatap tajam Lokahita, dia tetap diam dan memperhatikan Lokahita dengan tatapan tak bersahabat. Lokahita yang mendapat pandangan seperti itu pun serba salah.


"Makan kang...kakang dari Kemarin belum makan, nanti kakang sakit aku yang susah" oceh Lokahita menghilangkan rasa bingung karna tatapan Wisang Geni padanya.


Lokahita mengambil satu bungkus nasi dari daun pisang membuka lalu memakannya.


Sama dengan yang dilakukan Lokahita Wisang Geni pun memakan semua yang diberikan Lokahita padanya. Pemuda ini menghabiskan 2 bungkus nasi tanpa menghiraukan gadis disampingnya.


Malam pun tiba,kali ini Lokahita yang menyiapkan perapian untuk mereka. Biasanya hal ini dilakukan Wisang Geni, tapi kali ini pemuda ini hanya duduk tak bergeming dari tadi siang. Yang dilakukannya hanya memperhatikan Lokahita yang sibuk dengan aktivitasnya.


Batin Wisang Geni bergejolak hebat, dia teringat pesan guru Tomo


"Jika Kau melihat sesutu hal jangan hanya dari satu Sisi muridku, kalau kau hanya menggunakan kaca mata kuda/ melihat dari Salah satu sisi maka hanya kau sendiri yang benar. Cobalah menempatkan dirimu pada sisi yang lain, agar kamu dapat merasakan apa yang orang lain rasa kan/ orang yang kau anggap salah"


Setidaknya kata-kata sang guru masih dapat menyadarkan pemuda ini hingga dia tak berbuat sesuatu yang nantinya membuat penyesalan di kemudian hari.


"Tuan putri sebaiknya menjelaskan dari awal duduk permasalahnya" pinta sang Geni pada Lokahita.


"Begitu bencikah kakang pada ku sehingga kakang memanggilku seperti itu?" Tanya Lokahita pada Wisang Geni.


"Baik kang aku akan cerita semua....." Lokahita pun menceritakan secara gamblang hingga mereka bertemu.


"Maaf kakang nama ku sebenarnya adalah Diah Pitaloka" lanjut sang gadis dengan muka tertunduk.