SATRIA PININGIT

SATRIA PININGIT
RENCANA YANG TERTUNDA



"Aku mengucapkan beribu trimakasih dengan semua yang telah kau perbuat anak ku, tapi ada yang janggal menurut pengamatan ku" Kata raja Cokro membuat batin pemuda yang ada dihadapannya semakin penasaran.


Gesang Wicaksono yang merupakan teman serta saudara angkat Wisang Geni pun memandang dirinya(Wisang Geni) dengan tatapan yang tidak seperti biasa, penuh dengan selidik.


"Kau membangun semua ini, bertujuan untuk apa? Tak mungkin tanpa ada maksudnya kan? " Tanya Raja Cokro dengan ambigu dan tidak begitu jelas. Wisang Geni bukan pemuda bodoh yang tidak tahu kemana arah tujuan pembicaraan sang ayah.


" Mohon ampun ayah, saya membangun semua ini dia tahun yang lalu, tujuan saya hanya untuk membalas kekejaman pemerintahan Mataram, karna saya melihat begitu arogan prajurit dalam memungut pajak serta rasa benci yang besar pada kerajaan ini, ayah telah mendengar cerita dari saya tentang pembantaian calon prajurit kerajaan Pajang waktu itu, setelah saya sadar dan tahu semua di dalangi oleh Ki Ageng Gumilar maka saya cukup ingin memajukan desa ini agar lebih maju saja." Ucap Wisang Geni tanpa ada yang disembunyikan.


"Benarkan ayah dugaan ku" Ucap Gesang menimpali jawaban dari Wisang Geni.


"Saya hanya tak tega melihat penderitaan rakyat waktu itu ayah, maafkan saya" Jawab Geni sambil menundukkan kepala.


"Jika aku berada di posisi mu pasti juga akan melakukan perbuatan yang sama anak ku" Jawab raja Cokro yang melihat raut wajah putra angkat nya penuh dengan penyesalan.


"Tenang Geni, kau juga tidak tahu tentang semua ini, jadi kau pun tak bersalah" Ucap pangeran Gesang Wicaksono kepada adik angkatnya ini.


"Lalu bagai mana rencanamu anak ku? " Ucap raja Cokro mencairkan suasana.


Desa ini akan saya jadikan tempat menghimpun kekuatan guna menyerbu kerajaan Mataram ayah" Ucap Geni dengan mantap.


"Coba kau jelaskan dengan rinci! " Pinta raja Cokro pada Geni, tak hanya sang raja bahkan putra mahkota juga kaget mendengar ucapan adik angkatnya tersebut.


"Paman Hadi Wijaya memberi pesan bahwa beliau mendukung penuh rencana saya ayah, jadi dari sini dan kita menyusun kekuatan, dan didesa Bambu kuning disana akan saya persiapkan segala sesuatunya ayah" Keterangan yang belum begitu di pahami sang raja dan pangeran.


Wisang Geni menjelaskan semua rencana perebutan kembali Mataram dengan detail pada raja serta putra mahkota, dua orang ini takjub dan heran, pemuda yang usia nya hampir sama dengan putri nya mempunyai rencana yang begitu matang. Bahkan rencana tersebut terkesan mustahil untuk dilaksanakan.


"Jika tidak kita coba maka kita tidak akan tahu bagaimana hasilnya ayah? " Jelas Wisang Geni pada kedua orang yang berada di depannya.


"Aku tak menyangka... Entah apa yang dapat ku berikan padamu kelak anak ku" Jawab raja Cokro dengan penuh haru.


"Saya tidak mengharap apa-apa ayah, saya harap rakyat kerajaan memiliki pemimpin yang adil dan bijaksana" Ucap Geni menutup pembicaraan tersebut.


Pagi yang cerah, matahari pun memuntahkan cahaya ke emasannya menerangi bumi, mencairkan embun pagi yang membekukan tumbuhan. Pagi ini semua masyarakat desa daun hijau beraktifitas seperti biasanya.


"Tuan, bagai mana rencana kita selanjutnya? " Tanya Macan Kumbang yang menyambut tuannya di gasebo depan rumah tersebut.


Disana juga berdiri sang raja serta pangeran Gesang.


"Ayah... Ke tujuh orang ini adalah bawahan saya, kelak mereka akan membantu kita" Ucap Geni sambil memperkenalkan mereka satu-persatu.


Setelah perkenalan singkat sang raja masuk kembali dalam rumah di ikuti dengan pangeran.


"Jadi...jadi... Tuan adalah pangeran mahkota?! " Ucap mereka bersamaan.


"Bukan.... Aku hanya anak angkat" Jawab Wisang Geni memberi perintah agar jangan terlalu keras mereka bicara.


"Benar... Berarti tuan adalah mantu dari raja, yang aku dengar raja punya putri cantik yang bernama Diah Pitaloka"


"Aku anak angkat bukan suami gadis cerewet itu" Ucap Geni sedikit sewot mendengar ucapan macan Loreng yang ada di samping kirinya.


Dia tak sadar di belakangnya sudah berdiri Pitaloka dengan muka merah akibat perkataan Wisang Geni barusan.


"Maaf tuan kami mau makan pagi dulu" Ucap macan Kumbang yang menyadari kehadiran Pitaloka dengan Wajah memerah tanda sedang marah.


"Eh... Kalian mau kemana kenapa tiba-tiba pergi? " Tanya Wisang Geni sedikit jengkel dengan kelakuan bawahan barunya, dia merasa aneh kenapa bawahannya tak menghiraukan seruannya, padahal biasanya mereka sangat patuh. Sambil menggaruk kepala Wisang Geni berbalik memutar badan.


"Kakang sayang... Apa yang barusan kakang katakan? Coba ulangi lagi! " Pinta sang Gadis dengan wajah merah padam.


"Itu... Anu... Paman Kumbang mirip gadis cerewet... " Ucap Wisang Geni serba salah dengan perkataan yang baru saja dia ucapkan.


"Apa bukan aku yang cerewet??? " Ucap Pitaloka sambil menarik Hidung Wisang Geni yang tepat berada di hadapannya.


"Aduh... Aduh... Iya... Benar paman Kumbang yang cerewet mirip gadis, bukan kamu... " Jelas Wisang Geni menahan sakit pada hidungnya.


Kejadian tersebut disaksikan ketujuh bawahan , raja, pangeran serta permaisuri yang sedang duduk di dalam rumah sembari menunggu mereka makan pagi bersama.


Setelah semua beres Geni meminta ketujuh bawahan baru untuk mengenal lebih akrab anggota pasukan Jogo Boyo. Sedang dia menuju rumah paman marlan guna membicarakan tentang senjata serta perkembangan pasukan yang di miliki desa ini.


Rumah paman Marlan serta bibi Marni kini sudah mulai diperbaiki, dan pasti lebih bagus dari sebelumnya.


"Selamat Pagi paman, bagaimana keadaan paman dan bibi?" Ucap Geni pada Marlan yang sedang mengawasi taman obat dan bibi Marni yang menyirami tanaman tersebut.


"Nak Geni... Tuan besar... " Ucap paman Marlan pada Geni dan raja cokro, walau sudah tiga minggu paman Marlan belum mengetahui nama ayah dari pemuda ini, dan hanya berani memanggil dengan sebutan Tuan besar.


Bibi yang mengetahui kedatangan rombongan ini setelah memberi salam langsung menuju pawaon(dapur) untuk membuat minum untuk para tamunya.


"Paman....bagai mana tumbuhan serta lumbung padi yang kita usahakan? Apa berjalan baik paman?" Tanya Geni pada paman Marlan yang duduk di balai-balai atau gasebo depan rumah mereka, tempat dimana para pekerja sering ngaso(istirahat).


Bibi Marni pun datang membawa teko dari tanah liat beserta singkong rebus sebagai makanan ringan untuk para tamunya.


"Semua sesuai perintah nak Geni, dan untuk gudang perlengkapan yang pernah nak Geni pesan belum satu orang pun yang pernah membukanya, ini kuncinya kalau nak Geni hendak memeriksanya" Ucap Marlan sambil menyerahkan kunci gudang yang selama ini bahkan raja Cokro pun belum pernah melihatnya.