
Sudah 4 tahun tragedi pembantaian di daerah kadipaten pati kerajaan Pajang, tragedi yang yang menewaskan lebih dari 90 calon prajurit kadipaten pati. Ternyata hal tersebut tidak hanya terjadi pada desa yang berada di kadipaten pati saja. Hal serupa juga terjadi di kadipaten Demak, kadipaten Kudus, serta kadipaten lain di bawah kekuasaan kerajaan pajang. Bukan tanpa alasan kenapa Ki Ageng berencana melemahkan kerajaan lain, setelah ambisi dia menguasahi Mataram berhasil, selanjutnya dia akan melakukan penaklulan kerajaan-kerajaan lain.
Kekacauan semakin bertambah dimana para perampok sekarang tak tanggung-tanggung dalam bertindak, bahkan mereka sering menghancurkan desa-desa yang mereka jarah. Hal ini membuat raja Mataram geram.
" Penjahat-penjahat itu semakin berani... Akan ku tumpas mereka..." Batin raja Mataram Sultan Cokro Kusumo.
Dalam kerajaan Mataram mempunyai 10 panglima perang andalan.
Patih sastro adalah Ketua dari 9 patih lainnya, dia paling sakti dan paling senior di antara patih lainnya. usia patih tersebut antara 55 tahun. Dengan sikap yang tegas dan di tunjang perawakan tinggi besar menambah angker tampang sang patih. Kemampuan beladiri nya setara dengan para Resi padepokan besar, Ditambah dengan pengalaman bertempur yang hebat, tak hayal patih sastro di angkat menjadi Ketua para patih atau panglima kerajaan Mataram.
" Prajurit ...panggil patih Sastro menghadap..." Perintah sang raja.
"Baik paduka..." Jawab seorang prajurit. Dengan cepat sang prajurit menuju ke kediaman patih Sastro .
" Patih sastro menghadap paduka raja..." Sambil bersujud sang patih menghadap Sultan Cokro.
" Berdirilah patih..." Jawab sang raja dengan muka sedikit masam, karena fikirannya sedang tidak baik-baik saja. Batin nya sedang susah memikirkan nasib penduduk kerajaan.
" Patih... 4 tahun terakhir ini situasi kerajaan sedang kacau, aku berencana mengadakan pembersihan, penjahat-penjahat itu harus di musnakan..." Ucap Sultan cokro yang tampak murung.
" Biarkan hamba turun tangan paduka,..." Ucap patih Sastro.
" Kau tak perlu turun tangan langsung, masih ada panglima-panglima lain... Kalau kau ikut pergi aku kawatir akan keamanan keraton, kau utus lah sebagian panglima perang mu...dan kau tetap jaga dalam keraton ini.." ucap Sultan cokro.
" Sultan...kenapa sekarang penasehat jarang melapor ke keraton...? Tanya patih Sastro,
" Mungkin Ki Ageng sedang sibuk,...dia juga ikut pergi menumpas para penjahat itu, maka tinggal kamu seorang yang aku percaya menjaga keamanan keraton..." Kata sang Sultan dengan muka yang terlihat kusut, tersirat kepahitan yang nampak pada wajah beliau.
" Baik Sultan... Hamba mohon pamit,... Biar aku kirim sebagian prajurit pilihan untuk menumpas para penjahat itu..." Ucap sang patih.
Patih Sastro mengumpul kan semua panglima, dari pertemuan itu di utus lah ke 5 palinglima muda untuk menumpas para penjahat.
Patih tidak mengutus semua karena dia tak mau kecolongan, kalau seandai nya di kirim semua untuk Musi ini takutnya istana di serang dari kerajaan lain. Maka sang patih hanya mengutus 5 bawahan andalan nya.
\* \* \* \* \*
" Ayahanda... Kenapa terlihat nurung..." Tanya seorang putri cantik. Berumur 19 tahun kepada Sultan Cokro, bersama dengan laki-laki yang usianya 24 tahun.
" Ayahhanda jangan terlalu capek,... Kawatir kan juga kesehantan ayah, urusan kerajaan memang penting kesehatan juga penting,...kalau ayahanda sakit nanti siapa yang memikirkan nasib rayat Mataram..." Saran sang putra mahkota, Gesang Wicaksono.
" Ayahanda,... Kami bukan anak kecil lagi, coba lihat wajah ayahanda menunjukan banyak beban..." Ucap sang putra sopan.
" Ayahanda ijin kan putri mu ini ikut dalam penumpasan para penjahat,...aku tak sanggup melihat kejahatan meraka ayahanda,..."
Ucap putri cantik itu.
" Putri ku... Kamu itu anak gadis,... Tugas mu kelak jadi istri dan ibu dari anak-anak mu... Ayah tak mengijikan kamu ikut serta dalam penumpasan itu...!"
" Ayah.... Apa ayah ragu dengan kemampuan ku...? Bahkan kakanda saja tak bisa mengalahkan ku..." Rajuk putri itu.
" Ayah tak meragukan kemampuan mu... Murid langsung patih Sastro,patih dengan kemampuan tinggi,...bahkan ayah mu ini mungkin tak mampu melawan mu..." Sanggah sang ayah.
" Ayolah ayahanda ... Aku janji selesai kerusuhan yang terjadi di kerajaan ini aku akan menukah..." Rayu sang putri pada ayahnya.
Sultan Cokro kaget mendengar ucapan putrinya, sebab selama ini jika di singgung masalah pernikahan putri nya ini langsung menolak dengan berbagai alasan. Bahkan tak sedikit putra para Adipati mengajukan lamaran dan semua nya di tolak.
" Baiklah... Tapi ingat janji mu pada ayah mu ini, selesai urusan kerajaan Mataram kamu harus menukah...! "
" Terima kasih ayah ganda..." Jawab putri itu dengan wajah ceria.
Kesempaten ini tak akan di sia-siakan, karena selama ini sang putri tak pernah di beri kesempatan keluar keraton, setiap hari kegiatan nya hanya belajar sastra dan silat.
Sang kakak pun hanya bisa menggelengkan kepala dengan kelakuan adik nya ini, harus nya sebagai putri raja dia belajar sastra saja, belajar berumah tangga. Tapi adik nya lain , sang adik malah punya jiwa pendekar dan patriot yang tinggi. Dan selalu ingin menumpas kejahatan. Pikiran sang ayah pun tak jauh beda dengan sang kakak.
" Kang mas Sultan... kenapa memberi ijin putri kita ikut dalam penumpasan para penjahat,...apa kang mas tidak kawatir dengan putri kita,..." Dengan nada sedikit lebih tinggi dari biasanya, istri Sultan Cokro kawatir dengan nasib putri mereka.
" Tenanglah diajeng,... Sebagai seorang ayah aku jugu kawatir...
Tapi diajeng pasti kaget kenapa saya ambil keputusan itu, putri kita janji setelah semua selesai di mau dinikahkan..." Yakin sang Sultan pada istri nya, Roro ayu Sekar Kedaton.
" Apa benar kang mas...? Tapi bagaimana pun aku tetap kawatir kang mas..." Ucap sang istri
" Diajeng tenang saja...nanti akan ku printahkan satu patih muda untuk mengawal putri kita..." Ucap sang Sultan meyakinkan istrinya.
Terdengar kicau burung pagi, butir embun pun masih nampak dan semilir angin mempermainkan daun-daun yang masih basah. Paduan suara ini seakan-akan membangunkan manusia dari tidur panjangnya. Pagi itu merupakan hari dimana penumpasan para penjahat akan dilaksanakan. Dimulai dari kadipaten-kadipaten terdekat dengan kerajaan. Tedapat 3000 pasukan akan di kirim pada misi kali ini,di bawah 5 patih ( panglima perang) yang sudah di pilih sebelumnya.
Setiap patih membawa 600 pasukan yang akan bertugas secara terpisah di setiap kadipaten. Tentu nya pasukan yang di bawa para patih-patih ini akan bergabung dengan pasukan yang ada di kadipaten-kadipaten yang akan mereka bantu. Terlihat juga seorang putri cantik dengan membawa pedang di pinggangnya. Putri ini di kawal patih muda bernama wiryo sangkolo.patih muda dengan kemampuan yang mumpuni, di di gadang-gadang akan menggantikan Maha patih Sastro. Wiryo sangkolo merupakan anak serta murid langsung dari Maha patih Sastro. Bisa di bilang wiryo sangkolo ini adalah kakak perguruan dari putri tersebut, dari situ terlihat keakraban dari kedua insan berlawanan jenis ini. Putri ini ber beda tugas dengan pasukan lain nya, dia hanya membawa 10 orang pengawal dan kakak seperguruan nya, wiryo sangkolo. Putri tersebut berencana akan menyisir langsung ke desa-desa di setiap kadipaten. Hal ini bukan tanpa alasan, kalau sang putri ke kadipaten-kadipaten pasti akan menggemparkan penduduk, karena identitas nya pasti ketahuan. Dari hal itu putri menyusur ke desa dengan maksud menyembunyikan identitas aslinya. Bahkan yang lebih berbahaya pasti dia akan di incar para penjahat karena status nya sebagai putri Sultan Cokro.