
Pemuda ini menggunakan jurus kedua dari kitab dewa pedang, jurus hujan musim semi. Serangan yang dilancarkan Wisang Geni begitu cepat serta terus menerus laksana air hujan yang turun dari langit.
Wisang Geni tidak ingin membuat malau guru silat Kerajaan Pajang. Pemuda ini mundur dan mengurangi daya serangannya seakan-akan dia kelelahan. Raja Hadi mengetahui hal tersebut, karna dia juga ahli beladiri, bahkan Resi Kumboyono sedikit berada di bawah kemampuannya.
"Mohon guru besar menggunakan jurus kedua, saya sudah tak sanggup bertahan lagi" Ucapan Wisang Geni pada Resi Kumboyono. Sang Resi tahu anak ini menyelamatkan mukanya dihadapan prajurit Kerajaan Pajang, serta di depan murid-murid lainya.
Resi Kumboyono menyiapkan jurus pertahanan yang diajarkan pada Suro. Pertandingan epik kembali terjadi, pertandingan terlihat seru walau tak di sertai tenaga dalam. Kini Wisang Geni menyerang dengan jurus pertama dari kitab pedang dew yama, jurus pedang kilat.
Jurus ini murni kelincahan yang di perlukan, laksana seperti kilat yang menyambar-nyamnar. Serangan tebasan mendatar Wisang Geni sangat menakutkan. Serangan yang di gunakan para pembunuh bayaran. Dimana serangan ini dapat membunuh lawan dengan sangat cepat.
Resi Kumboyono yang merasa terpojok pun menggunakan jurus yang dia ciptakan untuk Suro.
"Gunung menahan badai" Teriak resi Kumboyono bertahan dengan kemampuannya, kali ini serangan Geni berbeda dari sebelumnya, kini serangan tunggal tapi serangan ini terasa lebih cepat dari yang dirasakan diawal pertandingan.
"Jurus pemuda ini sangat hebat, pantas kedua murid ku dapat dikalahkan dengan mudah" Batin Resi Kumboyono sembari menangkis setiap serangan guru beladiri Kerajaan Pajang tersebut.
Sang Raja takjub dengan kemampuan pemuda ini, jurus yang dia gunakan sangat hebat, terutama kecepatan yang memang sulit disaksikan dengan mata. Laksana petir, sebelum suara terdengar tapi sayatan sudah mengenai sasaran yang diinginkan.
Serangan terakhir Geni mengenai sang resi pada bagian rusuk, tapi penuda ini memukulkan pedang pada bagian yang tidak tajam sehingga sang resi tak mengalami luka, Lagi-lagi pemuda ini merelakan dadanya tertendang seolah-olah dia tak dapat menembus pertahanan sang Guru besar.
Akibat tendangan tersebut Wisang Geni terdorong mundur serta terjatuh dengan posisi setengah duduk, dia memegang dada yang tadi terkena tendangan.
Pitaloka yang menyaksikan ini langsung meloncat ke atas arena pertandingan.
"Apa kakang terluka...?" Tanya sang gadis memeriksa dada pemuda tersebut. Pemandangan yang jelas membuat iri para pemuda yang melihat nya, terutama patih muda Wiryo Sangkolo.
"Aku baik-baik saja Pitaloka" Ucap Wisang Geni menenangkan kepanikan sang gadis. Pitaloka melihat Geni terkena tendang langsung panik serta kawatir, dia lupa bahwa pemuda di depannya adalah ahli pengobatan serta tabib yang handal.
"Trimakasih guru besar mau bermurah hati padaku dan mau mengalah, jika diteruskan mungkin aku akan babak belur" Ucap Geni pada Resi Kumboyono sambil berjalan turun dari arena
"Sungguh Pemuda yang bijaksana, seandainya tadi pedang nya benar-benar digoreskan pada tubuhku, mungkin aku sudah terpotong menjadi dua" Batin sang resi sambil menuju tempat Wisang Geni berdiri.
"Sudah kakang... Kita kembali saja ke kamar akan ku obati kau" Ucap Pitaloka sambil memapah Wisang Geni. Gadis ini Walau tahu Wisang Geni tak terluka parah tapi dia tetap kawatir dengan keadaan pemuda ini.
"Dasar gadis bandel mau mengobati Wisang Geni, memang kau bisa" Tanya sang raja sambil mengejek gadis tersebut waktu melintas didepannya.
"Ah... Paman, aku kan murid kang Geni dalam hal pengobatan jadi pasti bisa mengobati luka nya" Jawab Pitaloka sedikit sewot mendengar ejekan sang raja.
"Sungguh pemuda yang hebat" Ucap sang raja yang sedang menemui resi Kumboyono.
"Benar paduka, dia memang hebat, aku mengakui itu" Jawab resi Kumboyono menimpali pernyataan sang raja.
Semua yang hadir kembali pada tugas Masing-masing.
Dalam hal tenaga dalam memang Wisang Geni kalah jauh tapi ketrampilan bertarung dia tak kalah dengan Kumboyono.
"Untung saja tadi pemuda itu mengalah dengan ku kalau tidak... Mau ditaruh mana muka ku" Ucap lirih Resi Kumboyono dengan sang raja.
"Betul sekali Guru besar, dia memang pemuda hebat serta bijaksana" Jawab raja yang sedang berjalan di depan Resi Kumboyono.
Akhirnya semua penonton kembali, sama seperti Wisang Geni yang kembali kekamar sambil dipapah gadis cantik ini. Dia merasa senang di perhatikan gadis ini, Pemuda seakan punya semangat lain waktu berada di dekat gadis cantik ini.
"Kakang cepat buka baju, akan ku obati lukamu!" Perintah Pitaloka mirib seorang ibu pada anaknya. Wisang Geni hanya menurut saja, dia tak kuasa menolak maksud baik gadis ini.
"Lain kali kalau kakang sudah lelah tidak usah dipaksakan, kalau seperti ini kakang sendiri yang repot, mana obatnya" Pinta sang gadis pada Wisang Geni.
"Katanya murid ku ini sudah pandai ilmu pengobatan, kenapa sekarang malah meminta obat pada ku? " Goda Wisang Geni pada Pitaloka.
"Kakang ini... Sudah tahu aku cuma pura-pura belajar pengobatan malah meledek ku" Ucap Pitaloka sambil cemberut di pinggir tempat tidur Wisang Geni.
Tidak ingin merusak suasana Geni langsung mengeluarkan obat dari kantong ajaibnya.
"Ini.. " Ucap Geni sambil menyerahkan botol kecil dari keramik pada Pitaloka.
Raja Hadi dan resi Kumboyono yang merasa kawatir dengan pemuda itu bermaksud melihat seberapa parah luka yang dialami Wisang Geni. Mereka berdua menuju kamar Wisang Geni.
Mereka berdua melihat Pitaloka yang sedang mengoleskan obat luka luar pada tubuh Wisang Geni.
"Ternyata keponakan paman yang nakal ini pandai juga dalam ilmu pengobatan" Ucap raja Hadi di depan kamar Wisang Geni.
"Eh... Paman, lihat paman begitu hebatnya keponakani ini" Sombong Pitaloka tetap sambil mengoleskan obat pada dada pemuda ini. Raja Hadi Wijaya hanya tersenyum menanggapi ocehan keponakannya ini.
"Bagaimana luka mu Geni?" Tanya raja Hadi pada pemuda yang ada di hadapannya ini.
"Kakang Geni hanya luka luar saja paman, semua sudah dapat kuatasi" Ucap Pitaloka menjawab pertanyaan yang sebenarnya tidak di tujukan padanya.
"Kalau memang luka mu belum sembuh , lebih baik di undur saja rencana mu" Ucap sang raja menghawatirkan keadaan pemuda ini.
"Seperti yang disampaikan adek Pitaloka paman, aku hanya luka luar saja, paling sore nanti sudah sembuh." Jawab Geni menerangkan keadaan nya, dia tak ingin sang raja berubah pikiran.
"Kalau memang begitu, biar para abdi dalem(pelayan) menyiapkan apa-apa yang kau perlukan." Ucap raja Hadi.
"Apa kau ingin membawa pedang Jiwa menara sebagai senjata mu? " Tanya raja sambil mengangkat pedang ditangan kirinya.