SATRIA PININGIT

SATRIA PININGIT
KERAJAAN PAJANG



Kedua muda-mudi ini berangkat ketika hari menjelang siang. Mereka melakukan perjalanan dengan santai sembari mengamati keadaan masyarakat kerajaan Pajang.


Mereka berdua sadar bahwa kabar jatuhnya kerajaan Mataram telah di dengar masayarakat Kerajaan pajang.


Karna berangkat terlalu siang kedua pemuda ini belum sampai di kerajaan Pajang. Akhirnya mereka mencari tempat menginap di daerah kudus yang memang tak begitu jauh dari pusat kerajaan Pajang.


"Ada yang bisa kami bantu kisanak?" Tanya paman penjaga penginapan pada Wisang Geni.


Sebelum Wisang Geni menjawab pertanyaan paman tadi.


"Kami butuh kamar terbaik yang paman punya, kami mau bulan madu paman" Jawab Pitaloka sambil mengedipkan mata pada Wisang Geni.


"Dasar gadis centil" Ucap lirih Wisang Geni yang terdengar jelas oleh Pitaloka.


"Dasar pemuda mesum" Jawab balik Pitaloka membela diri. Melihat percakapan muda-mudi ini dang pan tadi hanya menggelengkan kepala.


KERAJAAN PAJANG


Patih Sastro dan dan anak nya sudah satu purnama di kerajaan Pajang. Mereka juga membantu Pajang dalam pencarian Putri Pitaloka, batinnya pun berkecambuk karna mendengar kerajaan Mataram kini sudah Jatuh dan dikuasai Ki Ageng Gumilar.


"Yang mulia hamba bermaksud kembali ke Matraman untuk memastikan kabar yang tak sedap tentang Mataram" Pinta patih Sastro pada raja Pajang.


"Paman patih mohon bersabar biar telik sandi(kata-kata) memastikan dulu tentang kebenaran berita tersebut" Ucap raja Hadi Wijaya pada patih Sastro.


"Kalau kamu kembali saat ini sama halnya menyerahkan nyawa saja. Dan jika perlu kita akan menyelamatkan Kakang Cokro Kusumo dan merebut kembali kerajaan Mataram. Tapi itu perlu rencana yang matang. " Lanjut raja Hadi Wijaya memberikan arahan pada Sang patih. Sang patih hanya mengangguk saja, karna batin Sang patih sangat kacau. Raja Hadi Wijaya pun mengerti apa yang sudi khawatirkan Sang patih.


\* \* \* \* \* \* \* \* \* \*


Pagi ini kedua muda-mudi melanjutkan perjalanan kembali, kali ini mereka berangkat pagi-pagi sekali. Mereka ingin segera bertemu dengan raja Pajang, Wisang Geni terlihat banyak melamun dalam perjalanan kali ini.


"Kakang... Kenapa kakang melamun, apa yang menjadi pikiran kakang" Tanya Pitaloka yang berada di samping nya.


"Entah aku juga bingung memikirkan apa? " Jawab Geni dengan nada datar seakan-akan tidak ada hal yang dia pikirkan.


"Apa kakang belum percaya padaku?" Tanya Pitaloka pada pemuda yang ada disampingnya.


"Entah" Jawab singkat Wisang Geni yang memacu kuda lebih kencang.


Hari masih pagi, kedua muda-mudi ini telah sampai di kerajaan Pajang, kerajaan yang memang tak sebesar Mataram, tapi memang kerajaan ini cukup kuat. Keduanya langsung menuju gapuro(pintu masuk) kerajaan Pajang.


"Berhenti kisanak! kemana tujuan dan mau apa kisanak hendak masuk ke kedalam keraton?" Pertanyaan yang tak bersahabat dari pemuda yang berbadan tegap ini, walau ucapannya sopan nada yang dilontarkan seperti berbicara pada seorang penjahat.


Wisang Geni sadar kenapa kepala prajurit ini menegurnya laksana penjahat, itu semua karna penampilannya sendiri yang amat mencurigakan dengan topeng ini. Wisang Geni jelas kenal dengan pemuda yang ada didepannya kini.


"Maaf kan kami kepala prajurit kami hanya ingin menghadap raja Pajang" Jawab Geni dengan sopan. Dia ingin menggoda saudaranya tersebut. Pitaloka hanya diam menyaksikan percakapan kedua pemuda ini. Dia telah berjanji Pada Wisang Geni tak akan membuat olah.


"Aku adalah anak bopo dan ibu ku kepala prajurit" Jawab Geni dengan nada sedikit bercanda.


Pemuda ini adalah kakang Waseso, pemuda tampan dengan badan tegap serta dipinggangnya terselip pedang yang cukup bagus.


"Dasar lancang... Jaga mulutmu kisanak kalau tidak akan ku robek nanti" Ucap Waseso dengan nada menantang. Memang sifat Waseso sedikit pemarah, apalagi pada orang asing yang misterius.


Waseso yakin dengan bentakan pemuda ini pasti akan mengurungkan niatnya. Apalagi kemampuan pemuda ini hanya ada di tingkat pendekar utama, jelas tak akan mungkin pemuda bertopeng ini berani dengannya.


"Merobek mulutku? Apa kepala prajurit punya kemampuan itu" Ucap Geni sambil mengikatkan kudanya pada pohon yang tak jauh dari gapuro tersebu. Pitaloka pun mengikuti tindakan Wisang Geni. Kali ini Pitaloka harus menjadi gadis manis yang tak banyak ulah.


"Kurang ajar... Aku akan benar-benar menyobek mulut busuk mu itu" Teriak Waseso sambil mencabut pedang yang terselip pada pinggangnya. Dia sangat emosi dengan jawaban Geni. Tanpa menunggu aba-aba Waseso langsung menyerang Wisang Geni dengan ganas.


Wisang Geni hanya tersenyum, dia ingin menjajal kemampuan kakangnya ini. Dia pun bergerak menangkis serangan yang dilancarkan oleh kakang Waseso, gerakan Wisang Geni sangat lincah bahkan dalam posisi diserang dia masih bisa mengeluarkan candaan pada kang Waseso.


" Ternyata cuma begini kemampuan kepala prajurit, sungguh sangat disayangkan" Candaan Geni pada kakang Waseso. Mendengar ucapan pemuda bertopeng ini Waseso makin terbakar amarahnya, Serangan yang dilancarkan pun semakin brutal dan mematikan.


Dari kejauhan nampak seorang pemuda melihat dengan kaget pertarungan tersebut. Dia melihat adiknya dibuat kalang kabut oleh pemuda bertopeng tersebut. Tak ingin sesuatu terjadi pada adiknya dia pun ikut membantu Sang adik bertarung. Pemuda ini adalah Suro, saudara kembar Waseso.


Pertarungan sengit pun terjadi antara Wisang Geni dan dua saudara kembar ini.


"Kenapa kisanak membuat rusuh di sini?" Tanya Suro pada Wisang Geni.


"Aku hanya tamu... Mana mungkin berani membuat rusuh, lebih baik kau tanyakan pada saudara mu itu" Jawab Wisang Geni di sela-sela pertarungan mereka bertiga.


Kabar pertarungan itu pun sampai di dalam keraton kerajaan. Seketika patih Sastro memuncak emosinya, karna pikirannya yang sedang kalut. Mendengar ada yang mengacau di segera berlari menuju tempat pertarungan tersebut terjadi.


Melihat pemuda bertopeng bertarung dengan hebatnya melawan dua kepala prajurit sontak Sang patih terjun dalam arena pertandingan. Patih ini langsung menyerang pemuda tersebut dengan ganas.


Patih Sastro yang sedang memuncak emosinya langsung mengeluarkan jurus andalannya.


"Jurus gumbolo geni" Wisang Geni yang tahu akan dahsyatnya jurus ini langsung mengeluarkan jurus yang sama. Dia bermaksud menjajal kemampuannya menggunakan jurus gumbolo geni yang di pelajari dari guru keduanya.


"Gumbolo geni" Teriak Wisang Geni yang akhirnya beradu pukulan dengan patih Sastro.


Blam... Duar... Bunyi kedua pukulan saling beradu. Keduanya mundur beberapa langkah kebelakang.


"Tahan ayah...pemuda itu berada di pihak kita" Teriak patih muda Wiryo Sangkolo dari belakang yang langsung berada di tengah-tengah kedua orang yang sedang berbanding itu.


"Apa maksud mu anak ku?" Tanya Patih Sastro pada Wiryo.


"Pemuda ini yang dulu pernah menyelamatkan aku ayah" Jelas Wiryo mengingatkan patih Sastro,dimana dirinya diselamatkan pemuda bertopeng.