SATRIA PININGIT

SATRIA PININGIT
MATARAM RUNTUH



Raja Cokro memang sudah menduga bahwa Ki Ageng Gumilar adalah dalang dari kerusuhan ini. Dengan susah payah raja Cokro berdiri, dia memandang Ki Ageng Gumilar dengan benci dan marah.


"Kenapa kau lakukan ini...apa selama ini perlakuan ku kurang baik pada mu?" Tanya raja Cokro dengan mehan amarahnya.


"Kenapa kata mu...kau merebut semua yang seharus nya jadi milikku!, Aku anak tertua dari raja sudah sepantasnya akulah yang menjadi raja berikutnya, Bukan engkau adik ku!" Jawab Ki Ageng Gumilar dengan sedikit senyum mengejek.


" Lalu kenapa kau setuju waktu aku dinobatkan jadi putra mahkota, kenapa kakang tak meminta pada ayah untuk menjadi raja, malah kau sendiri yang mendukung keputusan ayahanda?" Tanya raja Cokro dengan marah.


"Kau pikir mudah meyakinkan orang tua bodoh itu( raja Mataram terdahulu). Keputusannya tak akan mudah untuk dirubah!" Jawab Ki Ageng Gumilar sambil turun dari atas kudanya.


Raja Cokro yang sudah sangat marah langsung berlari menyerang Ki Ageng Gumilar. Tapi sebelum serangan itu sampai tiba-tiba pergelangan tangannya sudah di cengkram oleh kui Juru Sentanu. Raja Cokro mengetahui dia posisi berbahaya langsung menjatuh kan diri kesamping sembari melepaskan tendangan yang dapat ditangkis Ki Juru Sentanu.


"Lawan mu adalah aku...kenapa kau menyerang Ki Ageng? Apa kau pikir aku bukan lawan yang pantas untuk mu?" Ledek Ki Juru Sentanu meledek sang raja yang jatuh bergulingan menghindari serangan darinya.


Ki Juru Sentanu bersiap memasang kuda-kuda untuk pertarungan selanjutnya melawan raja Cokro. Tiba-tiba pundak kiri Ki Juru Sentanu di pegang oleh Ki Ageng Gumilar.


"Biar aku yang memberi pelajaran pada adik ku yang kurang ajar ini!" Larang Ki Ageng Gumilar kepada Ki Juru Sentanu, dia ingin memberikan pelajaran pada raja Cokro.


Raja Cokro tahu betapa hebat kakak nya, dia pun bersiap dengan segala resiko. Raja Cokro pun bersiap mengerahkan segala kemampuannya untuk melawan Ki Ageng Gumilar.


Raja Cokro mengambil insiatif menyerang lebih dulu, karna dia tak mau kalah sebelum bertarung dengan Ki Ageng Gumilar. Raja Cokro menyerang dengan segenap kemampuan yang dia miliki, serangan yang cukup hebat dan dahsyat.


Ki Ageng Gumilar yang sudah tahu kemampuan adiknya hanya tersenyum, Ki Ageng sudah paham betul jurus-jurus yang di gunakan adiknya. Tanpa adanya kesulitan di menghindar serta menangkis serangan yang dilancarkan raja Cokro.


Tidak membutuhkan waktu lama raja Cokro pun tunduk kepada Ki Ageng karna kemampuan mereka berbeda jauh. Sebuah pukulan kembali bersarang di dadanya. Raja Cokro jatuh tersungkur di tanah dengan luka yang cukup parah. Tapi luka yang di derita sang raja masih bisa di katakan jauh dari kematian,dia berusaha berdiri.


"Cepat tangkap raja lemah itu, ikat dia dan penjarakan dan jangan sampai lepas" perintah Ki Ageng kepada prajurit nya. Raja Cokro akhirnya tertangkap kondisinya sangat mengenaskan,tapi dia masih bisa bertahan dengan luka yang lumayan parah.


Ki Ageng Gumilar beserta pasukannya menuju ke istana kerajaan, alangkah kagetnya dia melihat keadaan keraton sudah dalam keadaan kosong, jangankan permaisuri dan putranya para abdi dalem(pelayan) pun sudah tidak ada disana.


"Kurang ajar...ternyata Raja itu sudah mempersiapkan segala kemungkinan yang akan terjadi" Ucapan Ki Ageng Gumilar.


Walau kecewa tidak dapat menemukan permaisuri setidaknya kekuasaan sudah ada dia dapatkan. Karena kekuasan ini lah yang dia impikan selama ini. Tapi dia sendiri bingung kemana perginya permaisuri dan pangeran Gesang Wicaksono?.


KILAS BALIK


Setelah mendengar benteng pertahan dapat di terobos Gesang dan ibunya berencana melarikan diri,tapi permaisuri bingung harus kemana?.


"Anak ku lebih baik kita membantu ayah mu dan ikut bertarung hingga titik darah penghabisan!" Saran permaisuri Roro ayu pada anaknya Gesang Wicaksono.


"Kau lihatlah putra ku kerajaan sudah terkepung kita tidak akan bisa lari..." Terang sang ibu pada putranya, melihat kondisi kerajaan yang sudah di kepung musuh. Permaisuri Roro ayu Sekar Kedaton sangat kawatir dengan keadaan suaminya.


" Pangeran... pangeran..." Panggil dua prajurit pengawal nya datang dengan tergesa-gesa.


"Ada apa pengawal?" Jawab Gesang Wicaksono singkat


"Ternyata dalang dibalik penyerangan adalah paman dari pangeran, Ki Ageng Gumilar..." Terang pengawal tentang apa yang terjadi sebenarnya.


"Paman Gumilar....bangsat....akan aku balas nanti!" Batin pangeran seperti tidak kaget,karna pangeran pernah bicara dengan ayahanda nya tetang kecurigaan dalang dibalik kerusuhan yang terjadi.


"Apa...kakang Ageng Gumilar adalah dalang semua ini?" Teriak kaget permaisuri yang mendengar laporan pengawal tersebut.


"Sebaiknya kita kepajang dulu ibu...aku akan minta saran pada paman Hadi Wijaya." Ucap Gesang menenangkan ibunya.


"Bagai mana kita bisa keluar pangeran, keraton sudah terkepung pemberontak?" Tanya salah satu prajurit.


"Kalian berdua ikut aku...ibu mari pergi" ajak pangeran Gesang Wicaksono sambil menggandeng tangan ibunya.


Pangeran Gesang pergi menuju perpustakaan kerajaan di sebelah selatan dari istana Mataram. Dalam perpustakaan ada meja dari kayu yang tempatnya paling ujung dari perpustakaan tersebut. Pangeran langsung memutar salah satu tempat duduk dari batu. Dia di bantu 2 orang pengawal tadi berhasil memutar batu itu.


Seketika ruangan perpustakaan terdengar bunyi gemertak, lantai didepan mereka pun terbuka,terdapat anak tangga menuju ke dalam,Ketiga orang itu kaget bukan main.


" Kita menyelamatkan diri lewat lorong ini ibu..." Terang sang anak pada ibunya.


"Kalian berdua nyalakan obor untuk penerangan...!" Perintah pangeran pada kedua anak buahnya. Setelah semua masuk pangeran menekan tuas yang ada dalam lorong itu, lantai atas serta tempat duduk dari batu bergeser seperti semula. Nampak tidak pernah terjadi aktifitas di ruangan itu.


Pangeran Gesang Wicaksono pun tak tahu kemana arah lorong ini, ayahanda nya hanya mengatakan terowongan ini menuju tempat yang aman yang letaknya di Utara kerajaan Mataram. Perjalanan ini terasa amat sangat melelahkan di tambah penerangan yang di berikan obor pun terbatas.


Mereka berjalan tanpa istirahat, yang ada dalam pikiran mereka hanya ingin segera keluar dari lorong ini.


Dari kejauhan nampak cahaya mulai masuk, terdengar suara gemericik air. Tanpa memperdulikan rasa lelah mereka berempat segera berlari menuju sumber cahaya tersebut.


Mereka ber-empat sampai pada tepi lorong,tepat berada di tepi sungai yang tak begitu besar,arus nya pun biasa dan air nya pun jernih. Mereka langsung minum dari sungai tersebut karna selama berada dalam lorong mereka tidak makan atau pun minum sama sekali.


"Ibu lebih baik kita istirahat di dalam gua ini dulu, para pelayan ini memeriksa keadaan sekitar sini..." Ajak sang putra yang melihat betapa payah kondisi ibunya.