
"Saya tahu rencana ini terlihat seperti mustahil, tapi bagai mana pun juga harus saya kerjakan" Ucap Geni dengan mantap.
"Kita akan meracuni sumber air minum baik dari sungai atau sumber mata air yang ada di keraton" Ucap Geni dengan pasti.
" Apa tidak ada cara lain lagi nak Geni? Kasihan warga yang tidak berdosa" Ucap paman supar di ikuti anggukan Kang Bejo.
"Disinilah peran Keluarga paman Supar, keluarga ini akan menjadi tabib ahli pengobatan di sekitaran istana dan aku juga tidak akan membuat racun yang mematikan, mereka hanya akan mual dan lemas serta pusing dalam jangka waktu yang sedikit lama" Jelas Geni pada paman Supar dan keluarga.
"Tugas paman serta keluarga mengobati mereka yang terkena efek racun tersebut kecuali para prajurit, jika para prajurit sudah tak kuat berperang kita baru serang mereka, ini juga akan mencegah timbul banyak korban, bagai mana pun juga prajurit Mataram adalah saudara serta rakyat yang perlu kita lindungi, yang perlu kita basmi adalah para petinggi serta prajurit yang dulunya adalah mantan para penjahat" Jelas Geni meyakinkan mereka semua.
"Apa itu tidak terlalu licik dan jahat nak Geni?" Tanya paman Supar sedikit ada nada ragu dalam ucapan tersebut.
"Tidak paman, mereka lebih licik dan jahat waktu menggulingkan kekuasaan raja sah waktu itu, mereka membunuh calon prajurit yang dikirim dari desa. Itu salah satu upaya melemahkan kerajaan kecil atau kadipaten yang tidak sepaham dengan raja Mataram saat ini." Terang Wisang Geni pada paman Supar dengan nada tetap datar dan sopan.
"Dan perlu paman ingat,! Kekacauan yang terjadi di kerajaan ini ada ulah dari raja Mataram Ageng Gumilar. Serta para penjahat yang sering membuat kekacauan adalah urusan raja Mataram saat ini dan petinggi yang memungut pajak berlebih juga dibawah kendalinya. Apa menurut paman ini tidak lebih licik dan jahat dari cara ku?!" Lanjut Wisang Geni memberi pengertian dengan nada yang sedikit ada penekanan.
Semua yang hadir di ruangan tersebut tidak dapat menyangkal kebenaran yang disampaikan oleh Wisang Geni.
"Baik nak Geni kami bersedia membantu demi kesejahteraan rakyat Mataram." Ucap paman Supar dengan nada sungguh-sungguh di ikuti anggukan anaknya kang Bejo.
Di ruangan lain tampak serius percakapan ibu dan anak memperbincangkan sesuatu.
"Benar... Ibu aku mendengar langsung percakapan mereka." Ucap Diah Ayu meyakinkan ibunya.
"Aku tak menyangka,,, tapi memang kalau dilihat harta nak Geni memang layak kalau dia putra raja" Ucapan sang ibu menimpali perkataan anak gadis nya.
Sekilas tampak raut wajah anak gadisnya yang bersedih, sang ibu pun sebenarnya tahu bahwa Diah Ayu jatuh Cinta pada pemuda tersebut, namun sekarang setelah tahu bahwa pemuda tersebut anak raja bibi marni pun seakan tahu bahwa sirna sudah harapan putrinya.
"Sabar anak ku... Tidak akan lari gunung dikejar, jika nak Geni memang jodoh mu pasti akan tetap jadi milikmu" Ucapan sang ibu membesarkan jiwa sang anak, hal ini semakin membuat sang gadis semakin pedih hatinya. Sembari menahan isak tangis Diah Ayu memeluk ibunya.
Kembali ke tempat dimana Wisang Geni mengadakan pertemuan, setelah semua paham dengan apa yang telah direncanakan, serta tugas masing-masing, mereka pun kembali beristirahat. Paman Supar dan kang Bejo Pun tak habis pikir, rencana sebesar itu semua di kendalikan pemuda yang usia tak lebih dari 22 tahun.
Kedua anak dan bapak pun tidak mau membahas rencana ini diluar pertemuan. Keluarganya hanya diminta untuk menyiapkan berbagai macam obat serta kebutuhan lain sebagai pendukung tugasnya. Geni hanya memberi waktu kurang dari satu pekan(satu minggu).
"Kang Supar... Apa benar semua yang disampaikan oleh Diah Ayu?" Tanya sang istri sambil rebahan disamping Supar.
"Itu... Tadi Ayu sempat mendengar tentang keluarga nak Geni" Ucap marni dengan nada pelan seperti orang berbisik.
"Sudah lah Bu... Tidak usah di perpanjang, mending kita istirahat karna pekan depan kita harus ke Mataram, dan Tolong siap kan keperluan yang akan kita perlukan. " Ucap Paman supar pada istrinya. Bibi marni bingung kenapa mereka harus ke Mataram, tapi melihat raut wajah suaminya dia yang terlihat begitu banyak pikiran Marni hanya mengangguk.
Hari-hari berikutnya keluarga Supar sedikit canggung dengan keluarga Wisang Geni, merasa seperti ada yang aneh pemuda tersebut ingin bertanya langsung dengan keluarga paman Supar.
"Paman... Kenapa sekarang keluarga ini terlihat canggung dengan kedatangan kami" Ucap Geni dengan sedikit berbisik dekat telinga lelaki paruh baya tersebut.
"Maaf tuan apa ada kesalahan dalam pelayanan keluarga kami?" Ucap paman Supar dengan mimik wajah yang sedikit panik.
"Tidak ada kekurangan atau kesalahan dalam pelayanan paman Supar, tapi kenapa sekarang keluarga ini agak kaki dengan kami, tidak seperti kemarin-kemarin." Tidak tuan hamba tidak berani," Ucap paman supar sedikit takut.
"Sudah paman jangan begitu, saya takut penyamaran kami malah jadi terbongkar, paman bersikap biasa saja" Kata Geni sembari berlalu pergi.
Wisang Geni menuju tempat lain dibelakang rumah dimana disana terdapat kebun tanaman obat yang cukup luas, terlihat dua gadis cantik yang sedang berbincang-bincang dengan canggung.
"Jangan Tuan Putri biar saya yang bawa tanaman obat ini, ucap Diah Ayu sambil berusaha merebut keranjang obat yang dibawa Lokahita. Gadis ini pun kaget kenapa Diah Ayu Tahu identitas aslinya. Secara reflek Lokahita mengeluarkan belati yang dia bawa.
" Dari mana kamu tahu identitas asli ku?! " Tanya Lokahita dengan sebilah belati yang sudah menempel pada leher gadis desa Bambu Kuning ini.
Melihat kejadian tersebut Wisang Geni langsung mengerahkan langkah kilat.
"Apa yang kau lakukan Lokahita?! Ucap Wisang Geni sambil merebut belati ditangan adik angkatnya.
"Tu... Tuan tolong selamatkan hampa" Ucap Diah Ayu dengan wajah pucat pasi bersembunyi dibalik punggung Wisang Geni.
"Adik kenapa kau menyerang Diah Ayu?! " Jarang sekali Pitaloka dapat panggilan adik dari pemuda yang selama ini dia kagumi, sontak emosinya hilang, wajahnya memerah seperti udang rebus.
"Kakang...jangan-jangan gadis itu adalah mata-mata, dari mana kau tahu aku putri raja?! " Tanya Lokahita dengan penuh selidik kepada Diah Ayu.
"Apa yang kamu ketahui tentang keluarga kami dan siapa yang memberitahu mu? ?! " Tanya Wisang Geni pada Diah Ayu. Pertanyaan tanpa intimidasi serta tanpa emosi sekilas membuat kembali tenang Gadis yang diliputi rasa takut itu.
" Hamba mendengar dari percakapan tempo hari, dan hanya itu yang hamba dengar Tuan. " Jawab Diah Ayu memberikan keterangan yang dia pernah dengar waktu itu.