SATRIA PININGIT

SATRIA PININGIT
SURO DAN WASESO



Jauh di kerajaan pajang terlihat dua pemuda sedang latih tanding. Kedua pemuda itu mempunyai wajah yang sama, jika di perhatikan lebih teliti akan terlihat perbedaannya.


Usia kedua pemuda itu kisaran 23 tahun, perawakan sama wajah sama. Yang membedakan adalah tanda lahir pada mereka, sang adik mempunyai tanda hitam berupa garis di bawah mata sebelah kiri sang kakak tanpa tanda lahir.


Mereka berdua adalah Suro dan Waseso mereka kini menjadi kepala prajurit kerajaan pajang. Perjalanan mereka untuk sampai pada kerajaan Pajang juga bukan perkara mudah.


Awal mula mereka sampai kerajaan Pajang ketika kerajaan pajang mengadakan kompetisi kerajaan kadipaten Pati mengirimkan 20 orang prajurit nya guna mengikuti kompetisi itu.


Dan 2 pemuda inilah yang menjadi pemenangnya.


Mereka berdua berhasil menyingkirkan peserta dari kadipaten lain bahkan prajurit-prajurit kerajaan Pajang harus mengakui bahwa kemampuan pemuda ini jauh di atas kempuan mereka.


Raja pajang akhirnya merekrut 2 pemuda ini sebagai kepala prajurit. 2 pemuda ini merupaka murid andalan dari Resi Kumboyono.


Resi Kumboyono bekerja sebagai guru bela diri kerajaan pajang. Kemampuannya cukup tinggi bahkan hampir sama dengan resi Tomo. Resi Kumboyono menguasai berbagai macam bela diri. Dari pertarungan tanpa senjata sampai dengan mengunakan senjata.


"Kakang terima serangan ku" teriak Waseso menggunakan pedang andalannya. Suro melihat betapa kuat serangan sang adik langsung mengunakan jurus pertahanan.


"Gunung mehan badai!" Ucap Suro mengucapkan jurus pertahanan yang dia gunakan. Pertarungan sengit pun tak dapat dihindarkan, kedua pemuda saling serang.


Dalam latih tanding ini disaksikan sang guru, dia merasa bangga bahwa kedua muridnya cukup berbakat dalam seni bela diri. Kedua karakter muridnya walau mereka kembar tapi berbeda, Suro sang kakak lebih bijak daripada sang adik. Walau Waseso hebat tapi agak sedikit ceroboh di banding sang kakak.


Namun semua itu tak mengurangi rasa bangga sang resi kepada kedua muridnya.


Kedua pemuda ini bertugas sebagai pengaman pintu gerbang kerajaan Pajang, mereka bekerja dengan sangat baik. Sebenarnya kedua pemuda ini bisa diangkat sebagai Patih(perwira) perang berhubung mereka merasa belum mampu maka mereka lebih memilih menjadi kepala prajurit untuk saat ini.


Kejadian yang terjadi pada kerajaan Mataram pun telah menyebar, dan hal ini menyebabkan rasa kawatir pada masyarakat yang ada di bawah naungan kerajaan Pajang. Suro dan Waseso harus benar-benar teliti. Mereka tak mau ada penjahat yang masuk ke kerajaan Pajang.


Ditambah lagi ke dua pemuda ini selalu teringat kejadian 4 tahun silam. Kejadian tersebut membuat kedua pemuda ini sangat mencurigai gerak-gerik orang yang tak dikenal.


"Kang suro...aku harap Aryo dapat selamat dari malapetaka itu" kata Waseso sambil menatap langit malam itu.


"Aku harap juga begitu dik...kalau pun tidak sekarang menjadi tugas kita membasmi para penjahat yang meresahkan masyarakat' jawab Suro sambil menggenggam tombak yang dia bawa.


Mereka bercakap-cakap menghabiskan malam kala berjaga malam hari. Kedua pemuda ini memilih jaga bersama karna dengan begini mereka bisa saling melindungi.


Keesokan hari berikutnya mereka melaksanakan rutinitas berlatih dengan sang guru. Tak jauh beda dengan prajurit lain pada umumnya. Mereka mendapat pembelajaran ilmu bela diri yang sama ,namun bedanya kemampuan serta bakat Suro dan Waseso memang menonjol, selesai latihan prajurit lain Sura dan Waseso mendapat gemblengan lebih dari Resi Kumboyono.


"Murid-murid ku, sebenarnya apa alasan kalian belum mau diangkat menjadi Patih-patih muda kerajaan?" Tanya sang guru sambil mengelus jenggot putih nya.


"Murid baik...baiklah sekarang kalian berlatih jurus yang guru ajarkan kepada kalian, guru akan menguji kalian!" Perintah sang guru.


Mereka bertiga akan melaksanakan adu tanding, sang guru akan menjadi lawan kedua muridnya.


"Aku harap kalian tidak menahan kemampuan kalian, dengan begitu guru tahu seberapa kalian menguasai ilmu yang guru ajarkan" perintah sang guru pada kedua muridnya.


Kedua pemuda ini pun bersiap Mengeluarkan kemampuan terbaik mereka. Kedua pemuda ini sebenarnya sudah sering kali latih tanding dengan sang guru, tapi kali ini mereka akan bertarung dengan kemampuan penuh yang mereka miliki.


Sang guru mulai memasang kuda-kuda nya, tak beda dengan kedua pemuda yang akan menjadi lawan tandingnya. Suro dan Waseso mulai mempersiapkan senjata yang menjadi andalan masing-masing.


"Guru...lihat serangan" teriak weseso menyerang lebih dulu dengan pedangnya. Dia maju melesat dengan serangan-serang pembuka yang begitu dahsyat langsung menebas arah dada Kumboyono. Sang guru yang sudah dapat menebak kemana arah serangan muridnya dapat menangkisnya dengan mudah.


Sang guru menghindar kesamping kanan sembari menangkis weseso dia melancarkan tendangan dengan kaki kirinya. Waseso yang tahu tendangan gurunya mengincar pada titik yang berbahaya mengangkat kaki kiri guna menangkis tendangan sang guru.


Plak...plak...bugg...tendanga sang guru tepat mendarat pada dada Waseso, Suro yang melihat peluang tiba-tiba muncul dari belakang Waseso sambil mengarahkan ujung tombak sang guru.


Suro sebenarnya tahu sang guru dapat menangkisnya,tapi hal itu tetap dilakukan karna sebenarnya yang dia lakukan hanya pancingan.


Benar dengan dugaan Suro, sang guru menangkis dengan tongkat yang biasa dia bawa kemana-mana. Tongkat sepanjang sedepa ,tongkat ini adalah senjata pusaka yang selalu menemani Resi Kumboyono.


Akhirnya kesempatan yang dinantikan tiba, serangan suro yang dilakukan dengan tombak dapat ditangkis sang guru. Dengan begitu pertahanannya melemah.


Waseso yang paham dengan keadaan yang di ciptakan sang kakak langsung menyerang. Dia mengarahkan pukulan pada dada sang guru. Suro pun melancarkan tendangan yang mengarah ke kepala sang guru.


Resi Kumboyono mulai terdesak dengan serangan kombinasi yang di lakukan kedua muridnya. Dia tiba-tiba menghilang dari pandangan kedua murid tersebut.


Kedua pemuda itu bingung, mereka yakin bahwa serangan yang mereka lancarkan tepat mengenai sasaran. Tapi kenapa sang guru menghilang dari pandangan mereka, bahkan sang guru dengan santai menepuk pundak kedua murid yang sedang bingung itu.


"Ba...bagai mana melakukan itu?" Tanya kaget Waseso pada sang guru.


"Serangan Kalian berdua sungguh hebat hingga aku harus menggunakan jurus langkah bayangan" jelas sang guru menjawab kekagetan kedua murid tersebut.


"Guru mohon ajari kami dengan jurus itu" pinta Suro pada sang guru.


"Kelak akan aku ajarkan pada kalian...untuk saat ini kalian belum mampu menggunakannya, aku takut kalau aku ajarkan sekarang akan merusak pondasi tenaga dalam kalian" jelas sang guru pada kedua muridnya yang sedikit tersenyum kecut.


"Jurus itu memerlukan tenaga dalam yang cukup besar,,, kalau tenaga dalam kalian sudah cukup kuat pasti akan guru ajarkan pada kalian berdua" sambung sang guru memberikan penjelasan pada kedua murid andalannya.