
Hubungan wisang geni dan Diah Ayu pun mulai akrab.
"Kakang...apa kakang sudah punya kekasih di kampung halaman kakang?" Tanya gadis itu agak malu.
Wisang geni yang sedang minum air putih dari cawan yang terbuat dari tanah liat itu pun tebatuk kaget.
" Uhuk...uhuk, belum...eh...tidak aku tidak punya kekasih di desa ku" jawab wisang geni gugup sambil mengelap mulut nya akibat air yang dia minum tumpah.
" Lalu kenapa kakang gugup begitu?" Tanya Diah Ayu penuh selidik.
" Aku .. Anu... Aku tak pernah ditanya seperti itu, dan lagi siapa yang mau dengan pria jelek kayak aku?" Ucap Wisang Geni sambil membuka topeng kayu yang dia gunakan.
Wisang Geni ingin tahu bagai mana reaksi Diah Ayu waktu melihat wajah buruknya. Jika Diah Ayu tak mempermasalahkan maka dia gadis yang baik pikirnya. Sontak Diah Ayu kaget melihat wajah buruk Wisang Geni.
" Kakang !?" Ucap Diah Ayu yang tiba-tiba memegang wajah yang semula tertutup itu. Diah Ayu iba dan kasihan melihat wajah wisang Geni.
" Apa kamu tak takut dengan wajah ku...?" Tanya Wisang Geni.
Diah Ayu tak peduli dengan wajah Geni, tidak tahu kenapa dia merasa nyaman dekat dengan pemuda ini.
Bahkan Diah Ayu berharap Wisang Geni mengatakan suka padanya. Padahal banyak pemuda yang suka padanya tapi semua dia tolak dengan alasan tidak ingin menukah dulu. Tapi perasaan lain terhadap Wisang Geni.
"Ayu... Kamu adalah gadis pertama yang melihat wajah asli ku. Aku harap kau tiadak memberitahu siapapun tentang ini!" Pinta Wisang Geni pada gadis ini, kemudian dia memakai topeng nya kembali.
" Baik kakang." Ucap singkat Diah Ayu.
Satu bulan pun berlalu wisang geni telah mengajari Bejo serta Diah Ayu tentang pengobatan. Kedua kakak beradik ini memang berbakat dalam masalah pengobatan. Hubungan Diah Ayu dan Wisang Geni pun semakin akrab. Paman Supar beserta istri pun berharap mereka berdua berjodoh, tapi itu semua tergantung dari mereka berdua.
" Paman Supar dan bibi Yanti... Aku harap kelak paman dan bibi mendirikan balai pengobatan karena Bejo dan dik Ayu berbakat dalam hal pengobatan, dan lagi dirikan setelah Mataram dalam keadaan aman." Pesan geni pada sepasang suami istri itu. Mereka tahu maksud Wisang Geni. Dia akan mendirikan balai pengobatan yang bekerja adalah kedua anaknya.
Percakapan itu pun di saksikan oleh Bejo dan Diah Ayu. Gadis itu semakin kagum dengan sosok pemuda penolong keluarganya.
" Paman besok aku akan pergi, mengembara aku harap 5 tahun dari sekarang tempat ini akan maju" ucap Wisang Geni kembali menyerah kan 200 kupang emas pada keluarga itu.
Supar dan Yanti seakan mau pingsan Melihat harta pemberian anak muda ini.
" Baik nak Geni paman dan bibi akan menjalankan perintah nak Geni. Kelak balai itu akan kami beri nama sesuai nama nak Geni." Ucap paman Supar.
"Kakang benar akan pergi besok... Apa kakang tidak punya keinginan untuk tinggal di desa ini?"
" Benar Ayu...memang kenapa? Aku harus ke Nihon ada urusan yang harus aku selesaikan" ucap geni pada gadis itu.
Nampak kecewa pada wajah Diah Ayu, kejadian itu jelas terlihat oleh Wisang Geni yang tepat berada disampingnya.
"Kakang... boleh aku ikut pergi dengan Kakang?" Tanya sang gadis penuh harap. Entah apa yang di fikirkan gadis ini, dia merasa tidak ingin pisah dengan Wisang Geni.
"Aku sendiri belum pernah pergi ke negeri sebrang... Pasti banyak bahaya di perjalanan. Dan lagi siapa yang akan mengurus bopo dan ibu mu Ayu?" Larang Wisang Geni, dia merasa bahwa gadis ini menyukainya. Itu semua terlihat dari perlakuan serta cara bicara sang gadis pada nya.
" Aku akan Menunggu kakang sampai kembali..." Ucap Diah Ayu sambil menyadarkan kepala di bahu pria yang di telah membuat dia jatuh hati ini.
" Aku harap kelak kita dapat Bertemu dalam keadaan yang lebih baik..." Ucap Wisang Geni sambil menenangkan peresaan dalam batinnya.
Cinta sebuah ungkapan yang melambangkan perasaan senang, sayang dan bahagia. Perasaan tak ingin berpisah dari orang yang di cinta ini sedang dialami gadis yang baru menganjak usia 16 tahun ini. Yang mana perasaan nyaman serta ingin selalu bersama sosok laki-laki yang dia kagumi, walau pertemuan mereka belum begitu lama.
Perasaan itu datang secara tiba-tiba menghiasi relung hati setiap insan manusia. Baik Diah Ayu bahkan wisang Geni merasakan hal yang sama, perasaan tidak ingin berpisah dengan wanita pertama yang merebut hatinya. Malam itu waktu seakan berjalan begitu cepat, suara binatang malam menambah syahdu sausana saat itu.
Kejadian itu pun disaksikan kedua orang tua Diah Ayu, mereka berharap anak gadis nya kelak dapat pasangan yang baik seperti Wisang Geni, mereka juga tak berani meminta lebih wisang geni, anak muda itu telah banyak membantu keluarga supar.
Matahari seakan tergesa-gesa ingin segera keluar dia seakan tak sabar ingin segera betapa menunjukkan keperkasaannya pada dunia. Malam tadi Wisang Geni tidur di balai kecil bawah pohon depan rumah paman supar. Sedang Diah Ayu masih tidur berbantal paha dari pemuda yang menjadi pujaan hatinya.
" Ayu bangun, hari sudah pagi" ucapan Wisang Geni sambil menyentuh pundak gadis itu. Sontak Diah Ayu kaget dan langsung bangun.
" Maaf kakang... Aku ketiduran" jawab Diah ayu sambil berdiri. Wajah nya memerah karena malu. Diah Ayu langsung berdiri hendak membersihkan diri.
Setelah semua berkumpul dan makan pagi, hari ini bibi Yanti masak lebih enak dari hari biasanya. Dia ingin menjamu tamu serta penolongnya dan bahkan mungkin kelak jadi tuan dari keluarga ini. Mereka makan tanpa berbicara satu dengan yang lainnya. Mereka asyik dengan lamunan masing-masing.
Setelah makan pagi Wisang Geni berpamitan dengan keluarga paman Supar. Keluarga paman Supar sangat bersedih terutama Diah ayu. Gadis ini tak mampu membendung air matanya, hampir dua bulan mereka bersama tapi hari ini pemuda pujaan hati harus pergi.
" Kakang...aku akan menunggu mu sampai kembali" ucap Ayu sambil melambaikan tangan menyaksikan punggung pemuda itu.
" Aku harap kelak kita dapat bertemu kembali" ucap wisang Geni tanpa menoleh pada gadis itu, hatinya terasa sakit. Tapi bagai mana pun dia harus memenuhi janjinya pada sang guru.
Wisang Geni pergi dengan semangat yang berapi-api dia ingin segera menyelesai kan janji pada sang guru. Dalam hati ada keinginan lain setelah misi selesai dia akan segera menemui sang gadis yang telah merebut hatinya itu. Gadis cantik desa bambu kuning yang telah terpatri dalam sanubarinya.