
Seketika perampok itu mati, satu perampok lagi melihat kejadian itu langsung naik pitam dan menyerang Lokahita dengan ganas. Tapi Lokahita memang lebih unggul dalam ilmu silat, jadi dua perampok dapat di kalahkan dengan mudah.
"Bibi dimana para perampok itu,akan ku musnahkan mereka!" Ucap gadis cantik itu.
"Disana nona,tak jauh dari sini" ucap bibi tadi.
Dengan cepat Lokahita menuju yang dimaksud bibi tadi. Dengan emosi yang memuncak gadis itu seakan-akan melupakan keberadaan Geni.
Geni yang melihat kejadian tadi hanya bisa geleng kepala. Dia maklum kenapa gadis itu pergi dengan marah, memang awal mereka berjumpa Lokahita adalah gadis yang patriotik. Giadis ini menentang segala perbuatan jahat sampai akhirnya mereka bertemu.
Geni hanya menyaksikan dari jarak yang cukup jauh, dia ingin menyaksikan pertarungan sang gadis. Dia yakin Lokahita akan mampu mengalahkan perampok itu.
Telihat Lokahita yang bergerak lincah menghindar dari serangan para perampok itu. Jurus yang dimainkan cukup indah namum hebat.
"Gadis cantik menyerahlah...apa kamu tak takut kulit wajahmu akan tergores pedang ini?!" Ucap kepala perampok tersebut.
"Jika kau menyarah akan kami akan melapas keluarga ini,tapi sebagai gantinya kau harus melayani kami..ha...ha...ha"sambung kepala perampok tersebut,mata nya tak berkedip melihat Lokahita.
"Bedebah...kalian pantas untuk mati" jawab Lokahita dengan nada penuh kebencian. Lokahita tak menyadari posisinya tak menguntungkan,walau kemampuan silatnya tinggi tapi perampok ini berjumlah 20 orang. Mereka sudah kompak dalam melakukan serangan serta pertahanan.
Jadi dari tadi Lokahita hanya bisa menghindari serangan-serangan para perampok ini,sedang serangan yang Lokahita lancarkan dapat dengan mudah mereka tangkis.
Lokahita semakin emosi, dia melancarkan kemampuan terhebatnya. Tapi sangat disayangkan, sehebat apapun kemampuannya jika masih dikuasai emosi maka kemampuan yang dia keluarkan tidaklah maksimal.
Tenaga Lokahita mulai habis, Geni yang awalnya ingin memberikan pelajaran pada Lokahita tetang pengendalian emosi, dirasa sudah cukup kini di akan menyelamatkan gadis serta keluarga yang menjadi korban kawanan perampok tersebut.
Akibat kehabisan tenaga,Lokahita menjadi lemah. Dengan secepat kilat kepala perampok berhasil membekap mulut dan hidung Lokahita yang sebelum nya telah di taburi bubuk beracun.
Wust...gerak cepat kepala perampok menangkap Lokahita. Tubuh gadis itu seakan lemah tak bertenaga, kepala perampok itu kembali memasukan sesuatu kedalam mulut Lokahita.
Wisang Geni terlambat menyadari hal tersebut dan sekarang menjadi panik. Melihat kepala perampok memasukan sesuatu ke mulut gadis itu.
"Maaf pendekar...tidaklah pantas para ksatria hebat seperti kalian melawan seorang wanita, apa kata dunia nanti" ucap Wisang Geni yang secara tiba-tiba muncul di depan kawanan perampok itu. Mereka kaget kenapa tiba-tiba ada orang bertopeng muncul tanpa mereka sadari.
"Apa urusanmu kisanak?" Tanya salah soerang dari perampok tak berani berkata lancang pada orang yang ada didepan mereka.
"Sebelumnya aku tak ada urusan dengan kalian, tapi yang kalian tangkap itu adalah wanita ku, maka sekarang itu jadi urusan ku!" Wisang Geni mencoba menggertak mereka.
"memang benar kisanak ini adalah wanitamu, tapi mulai sekarang dia akan menjadi wanita kami...ha...ha..." tawa kelakar para perampok itu. Mereka menertawakan wisang geni,karna perampok itu mengetahui kemampuan pria bertopeng yang ada di depan meraka hanya setingkat pendekar utama.
Lokahita yang mendengar percakapan kepala perampok dan Geni ada rasa bahagia di wajahnya. Karna Wisang Geni mengatakan dia adalah wanitanya, tapi ada rasa kawatir juga di raut wajah gadis itu. Dia takut bagai mana kalau Geni kalah.
Gadis itu meresa selalu membawa masalah pada pemuda tersebut. Dia menyasal kenapa terbawa emosi hingga membawa dalam keadaan seperti ini.
Geni dengan tenang mengeluarkan pedang andalannya. Selama ini geni berlatih bukan tanpa hasil kemampuan Geni saat ini berada pada tingkat ksatria madya tingka 2 yang hampir masuk pada Ksatria utama. Bahkan kemampuannya sekarang sebanding dengan tingkat resi.
Wisang geni ingin menggunakan jurus pedang ketiga dari kitab pedang dewa yama. Tenaga dalam yang dia miliki merasa sudah bertambah seiring berjalannya waktu.
"Tangkap orang itu,cicang dia didepan kekasihnya!" Perintah kepala perampok tanpa ragu. Dia tak menyadari kalau walannya kini lebih kuat karna wisang geni menyembunyikan kemampuannya.
Tanpa membuang waktu Geni mulai melepas sarung pedangnya, para penjahat hanya tertawa mengejek.
Wisang Geni teringat pesan resi Tomo, dalam menggunakan jurus ketiga dari jurus pedang dewa yama sebaiknya menutup mata. Karna tarian merupakan luapan perasaan. "Mainkan jurus tarian dengan perasaan, tanpa ada acuan gerakan biarkan anggota tubuh bergerak tanpa ada aturan". Demikian pesan sang guru pada Wisang Geni.
Wisang Geni menutup matanya, mulai mencoba mempraktekkan apa yang di instruksikan sang guru. Merasakan keberadaan musuhnya tanpa melihat.
Para perampok yang menyaksikan apa yang dilakukan wisang geni pun tertawa. Mereka menyangka bahwa orang bertopeng mengaku kekasih sang gadis yang mereka tangkap katakutan sampai menutup matanya.
"Apa kau takut pengecut...lihat gadis mu akan kami lucuti pakaiannya,pasti di balik pakaian ini tubuhnya bersih dan mulus" ucap salah satu perampok memprovokasi wisang geni.
Keluarga yang tergangkap pun ketakutan,bahkan salah satu putri dari keluarga ini sampai pingsan. Keluarga paman Bejo adalah keluarga yang kaya namun karna Mataram terjadi pemberontakan dia memilih pergi ke semarang tempat dimana sang istri berasal.
Paman Bejo membawa istri serta kedua putri nya ke semarang agar lebih aman. Dia meninggalkan rumah yang ada dimataram dan akan kembali setelah situasi mataram kembali damai.
Wisang Geni bertambah marah mendengar ucapan perampok yang memprovokasinya. Dia memusatkan fikiran untuk meluapkan semua perasaannya untuk mempergunakan jurus ini.
"Tunggu apa lagi?...bunuh dia...cepat!" Teriak kepala perampok tersebut. Mereka semua mengepung wisang geni, mereka ingin menakut-nakuti wisang geni sambil tertawa-tawa.
Lokahita pun sangat bersedih,
"kenapa kakang Geni malah menyerah merelakan hidupnya" batin gadis itu mengira sang pria merelakan hidupnya untuk keselamatan dirinya.
Jangankan bergerak untuk berteriak saja Lokahita tak mampu. Dia pun masih mengira bahwa Wisang Geni akan mati kali ini. Terlintas rasa penyesalan di hati nya.
"Maafkan aku kakang...aku membawa bencana dalam hidup mu."batin Lokahita sambil meneteskan air mata. Terbayang didalam fikirannya,apa yang dilakukan pemuda itu. Lokahita kembali menutup mata tak mau menyaksikan pertarungan itu.
Para perampok yang dari tadi mengelilingi wisang geni mulai melancarkan serangan. Tusukan serta sayatan mulai dilancarkan oleh kawanan perampok.