
Semakin lama pertempuran semakin sengit, tenaga ke tujuh orang bawahan Wisang Geni sudah mulai terkuras.
"Tuan apa kami boleh bertarung dengan serius! " Tanya macan Kumbang yang sudah mulai kewalahan menahan gempuran serta formasi menyerang yang begitu terorganisir.
"Hentikan pertarungan... Kami berada di pihak kalian" Teriak Wisang Geni disertai tenaga dalam. Para penyerang yang mendengar suara tak asing ini segera menghentikan pertarungan. Mereka memastikan apa pemilik suara tersebut adalah pemuda yang selama ini mereka kagumi, dan yang pasti mereka juga bekerja pada pemilik suara yang masih belum menunjukan barang hidungnya.
Suasana yang begitu ricuh kini senyum senyap, perlahan terlihat seorang pemuda keluar dari dalam kapal bersama sorang gadis cantik. Jelas para penyerang mengenal pemuda bertopeng tersebut.
"Slamat datang raja kecil" Ucap salah seorang diantara mereka. Wisang Geni pun tahu siapa pemilik suara tersebut, dia adalah kepala pimpinan pasukan Jogo Boyo, paman Loka Jaya.
Ke tujuh bawahan serta Pitaloka mendengar panggilan yang ditujukan pada Wisang Geni sontak kaget. Kenapa dia di panggil raja kecil oleh kelompok berbaju hitam ini.
"Trimakasih paman telah menjaga desa ini, bagai mana keadaan desa serta paman Marlan dan bibi Marni? " Tanya Geni sambil mendekati paman Loka Jaya.
"Desa dalam keadaan aman, kakang Marlan dan mbakyu Marni juga sehat" Jawab Loka Jaya dengan sopan, karna dari pemuda ini kehidupannya kembali ke jalan yang benar.
"Baik kalau begitu... Mari kita ke gubuk ku" Ucap Geni pada mereka semua.
"Kang Parno tolong teman-teman kakang yang sedang berjaga bantu awasi kapal ini jangan sampai hanyut" Pinta Geni pada Parno selaku tangan kanan dari paman Loka Jaya.
"Baik raja kecil perintah akan kami laksanakan" Ucap Parno sedikit bercanda di ikuti pemuda lainnya yang memang sudah kenal dengan pemuda bertopeng ini.
"Kakang...kenapa kakang dipanggil raja kecil oleh penduduk desa ini? "Pitaloka penasaran dengan panggilan Wisang Geni sebagai raja kecil.
" Aku juga tidak tahu mengapa mereka memanggilku dengan sebutan itu" Jawab Geni dengan sedikit gurauan.
"Paman... Ayah dan ibu ku sudah datang belum? " Tanya Geni pada Loka Jaya sambil berjalan menuju rumah yang memang tak jauh dari bibir sungai tersebut.
"Sudah nak Geni, mungkin sudah satu purnama beliau sampai" Jawab Loka Jaya sambil mengingat-ingat kapan rombongan tuan besar mereka sampai. Raja Cokro di panggil Tuan besar oleh masyarakat desa daun hijau karna mereka menghormati pemuda ini, masyarakat desa ini belum tahu bahwasanya tuan besar mereka adalah raja Mataram.
Suasana desa sepi karna hampir tengah malam mereka datang. Raja Cokro serta permaisuri sudah beristirahat waktu rombongan Geni dan Pitaloka sampai.
"Paman tolong panggilkan aku ayah dan ibu " Pinta Diah Pitaloka pada paman Loka Jaya.
Loka Jaya segera bergegas menuju rumah dimana tempat keluarga istana ini beristirahat.
"Tuan besar... Raja kecil beserta nyimas(adik perempuan) sudah datang" Ucap Paman Loka Jaya sambil mengetuk pintu kamar tuan besar mereka, raja Cokro.
"Baik... Aku segera kesana" Jawab raja Cokro beserta permaisurinya bergegas menuju balai-balai sebagai tempat menjamu tamu yang datang, tepat didepan rumah yang dibangun Wisang Geni.
Mereka tidak langsung masuk karna masih berbincang sambil minum teh yang disuguhkan para penjaga rumah.
"Pitaloka, Geni... " Pangil permaisuri yang melangkah menuju ke tempat dimana kedua muda-mudi ini ngobrol ditemani penjaga yang lainnya.
Panggilan tersebut membuyarkan obrolan yang sedang mereka omongkan.
"Ibu... " Teriak Pitaloka sambil memeluk sang ibu. Gadis cantik ini dari awal datang sudah menjadi buah bibir pemuda kampung yang berjaga, karna memang kecantikannya luar biasa, dan pemuda desa tak pernah melihat gadis yang melebihi kecantikan Pitaloka.
"Kenapa kau lama sekali, ibu dan ayah mu sampai kawatir jika ada apa-apa dengan kalian" Ucap permaisuri sambil menyentil pelan hidung anaknya.
" Ibu dan ayah tidak perlu kawatir selama ada kakang Geni di samping ku" Jawab Pitaloka memeluk manja sang ibu.
"Anak nakal... Kenapa datang tidak memberi salam pada ayah mu ini" Ucap raja Cokro yang berada di belakang istrinya.
"Ayah... Aku kan masih kangen dengan ibu... Peluk saja kakang Geni sana" Ucap gadis ini sambil bercanda.
"Salam ayah, ibu... Bagaimana keadaan ayah serta ibu, apa ada yang kurang berkenan tinggal di gubuk jelek ini" Ucap Wisang Geni memberi salam serta menanyakan keadaan ayah dan ibu angkatnya.
Percakapan ringan pun terjadi sambil semua menuju tempat istirahat masing-masing.
"Kakang kenapa nona Pitaloka itu tampak seperti bukan istri tuan Geni ya? " Tanya macan Hitam pada Macan Kumbang.
"Aku juga tidak tahu... Ah sudahlah besok saja kita tanyakan,malam ini kita istirahat terlebih dahulu" Ucap Macan kumbang seperti tidak menggubris pertanyaan dari adiknya.
Tak jauh beda dengan Diah Pitaloka dan keluarga, gadis ini tidur dengan sang ibu, dia bercerita tentang kisah petualangan yang dilakukan dengan Pemuda pujaan hatinya Wisang Geni. Gadis ini bercerita dengan semangat, dan sang ibu hanya mendengarkan serta berdekacak kagum dengan apa yang dilakukan sang putri serta anak angkatnya.
"Lalu bagaimana dengan calon suami mu? Eh... Maksud ibu kakang Geni mu? Ledek sang ibu yang dari tadi hanya mendengar sepak terjang pemuda bertopeng dimana kemampuannya selalu di elu-elu kan oleh putrinya tersebut.
" Itu masalahnya ibu... Kakang Geni masih ada tugas dari gurunya, sudah ibu jangan membahas masalah itu" Ucap Pitaloka menyembunyikan rasa malunya.
Tidak hanya Pitaloka, semua gadis pasti memimpikan dapat bersama pria idamannya, tapi itu semua bukan manusia yang menentukan tapi Tuhan penguasa alam semesta. Manusia hanya diwajibkan berusaha. Tapi tak bisa di pungkiri usaha tak akan membohongi hasil. Walau takdir sudah ditentukan setidaknya manusia harus berusaha meraih apa yang menjadi mimpi nya.
Setidaknya Pitaloka sudah berusaha menjadi pendamping yang baik bagi Geni, masalah pemuda tersebut mau menerimanya atau tidak itu semua tergantung pada pemuda tersebut.
Tapi gadis ini telah berjanji dalam hati, bahwa dia akan mengabdikan hidupnya pada pemuda yang menyelamatkan dirinya serta keluarga.
Diruangan tengah sebuah rumah terlihat 3 manusia sedang berbincang-bincang walau terkesan bercanda namun apa yang mereka bicarakan memang penting adanya.
"Geni aku berterima kasih pada mu atas apa yang telah kau lakukan untuk keluarga ku, tapi ada hal yang ingin aku bicarakan dan aku harap kau tidak tersinggung" Ucap sang raja pada pemuda yang sedang duduk bersama putra mahkota pangeran Gesang Wicaksono.
"Silahkan ayah, apapun pertanyaan dari ayah pasti akan aku jawab sebenar-benarnya? " Jawab Wisang Geni dengan serius dan penuh tanda tanya dalam kepalanya, pemuda ini tidak memikirkan masalah lain, yang dia pikirkan hanya Hubungannya dengan Putri Diah Pitaloka, pemuda ini kawatir dan bingung seandainya ditanya tentang hubungannya dengan gadis tersebut.