
Akhirnya Wisang Geni pun menghadap raja Mataram, dia diantar oleh prajurit yang bertugas menjaga gapura atau pintu masuk aula rapat sang raja. Kebo Edan sudah mencarikan tempat penginapan sesuai dengan apa yang dipesan Wisang Geni.
"Paduka... Gilang mohon ijin menghadap paduka" Ucap pelayan sambil tertunduk dengan hormat. Sontak ke lima orang tersebut memperhatikan pelayan lebih teliti lagi.
"Apa Gilang prajurit baru itu, dimana dia sekarang?" Ucap raja Ageng Gumilar pada penjaga pintu gapura tersebut.
" Dia diluar ruangan paduka" Lanjut sang penjaga.
"Suruh dia masuk! " Ucap Raja Gumilar singkat, sambil menatap ke empat pengawal atau patih-patih andalannya. Mereka semua senang dengan adanya pemuda penuh bakat tersebut, kemampuan Gilang sangat dibutuhkan kerajaan Mataram saat ini, baik kemampuan pengobatan penempaan senjata serta pemuda ini juga hebat dalam ilmu kanuragan atau silat.
"Gilang mohon menghadap yang mulia raja,,, " Ucap Gilang sambil menundukkan kepala memberi hormat pada raja Ageng gumilar.
"Dasar bocah ceroboh... Kemana saja kau selama ini?! " Hardik raja Gumilar senang melihat pemuda yang selalu tenang tersebut.
"Mohon maaf raja... Menyelidiki keadaan kerajaan Pajang, jika raja ada waktu beserta para maha patih hamba ingin melaporkan keadaan pajang serta... " Ucapan Gilang terputus seakan ada sesuatu hal yang penting dan memang harus disampaikan secara rahasia. Mata Gilang tertuju pada pintu ruangan yang masih terbuka. Sang raja pun tahu maksud dari pemuda tersebut.
"Penjaga tutup pintu gapura, dan jangan biarkan siapa pun masuk, katakan raja sedang istirahat."perintah Raja Gumilar pada penjaga pintu tersebut.
"Ada apa Gilang keadaan sudah aman? ! " Ucap sang raja sambil melihat ke empat maha patih andalannya, ki Juru Sentanu, ki Kebo Abang, Ki Wanoro Seto dan Ki Suro Manggolo.
"Mohon maaf paduka, hamba ingin bertanya, apa yang paduka tahu tentang Kerajaan pajang dari telik sandi?" Tanya Gilang pada Raja gumilar.
"Informasi telik sandi kerajaan Pajang masih belum bergerak" Jawab singkat raja Gumilar dengan nada serius.
"Apa yang mulia raja yakin Raja Pajang belum bergerak, yang saya tahu mereka telah bergerak dan sedang menyusun rencana penyerangan, dan dapat di pastikan mereka akan mengumandangkan perang secara mendadak, jika kita lengah tidak dapat dipungkiri kerajaan ini pasti akan jatuh" Jelas Wisang Geni dengan nada tak kalah serius.
"Apa yang kau katakan itu benar Bocah nakal?! " Ucap Ki Juru Sentanu mencoba memastikan, karna ki Juru Sentanu senang dengan pribadi serta kemampuan yang dimiliki Gilang, dan memang ki Juru Sentanu ingin mengangkat murid pemuda tersebut.
Akhirnya Gilang menjelaskan semua yang terjadi pada kerajaan Pajang, tentunya dengan mengatur siasat seperti yang dia inginkan.
Walau sedikit ragu dengan keterangan Gilang tapi raja Gumilar juga membenarkan keterangan yang disampaikan Gilang.
"Hamba membawa keluarga dari Desa yang mulia, mereka adalah ahli pengobatan, saya harap dengan adanya keluarga hamba kerajaan Mataram dapat mengatasi masalah tentang pengobatan, tak hanya kuat dalam segi pasukan." Ucap Gilang disela-sela percakapan.
Raja Gumilar sangat senang dengan apa yang dilakukan Gilang, karna sang raja tahu kemampuan pengobatan pemuda ini, dan para tabib istana pun kalah dengan pemuda ini, pasti keluarga dari Gilang merupakan ahli pengobatan.
"Bagus... Akan aku sediakan tempat untuk mereka, sekarang kau pergilah istirahat terlebih dahulu." Perintah Raja Gumilar.
Setelah menghadap raja, Gilang pun segera pergi, dia bersikap wajar layaknya prajurit kerajaan Mataram yang setia agar tidak menimbulkan kecurigaan.
"Juru Sentanu, awasi Gilang, aku takut dia dikendalikan oleh seseorang, dengan usia semuda itu di punya pemikiran yang diluar nalar. " Ucap raja Gumilar pada ki Juru Sentanu.
Dua hari telah berlalu, Gilang dan keluarga supar pun mendapat tempat untuk mendirikan Balai Pengobatan di luar gerbang istana, dan tak begitu jauh dari tempat pelatihan pasukan.
****
"Terima serangan ku... " Terdengar teriakan dari luar arena pertarungan, tampak sekelebatan pedang dengan aura membunuh, dengan sigap Karno menangkis serangan tersebut.
Sontak para prajurit muda pun memberi tempat pada dua orang yang sedang melakukan jual beli serangan tersebut. Mereka yakin yang menyerang Karno bukanlah musuh, karna didalam pelatihan prajurit disamping dijaga ketat dan banyak prajurit, mustahil musuh berani datang sendiri ketempat tersebut.
Serangan demi serangan terjadi begitu dahsyat. Hampir satu jam pertarungan tersebut terjadi. Dan jelas sang penantang lebih unggul dari segi jurus serta kekuatan.
Tring... Tring...trang... Bunyi pedang yang sempat beradu dan terjatuh, dan itu mengakhiri pertandingan.
Prajurit lain sempat ragu, sebagian besar juga sudah mencabut senjata mereka, dan bersiap untuk menyerang.
"Tahan... Dia adalah orang sendiri" Perintah karno pada prajurit yang hendak menyerang.
"Apa kalian mempunyai kemampuan?serang lah jika kalian punya kemampuan" Ucap pemuda tersebut dengan sedikit sombong.
"Pemuda sombong... Serang! " Ucap salah satu prajurit memberi komando pada yang lainnya. Sontak sekitar 20 orang maju menyerang.
Pemuda tersebut mengambil pedang besi yang biasa di gunakan untuk latihan, pedang tumpul tanpa bilah tajam. Pemuda tersebut mengeluarkan jurus andalan yang biasa dia gunakan dan memang dia baru dapat menggunakan jurus tersebut. Hujan pedang dari berbagai arah pun terjadi, jelas 20 prajurit pun terpental oleh sabetan serta tusukan jurus pedang tersebut.
Prajurit lain yang menyaksikan miris, bagaimana jika itu menggunakan pedang yang sesungguhnya, pasti mereka terbunuh dengan begitu mudahnya.
Merasa sudah cukup, pemuda tersebut mengembalikan pedang pada salah satu prajuritnya.
"Latihan cukup, selanjutnya aku akan melatih kalian cara bertarung" Ucap pemuda tersebut sambil membantu berdiri Karno.
Pemuda tersebut adalah Gilang yang memang telah lama tak berlatih tanding dengan lawannya.
"Bagai mana kabar mu? Lama sekali kau menghilang" Ucap Karno menyapa pemuda tersebut sembari memeluknya. Prajurit muda pun kini tahu kalau pemuda yang baru saja menjadi lawannya adalah teman dari patih mereka.
"Aku baik-baik saja kang, aku sudah hampir 1 tahun tidak berlatih, sungguh sudah menurun kemampuan bertarung ku" Ucap Gilang yang bias, antara sombong dan merendah tersebut.
Para prajurit ada yang suka, tapi tidak sedikit yang takut, pasti mereka akan dilatih lebih keras lagi, bahkan melebihi patih Karno.
" Kalian kembali berlatih, aku akan membahas sesuatu dengan adik seperguruan ku! " Perintah Karno pada prajurit yang berada pada arena pelatihan.
"Kapan kang Karno jadi saudara seperguruan ku... " Belum selesai Gilang berbicara Karno sudah memiting leher pemuda tersebut untuk diam dan tak meneruskan kata-katanya.
Kedua pemuda ini pun pergi menjauh, entah apa yang mereka omongkan sehingga takut bahan obrolannya diketahui orang lain.
Mereka berdua menuju tempat dimana keluarga paman supar berasa, Gilang ingin memperbincangkan sesuatu yang penting pada Karno.
"Ini kang minumnya" Ucap Diah Ayu sambil menyerahkan minuman.
"Si... Siapa ini Cantik sekali" Ucap Karno kelepasan memuji gadis cantik tersebut.