SATRIA PININGIT

SATRIA PININGIT
PAMAN GURU



Wisang Geni hanya meditasi dalam kamar hingga waktu menjelang sore, dia merasa bosan dan ingin keluar kamar. Begitu dia keluar karmar patih Sastro melambaikan tangan mengisyaratkan agar bergabung. Patih hanya bersama sang putra, patih Wiryo.


"Mari Nak Geni, kita berbincang sambil minum teh" Ajak patih Sastro yang sudah tahu bahwa pemuda di hadapannya ini tak lebih tua dari anaknya.


"Trimakasih paman" Jawab Geni dengan sopan santun.


Mereka pun bicara ringan, tentang perjalanan masing-masing.


"Maaf nak Geni...kalau boleh saya tahu dari mana nak Geni belajar ilmu gumbolo geni?"tanya patih Sastro penasaran.


" Saya belajar pada guru Braja musti paman patih" Mendengar jawaban Wisang Geni patih ini kaget bukan main.


"Kapan kau belajar dan bagai mana keadaan guru Braja musti?" Tanya patih penasaran karna pedepokan yang dimiliki gurunya telah dihancurkan sedang nasib ki Braja Musti juga tak di ketahui rimbanya.


Wisang Geni menceritakan pertemuan dengan Braja Musti sampai akhirnya dia belajar ilmu tersebut.


"Sungguh pemuda yang hebat, aku sampai tingkatkan ini saja butuh waktu bertahun-tahun dia baru belajar pada guru langsung bisa menggunakan ajian Gumbolo geni." Batih patih Sastro


"Geni kenapa kau bisa bersama tuan putri?" Tanya Wiryo Sangkolo. Mendengar ucapan anaknya patih Sastro kaget dan tersadar dari pikirannya tetang pemuda hebat ini.


"Dasar pemuda kurang ajar... Panggil dia paman guru" Bentak patih Sastro pada anaknya.


"Ba... Baik ayah" Patih muda itu menjawab dengan nada sedikit gemetar.


"Wisang Geni adalah adik seperguruan ku jadi mulai sekarang kau harus memanggil dia paman guru, dan kau tidak boleh kurang ajar padanya" Terang patih Sastro pada putranya.


Malam harinya mereka makan bersama sang raja, lebih tepatnya makan malam dengan keluarga dari Kerajaan Mataram. Pitaloka tampak sangat cantik malam ini, dengan pakaian yang biasa digunakan oleh putri raja-raja Jawa kala itu. Bahkan wisang Wisang Geni tampak terpesona dengan Pitaloka, karna selama bersama Wisang Geni Pitaloka tak pernah menggunakan pakaian seperti ini. Walau dengan pakaian ala pendekar Pitaloka memang cantik tapi lain dengan malam ini.


"Mbakyu... Apa kakang yang bertopeng ini kekasihmu, lihat dia sampai mlonggo terpesona melihat mbakyu" Ucap Bagus Pemanahan, putra mahkota kerajaan Pajang.


"Ach dia itu pemuda mesum dik" Canda Pitaloka sambil tertawa cekikikan. Wisang Geni hanya diam mendengar candaan sang gadis.


Tak beda dengan Wisang Geni, Wiryo Sangkolo juga terpana dengan kecantikan Pitaloka, karna dari mereka kecil, dia tidak pernah melihat Pitaloka menggunakan pakaian layaknya seorang putri. Obrolan ringan menghiasi makan malam tersebut.


"Mbakyu... Jadi Calon kakak ipar ku yang mana?" Tanya Bagus Pemanahan sambil bercanda di tengah makan malam.


"Dik Bagus menggoda ku terus, itu sekarang kan kakang Geni Juga kakang mu juga" Ucap Pitaloka cuek. Geni pun tahu maksud Pitaloka, dan tak mungkin gadis ini akan membeberkan hubungan mereka berdua.


"Uhuk... Uhuk..." Wiryo Sangkolo tersedak karna mendengar ucapan Pitaloka. Semua mata tertuju pada Pitaloka seakan meminta penjelasan.


"Jadi begini adik ku yang bawel, kakang Geni sudah menjadi anak angkat ayah ku jadi secara tidak langsung dia itu kakang mu." Pitaloka menjawab ucapan Bagus Pemanahan.


"Syukur kalau begitu" Batin Wiryo Sangkolo sambil tersenyum setelah mengetahui status pemuda yang berada di samping wanita idamannya itu.


"Bagus... Bagus... Kakang Cokro punya anak hebat seperti Wisang Geni"ucap raja Hadi Wijaya di sela makannya. Raja Hadi sudah tahu betapa hebatnya pemuda misterius ini, karna Pitaloka telah menceritakan semua hal yang berkaitan dengan Wisang Geni, serta mampu menyelamatkan raja Cokro.


"Setelah makan lebih baik Pitaloka dan kau Geni, lebih baik istirahat dulu malam ini, besok ada yang ingin aku bicarakan" Perintah raja Pajang pada muda-mudi tersebut.


"Pemuda bodoh, kenapa kau masih memanggilku yang mulia, ini acara makan keluarga bukan acara resmi kerajaan" Ucap sang raja menegur Wisang Geni.


"Baik paman" Ucap Geni dengan gugup.


Raja mempersilahkan Geni dan Pitaloka beristirahat terlebih dahulu, tentu pada kamar yang berbeda. Patih Sastro dan raja masih berunding tentu patih kerajaan Pajang juga ikut, Patih supardi. Mereka berunding tetang masalah yang terjadi di kerajaan Mataram.


Rembulan bersinar terang, angin malam berhembus laksana belaian seorang dewi malam. Tampak seorang keluar dari kamar dengan mengendap-endap. Dia menuju kamar yang tak begitu jauh karna masih dalam satu lokasi.


"Kang... Kakang buka pintunya" Ucap gadis yang sedang menunggu pintu terbuka. Gadis ini adalah Pitaloka.


Setelah pintu terbuka gadis ini langsung masuk tanpa dipersilahkan.


"Kenapa kakang bukanya lama sekali... " Gerutu Pitaloka pada Wisang Geni


"Kenapa kau kesini? Tanya Geni sedikit takut dan gugup.


"Sepi kang... Malas aku dikamar sendirian." Jawab Pitaloka sambil merebahkan tubuhnya di tempat tidur Wisang Geni.


Kenapa kau malah tidur di tempat ku, bukannya ditempat tidur sendiri" Ucap Wisang Geni dengan nada sedikit jengkel, walau sedikit jengkel pemuda ini senang akan hadirnya Pitaloka, dia pun seakan merasa sepi tak ada teman yang dapat diajak bicara, sedang malam masih panjang.


"Apa aku tidak boleh disini kang" Dengan wajah cemberut Pitaloka menimpali pertanyaan Wisang Geni.


"Bukan begitu maksudku, aku hanya tidak enak dengan paman Hadi" Jawab Wisang Geni. Pitaloka tak memperdulikan ucapan Wisang Geni, dengan santai dia malam berguling-guling diatas tempat tidur.


"Kang..." Panggil Pitaloka dengan nada manja.


"Aku tidur disini ya, dengan kakang" Sambung gadis itu.


Gani pun gantian tidak menggubris pertanyaan Wisang Geni. Hal ini dianggap sang gadis sebagai tanda setuju, Pitaloka merasa dia tak bisa tidur kalau tanpa ada Geni disisinya.


"Kang aku boleh tanya sesuatu?" Tanya Pitaloka pada pemuda yang berada disampingnya. Geni sudah bingung dalam hati.


"Apa Pitaloka mau membahas kejadian itu... "Batin Wisang Geni sambil tetap diam.


" Di lengan kakang itu gambar apa?" Tanya Pitaloka pada pemuda yang tampak acuh.


"Aku tak tahu itu gambar apa, yang pasti itu tanda lahir, hanya itu yang aku tahu. " Jawab Wisang Geni tetap dalam posisi semula.


Gadis ini merubah posisi tidurnya jadi menghadap pemuda yang ada di sampingnya sambil menyangga kepala dengan lengannya.


"Kakang kenapa dari tadi diam" Apa aku mengganggu kakang? " Tanya Pitaloka.


"Aku tidak apa-apa? Ada kepentingan apa kamu malam-malam datang ke kamarku, apa cuma mau tanya akan hal tersebut? " Tanya Geni dengan jantung yang tak karuan.


Ternyata kejadian tersebut terlihat boleh sang paman, raja Hadi Wijaya. Beliau pun sadar dengan tatapan mata keponakannya pada pemuda bertopeng ini. Sang raja pun tak mau berfikiran macam-macam dengan kedua muda-mudi ini.