Not A Sugar Baby

Not A Sugar Baby
Kenakalan Nessa



"Yuhuuu, Kak Una apa Kak Ben sudah berangkat," teriak Devi dari luar kamar.


"Hmm, sekarang dia masih bisa teriak-teriak, coba lihat nanti saat bekerja di bawah Ilham," batin Ben.


Una keluar dari kamar sambil menggendong Nevan, "Devi kamu enggak usah teriak-teriak bisa kan? Malu sama anak kamu."


"Kak Ben mana? Aku mau berangkat bareng dia," ucap Devi.


Ben keluar dari kamar, lalu mencium pipi Nevan dan kening Una. "Aku berangkat, ingat pesanku tadi. Leo yang akan mengantar," ujar Ben sambil mengusap puncak kepala Una.


"Kak, aku bareng kak Ben ya," pinta Devi.


"Bukannya kamu dari rumah Huda kenapa tidak bareng Huda berangkatnya? Aku tidak ke kantor jadi kamu berangkat sendiri." Berlalu meninggalkan rumah.


"Ya enggak apa dong Kak, aku kerja sebagai asisten Kak Ben bukan?" Devi melangkah terburu-buru mensejajari Ben.


"Kamu kalau benar mau kerja hari ini juga ke kantor atau saya pecat sebelum bekerja."


"Lalu saya berangkat pakai apa?"


"Tadi kamu ke sini naik apa?"


"Angkutan umum," jawab Devi.


"Ya naik itu lagi, Huda sedang menyiapkan motor untuk kamu bekerja."


"Posisi saya nanti apa?"


"Posisi? Kamu lulusan SMA paling Office Girl, semua staf di BCP One mininal sarjana. Una saja dulu hanya staf keuangan."


"Hah, enggak salah Kak. Masa aku secantik ini posisinya bersih-bersih." Ben meninggalkan Devi lalu masuk ke dalam mobil, "Jalan, Pak." Titahnya pada supir.


Dengan tampang kesal Devi masuk ke dalam rumah. Una sudah meletakan Nevan pada box bayinya dan kembali ke meja makan.


Leo sudah duduk di kursi meja makan dengan kedua tangan di lipat di dadanya, memperhatikan interaksi adik dan kakak dihadapannya.


"Kak, masa aku dikasih kerja begitu sama Kak Ben. Enggak salah?"


"Apa?" tanya Una sambil menerima cangkir teh, "terima kasih Bik."


"Office Girl," jawabnya sambil duduk.


Una mengedikkan bahunya, "Aku tidak ikut campur urusan perusahaan. Aku saja dulu cuma staf, tidak mudah kita kerja tanpa legalitas pendidikan. Kamu sih, lulus SMA malah pilih Nikah bukan kuliah."


"Kakak enggak bisa bujuk Kak Ben?"


"Bujuk untuk apa?" Una mulai menikmati sarapannya, bertahan sesabar mungkin menghadapi Devi. Bagaimana pun Devi adiknya dan Una percaya Ben memiliki cara untuk menghadapi Devi.


"Untuk aku bisa bekerja tapi tidak dengan posisi office girl."


"Tidak bisa, aku tidak ikut campur dalam manajemen perusahaan karena bukan bidang aku."


Una meletakan sendoknya dan menatap Devi, "Lakukan sesuatu sesuai dengan kompetensi diri, kalau kamu diberi tugas yang sulit yang kamu sendiri tidak biasa melakukan itu yang ada malah merusak sistem. Aku enggak mau kamu buat malu di perusahaan milik Ben, cukup aku berbaik hati selama ini dengan kalian."


"Maksud Kak Una apa?"


"Kamu tau maksud aku, jangan menganggu hidupku. Aku sudah mengalah selama ini, aku sudah lakukan segalanya untuk keluarga yang lebih banyak untuk kepentingan kalian," ucap Una.


Devi tersenyum sinis, "Kalau Kak Ben tau kamu pernah dapatkan uang dengan cara singkat untuk bayar hutang Ayah gimana? Paling kamu ditendang sebagai istrinya, jangan munafik lah Kak. Aku tau kamu dulu pakai cara pintas untuk dapatkan uang sebanyak itu."


Una menghela nafas, menahan sabar. "Sebaiknya kamu cepat keluar, jangan buat keributan di sini," ucap Leo pada Devi.


"Hm, boleh aku sampaikan pada Kak Ben?" Devi mengacuhkan titah Leo.


Aruna tertawa, "Sampaikanlah, yang memberikan uang padaku untuk membayar hutang Ayah itu Ben. Dia yang menolongku," ujar Una.


Raut wajah Devi berubah, "Ben sudah terlibat dalam kehidupan aku sejak lama, jadi kamu tidak perlu mencari cara apapun untuk menggoyahkan hatinya atau membuatnya mendua. Aku sudah mencoba menghindarinya tapi ternyata kami memang berjodoh. Jadi hentikan usahamu karena percuma."


Dalam hatinya Leo tertawa, "Si Bos ternyata Bucin juga ya," batin Leo.


Sejak itu Devi kembali ke Bandung selain Una yang tidak mengijinkan ia tinggal bersamanya, Huda juga mengkondisikan agar Devi segera kembali ke habitatnya (udah macam satwa liar ya). Sedangkan Dewa tetap diasuh Una agar terjamin pendidikannya.


Lima tahun kemudian,


Una turun dari mobil yang dikendarai oleh Leo, ya Leo masih melindungi Una dan anak-anaknya. Sedangkan Firda, sudah tidak jomblo lagi karena sudah menikah, sudah pasti dengan Leo. Bahkan Leo yang dulu mengejek kebucinan Ben, kini dia pun bucin pada Firda.


Aruna berjalan dengan sedikit cepat menyusuri lorong sekolah, untuk menemui Kepala Taman Kanak-kanak tempat Nevan dan Nessa belajar.


Una duduk di sofa ruang kepala sekolah, di sana juga sudah hadir orangtua dari teman Nessa. "Ibu Aruna, ini sudah ketiga kalinya Nessa berbuat kasar pada temannya."


Aruna menoleh pada Nessa yang duduk disebelahnya dengan cuek dan mengayunkan kakinya "Kali ini dia mendorong Arka dari ayunan hingga jatuh terjerembab, beryukurnya tidak ada yang bagian tubuh yang luka."


Aruna menoleh pada Arka yang masih sesenggukkan, dan menoleh pada Ibu Arka yang tengah menenangkan putranya. Clara, ya Clara adalah Ibu dari Arka.


"Nessa, minta maaf pada Arka!" titah Aruna.


"Enggak mau Mamih, aku kan enggak salah."


"Kamu mendorong Arka sampai jatuh, itu namanya kamu berbuat salah karena dengan sengaja menyakiti orang lain. Apa alasan kamu mendorong Arka sayang?"


"Arka bilang aku tidak cantik, jadi dia tidak mau menikah sama aku Mih," jawab Nessa.


"Menikah!" ucap Clara dan Aruna berbarengan.


"Aku kan cantik mirip sama mamih," jawab Nessa.


Akhirnya walaupun dengan bujukan, Nessa dan Arka saling berjabat tangan untuk saling memaafkan.


Aruna pun meminta maaf atas nama anaknya pada Clara dan Kepala Sekolah.


Menggandeng Nessa di tangan Kanan dan Nevan di tangan kirinya, Una berjalan menuju parkiran.


"Om Leo!" panggil Nevan dan Nessa serempak saat melihat Leo yang sudah menunggu mereka lalu berlari menghampiri Leo.


"Aruna," panggil Clara.


Aruna menoleh, "Ternyata anak-anak kita sudah saling terkait ya," ucap Clara sambil tertawa, "aku enggak sabar menyampaikan hal ini pada Alan."


Una menghela nafas, ia melihat Arka sudah berada dalam mobil Clara, "Aku permisi dulu, bye Arka," ucap Aruna sambil melambaikan tangan pada Arka.


"Om Leo, tadi aku hebat loh."


"Hebat, bagaimana?" tanya Leo pada Nessa yang duduk disebelahnya.


"Nessa jangan ganggu Om Leo, dia sedang mengemudi, Mamih enggak suka kamu kasar seperti tadi ya."


"Aku enggak kasar Mih, hanya membela diri. Aku suka lihat Om Leo latihan bela diri, ciat ciat..." jawab Nessa.


Leo hanya tersenyum, "Besok-besok kalau latihan bela diri di kamar atau di mana kek, jangan sampai kelihatan anak-anak."


Mereka tidak pulang ke rumah tapi menuju kantor, akan makan siang bersama Ben. Aruna menuju ruang kerja Ben, sedangkan Nessa dan Nevan ikut Leo ke ruangan Ilham.


"Abang," panggil Una saat masuk ke ruang kerja Ben.


"Sayang, sudah datang," ucap Ben sambil melirik arlojinya, "kemarilah." Ben menarik tangan Una agar duduk dipangkuannya.


"Aku, sudah tiga kali ini dipanggil ke sekolah karena Nessa kasar dengan temannya," ucap Una dengan posisi duduk miring di pangkuan Ben.


Ben hanya tersenyum, "Kamu tau siapa yang diganggu Nesaa?"


"Siapa?" tanya Ben sambil mencium pipi Una.


"Arka, putranya Clara. Alasannya karena Arka tidak mau menikah dengan Nessa," jelas Una.


"Apa? Menikah?" tanya Ben sambil tertawa.


to be continue ....


_______________


Tinggalkan jejak cinta dengan memberikan like, komentar, favorite, vote dan bintang 5. Salam sayang dari Author 💖💖