
...~Happy Reading ~...
"Jackpot ternyata," lirih Leo setelah melihat orang yang ditemui Arabela sama dengan foto Dean yang akan ditemuinya.
Cukup lama mendengarkan kedua orang tersebut berinteraksi, sambil menyesap kopi yang dipesannya Leo memastikan bahwa ia mendengar rencana mereka ke Jakarta.
Leo yang sudah tiba di Singapura sudah mulai melaksanakan tugasnya.
"Abang, mau berangkat sekarang?" tanya Una dengan wajah muram dan tatapan sendu. Mereka kini sedang duduk pada kursi gazebo yang berada tidak jauh dari kolam ikan samping rumah.
Ben menghela nafasnya, "Mau berangkatnya berat, karena pujaan hati lagi ngambek," ucap Ben.
"Aku enggak ngambek Bang, cuma enggak tau kesel gini. Aku juga enggak mau dibilang manja enggak mendukung kegiatan suami," tutur Una.
"Iya aku percaya kamu tidak begitu, tapi sekarang senyum dong." Ben meraih tubuh Una membiarkan wanita itu bersandar pada pundaknya.
"Abang yakin di sana cuma seminggu?"
Deggg, jantung Ben berdetak lebih kencang. Dia seakan berada dalam situasi menegangkan, karena memang tidak bisa memutuskan berapa lama ia akan berada di Singapura. Belum mengetahui sepelik apa masalah yang terjadi.
"Aku usahakan secepatnya kembali," jawab Ben.
Setelah berpamitan pada kedua orangtua Una, Ben bersiap kembali ke Jakarta. Berdiri tidak jauh dari mobil yang sudah siap berangkat, Ben menangkup wajah Una. "Senyum sayang," pinta Ben lalu merengkuh Una dalam pelukannya. Mengecup keningnya lama, lalu kedua pipi Una dan mengecup singkat bibir Una.
"Ingat, ke mana pun pergi minta Firda dan Reza dampingi kamu." Una hanya mengangguk, iya tidak sanggup mengucapkan apapun karena akan berakhir terisak. Hormon kehamilannya membuat ia semakin manja pada Ben.
Mobil yang membawa Ben perlahan meninggalkan rumah mereka, Ben masih melambaikan tangannya pada Una. Setelah gerbang rumah ditutup, Firda mengajak Una masuk.
Malam ini Una tidur tanpa ditemani Ben, setelah video call dengan Ben ia beristirahat di ranjangnya dengan selimut yang lebih tebal karena cuaca di Bandung yang lumayan dingin.
Firda yang juga sudah berbaring namun tidak dapat memejamkan matanya, bolak balik membuka ponselnya. Berharap ada kabar dari Leo, walaupun hanya sebuah pesan namun harapan tinggal harapan.
"Arghhhh," teriak Firda yang diredam dengan bantal menutup wajahnya bahkan kakinya menendang-nendang tidak jelas.
"Kenapa aku jadi baper begini sih. Belum tentu juga Leo suka beneran, bisa aja dia cuma bercanda. Orang gak jelas begitu," ucap Firda bermonolog.
Keesokan paginya, Una belum mendapatkan kabar dari Ben, mungkin sedang di pesawat. Ia sedang berada di pinggir kolam renang bermain bersama Dewa keponakannya. Dewa adalah anak dari adiknya, Devi yang sudah menikah lebih dulu dibandingkan Una dan Huda. Bocah berumur dua tahun itu cukup menghibur Una di pagi ini.
"Bu, waktunya sarapan. Pak Ben pesan jangan sampai Ibu telat makan." Firda mengingatkan Una.
"Iya, aku mau mandi dulu, setelah ini kita keliling. Aku mau sarapan di luar."
"Jangan terlalu jauh Na, Suamimu menitipkan kamu sama ayah," ujara Syamsul saat Una mohon ijin ingin ke luar.
"Iya, tenang aja Yah," jawab Una.
Mobil yang membawa Una ke luar bersamaan dengan Devi yang baru saja datang dengan motor maticnya.
"Kita ke mana Bu? tanya Reza yang sedang mengemudi.
"Kita cari sarapan khas Bandung, kalian pasti belum pernah kan? Di sini ada mie kocok, kupat tahu, nasi kuning uhh mantep khas Bandung. Kalau yang di Jakarta mah rasanya KW," tutur Una.
Sementara itu di tempat Lain Leo yang masih mengawasi Dean menutup komunikasi dengan siapapun agar tidak mengganggu tugasnya.
Sedangkan Ben sejak tiba di Singapura langsung menuju perusahaan, menyelesaikan persoalan-persoalan yang muncul akibat ulah Dean. Termasuk juga menjadwalkan pemilihan ulang direksi. Gerry, Ilham dan Ben menghitung kemungkinan jumlah persentase dukungan untuknya.
"Sebenarnya aku tidak masalah jika memang ada yang cocok untuk menggantikan aku, tapi kalau bocah ingusan itu yang menggantikan posisiku, aku tidak terima." Ben bersandar pada sofa sambil berbicara.
"Dia tidak kompeten, bagaimana jika nanti perusahaan ini malah koleps, aku tidak bisa membayangkan," ucap Ben.
Sudah menjelang tengah malam, mereka mengakhiri sementara diskusinya karena sudah lelah dan membutuhkan istirahat.
Menuju apartement, Ben dan Ilham bertemu Leo di Lobby. Selama mereka di Singapura akan tinggal dalam unit yang sama. Kebetulan Gerry menyiapkan apartement yang cukup luas, dengan 3 kamar tidur.
Leo menenggak air mineralnya, "Playboy itu tadi ke club aku sudah ikuti terus, minum beberaoa gelas dia sudah mabuk, pulang bersama wanita. Kemarin malam pun sama, ternyata memang begitu kebiasaannya dan dia akan bangun besok siang," tutur Leo.
"Kalau dia gantikan posisi bos, gue yakin enggak ada setengah tahun perusahaan lo koleps," tukas Leo.
"Itulah yang membuat aku khawatir," ujar Ben. "Ilham, apa tidak ada kabar dari Bandung," tanyanya.
"Belum, hanya tadi sore Firda bilang Nona Aruna sempat berseteru dengan adiknya."
Penjelasan Ilham membuat Ben memijat dahinya,
Ben melakukan panggilan telpon pada Una beberapa kali namun tidak dijawab. "Sepertinya sudah tidur Pak, sekarang di sana tengah malam," tutur Ilham.
...~ ***~...
Esok hari, Una masih bergelung dengsn selimutnya saat Ben menelpon.
"Halo."
"Halo sayang."
"Abang, jaga kesehatan ya."
"Pasti sayang, kamu juga dong. Apa kabar anak-anak aku yang masih di dalam perut?"
"Pengen di elus-elus."
Ben terkekeh, "Sabar, doakan urusan disini cepat selesai."
"Abang, aku pulang ke Jakarta ya?"
Hmm, ini pasti ada hubunganya dengan laporan Firda kemarin, batin Ben.
"Kenapa? Bukannya aku bilang, nanti aku jemput."
Una terdiam tidak menjawab."
"Kenapa?"
"Enggak apa-apa, ya udah aku tunggu Abang jemput aku."
Mereka melepas rindu lewat telepon hampir setengah jam.
Setelah mengakhiri panggilan dengan Ben dan membersihkan diri, Una yang mengenakan blouse hamil lengan pendek dan maternity legging akhirnya turun ke bawah menuju ruang makan.
Setelah meminum susunya, ia makan sedikit nasi goreng seafood buatan biK Juju. Karena Una turun sudah hampir siang, yang lain sudah sarapan tanpa menunggu Una.
"Kak Una," panggil Devi yang duduk di kursi sebrang Una pada meja makan.
"Hmm," ucap Una sambil menyuapkan makanannya. Firda duduk di kursi samping Una.
"Aku penasaran bagaimana Kak Una bisa mendapatkan suami seperti Pak Ben," ujar Devi membuat Una menghentikan kunyahannya dan menatap Devi.
"Pake pelet ya kak?"
Una meraih gelas meminum isinya untuk membantu menelan makanan yang terasa tercekat di tenggorokannya. "Kamu pikir aku orang yang menggunakan hal-hal seperti itu," jawab Una.
"Atau Kakak sugar babynya Pak Ben?"
_______
Tinggalkan jejak cinta dengan memberikan like, komentar, favorite, vote dan bintang 5. Salam sayang dari Author 💖💖