
"Saat ini dalam observasi dokter kandungan, terjadi pendarahan pada kehamilan Ibu Aruna. Yang disebabkan bisa karena tekanan atau juga benturan. Kita berdoa saja semoga kehamilannya bisa dilanjutkan."
"Hamil? Pendarahan?" tanya Ben. Sungguh ia tidak mengetahui jika Una sedang hamil.
Ben duduk karena tubuhnya terasa lunglai mendengar penjelasan dokter. Huda kembali menepuk bahunya, kakak Una itu datang ke rumah sakit karena dihubungi oleh Ilham.
Emosi Ben ingin sekali kembali menghabisi Gema, namun saat ini Aruna lebih membutuhkan dirinya. Huda menghubungi kediaman Ben mencari tau kondisi para keponakannya.
Aruna sudah berada di ruang perawatan, Ben dengan setia selalu berada disisi wanita yang sangat ia cintai.
Alih-alih mencintai Aruna, Ben menyebabkan Una terluka. Bukan pertama kalinya Una terluka karena Ben. Menunggu Una membuka matanya sungguh sangat menguras emosi dan perasaan Ben, karena segala macam prasangka kemungkinan terus bermunculan dipikirannya.
"Aruna, sayang, please bukalah matamu. Maafkan aku tidak bisa melindungimu, sayang." Ben menggenggam tangan Una yang terbebas dari infus.
Ben beranjak menjauh dari Una untuk menghubungi anak-anaknya di rumah agar tidak panik karena Mamihnya yang tidak pulang sedang terbaring lemah.
"Sa-kiiit."
Ben menoleh, memastikan bahwa ia mendengar suara Una. Lalu menghampirinya, "Aruna, sayang," panggil Ben.
Jemari Una bergerak, lalu kedua matanya mengerjap. "Ishhhh," mulutnya mendesis halus, entah bagian mana dari tubuhnya yang terasa sakit.
"Sayang," ucap Ben sambil terus mengecup punggung tangan Una. Una yang baru menetralkan pandangan matanya menoleh ke arah Ben. Melihat raut wajah Ben yang terlihat kusut dan khawatir, perlahan ia mulai menyadari dan mengingat apa yang telah ia alami.
Kedua matanya sudah berkaca-kaca, sudut bibirnya bergetar, Ben yang melihat hal itu semakin mendekatkan tubuhnya. "Aruna, ini aku, sayang."
Aruna mulai terisak ia mengingat bagian tubuhnya yang disentuh Gema, mengangkat tangannya lalu menggosok kulit lehernya, "Pergiiiiii," teriak Una.
"Aruna, jangan lakukan itu sayang," jarum infus di tangan Una lepas. Ben menekan tombol darurat memanggil perawat atau dokter.
Aruna masih histeris dengan Ben memegangi kedua tanganya, Huda dan Ilham yang menunggu di luar masuk karena mendengar teriakan Una.
Tidak lama Dokter dan perawat masuk ke ruangan, mengatasi Una yang histeris. Saat Una sudah lebih tenang, Dokter menyampaikan bahwa ia harus bedrest.
"Ibu harus tenang ya, besok akan ada dokter Obgyn yang akan memeriksa ulang kondisi kehamilan Ibu. Semoga semuanya baik-baik saja," ucap dokter jaga yang baru saja memeriksa Una.
Setelah dokter dan perawat sudah pergi, Una menoleh pada Ben. "Kehamilan? Siapa yang hamil?"
Ben meraih salah satu tangan Una dan menggenggam dengan erat, "Kamu sayang, kamu sedang hamil. Maafkan aku tidak bisa menjagamu, kamu pendarahan jadi harus bedrest total dan sedang dalam observasi dokter."
Una kembali terisak, sambil meraba perutnya. "Aku mau pulang, aku takut nanti orang itu temukan aku di sini." Una hendak bangun namun ditahan oleh Ben. "Sayang, jangan terlalu banyak bergerak, tenanglah. Ada aku di sini, di luar pun ada beberapa orang yang akan menjaga kita."
"Mereka jahat Bang, aku di dorong bahkan dipukul lalu ... " Una kembali terisak. "Dia sentuh aku di ..."
"Sttt, sayang, sudahlah. Semua sudah berakhir, maafkan aku karena tidak bisa menjagamu." Ben menelungkupkan wajahnya pinggir ranjang dengan tangannya masih menggenggam tangan Una.
"Ishhh, sakit. Perut aku sakit."
Ben kembali menekan tombol darurat, seorang perawar masuk memeriksa kondisi Aruna. Saat selimut Una disingkap ternyata rembesan darah di antara kedua kaki Una semakin banyak.
"Mohon maaf Pak, kehamilan Ibu Aruna tidak bisa bertahan. Memang awal kehamilan lebih rentan apalagi jika mengalami tekanan atau aktifitas berat sangat beresiko. Silahkan Bapak tanda tangani persetujuan tindakan untuk proses kuretase." penjelasan dokter membuat Ben mau tidak mau harus merelakan calon bayinya.
Una sudah dibawa untuk dilakukan tindakan, saat menunggu Leo menghubungi dan menyampaikan bahwa anak-anak tidak dalam kondisi baik.
Dewa yang terus menerus menanyakan Una karena ia melihat langsung Una dibawa paksa. Juga si kembar yang menangis ingin bertemu Ibunya. Ben memijat dahinya, bingung harus bagaimana. "Bawalah mereka ke sini," titah Ben pada Leo.
.
.
.
"Mamih, mamiiihhh," panggil Nessa sambil terisak saat bangun. Ia melihat Una sudah berada di ruangan namun masih belum sadarkan diri dari pengaruh obat.
Sungguh hari yang melelahkan bagi Ben dan yang lainnya, setelah melewati usahanya menyelamatkan Aruna malah Ben harus kehilangan calon bayinya. Saat ini ia terlelap di bed penunggu pasien.
Nessa dan Nevan sudah setia di samping Una, "Jangan di panggil, biar Mamih kamu istirahat," ucap Huda yang sedang mengasuh kedua ponakannya.
"Abanggg," panggil Una saat ia mulai membuka matanya.
"Mamih," ucap Nessa. Una menoleh pada anaknya yang duduk di pinggir ranjangnya. Tersenyum lalu kembali memejamkan mata masih merasakan ketidaknyamanan pada tubuhnya.
"Mamih, sakit apa sih?" tanya Nevan.
Una kembali membuka matanya, Huda yang menemani si kembar, "Istirahatlah Na, Ben tertidur. Kalian sudah melewati hari yang cukup berat kemarin."
"Dewa di mana Kak?" tanya Una.
"Ada, masih tidur tuh. Bareng Leo," jawab Huda.
Kini anak-anak sedang di ajak sarapan oleh Huda dan Leo. Ben yang baru saja terbangun bergegas menghampiri Una. "Sayang, maaf aku ketiduran. Kamu, apa ada yang sakit, aku panggil dokter ya?" Ben terlihat panik saat mendapati Una sudah tersadar.
"Abangg, aku enggak apa-apa." Ben lalu duduk di sampingnya, "maafkan aku, tidak mengetahui keberadaan calon bayi kamu Bang, malah sekarang sudah tidak ada lagi," ucap Una.
"Tidak, ini salahku karena tidak bisa menjaga orang yang aku sayangi."
Una tersenyum, salah satu tangannya membelai wajah Ben. Ben meraih tangan itu dan dikecupnya. "Aku mau pulang," pinta Una.
"Sabar sayang, kita tunggu dokter. Aku harus pastikan dulu bahwa semua tidak ada masalah," tutur Ben. "Abang, mending bersih-bersih lalu ganti pakaian. Terlihat lelah dan kucel," ucap Una, "pasti Abang belum makan ya?" Ben hanya menggelengkan kepala.
"Mamihh," panggil Nessa dan Nevan serempak. Kedua bocah itu kembali ingin naik ke ranjang. Kehadiran si kembar dan Dewa mengalihkan kesedihan yang dirasakan Una.
Keluarga Ben Chandra sudah berada di rumah, karena dokter telah mengijinkan pulang. Kini yang menjadi pikiran Ben adalah ia harus memberikan keterangan di kantor polisi terkait kejadian penculikan Una. Juga ia harus bertemu kembali dengan Gema. Ben hanya khawatir ia tidak bisa mengendalikan emosinya.
##
Kuret atau kuretase adalah prosedur untuk mengeluarkan jaringan dari dalam rahim. Kuret biasanya diawali dengan dilatasi, yaitu tindakan untuk melebarkan leher rahim.
__________
Yuhuuuuuu, tunggu kelanjutannya ya. Hari senin nih.😁
follow ig author ya : dtyas_dtyas
_______________
Tinggalkan jejak cinta dengan memberikan like, komentar, favorite, vote dan bintang 5. Salam sayang dari Author 💖💖