Not A Sugar Baby

Not A Sugar Baby
Napak Tilas Pertemuan



(2 part menjelang tamat.)


"Kamu bereskan meja kerja kamu, mulai hari ini kamu saya pindahkan ke bagian HRD, silahkan temui Pak Dimas."


"Hahh, enggak bisa begitu dong Pak. Ibu Aruna yang salah menyiram wajah saya kenapa saya malah dipindah tugaskan."


Ilham tertawa, "Kamu jangan terlalu percaya diri, dipindahkannya kamu bukan berarti posisi kamu aman. Karena bisa jadi Pak Ben akhirnya memutuskan kamu dipecat."


Nia akhirnya menemui Dimas, "Kamu terlibat kasus apa sih sampai dipindahkan begini?"


"Enggak ada kasus pak, cuma gara-gara Bu Aruns siram wajah saya. Malah saya yang dipindahkan," ucap Nia.


"Gimana, kamu disiram oleh Aruna?" tanya Dimas penasaran. "Iya pak," jawab Nia, "anehkan. Kenapa malah saya yang malah kena sanksi."


Dimas melipat kedua tangannya, "Pasti ada alasan Aruna menyiram kamu, jadi saya lebih percaya Aruna dari pada kamu."


"Heran saya, kenapa semua pro sama dia," gumam Nia. "Apa karena dia istri pimpinan, sedangkan saya cuma karyawan biasa," ucap Nia.


"Aruna juga dulu karyawan biasa dan saya tau sifatnya seperti apa. Jadi enggak mungkin dia tanpa alasan siram wajah kamu."


...~ *** ~...


Una menjalani kehamilannya dengan sangat hati-hati, selalu berusaha menjadi istri yang baik dan membuat suaminya bahagia serta ibu yang penuh kasih untuk anak-anaknya.


Padahal keluhan kehamilannya lebih rewel dibanding kehamilan si kembar. Perutnya saat ini sudah membuncit dengan umur kehamilan 5 bulan.


Ben sendiri lebih protek terhadap Una, seperti saat ini, Una yang terbangun malam hari untuk ke toilet. Sejak perutnya terlihat membesar semakin sering ia harus ke kamar mandi.


"Abang, ngapain ikut masuk," ujar Una saat Ben tiba-tiba masuk kamar mandi dengan wajah mengantuk. "Temani kamu sayang, khawatir kamu butuh bantuan," jawab Ben.


"Ishhh, aku mau pipis, Abang kesana dulu."


"Aku tunggu sini Na, lagian aku udah hafal semua bagian tubuh kamu," jawab Ben. "Iya, tapi nanti setelah lihat malah mau yang lain."


Merangkul Una untuk kembali ke ranjang, "Sini, baring lagi. Aku enggak akan macam-macam Na. Satu macam aja," ujar Ben.


Ben memeluk Una yang sudah berbaring, "Kamu makin cantik loh Na, makin seksih, menggoda banget atau sengaja ya mau menggoda aku?" Ucap Ben dengan tangan yang mulai menyentuh area-area sensitif Una.


"Abanggg, aku ngantuk. Tangannya kondisikan."


"Ya gimana dong, udah bangun gini. Bantu tidurin ya," pinta Ben pada Una. "Abaangg, ihhh." Yang berikutnya terdengar hanyalah dessahan dan racauan nikmat antara keduanya.


.


.


.


"Pak, Bu Aruna menunggu di lobby." Ilham menyampaikan pesan dari Reza yang mengantarkan Una. Ben akan menemani Una ke rumah sakit untuk memeriksakan kehamilannya.


"Iya, setelah selesai aku turun," jawab Ben yang sedang mendengarkan laporan dari para manager divisi.


Una menunggu dengan bersandar pada sofa ruang tunggu sambil memainkan ponselnya. Una menatap suasana lobby tempatnya berada. Dulu ia di sana berkerja sebagai salah satu staf namun sekarang ia adalah istri dari pemilik perusahaan.


Bibir Una menyunggingkan senyum, bukan senyum sombong tapi senyum bahagia. Bekerja di kantor yang ternyata milik Ben, sampai akhirnya Ben Chandra menjadi jodohnya.


Tanpa diduga, Nia yang sedang ada keperluan dengan resepsionis memicingkan matanya memastikan wanita yang sedang duduk di sofa lobby adalah Aruna.


Nia pun menghampiri Aruna, sejak insiden Aruna menyiram wajah Nia dan dipindahkannya Nia pada divisi berbeda dengan posisi staf, mereka tidak pernah saling bertemu.


"Hmm, baik."


Nia memindai Aruna, ia melihat perut Una yang menbuncit. "Ternyata ibu dulu hanya staf biasa di sini ya."


"Iya, kenapa. Masalah buat kamu," ujar Una yang dijawab Nia dengan mengedikkan bahunya. "Rayuan kamu hebat ya, bisa menaklukan yang punya perusahaan.


Aruna tertawa, "No comment," ucapnya.


"Kalau bukan pintar merayu, karena apa?"


"Karena Aruna memang kekasihku," jawab Ben yang mendekat pada sofa yang diduduki Una. "Kita berangkat sekarang?" tanya Ben membantu Una berdiri dan mencium keningnya. Ben menoleh pada Nia yang langsung berdiri, "Saya tidak perlu karyawan yang banyak bicara dan kurang santun, Ilham coba kau urus dia."


"Eh eh, Pak maaf pak, saya masih betah kerja di sini. Saya janji tidak akan asal bicara lagi. Tapi tolong biarkan saya tetap bekerja di sini pak."


"Nia, ikut aku," titah Ilham. "Tapi Pak," ucap Nia sambil menatap Una dan Ben yang meninggalkan lobby.


Ben berdiri di samping brankar di mana Una berbaring dalam pemeriksaan dokter. Alat USG yang berada di atas perutnya digeser-geser oleh dokter.


"Sudah masuk 23 minggu ya Bu, tali pusat dan air ketuban masih aman. Jenis kelaminnya ... sebentar, hay baby ayah ibu mau tau jenis kelamin kamu nih. Ahhhh, laki-laki ya Bu, Pak."


Ben terus menggenggam tangan Una selama pemeriksaan, senyum terbit di wajahnya melihat bayi yang ada dalam kandungan Una terlihat bergerak-gerak di layar saat Dokter menggerakan alat USG.


Menoleh pada Aruna yang juga menampilkan raut wajah ceria. Aruna, ya Aruna yang membuat dunia Ben jungkir balik saat ia mulai menyukai Aruna. Memberi kebahagiaan bahkan menerima segala buruknya masa lalu Ben Chandra.


Bahkan saat ini, wanita itu kembali mengandung keturunannya, seorang Candra. "Abang," tegur Una saat perawat membantu Una turun dari brankar.


Una terus menatap foto hasil USG bayinya saat mereka berjalan meninggalkan rumah sakit menuju parkiran.


Una berada dalam rangkulan lengan Ben saat berada dalam mobil yang dikendarai Reza. "Ada tempat yang mau ditujukah?" tanya Ben.


Una melihat ke luar jendela, "Hmm, kita makan dulu ya Bang, aku sudah lapar lagi," ajak Una. "Oke sayang," ucap Ben sambil mencium puncak kepala Una.


Berada dalam sebuah ruangan VIP sebuah resto yang Ben pilih, duduk berhadapan. "Abang, kenapa sih, dari tadi senyam senyum terus?"


"Aruna, kamu enggak ingat?"


"Ingat apa?" tanyanya kembali. Ben terkekeh, "Ruang ini sejarah bagi hubungan kita." Una menatap ruangan tempatnya berada.


"Masa sih, tapi aku enggak ingat. Sejarah gimana sih Bang?"


Ben belum menjawab pertanyaan Una, karena pelayan datang membawakan pesanan mereka. Ben menikmati hidangan sambil menatap Una dan sesekali pada piring di hadapannya.


Ben meraih gelas dihadapannya, "Sudah ingat?" tanyanya lagi lalu menuntaskan dahaganya. "Aku lupa," jawab Una.


"Ruangan ini adalah tempat pertemuan kita setelah kamu menabrak mobil milikku."


"Benarkah?"


Ben mengangguk, dia tidak mungkin lupa karena pertemuan itu sudah ia rencanakan, ide ganti rugi kerusakan mobil hanyalah alasan untuk mendekati dan mendapatkan Aruna pada saat itu.


__________


Haiiii, so sorry ya telat update, jangan lupa jejakssss. Nantikan bab berikutnya dan jangan lupa mampir di karya author yg lain "MENIKAHI PAMAN MU"


Muachhhhh, love you gaessss.