
Mendapati sebuah pesan dengan nomor pengirim tidak dikenal, membukanya yang ternyata berisi video. Memutar kiriman video tersebut, raut wajah Una berubah saat menyaksikan video tersebut.
"Jahaaat, kalian jahaaat," teriak Una, sambil melempar Ponselnya yang entah mendarat di mana.
Terdengar ketukan pintu, dengan terpaksa Una beranjak dari tidurnya. Melihat ke jendela, sudah terang benderang sedangkan ia merasa baru tidur sebentar.
Berjalan menuju pintu dengan sangat malas. "Kamu baru bangun Na ?" tanya Huda ketika Una membuka pintu.
"Hmm," jawab Una. Huda dan Rena menatap aneh dengan kondisi Una. "Tadi kita tunggu di bawah untuk sarapan, bukannya kamu mau perawatan."
"Enggak usah Kak, aku mau tidur. Enggak enak badan." Una mengusap keringat di dahi dan di leher.
Huda dan Rena saling memandang lalu menatap kembali pada Una, seakan saling memberitahu kalau ada sesuatu dengan Una.
Una meninggalkan pintu dan kembali ke ranjang diikuti Huda dan Rena. "Kamu kenapa Na?"
"Enggak apa-apa aku cuma mau tidur." Una kembali berbaring dan menarik selimut menutup tubuhnya.
"Na, hp kamu mana? Pak Ben bilang kamu enggak bisa dihubungi."
"Semalam jatuh, mungkin di kolong tempat tidur."
Huda menyugar rambutnya, "Na, kamu jangan aneh-aneh ya! Yang ingin menikah kalian bukan paksaan dari keluarga jadi jangan bikin malu Na. Semua sudah kumpul, ibunya Pak Ben sudah datang. Teman dekat Pak Ben juga sebentar lagi tiba."
"Aku cuma mau tidur, Kak."
Huda ingin menjawab namun dicegah oleh Rena, "Biar Una aku yang temani, Mas urus yang lain aja."
Rena ikut berbaring di sebelah Una. "Na, kamu kenapa? Apa yang membuat kamu tidak bisa tidur? Kalian tidak bertengkar kan?"
Una hanya menggeleng, "Aku ingin istirahat dulu Kak."
"Ya sudah, tapi jangan berbuat yang nantinya akan kamu sesali. Pikirkan sesuatu dengan kepala dingin, semua pasti ada solusinya."
Entah jam berapa Una terbangun lalu ke kamar mandi membersihkan diri, mengganti piyamanya tapi kembali merebahkan diri. Merasa tubuhnya sangat lemas dan kepala terasa pening.
Ben sudah tiba di Bandung dan merasa ada yang aneh karena tidak dapat menghubungi Una, sedangkan penjelasan dari Huda cukup aneh. Informasi dari Leo, Una tidak keluar dari kamar sejak semalam. Ia memutuskan melihat sendiri keadaan Una dan meminta cardlock untuk masuk ke kamar Una.
Setelah berhasil masuk, Ben menatap Una yang terbaring di bawah selimut.
"Aruna!"
Una membuka matanya, melihat Ben yang menghampirinya dan duduk di pinggir ranjang ia kembali menutup matanya.
"Sayang, kamu sakit?" Ben menyentuh dahi Una.
Una bangun dan duduk, "Kalau Bapak mau membatalkan pernikahan silahkan Pak, mumpung masih ada waktu. Dari pada nanti Bapak menyesal menikah dengan saya." Una mengatakan hal tersebut tanpa menatap Ben.
"Kamu bicara apa sih? Ada apa?"
Una hanya diam. Ben menatap wajah Una, matanya bengkak jelas bahwa ia semalam menangis dan wajahnya juga pucat.
"Kalau ada masalah kita bicarakan, jangan menyiksa diri sendiri. Kita ini mau menikah Na."
Una menghela nafas, "Ya memang begitu kali, mau menyiksa aku."
"Aruna!"
"Aku enggak masalah kalau Pak Ben ingin kembali ke Clara. Dari awal memang aku yang menjadi penghalang kalian untuk bersama."
"Clara? Aruna, aku tidak paham dengan clue yang kamu sampaikan. Jelaskan biar aku bisa paham dan kita cari solusi jika itu adalah sebuah masalah."
Una beranjak dari tempat tidur, mengambil ponsel yang jatuh dekat sofa saat semalam ia lempar. Lalu diserahkan ke tangan Ben.
"Kamu lihat sendiri lalu pikirkan apa masalahnya."
Ben menghela nafas. "Pantas aja enggak ada hubungin aku, taunya lagi sibuk. Sibuk sama yang lain."
"Itu pertemuan dengan beberapa rekan bisnis aku Na, memang di sana ada Clara sepertinya dia mewakili bisnis keluarganya. Aku sudah berusaha menghindar dari Clara, tidak mungkin aku kasar, karena bisa jadi penilaian buruk untuk aku dan merendahkan Clara juga. Tapi bukan itu yang membuat aku lupa menghubungimu, memang sehari kemarin jadwal aku padat Na."
Una masih dengan wajah datarnya, "Percaya sama aku Na, kamu tau sendiri Clara seperti apa. Bahkan dia juga tidur dengan mantan pacar kamu," ujar Ben lalu duduk disamping Una dan merangkul bahu calon istrinya tersebut.
"Apapun usaha orang untuk memisahkan kita tidak akan berhasil kalau kita saling percaya."
"Wajar aku ragu, kita ketemu belum lama. Sedangkan dengan Clara, kalian sudah lama dekat."
Ponsel Una bergetar, muncul notifikasi pesan masuk. Ben membuka pesan yang masuk berisi kiriman foto. Beberapa foto yang menunjukan kedekatan Ben dan Clara. Una merebut ponselnya, menatap Ben setelah ia melihat beberapa foto itu.
"Orang itu sengaja Na, dia ingin menggagalkan pernikahan kita."
"Tapi foto ini__"
"Itu foto lama sebelum aku kembali ke Jakarta." Ben mengambil ponsel di tangan Una dan mengantonginya.
Memegang kedua bahu Una, "Percaya padaku Na, besok pagi kita menikah, hari ini kamu cukup istirahat abaikan pesan-pesan yang sengaja merusakan kebahagiaan kita."
Butuh waktu cukup lama bagi Ben untuk menjelaskan dan meyakinkan Una bahwa tidak ada yang lain dihatinya selain Aruna.
Una ditemani Rena kakak iparnya, oleh Ben tidak diperkenankan keluar dari kamar sampai esok hari pernikahannya.
"Cari tau siapa pengirimnya," Ben memberikan ponsel Una pada Ilham.
"Kenapa lagi?" tanya Bian.
Ilham membuka ponsel Una, membuka pesan yang dimaksud oleh Ben.
"Sepertinya orang yang sama dengan insiden-insiden yang lalu," ucap Bian.
"Kumpulkan semua buktinya, bisa kacau kalau dibiarkan terus."
Hari yang ditunggu Ben pun tiba, menunggu malam berganti pagi terasa sangat lama. Ia tidak ingin rencana pernikahannya dengan Una gagal. Sudah siap dengan suitnya dengan warna senada dengan kebaya yang akan dikenakan Una.
Diapit oleh ibunya, berjalan menuju ruangan yang sudah disiapkan untuk melaksanakan pernikahannya bersama Una.
Ruangan yang sudah didekorasi dengan untaian bunga dan kain-kain menambah terciptanya suasana sakral dan damai. Bian orang kepercayaan Ben beserta istri telah hadir, begitu pula Gerry serta para direktur dan manager perusahaan milik Ben.
Arabela yang berjalan mengikuti Ben dengan wajah masam, hanya dirinyalah yang terlihat tidak bahagia dengan pernikahan Ben dan Aruna.
Seluruh keluarga dan teman dekat kedua mempelai telah berada di ruangan.
"Wah, parah-parah," ucap Abil.
"Parah kenapa ?" tanya Vino.
"Itu si Una, pokoknya bakal nyesel dah."
Ben yang sepintas mendengar ucapan Abil menoleh pada Ilham, meminta penjelasan. Ilham segera menghubungi Leo dan orang-orang yang diminta mengamankan acara.
_____________
Hai hai hai,, ☺☺☺☺
jangan lupa senam jarinya, boleh like, syukur-syukur pada koment apalagi kasih vote, makin top kasih hadiah.
Yang semalam maraton baca sampe jam 2 pagi, semoga gak ngantuk ya pas kerja 😄
Thanks yang masih ngikutin kehaluan author 😂😂