Not A Sugar Baby

Not A Sugar Baby
Reuni



"Om," panggil Una ketika ia berbaring di sofa dengan pangkuan Ben sebagai bantal.


"Hmm," jawab Ben matanya sesekali menatap layar televisi sedangkan tangannya mengelus perut Una.


"Aku boleh kumpul reunian ya?"


"Reuni sekolah?"


"Bukan, cuma temanan waktu kuliah aja."


"Hm."


"Boleh ya Om," bujuk Una.


"Sayang, kita enggak ada panggilan lain lagi ? Masa kamu mau panggil aku Om terus."


"Hmm, aku panggil abang aja ya. Abang Chandra," ucap Una sambil tertawa


Ben tidak menyahut, ia menggendong Una dan membawanya ke kamar, merebahkan pada ranjang. Melakukan aktifitas penyatuan suami istri, ruangan yang sudah menggunakan fasilitas pendingin udara terasa panas dengan suara desahhan dan lengu_han keduanya.


Ben masih menyatu dengan Una setelah pelepasan, mereka masih menyesuaikan deru nafas. "Abang, geser ih. Berat mana lengket."


Ben melepaskan penyatuan di bawah tubuhnya, lalu merebahkan diri di samping Una sambil menarik selimut untuk menutupi mereka berdua.


Tidak lama keduanya pun terlelap, Ben merasa belum puas dengan istirahatnya saat merasakan pergerakan disebelahnya.


"Shhhh," desis Una.


"Kenapa sayang?" tanya Ben setelah membuka matanya, sambil terduduk memperhatikan Una yang menggigit bibir bawahnya.


"Perut aku kram, Bang," Una mengelus perutnya, memejamkan mata sambil merasakan perutnya yang terasa kencang.


Ben menyibak selimut yang menutupi tubuh polos mereka, memperhatikan daerah sekitar inti Una. Mengecek apakah ada cairan aneh yang keluar dari sana.


"Kita ke rumah sakit ya?"


Una menggeleng, "Aku haus." Ben segera memakai boxernya lalu keluar dari kamar.


"Sayang, ini airnya," ucap Ben lalu membantu Una duduk dan minum.


"Aruna, sebaiknya kita ke rumah sakit. Aku tidak paham dengan rasa sakitmu ini."


"Besok aja, aku ngantuk Bang." Una kembali merebahkan diri dan memejamkan mata.


"Tapi sakit perutmu


?"


"Bukan sakit tapi kram," ucap Una dengan mata terpejam.


Ben menghela nafas, ia memperhatikan Una yang sudah terlelap. Setelah dirasa tidur Una cukup nyaman ia pun menyusul ke peraduan mimpinya.


***


"Sore ini kita cek kandunganmu, nanti Leo yang mengantar. Kita ketemu di rumah sakit," titah Ben sebelum ia berangkat ke kantor.


"Jadwal kontrol masih minggu depan."


"Percepat hari ini." Ben mencium kening Una.


"Hm," jawab Una.


Dan disinilah Una berada, mengantri giliran untuk pemeriksaan kehamilan. Memeriksa ponselnya, Ben tadi menyampaikan kalau ia sudah menuju rumah sakit namun sampai sekarang belum kelihatan.


Una pasrah saat namanya dipanggil, berdiri menuju ruang pemeriksaan. Tiba-tiba ada tangan yang merengkuh pinggangnya. "Abang," ucap Una sambil tersenyum.


"Aku belum terlambat kan?" Una menggeleng.


Una mendapatkan pemeriksaan baik tekanan darah dan berat badan, Ben yang baru pertama kali mengantarkan Una cek kehamilan sangat antusias saat dokter melakukan USG pada perut Una.


Tangannya menggengan jemari Una, saat layar menunjukan dua buah kantung kehamilan berisi janin dengan ukuran sangat kecil. Ia juga merasa ingin berteriak bahagia saat mendengar detak jantung kedua janin dalam perut Una saling bersahutan.


Pasangan itu kini sedang duduk dihadapan meja dokter, menceritakan keluhan yang Una alami semalam.


Dokter pun tersenyum, setelah menjelaskan bahwa yang Una alami semalam tidak terlalu beresiko tapi dokter menyarankan pada Una tidak boleh melakukan aktivitas berat.


"Kandungan Ibu Aruna sudah memasuki trisemester kedua, jadi sebenarnya aman untuk melakukan hubungan. Selama sang ibu merasa nyaman dan jangan melakukan dengan gaya yang ekstrem."


Una dan Ben hanya mendengarkan apa yang diucapkan dokter, "Jadwal kontrol bulan depan ya, vitaminnya dihabiskan. Dijaga kesehatannya, agar tekanan darahnya normal kembali."


"Baik Dok," jawab Una.


Ben melakukan pembayaran pada kasir dan menunggu penerimaan obat dan vitamin.


"Kamu mau mampir atau makan sesuatu? Sekalian kita lagi di luar." Ben bertanya sambil fokus pada kemudinya.


"Enggak Bang, aku mau cepat sampai rumah."


***


Sesuai dengan undangan, bahwa malam ini adalah resepsi pernikahan Abil. Una datang bersama Ben, mengenakan dress berwarna hitam serasi senada dengan warna jas yang dikenakan Ben.


"Memang bener kalian jodoh ya, sama-sama bocor." Una mengajak Ben turun dari pelaminan setelah foto bersama.


Mereka bergabung dengan rekan di kantor yang juga menghadiri undangan Abil.


"Kak, Meisya gak ikut?" tanya Una pada Vino.


"Enggak ada Na, lagi ikut Chika liburan. Nanti weekend baru aku jemput."


"Hmm."


"Kata Meisya kalian mau reuni?"


"Bukan reuni sih, orang cuma kumpul geng waktu kuliah doang Kak."


"Siapa aja?"


"Aku, Meisya, Bira dan Mario."


"Pak Ben ijinkan kamu ikut?" Una mengangguk.


"Kirain engak diijinkan, kayaknya dia bucin sama kamu Na."


Una hanya tersenyum mendengar pernyataan Vino.


***


"Jadi apa rencananya? Kamu mau hadir di pertemuan Una dengan gengs nya?" tanya Clara pada Alan.


"Iya, info dari Bira mereka bertemu besok."


"Baiknya kamu hadir tiba-tiba seakan tidak sengaja bertemu. Terus berusaha mendekati Aruna. Sisanya aku yang atur."


"Aku harua tau detail rencana kamu, jangan sampai nanti membahayakan Una."


"Khawatir banget sih, secinta itu kamu sama Aruna?"


"Aku mendekati Aruna sejak dia masih kuliah dan kami resmi pacaran baru beberapa bulan saat dia menyaksikan aku dan kamu di apartement. Kalau bukan karena restu dari ibuku, aku pasti nikahi dia."


"Ngapain juga kamu mau mau rebut Aruna dan Ben kalau akan terjegal restu."


"Itu urusanku Clara, cukup pisahkan Ben dan Aruna selanjutnya Aruna urusanku." Ujar Alan.


Diantar oleh Leo, Una telah tiba di salah satu resto tempat mengadakan pertemuan.


"Hai," ucap Una saat masuk ke dalam VIP room yang sudah dipesan Bira.


"Woww, makin cantik aja," ujar Bira lalu memeluk Una.


Beralih pada Mario, ia tersenyum lalu menghampiri Una dan memeluknya, "Aku enggak nyangka bisa ketemu lagi dan kalian sudah pada hebat."


"Jadi ingat waktu dulu ya Na, jaman kuliah tampang masih cupu," kata Meisya.


"Duduk dulu Na," ajak Mario.


"Kalian sekarang tinggal di Jakarta?"


"Iya, aku udah fokus lanjutin bisnis papaku," jawab Bira.


"Aku masih di Bali Na."


"Gimana bumil, makin glowing aja nih?"


"Sudah menikah ?" Tanya Mario.


"Sudah," jawab Una malu-malu, "Nanti kalau resepsi aku undang kalian ya."


Pertemuan itu berlanjut dengan obrolan dan candaan mereka, sampai saat Bira mendapatkan panggilan telepon. Dari percakapan diketahui sepertinya ada hal mendesak hingga Bira menyampaikan untuk datang menemuinya saat ini.


"Sorry ya kalau nanti ada iklan, ada berkas urgent yang harus aku acc."


"Uhh, enggak nyangka Bira yang urakan dan playboy sekarang udah luar biasa," ucap Una sambil memandang Bira dengan menopang dagu.


"Itu sih bukan pujian tapi ngeledek."


Akhirnya pintu ruangan diketuk lalu masuklah seorang wanita dan Pria yang sosoknya sangat Una kenal.


Una mengalihkan pandangan saat pria itu menatap lekat pada Una.


"Loh, Kak Alan ya." Ucap Meisya.


to be continue....


______________


Hai readers, mohon maaf kalau updatenya baru sehari 1 bab, akan diusahakan lebih ya. Maklumlah di dunia nyata author sibuk cari cuan 🤭✌.


jangan lupa goyang jempolnya, untuk like, koment dll. Lop yu pul buat yang masih setia.