Not A Sugar Baby

Not A Sugar Baby
Pasangan Uwu Lainnya



...°○ Selamat Membaca ○°...


"Sayang," panggil Ben saat mereka telah tiba di apartement, Una bergegas ke kamar mandi. Ben menghela nafas. Duduk di sisi ranjang menunggu Una.


Saat keluar dari kamar mandi, Una duduk di depan meja rias membersihkan wajahnya dari sisa make up. Dari cermin ia bisa melihat Ben yang sudah membuka jasnya memandang ke arahnya.


Una berdiri lalu melepas dressnya, ia sengaja menggoda Ben dengan hanya mengenakan pakaian da_lam ia berjalan ke arah lemari. Melepas branya lalu mengambil nightgown yang berwarna pink dan memakainya.


Ben seakan menyaksikan model yang sedang berjalan di catwalk, sungguh menggoda kelelakiannya. Dengan kondisi perut hamilnya dan dadanya yang penuh, Arghhhh Ben seakan ingin menariknya ke atas ranjang dan mengukungnya. Apalagi kini gaun tidur yang digunakan Una hanya ada tali kecil tersampir dipundaknya, memperlihatkan pundak putih dan mulus yang merupakan salah satu tempat favorit Ben dari tubuh Una.


"Matikan lampunya Bang, aku ngantuk," ucap Una sambil menarik selimut.


"Wait, Una jangan tidur dulu." Ben dan Una kini duduk berhadapan. "Apa sih Bang?"


"Semalam aku sudah mengalah untuk tidur di sofa, tidak untuk malam ini." Dalam hati Una tertawa melihat Ben yang kesal. "Come on Na, jangan siksa aku." Ben mendekat pada Una lalu meraih tengkuk Una melu_mat bibir Una dan beralih menciumi leher Una dengan rakus.


Tanganya meremas dada Una, sedangkan tangan yang memegang tengkuk Una kini berpindah pada pinggang Una. Tanpa disadari karena sentuhan-sentuhan yang dilakukan Ben, mereka melepaskan pakaiannya.


Ben seakan membawa Una terbang melayang, merasakan dan menikmati segala sentuhan yang dilakukan Ben. Ibarat seorang petualang dengan tenaga full power berpetualang di tubuh Una yang seakan-akan adalah dunia baru untuk dijelajahi.


Una hanya bisa pasrah dengan perasaan yang terasa memabukkan hingga ia terhanyut dalam sungai cinta, cinta antara Ben dan Aruna.


Ben rebah disisi Una yang saat ini berbaring miring, keduanya masih terengah mengatur deru nafas setelah petualangan cintanya. Ben memeluk Una dari belakang, mencium bahu Una.


"Istirirahatlah," ucap Ben sambil menyelimuti mereka tubuh mereka.


Di suasana yang berbeda, Leo dan Firda yang masih berada di mobil setelah mengantarkan Ben dan Aruna ke apartement. Biasanya Leo akan pulang menggunakan motor sportnya, namun karena kondisi hujan jadi ia menggunakan mobil yang biasa dipakai mengantar kemana pun Una pergi.


"Antar sampai kostan aku," pinta Firda. "Enggak, aku antar sampai halte busway aja. Sudah malam, ngantuk," jawab Leo.


"Eh nyebelin banget sih, kamu tega ninggalin perempuan sendirian di halte mana udah malam begini ?"


"Emang loe perempuan? Mana buktinya ?" Pertanyaan konyol Leo memicu emosi Firda.


"Wah bener, ngajak berantem nie orang."


"Firda, Firda, lo sama gue kerjanya tuh ngelindungin orang, masa lo takut cuma karena gue tinggalin di jalan. Orang juga mau jahat lihat-lihat, tinggal lo karate juga semaput," tutur Leo.


"Yang namanya perempuan itu dimanapun sama, suka diperhatikan, dinomorsatukan, dilindungi, di ..."


"Yang namanya perempuan itu dimanapun sama, bawellll," ucap Leo. "Jadi turun enggak?" tanya Leo saat mobilnya sudah dekat dengat halte busway.


"Jadi, malas kelamaan berdua sama cowok arrogant."


"Terserah," seru Leo.


Firda melepas seat belt lalu membuka pintu dan keluar dari mobil.


"Fir," panggil Leo. Firda sedikit menunduk, mensejajarkan wajahnya dengan kaca jendela yang diturunkan Leo.


"Enggak usah nunggu kabar dari gue, gue pasti selamat sampai rumah. Ah, satu lagi, enggak usah hadir di mimpi gue ya." Leo langsung menutup kembali kaca mobil dan melaju sambil terkekeh.


Leo semakin terbahak melihat Firda lewat spion, terlihat sedang berteriak namun tidak terdengar apa yang diteriaki.


***


"Hmmm," Una menggerakan tubuhnya. "Morning my angel," sapa Ben sambil memakai jasnya.


"Loh, aku kesiangan lagi Bang?"


"It's oke, aku ada meeting pagi ini. Nanti Firda dan Bibi akan bantu kamu packing. Sore semua akan diangkut."


Una hanya mengangguk, "Jangan angkat yang berat-berat, cukup kamu arahkan saja mana yang harus di bawa."


"Oke my king," ucap Una. Ben tersenyum mendengar panggilan dari Una, berjalan mendekati ranjang lalu mencium bibir Una.


"Aku berangkat," pamit Ben sambil mengusap puncak kepala Una.


"Ini susunya Non, jangan sampai tidak diminum nanti tuan marah lagi."


"Owh, iya Bik."


"Mau sarapan sekarang ?"


"Boleh, Firda kamu sudah sarapan? Kalau belum bareng aja."


"Baik Bu," ucap Firda.


Tidak lama Leo datang, Firda memasang wajah seakan mau perang. "Kamu kenapa ?" tanya Una pada Firda.


"Enggak apa-apa Bu, cuma semalam pas mau pulang ada orang gila yang bikin ribet."


"Hah, orang gila? Di mana?"


"Di jalan," jawab Firda. "Kata Pak Bos ibu mau packing?"


"Iya, bantu ya. Kalau baju-baju aku sih aman ya, cuma jas dan suitnya bos kamu itu yang harus hati-hati. Tepok jidat saya saat tau harganya."


Packing sudah selesai, bahkan sebagian sudah mulai diangkut untuk dibawa ke rumah baru yang akan ditempati Ben dan Aruna.


Una dan Firda duduk santai di sofa sambil menikmati cemilan melepas lelah. Leo yang tadi mengarahkan petugas yang memindahkan barang kembali dengan membawa tiga box pizza.


"Wow, peka banget sih. Pengen makan enak tapi mager, Leo kamu suami idaman. Beruntung nanti wanita yang menikah sama kamu," puji Una sambil menyuap potongan pizza.


Firda yang sedang mengunyah melirik pada Leo, sedangkan Leo hanya tersenyum sambil membuka minuman soda kaleng.


"Masalahnya, enggak ada wanita yang mau sama dia Bu," seru Firda.


"Masa sih ?" Ucap Una sambil menoleh pada Leo.


"Banyak, antri malah," ucap Leo. Firda mendengus, "Sombong," ucap Firda.


"Kalian kenapa sih?" tanya Una. "Sahut-sahutan gitu?"


"Biasalah, fans garis keras kayak gitu. Ngejek-ngejek tapi di hati kebalikannya."


"Gue ngefans, ih amit-amit deh." Firda terlihat emosi.


Ben datang dan bergabung duduk di sebelah Una, "Hay babe," Una mengalungkan tangannya ke leher Ben lalu mencium bibir suaminya singkat, tanpa diduga Ben meraih tengkuk Una dan membalas dengan pagutan yang lebih lama.


Leo hanya tersenyum dan mengalihkan pandangannya pada Firda yang terbelalak menyaksikan adegan barusan. Ia mengetik pesan dan mengirimkan pada Firda


Leo


Kepengen ya


^^^Situ kali^^^


Emang, mau nyoba gak?


"Abang, mereka berdua aneh, kita tinggalin aja yuk." Ben membantu istrinya berdiri lalu masuk ke kamar meninggalkan Firda dan Leo.


Firda melemparkan bantal sofa ke arah Leo saat kedua bosnya sudah menutup pintu kamar.


"Apa maksudnya pengen nyoba?"


"Khawatir kamu kepingin lihat adegan barusan, sampe melotot begitu. Kurang baik apa coba?" ujar Leo.


__________


Tinggalkan jejak cinta dengan memberikan like, komentar, favorite, vote dan bintang 5. Salam sayang dari Author 💖💖