Not A Sugar Baby

Not A Sugar Baby
Saat-saat Genting (2)



Mohon maaf jika mengandung adegan kekerasan.


_________


"Lepassss," Una memberontak.


"Mamihhhhh," teriak Dewa sambil menangis masih duduk pada kursi mobil sedangkan Reza sudah terkulai tak berdaya.


Dua orang yang menarik Una membawa ke mobil mereka. "Dewa, diam dekat Om Reza. Enggak usah nangis. Mamih enggak apa-apa, aaaaahhh," jerit Una dipaksa masuk ke dalam mobil.


Setelah mobil yang membawa Una pergi, Reza perlahan bangun menghampiri Dewa yang menangis di dalam mobil, ia meraih ponsel menghubungi Ilham.


Sebenarnya Ben sudah mengantisipasi kejadian ini namun tidak disangka terjadi lebih cepat. Ilham segera menghubungi timnya untuk mengikuti Aruna.


"Pak," ujar Ilham saat menemui Ben yang sedang berdiskusi dengan Bian. "Bu Aruna, diculik."


Ben refleks berdiri, "Bagaimana bisa, bukannya aku sudah putuskan tambahan orang yang mengawal."


"Sudah Pak, sudah menyusul mengikuti Ibu. Tadi tidak memungkinkan dihentikan karena kita kalah personal dan keselamatan Bu Aruna terancam."


"Kita susul mereka," ajak Ben sambil melepaskan dasinya.


Kini Ben sudah berada dalam mobil bersama Ilham menuju lokasi tempat Una di bawa. "Apa GPS di ponsel Aruna tidak bisa diakses?"


"Tertinggal di mobil, Pak."


"Dewa, kondisi Dewa gimana? Una tadi bersama Dewa," ucap Ben.


"Aman pak, Leo sudah membawa Reza dan mengamankan anak-anak," jawab Ilham. Ben terlihat gusar, "Shittt, kenapa bisa kecolongan begini. Padahal aku sudah antisipasi."


Sementara ditempat yang berbeda, Una dipaksa turun. Ia melihat sekitar, berada di pekarangan rumah yang cukup luas dan kurang terawat dikelilingi pagar tinggi. Rumahnya pun terlihat besar dengan gaya etnik.


"Jalan," seorang pria mendorong Una hingga Una hampir jatuh. Mengenakan dress selutut dan wedges membuatnya sulit berjalan cepat. Entah berapa jumlah orang yang menjaga rumah itu, dengan perawakan tinggi dan raut wajah mengintimadasi membuat nyali Una ciut.


Rasa takut, bingung dan kesal campur aduk membuat pikirannya menerawang dan memikirkan kondisi Dewa.


"Masuk."


Brukkk, "Auwww," Una merintih karena terjatuh saat didorong masuk ke dalam sebuah ruangan. Merasakan perih karena lecet di lututnya, ia berusaha berdiri memindai keadaan ruangan. Tampak kamar itu merangkap ruang kerja, karena ada meja kerja beserta kursinya serta deretan lemari berisi bermacam-macam buku tidak jauh dari sebuah ranjang.


Una memeriksa laci meja mencari sesuatu yang dapat melindungi dirinya, namun nihil. Ia melihat penggaris dan cutter pada pen holder di pinggir meja.


Namun terdengar handle pintu dibuka, Una menoleh ke arah pintu dan terkejut melihat siapa yang masuk.


"Halo, nyonya Ben Candra."


Una melangkah mundur saat Gema terus meringsek maju menghampirinya. "Mau apa kamu? Sebaiknya bebaskan aku," ucap Una.


Gema terbahak, "Mau apa? Kamu tanya aku mau apa?" Gema mencekik leher Una membuat ia memukuli lengan Gema yang mencekik lehernya agar segera di lepaskan.


Una terengah-engah saat Gema melepaskan cekikannya. "Tolong lepaskan aku, Suamiku akan sangat marah jika tau perlakuan yang aku dapatkan seperti ini. Aku tidak ingin ada yang terluka, jadi biarkan aku pergi. Aku tidak akan bilang kalau kamu otak dari semua ini, tapi lepaskan aku."


Gema kembali terbahak, "Justru aku menunggu agar Ben tau dan dia kemari mencariku. Aku ingin tau apa yang akan dia lakukan kalau kesayangannya ada padaku." Tangan Gema menyentuh wajah Una yang langsung ditepis oleh Una.


"Wow, berani juga kamu ya."


Plakk.


Gema menampar wajah Una. Sudut bibir Una berdarah karena tamparan Gema. "Tolong lepaskan aku, Ben pasti akan sangat marah."


"Baguslah, aku ingin tau semarah apa dia jika kamu ..." Gema mendekat pada Una yang kembali meringsek mundur menjauh dari Gema. Sudut matanya melihat ke arah cutter berada. "Dia pasti tau aku di sini, cincin ini ada GPSnya," ujar Una berbohong.


Gema memperhatikan cincin yang Una sedang lepaskan dari jarinya. "Kalau tidak percaya, periksa saja sendiri," lalu Una melemparkan cincinnya pada Gema. Berharap Gema akan fokus pada cincin yang ia lempar karena ia langsung berlari ke arah meja untuk mengambil cutter.


Ternyata Gema dapat membaca ide Una, ia mengejar Una dan menangkap Una dari belakang.


Una beranjak bangun ingin menghindar namun kembali dicekal oleh Gema.


Plak.


Gema kembali menampar Una, "Sebaiknya kamu diam," lalu mengikat kedua tangan Una menggunakan dasi.


"Jadilah penurut."


"Mau apa kamu, minggir," ucap Una sambil menggeser tubuhnya. Saat ia hendak turun dari ranjang Gema kembali menarik dan menghempaskannya ke ranjang.


"Aku bilang diam!! Teriak Gema. Kini ia menautkan ikatan, tangan Una pada hiasan head board ranjang yang terbuat dari besi.


Una mengguncang ikatan tangannya agar terlepas namun sulit malah mengakibatkan luka dipergelangan tangannya.


Gema perlahan mendekati Una, ia membuka satu persatu wedges yang dikenakan Una.


Bughh


Menendang perut Gem membuat pria itu kesakitan. "Bang*sat!!!!" umpat Gema sambil memegang perutnya.


"Sepertinya kamu harus dikasih pelajaran ya," Gema sudah mengungkung tubuh Una. Ia mengunci kaki Una dengan duduk pada kedua paha Una.


"Minggir breng_sek," jerit Una.


Gema terkekeh, "Tenyata kamu bisa memaki juga, aku jadi ingin dengar suaramu saat aku bergerak di atas tubuh kamu. Gimana? Kamu penasaran enggak."


"Cuihhh." Una meludahi wajah Gema.


Mengusap wajah yang terkena ludah Una, Gema memasang wajah garang.


Srekkk


"Aahhhh," teriak Una saat dressnya di koyak hingga menampakkan kedua dada yang masih tertutup kain berenda.


"Sangat menggoda." Melelas kemejanya hingga ia kini bertelan*jang dada. Kemudian membenamkan wajahnya diceruk leher Una.


Una menggerakan tangannya hingga luka dan mengeluarkan darah bahkan ia juga menggoyangkan leher dan kepalanya agar Gema menjauh.


"Pergi, kamu akan menyesal. Dasar gilaaaaa!"


Saat Gema mencium leher Una salah satu tangannya meremas dada Una. Una menjerit, bukan mendessah seperti saat Ben yang melakukannya.


"Ben, tolong akuuu!!!" teriak Una.


Gema mengangkat wajahnya, "Kamu teriak menanggil Ben, ia tidak akan dengar. Percuma, jangan habiskan tenagamu, lebih baik nikmati apa yang akan aku lakukan."


"Pergi kau, pergiii!!!"


Gema mendekatkan wajahnya pada wajah Una serta menatap sendu pada bibir Una. Tak ingin menerima penyatuan bibir dari pria itu, Una menghantam kepalanya pada Kepala Gema. Gema berangsut berdiri sambil memegang kepalanya yang sakit. Sedangkan Una menikmati kepala yang berdenyut sampai pandangannya berkunang-kunang lalu tak sadarkan diri.


"Dasar gila, wanita gila." Gema kembali mengungkung tubuh Una lalu bermain di tulang selangka Una.


Brakkkk, suara pintu di dobrak.


to be continue


follow ig author ya : dtyas_dtyas


_______________


Tinggalkan jejak cinta dengan memberikan like, komentar, favorite, vote dan bintang 5. Salam sayang dari Author 💖💖