Not A Sugar Baby

Not A Sugar Baby
Kedatangan Dean



Hai, readers.. terima kasih sudah mampir.


...~○ Selamat Membaca ○~...


"Aruna," panggil Syamsul. "Maaf, Pak. Ibu Aruna sedang istirahat," ujar Firda.


"Saya mau bertemu anak sendiri macam mau ketemu pejabat, minggir kamu." Syamsul membuka pintu kamar Una.


"Aruna, apa maksud kamu dengan menghina istriku dan adikmu sendiri," teriak Syamsul. Una terbangun karena terkejut, ayahnya yang menerobos masuk ke kamar diikuti Firda. Kepalanya terasa pening semakin pening karena Syamsul terus memarahi Una.


Una menarik nafas panjang sebelum ia bicara, "Ayah, aku ini anak ayah. Pernahkah terbersit dihati ayah untuk bertanya, Apa benar aku melakukan hal yang dituduhkan istri ayah juga adikku ? Pernahkah ayah sedikit saja membelaku? Pernahkah ayah bertanya apa alasanku jika benar aku melakukan hal itu?"


Ayah Una terdiam, "Aku salah aku minta maaf, besok aku akan minta maaf pada istri tercinta juga anak kesayangan ayah," ejek Una.


Syamsul meninggalkan kamar Una, Firda masih berada di kamar Una. "Firda, jika suamiku telpon bilang saja aku sudah tidur sejak sore. Jangan laporkan apa yang kamu lihat barusan," titah Una.


"Tapi Bu." Firda akhirnya keluar kamar karena Una kembali berbaring dan menarik selimutnya.


...~ ***~...


Keesokan harinya Ben bersama Gerry dan Ilham telah bersiap menghadiri pemilihan ulang direksi karena permintaan para pemegang saham yang dimotori oleh Dean. Sedangkan Leo, masih dengan tugas mengawasi Dean.


Ben yang sejak semalam belum bicara dengan Una dan hari ini karena kesibukannya ia pun lupa untuk menghubungi Una.


Sedangkan Una, saat ini ia sedang berada di antara keluarganya. Mereka menikmati sarapan tanpa ada yang berbicara, sampai akhirnya Devi bersuara. "Kakak enggak ada niat nyusul suami ke Singapura Kak?"


Una meletakan sendoknya dan meneguk air dari gelas dihadapannya, "Enggak, yang ada aku malah nyusahin. Dia di sana kerja bukan liburan," terang Una.


Sudah lebih dari seminggu tapi Ben belum juga kembali ke Jakarta. Ia masih sibuk mengurus perusahaan Ayahnya. Sementara Una sudah tidak sabar untuk kembali ke Jakarta.


"Suami kamu yang menitipkan kamu Na, dia akan jemput kamu kalau sudah pulang," ujar Syamsul saat Una menyampaikan niatnya kembali ke Jakarta.


"Kak, jangan lupa kamu janji akan kasih aku kerjaan," ujar Devi.


"Bukan janji, aku bilang akan sampaikan ke Ben kalau kamu mau ikut kerja di Jakarta."


"Terserah," jawab Devi.


Kini Una sudah tiba di Jakarta, karena berangkat dari Bandung sore ia tiba di Jakarta sudah malam. Setelah membersihkan diri lalu merebahkan tubuhnya di ranjang menunggu Ben menghubunginya.


Ilham yang mendapatkan laporan bahwa Aruna sudah kembali ke Jakarta akhirnya menyampaikannya pada Ben.


Ben menyugar rambutnya, jujur ia kesal karena Una tidak menurut untuk tetap berada di Bandung namun ia paham sepertinya Aruna sangat tidak nyaman berada di tengah keluarganya.


Keesokan paginya, Leo segera menemui Ben untuk menginformasikan hasil pengawasannya.


"Dean tidak dapat ditemukan, Arabela juga tidak ada bertemu dengan Dean. Saya curiga bocah ini ke Jakarta," lapor Dean.


Ben menoleh pada Leo, awalnya ia hanya mendengarkan laporan Leo sambil menikmati sarapannya. "Kamu yakin?"


"Tidak juga."


"Menurutmu, untuk apa ia ke Jakarta?" tanya Leo.


"Penasaran, karena rencana yang sekarang gagal. Walaupun Bos masih menyelesaikan sisa-sisa kekacauan yang dia buat tapi jelas bocah ini merasa gagal. Dia sempat ingin tau perusahaan Bos di Jakarta," tutur Leo.


Ben tampak berfikir, "Hari ini fokus pada Arabela, jika tidak ada pergerakan yang berarti, kamu bisa kembali ke Jakarta."


"Okey," jawab Leo.


Firda menghela nafas, karena keinginan Aruna akan membuatnya kembali ditegur. "Bos saya kan suami Ibu," sahut Firda.


Una terkikik melihat Firda yang cemberut, "Kalau kamu tidak ingin ditegur oleh Kak Ilham, enggak usah laporkan kemana kita pergi hari ini."


"Kalau itu, enggak berani Bu. Kita pulang ke Jakarta tanpa ijin aja saya kena omelan."


Mengenakan maternity dress dan flat shoes, Una memasuki lobby diikuti oleh Firda. Tersenyum pada beberapa orang yang menyapanya. Una menuju ruang kerja Ben, "Mbak, tolong hubungi Pak Bian saya mau bicara," titah Una pada sekretaris Ben.


Una menunggu di ruang kerja Ben sambil duduk di sofa ditemani oleh Firda. Tidak lama kemudian masuklah Bian dengan raut wajah bingung. "Maaf Nona Aruna, sudah membuat anda menunggu."


"Justru saya yang minta maaf karena sudah menyita waktu Pak Bian," ujar Una.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Bian.


Una menanyakan perihal kepergian Ben ke Singapura termasuk alamat perusahaan dan tempat tinggal Ben selama tinggal di negara Singa.


"Nona tidak bermaksud menyusul Pak Ben ke sana kan?" tanya Bian sambil menoleh ke arah Firda.


"Hmm, tergantung situasi," jawab Una. "Saya hanya khawatir dia pergi lama seperti sebelumnya."


Bian sudah kembali ke ruangan sedangkan Una mengajak Firda ke ruangan tempat ia dulu bekerja.


"Selamat Siang," sapa Una ketika masuk ke ruangan divisi keuangan.


"Siang, ..... Kak Aruna," teriak Rahmi langsung menghampiri Una dan memeluknya. "Mimpi apa aku semalam dikunjungi Ibu Bos, tambah cantik aja Kak," ujar Rahmi.


Melepas rindu dengan teman-teman saat menjadi staf di BCP One, Una menengok ke arah meja Abil. "Abil ke mana? Tidak masuk kerja ?" tanya Una.


"Lok Kak Una belum tau, kalau Kak Abil sekarang Manager Keuangan menggantikan Pak Bara?" Una menggeleng.


"Beberapa direktur dipindahkan ke cabang Kak, jadi Pak Bara dan Pak Vino saat ini naik jabatan jadi direktur keuangan dan marketing."


"Owh begitu, tapi Abil ada di ruangan ?" tanya Una.


"Enggak ada Kak, sedang ada tugas keluar."


"Hmm, ternyata banyak yang berubah ya," ujar Una.


Khawatir mengganggu aktifitas di divisi tersebut, Una akhirnya pamit. Namun saat menunggu lift terlihat seorang pria mengenakan pakaian casual sedang melihat-lihat sekeliling.


Una menghampirinya, "Permisi, Mas mau bertemu siapa?" tanya Una karena jika pegawai di kantor Ben paling tidak Una pernah melihatnya.


Pria itu menolah pada Una, memindai dari ujung rambut sampai ujung kaki. Berhenti pada perut hamil Una. "Sepertinya wajah dia tidak asing," batin pria tersebut.


"Sebenarnya saya ingin bertemu pemilik perusahaan, Ben Chandra," ucapnya, "Tapi sepertinya beliau sedang tidak ada di tempat."


"Anda bisa bertemu sekretarisnya untuk dibuatkan janji bertemu."


"Hmm, okey," jawab pria itu.


Una berjalan menuju lift meninggalkan pria itu, namun ia berbalik menanyakan nama pada pria tersebut.


"Dean, nama saya Dean," ucap Dean sambil tersenyum.


_______


Tinggalkan jejak cinta dengan memberikan like, komentar, favorite, vote dan bintang 5. Salam sayang dari Author 💖💖