
Sesuai dengan keinginan Una, bahwa ia ingin pernikahannya yang sederhana hanya dihadiri dengan keluarga dan orang terdekat, namun Ben tetap akan mengadakan resepsi pernikahan mereka di Jakarta.
Setelah melewati drama cinta antara Ben dan Una karena gangguan dari pihak yang ingin merebut hati Ben akhirnya hari yang ditunggu mereka pun tiba.
Una dengan balutan dress kebaya berwarna putih gading dan rambut di sanggul menyesuaikan dengan teknik chignon loose serta make up natural look membuat Una terlihat sangat cantik.
Salah seorang EO menyampaikan bahwa acara akan segera dimulai, Una diapit oleh Devi dan Rena berjalan menuju ruangan acara.
Ben duduk berhadapan dengan Syamsul ayah kandung Una, penghulu pernikahan duduk di samping Syamsul.
"Wah, parah-parah," ucap Abil.
"Parah kenapa ?" tanya Vino.
"Itu si Una, pokoknya bakal nyesel dah."
Ben yang sepintas mendengar ucapan Abil menoleh pada Ilham, meminta penjelasan. Ilham segera menghubungi Leo dan orang-orang yang diminta mengamankan acara.
"Nyesel gimana maksudnya ?" tanya Meisya.
"Itu gue lihat di depan Una lagi jalan ke sini. Pak Ben pasti nyesel, kenapa enggak dari dulu nikahin Una, cantik parah."
Meisya memukul lengan Abil, karena sudah salah paham dengan kalimat yang diucapkan Abil.
Mc mempersilahkan mempelai wanita memasuki ruangan, Una hadir masih diapit oleh Rena dan Devi lalu duduk disamping Ben.
Ben tersenyum lalu berbisik, "Kamu cantik sayang." Una menunduk sambil tersenyum.
Syamsul dan Ben saling berjabat tangan bergantian mengucapkan untaian kalimat dengan menyebut nama lengkap Aruna, disambut dengan kata "SAH" dari sebagian orang yang hadir serta tepukan tangan. Kalimat sakral yang menyatakan bahwa keduanya telah resmi sebagai suami istri.
Menyematkan cincin pada jari manis Una dan mengulurkan tangan kanannya pada Una. Una meraih tangan Ben yang kini telah resmi menjadi suaminya, mencium punggung tangan tersebut.
Ben memegang kedua siswa wajah Una dan mengecup kening Una seraya berkata dalam untaian doa "Wahai istriku, semoga pernikahan ini memberikan kebahagiaan bagi kita, penuh berkah dan perlindungan dari sang pencipta juga jadikan cinta ini semakin kuat menghadapi suka duka kehidupan."
Dua buah buku bersampul hijau dan coklat dikeluarkan oleh penghulu, "Silahkan ditanda tangani dulu."
Setelah bersalaman dengan orangtua dari pihak Una dan Ben, para tamu yang hadir menyalami pasangan tersebut serta menyampaikan ucapan selamat dan doa.
Not sure if you know this
But when we first met
I got so nervous I couldn't speak
In that very moment
I found the one and
My life had found its missing piece
So as long as I live I love you
Will have and hold you
You look so beautiful in white
And from now 'til my very last breath
This day I'll cherish
You look so beautiful in white
Tonight
(Beautiful In White - Shane Filan)
Sayup-sayup terdengar alunan lagu Beautiful in white mengiringi kegiatan yang berlangsung di ruangan itu.
Keluarga dan orang-orang terdekat Ben dan Aruna bergantian berfoto, sebagian menikmati hidangan yang telah disiapkan.
"Unaaaaa, akhirnya sold out juga," ucap Meisya sambil memeluk Una.
"Emangnya dagangan
"Bunda, bunda cantik," puji Chika.
"Terima kasih sayang, Chika juga cantik." Una sedikit membungkuk mencium kedua pipi Chika.
"Selamat ya Na, malah loe duluan deh," kata Abil. Ben menarik pinggang Una untuk lebih dekat dengannya.
"Selamat Pak Ben."
"Hmm."
Hampir semua rekan Ben dan Una telah pamit meninggalkan ruangan, keluarga Una dan Ibunda Ben sudah kembali ke kamar.
"Besok Ben," jawab Gerry saat Ben menanyakan kapan ia akan kembali ke Singapur.
"Aku juga enggak mau lama-lama di sini, takut ganggu kalian," ucap Gerry.
Ben berdecak, Una yang duduk disamping Ben sedang melihat foto-foto pernikahannya di ponsel.
"Sayang," panggil Ben.
Una menoleh, "Kita ke kamar aja, kalau dekat dengan Gerry, bawaannya ingin diskusi soal bisnis terus," ujar Ben.
Gerry terkekeh, "Slow aja Ben, taulah pengantin baru pengennya ngapain."
Arabela yang berjalan mendekat ke arah Ben membuat Ilham, Leo dan dua orang lainnya yang memang ditugaskan melindungi Ben dan Una bersikap waspada.
"Kak Ben, aku akan tetap tinggal di Jakarta. Bantu bujuk Ibu untuk berhenti mengajak aku pulang." Arabela yang sejak dimulai acara pergi entah ke mana tiba-tiba datang untuk meminta bantuan pada Ben.
"Aku hanya mendukung hal-hal untuk kebaikan bersama. Keberadaanmu di Jakarta sepertinya tidak baik untuk kami."
"Terserah, yang jelas aku tidak akan pergi."
Una dan Ben masuk ke kamar yang sebelumnya ditempati oleh Ben. "Om, barang-barangku masih di__"
Ben memotong kalimat Una dengan menunjuk pada koper dan tas milik Una yang sudah berada di kamar Ben.
"Kamu akan tetap memanggilku Om? Apa tidak ada panggilan lain," Ben berbisik di telinga Una sambil memeluknya dari belakang.
"Hmm, diganti apa dong ?"
Ben menciumi leher Una yang terlihat menggoda bagi Ben.
Una membalikan badan menghadap pada Ben,
"Om, aku mau mandi ini pakaiannya bikin gerah."
"Sama kayak kamu, bikin aku gerah," ucap Ben lalu beralih ke bibir Una dan **********.
Setelah Ben melepas pagutannya, ia mengambil salah satu paper Bag. "Pakai ini ya," titahnya pada Una.
Una membuka paper bag itu dan mengeluarkan isinya, lingerie dengan bahan menerawang dan model yang ketika dipakai pasti sangat menggoda.
Ben membuka jasnya, menggulung lengan kemeja yang ia kenakan hingga siku.
Una menuju kamar mandi, membersihkan diri lalu keluar telah mengenakan lingerie dilapisi bathrobe. Namun ia mendapati suaminya meringkuk di tempat tidur, Una pun ikut berbaring disamping Ben. Menarik selimut dan menutupi tubuh mereka.
Malam harinya bertempat pada salah satu club di Jakarta, sepasang pria dan wanita sedang menikmati minuman keras yang entah sudah gelas ke berapa.
"Alan, kamu tau enggak ?" tanya Clara
Alan yang sedang menuang kembali isi botol ke gelasnya menoleh pada Clara.
"Ben dan Aruna tadi siang menikah." Alan sebenarnya terkejut hanya memasang raut wajah datar, menenggak kembali isi gelasnya.
Clara terbahak, "Aku tau, sebenernya kamu tuh masih cinta sama Aruna," ucap Clara sedikit berteriak karena suaranya bersaingan dengan dentuman musik yang cukup memekakan telinga.
"Bagaimana kalau kita kerjasama?"
"Kerjasama apa?" tanya Alan.
"Kerjasama untuk aku dapatkan Ben dan Kamu kembali pada Aruna."
Alan menghela nafas dan menyandarkan punggungnya, tidak dipungkiri bahwa ia memang masih memiliki rasa pada Aruna.
"Tenang aja, selama misi kita belum berhasil aku aku akan tetap jadi partner ranjang kamu," bisik Clara sambil tertawa.
________________
Hai Hai Hai, 🤩🤩. Masih setia nungguin kisah Aruna Kan ? Iyalah masa enggak.
Jangan lupa jempolnya,,,
terima kasih pars pembaca, love u pull 🥰