Not A Sugar Baby

Not A Sugar Baby
Kau Cukup Agresif



Hai readers,, 😉


Chapter kali ini agak-agak hareudang, yang tidsk berkenan skip aja ya


Selamat Membaca


______________________________


Una masih bersama rekan raker lainnya, menikmati acara hiburan.


"Na, nyanyi dong," pinta Abil.


"Enggak ah, lagi enggak mood."


"Suara kamu bagus loh Na," ujar Nia.


"Na, Meisya hubungi kamu enggak ?" tanya Vino


"Iya, tadi kirim pesan. Jangan macem-macem katanya."


Vino berdecak, Una hanya tertawa.


Entah mengapa Una merasa tubuhnya tidak nyaman, ada rasa aneh yang menyergap juga merasakan sangat gerah padahal ruangan sudah dilengkapi pendingin udara.


Mengatur deru nafasnya dan memejamkan mata berharap rasa itu segera lenyap. Kaki Una mulai gemetar, ada rasa yang tidak bisa ia bendung saat ini. Mengusap kasar keringat di dahinya, Una berdiri mencoba melangkah untuk meninggalkan ruangan.


"Mau ke mana Na ?" tanya Nia.


"Gerah, kayaknya aku kurang sehat."


"Mau ditemani ke kamar?"


"Enggak usah, Abil lagi nyanyi kalau tau kita tinggalin nanti ngambek."


Una berusaha berjalan dengan cepat, sambil terus mengatur nafasnya. 'Toilet, aku perlu ke toilet,' batin Una.


Leo yang melihat Una meninggalkan ruangan, mengawasi dari jauh. Melihat ada yang aneh dengan bahasa tubuh Una, segera ia mengikutinya.


Berada di depan toilet, Una bersandar di dinding, memejamkan mata sedangkan kedua tangan meremas rok yang dikenakan.


Leo segera mendekat, "Nona Aruna!" Mendengar namanya disebut, Una membuka matanya melihat Leo berdiri tidak jauh darinya.


"Anda baik-baik saja?"


Di mata Una saat ini Leo terlihat wow, ia merasa tubuhnya semakin sensitif dengan Leo didekatnya.


"Jangan mendekat!" ucap Una. Leo menduga sesuatu melihat reaksi tubuh Una. Ia meraih ponselnya menghubungi Bian.


Leo menarik siku Una, membawanya terus berjalan menuju lift. "Lepasin, ini mau ke mana ?"


Ting


Leo membawa Una menuju salah satu kamar, di mana Bian sudah menunggu di depan pintu.


"Bawa masuk, Ben sedang menuju kemari."


Leo membawa Una masuk dan mendudukannya di salah satu sofa. Lalu ia keluar menemui Bian bersamaan dengan datangnya Ben.


"Selidiki !" titah Ben, "Baik pak." Lalu Leo meninggalkan Ben dan Bian.


"Kau yakin dia dalam pengaruh obat?"


"Menurut Leo begitu, saya tidak berani memeriksanya. Karena kalau benar tubuhnya sedang sensitif."


"Lalu?"


Bian menghela nafas, "Cepat masuk dan bantu dia menyalurkan hasr*tnya."


Ben memijat dahinya, "Cepat Pak, kasihan nona Una."


Ben membuka pintu, menghampiri Una yang sedang duduk di lantai dengan tangan meremas rambutnya.


"Aruna!"


Una menoleh ke arah suara, menatap Ben dengan gejolak yang sudah tidak dapat dibendung. Ia pun mencoba berdiri, "Om, aku__" kalimatnya terjeda melihat Ben yang semakin dekat.


Una menyatukan bibir mereka dengan sedikit kasar, Ben membalas pagutan itu dengan memainkan lidahnya. Nafas Una tersengal ketika Ben melepaskannya tautan bibir mereka. Ben menggendong Una ala bridal dan merebahkannya di ranjang dan mengukungnya. Membuka wrap top dan skirt yang dikenakan Una, menyisakan penutup berenda dan panty yang berwarna hitam kontras dengan warna kulit gadis itu.


"Om, aku udah enggak kuat."


"Sabar sayang," sahut Ben lalu mengecup kening Una dan melepaskan boxernya.


Ben mengarahkan miliknya pada bagian inti Una dan mendorong masuk. Una menggigit bibirnya menahan suara kenikmatan, "Owh Una, nikmat sekali," ujar Ben merasakan miliknya seakan terjepit menimbulkan getaran kenikmatan ke seluruh tubuh. Perlahan ia mulai menggerakkan pinggulnya pelan membuat Una melenguh berada dikukungan Ben.


"Akhhhh, Om. Lebih cepat, please,"


"As you wish honey." Ben mempercepat gerakannya membuat Una semakin mendessah dan kemudian tubuh Una menegang dengan tangan memcengkram lengan Ben.


Una telah mencapai puncaknya namun tidak dengan Ben, melihat Una masih dalam pengaruh obat Ben melanjutkan aksinya. Membalikan tubuh dan menarik pinggul Una, dengan posisi itu bagian tubuh Ben terasa masuk begitu dalam dan nikmat. Ben terus menggerakan pinggulnya, "Una," ucap Ben.


"Okhhhh," pekik Una.


"Arhhhh, Aruna." Mempercepat gerakannya, "Om, aku__" ucap Una.


"Bersama," sahut Ben. Lalu kedua tubuh itu mengencang ketika keduanya mencapai puncak kenikmatan surga dunia.


Dengan nafas tersengal Ben merebahkan tubuhnya di samping Una, kemudian menarik selimut menutupi tubuh polos mereka. Una yang masih mengatur deru nafasnya terbaring dengan posisi membelakangi Ben.


Di waktu yang sama dalam kamar yang berbeda, seorang wanita sedang melakukan panggilan melalui ponsel, "Dasar bodoh, kerja begitu saja tidak becus, sekarang cari ada di mana wanita itu."


Bian, Leo dan Ilham pun sedang berdiskusi terkait mencari orang yang sudah memberikan obat pada Una.


Ben memeluk Una dari belakang, "Sayang," ucap Ben, lalu membalikan tubuh Una. Kini mereka berbaring sambil berhadapan.


Mata mereka saling menatap, "Om, ada apa denganku? Kenapa rasanya sangat aneh."


Ben mengelus pipi Una, "Ada yang memberikan obat padamu, entah sengaja atau tidak. Apa masih terasa tidak nyaman ?"


Una menggigit bibir bawahnya lalu mengangguk pelan.


Ben tersenyum lalu mendekatkan wajahnya, menyatukan bibir mereka. Pergumulan panas itu pun terjadi lagi, erangan dan dessahan mengalun di kamar itu. Entah berapa kali sudah Una mencapai puncak kenikmatan, Ben dapat mengimbangi untuk menetralisir pengaruh obat di tubuh Una.


Ben berdiri menatap Una yang masih bergelung di bawah selimut, masih menggunakan bathrobe karena pria itu baru saja membersihkan dirinya sisa pergulatan dengan Una semalam. Entah berapa jam ia membantu Una melepaskan hasr*tnya, hingga Una masih tergolek lelah.


Ben menghubungi Bian, dan layanan kamar agar mengantarkan sarapan pagi.


"Jadi ?" tanya Ben


"Pelayan yang semalam di resto, mengantarkan minum ke meja Nona Aruna, tidak lama setelah diminum ia beranjak dan kemudian di ikuti Leo. Sedang dicari ke tempat tinggalnya oleh Ilham."


Ben hanya menghela nafas. "Penutupan raker jam 9 Pak, setelah itu mereka bebas aktifitas.


"Kapan cek out ?"


"Besok siang."


Una mengerjapkan matanya pelan, lalu kembali mengeratkan selimut pada tubuhnya.


"Sayang, bangunlah."


Una membuka matanya, memindai sekeliling dan menatap Ben yang sedang duduk tidak jauh dari tempat tidur.


Una menggerakan tubuhnya namun ia meringis merakan tubuhnya yang terasa remuk.


Ben menghampiri Una, duduk di sisi ranjang, "Makan dulu, kembalikan tenagamu. Aku akan ke ruang acara, untuk penutupan, jangan coba ke luar dari kamar ini. Ponselmu dari semalam ramai, jika ada yang tanya jawab saja sedang istirahat di kamar lain. Jangan menyampai posisimu sebelum aku menemukan siapa orang yang memberikan obat."


"Mengerti ?"


Una mengangguk, "Good, itu pakaian gantimu," ucap Ben menunjuk pada paper bag di atas meja.


"Mereka pasti akan bertanya detail,"


"Bilang saja ada di kamarku. Semalam kau cukup agresif, tapi aku suka."


"Hahhhh."


______________


Hai hai hai,,,


seperti biasa ya, gerakan jempol kalian untuk like, koment, vote dan hadiah


hatur nuhun pisan 🙏