
Ben perlahan membuka matanya, melihat sekeliling dan menyadari bahwa dia masih berada di kamar hotel. Dia tersadar bahwa ia sudah menikah dengan Aruna. Menoleh ke sisinya, Aruna yang masih terlelap di bawah selimut yang sama ,dengan wajah menggemaskan. Hatinya berdesir bahagia karena dirinya akan melihat wajah Una setiap ia membuka mata.
Menggerakkan badannya yang terasa remuk bukan karena dia telah menghabiskan malam panas dengan sang istri tapi karena beberapa hari ini jadwalnya sangat padat, membuat fisiknya sangat lelah. Bahkan emosinya pun sempat terkuras saat Una mempersoalkan kembali hubungannya dengan Clara di masa lalu juga urusan Arabela.
Tapi rasanya seimbang karena saat ini Una telah resmi menjadi istrinya, tinggal bagaimana ia akan membuat Una semakin percaya agar kehidupan rumah tangganya tidak akan bermasalah.
"Good morning my queen," sapa Ben sambil mengecup kening Una. Una hanya menggerakan badannya dengan mata yang masih terpejam.
"Sayang, bangun!" Ben mencubit hidung Una.
"Hmmmm, aku masih ngantuk."
"Bangun, kamu melewatkan makan malam dan sekarang sudah siang."
"Sebentar lagi Om," Una merubah posisinya, ia kini tidur membelakangi Ben.
Una dan Ben mengantar Ibu sampai lobby, "Arabela sudah kembali ke Jakarta, kamu tidak usah khawatir nanti ibu akan bujuk lagi agar dia mau kembali."
"Hmm, jaga kesehatan Ibu," ucap Ben.
"Kamu juga," jawab Ibu sambil memeluk Ben. "Aruna," panggil Ibu sambil memegang bahu Una. "Ibu senang ada kamu mendampingi Ben."
Keluarga Aruna sudah pulang lebih dulu sebelum ibu mertuanya, begitu pula Bian yang sejak semalam sudah kembali ke Jakarta.
"Om, kita pulang ke Jakarta kapan ?" Tanya Una saat mereka keluar dari lift menuju kamarnya.
"Maunya kapan ?"
"Orang nanya malah balik nanya." Ben hanya tersenyum.
Una berbaring disofa dengan pangkuan Ben sebagai bantal. "Om, aku masih boleh ke kantor ?"
"Tergantung," jawab Ben sambil mengelus kepala Una.
"Kok tergantung sih."
"Kalau ke kantor karena urusan denganku, ya aku ijinkan."
"Jadi aku enggak boleh kerja lagi ?"
"Kamu sekarang istri aku Na, jadi biar aku yang tanggung jawab untuk menafkahi kamu. Jadi cukup hidup dengan bahagia, jaga kesehatan kamu dan calon bayi kita," ucap Ben sambil mengusap perut Una.
"Terus, kalau aku bosan gimana dong?"
"Enggak akan ada rasa bosan, karena fokus kamu hanya untuk aku."
"Hmm."
"Sayang, bisa ganti panggilan kamu ke aku enggak? Aku merasa seperti sugar daddy kamu panggil Om."
"Tapi aku bukan sugar baby nya Om Ben ya, aku istri dari Ben Chandra."
"Dan aku suami dari Aruna Zara." Aruna dan Ben tertawa bersama, Ben tidak menyangka jika pertemuannya dulu saat Una menabrak mobilnya menjadikan pertemuan paling berarti dalam hidupnya, karena hal itu yang membuka jalan untuk ia mulai mencintai seorang wanita walaupun perjalanan cintanya dengan Una melewati hal yang kurang baik.
"Jadi aku ganti apa ya, Mas kayaknya kurang cocok. Abang enggak pas, Kakak ?"
"Yang lain."
"Hmmm, apa dong?"
"Kita pikirkan nanti, ada hal yang lebih penting."
"Apa?"
Ben menggendong Una, "Olahraga."
Setelah membaringkan Una dan membuka semua penutup tubuh Una, Ben meremas dada Una. Mengu lum ujung dada Una bergantian kiri dan kanan dengan sedikit kasar.
Bagi Ben semua bagian tubuh Una saat ini membuatnya candu. Una mendessah merasakan gelenyar kenikmatan karena perlakuan Ben. Berpindah ke bibir Una dan memagutnya lembut dengan tangan mulai bermain di bagian inti Una, memukul pelan dada Ben karena kewalahan dengan pagutan Ben yang semakin liar. Mengatur nafasnya yang tersengal, sedangkan Ben mulai membuka pakaiannya.
"Aaahhhh," Una kembali mende-sah, "Pe lan-pe lan Om," ucap Una terbata merasakan kenikmatan dunia yang diberikan oleh Ben.
"Ohh, Aruna. Rasanya ....arghhh, sempit." Ben meracau dengan gerakan perlahan memaju mundurkan tubuhnya.
Kedua tangan Una meremas seprai mentransfer rasa yang sulit diungkapkan, sesaat tubuhnya mengencang dan mengejang dengan jemari berpindah meremas rambut Ben. Sepertinya Una telah sampai pada puncak kenikmatannya.
Ben mempercepat gerakan dengan tarikan nafas lebih cepat hingga beberapa saat lalu menumpahkan cairan di dalam inti Una.
Merebahkan tubuhnya disisi Una, "Sayang," ucap Ben dengan nafas tersengal.
Una menarik selimut dan menutupi tubuh mereka, "Hmmm," memejamkan matanya. Rupanya kondisi Una yang sedang hamil muda berpengaruh pada stamina, kini ia merasa sangat lelah dan mengantuk.
Di tempat yang berbeda, seorang pria menatap pemandangan di luar jendela ruang kerjanya. Dengan kedua tangan berada dikantong celana, tatapan matanya mencerminkan seakan ia melamun tapi sebenarnya ia sedang geram.
Ucapan Clara tadi malam yang mengatakan bahwa Aruna dan Ben telah menikah membuat perasaannya kacau dan pagi tadi ia mendapatkan foto kiriman dari Bira yang tidak lain adalah foto pernikahan Aruna dan Ben membuat moodnya berantakan. Foto yang mencerminkan kebahagian pasangan itu dan wajah Una yang terlihat semakin cantik.
Kadang ia menyesal telah bertemu Clara yang membuat hubungannya dengan Aruna hancur tapi saat ini Alan sangat membutuhkan Clara untuk rencananya mendapatkan kembali Aruna.
"Halo"
"Hhmm. Bira, kapan rencana kalian reuni?"
"Kenapa ? Nyesel kan loe."
"Enggak usah bawel, tinggal bilang kapan kalian reuni."
"Meisya belum info tanggalnya."
"Kasih tau gue kalau udah jelas."
"Mau ngapain ? Loe jangan macem-macem ya, biar gimanapun Una sahabat gue. Jadi jangan pernah punya niat buruk ke Una ya."
"Ck, ya enggaklah. Gue masih cinta sama dia."
"Makan tuh cinta."
Bira tertawa lalu mengakhiri panggilannya.
Pintu ruang kerja Alan diketuk diikuti suara pintu dibuka.
"Hayy," sapa Clara menghampiri Alan. Memeluk pria itu dari belakang, karena Alan masih menatap keluar jendela.
Alan membalikan tubuhnya lalu berjalan dan duduk pada kursi kerjanya.
"Kenapa sih, tumben aku dianggurin. Biasanya kalau aku masuk langsung nyosor aja kayak bebek."
"Hmm," Alan menatap layar di depannya. Clara langsung duduk dipangkuan Alan. "Kalau masalahnya karena kamu enggak terima Aruna sudah jadi milik orang, mending sekarang kita pikirkan cara memisahkan mereka."
"Caranya ?"
"Hmm, gimana kalau begini," Clara menghentikan ucapannya lalu memagut bibir Ben. Suasana kemudian berubah panas, saat Clara turun dari pangkuan Alan dan membungkuk dihadapan Alan.
Membuka celana pria itu lalu mengeluarkan bagian bawah tubuh Alan yang sudah mulai mengeras. Kemudian Clara memanjakan bagian tersebut dengan permainan lidah dan mulutnya sampai Alan memuntahkan cairan kentalnya.
Clara tersenyum sambil membersihkan bibirnya dengan tisue, sedangkan Alan membetulkan posisi pakaiannya.
"Jadi, bagaimana idemu, aku tidak paham."
Clara yang duduk dipinggir meja kerja Alan dengan menyilangkan kaki tertawa, "Sabar sayang," ucap Clara. "Perlahan tapi pasti, kita akan dapatkan yang kita inginkan."
_____________
Haaaaiiii, ☺🤭
Masih setia bersama Una kan, iyakan iyakan
seperti biasa, mainkan jempol kalian