
...~¤ Enjoy Reading ¤~...
Ben keluar dari kamar, sesuai permintaan Una. Ia berencana akan kembali ke kamar nanti, paling tidak menunggu emosi Una mereda.
Mengambil kaleng soda dari kulkas lalu menuju pintu halaman samping, ternyata ada Leo yang duduk di salah satu kursi santai.
Leo menghembuskan asap rokok, dengan batang rokok yang tinggal setengah diapit oleh dua jarinya.
"Belum tidur Bos?"
"Mau, tapi diusir." Ben membuka kaleng sodanya dan menenggak isinya, terasa manis dan pekat dari karbonasi di lidahnya.
"Kamu sendiri kenapa masih di sini, besok jangan sampai ketinggalan pesawat," ucap Ben.
"Tenang aja Bos, situ bukannya temenin istri kasihan tidur sendiri." Dari semua bawahannya Ben, Leo adalah yang paling berani, baik itu tindakan atau ucapan. Terkadang ucapannya seperti tidak sopan, karena terlalu berani. Namun ia termasuk yang diandalkan, maka dari itu Ben sangat mempercayai Leo.
Ben berdecak, "Ngambek, diusir suruh keluar. Padahal mau ditinggal, perlu amunisi eh malah ngambek."
Leo terbahak mendengar penjelasan Ben, "Yah begitulah resiko punya pasangan," ucap Leo.
"Kamu enggak niat cari pasangan ?" tabya Ben.
Leo menghembuskan kembali asap rokoknya, "Mau, tapi ..."
"Perjuangkan, aku dulu tinggalkan Aruna 4 tahun. Bersyukurnya dia belum menikah waktu balik ke Jakarta, makanya dia takut kalau besok ke Singapur aku akan lama di sana." Ben menenggak habis sodanya.
Saat kedua pria itu masih asyik berdiskusi, Una menghampiri Ben. "Abang," panggil Una.
Leo yang tau itu suara Una hanya tersenyum sambil kembali menghembuskan asap rokoknya, 'Drama cinta lagi nih,' batin Leo.
Ben menoleh, "Loh, kok bangun."
"Abang kok beneran tinggalin aku," ujar Una dengan manja.
Ben merangkul Una lalu mengajaknya kembali ke kamar, apalagi kini Una memakai nightgown putih berbahan silk membuat ibu hamil itu terlihat lebih menggoda.
"Kamu kan tadi mau aku tidur di kamar lain," ucap Ben hati-hati dan mendudukan Una di sisi ranjang.
"Aku kan tadi lagi marah sama Abang, orang mah dibujuk atau dirayu, ini malah ditinggalin. Abang udah enggak sayang sama aku?"
"Sayang, aku enggak gitu. Oke aku salah, harusnya aku lebih peka karena perempuan selalu benar," sahut Ben lalu memeluk Una sambil terbahak.
"Eh kok ngomongnya gitu, maksudnya apa?"
"Enggak ada maksud, sayang. Sudah malam kamu harus istirahat." Ben menenggelamkan dirinya pada tubuh Una. Membuat banyak jejak di beberapa titik tubuh Una dan membuat wanita itu mengerang entah berapa kali mengucapkan namanya.
"Hmm," Una terbangun karena sentuhan pada kedua pipinya dan bisa dipastikan itu adalah kecu pan, yang mana berikutnya berpindah pada dahinya. Mengerjapkan kedua matanya, "Abang, aku masih ngantuk."
"Bangun sayang," bisik Ben pada telinga Una, hembusan nafasnya terasa hangat di wajahnya.
"Badan aku pegal, apalagi punggung. Abang sih maennya kelamaan," rengek Una. "Namanya juga charge Na, tapikan mainnya pelan-pelan sayang."
"Mandi, lalu sarapan. Aku minta bibi bantu kamu siapkan keperluan selama di Bandung,"
"Keperluan Abang juga belum," ucap Una sambil bangkit dari tidurnya. "Aku siapkan keperluan abang dulu," tambahnya seraya berjalan ke arah walk in closet.
Ben mengikutinya, "Aku bisa siapkan sendiri sayang," imbuh Ben sambil memeluk Una dari belakang.
Una mengusap lengan yang melingkar di perutnya yang membola, "Tapi kan aku istri Abang, sudah kewajiban aku menyiapkan semua kebutuhan Abang."
Saat di meja makan, Ben memanggil Firda dan Reza. "Seperti yang semalam kita bahas, kalian temani istri saya selama di Bandung."
Una menatap heran pada Reza, "Bang Leo ke mana?" Pertanyaan yang sama ingin ditanyakan Firda namun dipendam dalam hati.
"Sudah berangkat tadi pagi ke Singapur, ada yang harus ia handle lebih dulu," terang Ben, membuat raut wajah Firda berubah.
'Apa ini maksud Leo, jangan kangen kalau besok aku enggak kerja bareng dia. Apa maksudnya bilang begitu, tinggal kasih tau aja kalau ada tugas lain dari Bos. Dasar nyebelin,' batin Firda.
...•~•...
Selama perjalanan ke Bandung, Una berada dalam rangkulan Ben. Reza yang mengemudi dan Firda duduk disebelah Reza. Di belakang juga mengekor mobil Ben yang nanti akan membawa Ben kembali ke Jakarta.
Ben mengecup puncak kepala Una, "Ingat Na, setiap keluar rumah pastikan Firda dan Reza ikut dengan kamu."
"Hmm," Una hanya menjawab dengan gumaman, kesal membayangkan Ben hanya mengantarkannya ke Bandung untuk ditinggal.
"Ishhh," bibir Una mendesis seakan menahan nyeri. "Kenapa sayang, apa yang sakit?" tanya Ben sambil mengelus perut besar Una, "Kencang ya, loh ini gerakannya terasa banget Na."
Una hanya mengangguk, "Sakit enggak?" tanya Ben. "Enggak terlalu, tapi kata dokter memang begitu. Akan tiba-tiba kencang, kontraksi palsu," terang Una yang kini memejamkan matanya.
Mobil yang membawa mereka telah keluar dari tol pasteur menuju kediaman Ayah Una, tepatnya kediaman mereka, karena Ben juga membangun rumah di sana untuk ditempati saat mereka berkunjung.
Rumah dua lantai dengan parkiran yang cukup luas, Una turun dibantu oleh Ben. Tampak di halaman Syamsul sudah menunggu kedatangan mereka.
Una menghampiri ayahnya, mencium tangan dengan takjim, "Ibu mana Yah?"
"Di belakang, tadi lagi masak," jawab Syamsul. Ben pun menyalami ayah mertuanya. Mereka kini duduk di sofa yang ada di beranda depan. Mengenalkan orang-orang yang akan ikut menginap untuk menjaga Una.
"Rumah sudah di atur sesuai arahan Nak Ben, lantai dua kamar kalian dan calon bayi. Juga kamar untuk asisten. Asisten kalian ini maksudnya bodyguard?" tanya Syamaul.
Ben mengangguk, "Ya semacam itu."
Firda memgikuti Una ke dalam, mereka kini duduk di kursi meja makan, "Ibu masak apa? Aromanya sedap."
Sementara Fatma dan Una bercengkrama, Firda mengeluarkan ponselnya. Memberanikan diri mengirim pesan pada Leo. Namun pesan yang dikirim hanya ceklis satu.
Menghela nafasnya, 'Kemarin-kemarin nyebelin, sekarang malah kangen,' batin Firda.
"Kamu kapan melahirkan ?" tanya Fatma. "Kurang lebih dua bulan lagi."
"Nanti kalau sudah dekat persalinan, Ibu ke Jakarta untuk temani kamu."
"ibu, melahirkan itu sakit banget ya?" tanya Una dengan posisi duduk dan tangan menopang dagu. Ibu yang sedang menyiapkan makan siang dengan menatanya di meja makan terdiam.
"Ya pasti sakit Na, mana ada melahirkan enggak merasa sakit," jawab Ibu sambil meminta bibi Juju mengambil buah di atas kulkas.
"Aku mau operasi aja Bu," ujar Una.
"Mau cara apapun yang penting selamat, diskusikan dengan suamimu."
Sementara Una dan Ibunya bicara masalah proses melahirkan, Firda sedang galau karena ditinggalkan. Ditinggal tanpa pesan hingga berada dalam kegalauan.
__________
Tinggalkan jejak cinta dengan memberikan like, komentar, favorite, vote dan bintang 5. Salam sayang dari Author 💖💖