
Una bergegas masuk tanpa mengetuk pintu.
"Abang!" panggil Una pada Ben dengan tangan meremas dress yang ia kenakan
Tampak Ben yang sedang duduk di sofa dengan menyilangkan kaki membaca berkas sedangkan Clara duduk disisi sofa dengan tubuh menempel pada Ben dan tangan merangkul bahu pria itu.
"Aruna," Ben berdiri dengan menyingkirkan lengan Clara. Berjalan ke arah Una. "Sudah selesai reuniannya?"
Dada Una terasa sesak, sungguh ia sangat ingin menghardik kedua orang yang sudah membuat perasaannya berantakan. Ben hendak merengkuhnya namun Una melangkah mundur, "Aku pulang aja."
"Hey, hey, kemarilah." Ben merengkuh Una dalam pelukannya.
"Ben, urusan kita belum selesai ya," seru Clara.
Una yang mendengar itu hanya menarik napas pelan, lalu menatap suaminya.
"Aku pulang aja," ujar Una.
"Kita pulang bersama, kamu tunggu dulu ya sayang."
Una mengangguk, lalu segera menuju sofa di luar ruang kerja Ben. Terdengar diskusi antara Ben dan Clara membicarakan kerjasama perusahaan, rupanya Ben sengaja tidak menutup rapat pintunya.
Disela diskusinya dengan Ben, hati Clara bersorak senang karena rencananya dengan Alan berhasil. Setelah menyudutkan Una, Alan berhasil membuat Una mencurigai Clara dan Ben hingga menyusulnya ke kantor dan melihat sendiri suaminya dengan wanita lain.
Una menyenderkan punggungnya, mengingat moment yang tadi ia saksikan. Kenapa suaminya diam saja saat wanita lain memeluknya.
"Sshhh," Una kembali merasakan perutnya kram. Ia mengatur nafasnya untuk meredakan nyeri, 'Maafkan Bunda sayang, kalian jadi ikutan tegang,' batin Una sambil mengusap pelan perutnya. Una menghubungi Leo, ia berniat pulang karena kramnya tidak juga hilang. Tidak ingin egois hanya karena ingin memastikan Ben tidak berbuat macam-macam tapi mengabaikan kehamilannya.
Di tempat berbeda, Alan juga telah mengirimkan foto pada Ben dengan nomor yang tidak dikenal oleh Ben. Senyuman terbit di bibir Alan membayangkan jika pasangan itu akan bertangkar, memudahkan ia kembali memiliki Una.
Ben mengakhiri pertemuannya dengan Clara, Clara sengaja bersuara manja dan terus memeluk manja pada Ben untuk memanasi Una yang ada di luar.
Ben menyingkirkan tangan Una, "Untuk berikutnya jika ada persoalan silahkan komunikasikan dengan Bian."
"Kenapa enggak sama kamu aja Ben," ujar Clara sambil kembali menempel pada Ben.
Ben menarik nafas, "Karena memang begitu aturannya Clara, apa kamu lupa cara berbisnis. Aku pemilik perusahaan kalau untuk urusan teknis kerjasama kita kamu bicarakan dengan Bian selaku direktur utama."
"Hmm," sahut Clara. "Ben, kamu serius dengan Aruna."
"Kamu pikir aku menikah main-main, Aruna adalah tempat hatiku berlabuh."
"Tapi Ben, kebersamaan kita dulu apa tidak__"
"Cukup Clara," Ben memotong kalimat Clara. "Tidak perlu kita bahas lagi urusan yang kamu tau sendiri dari awal akan bermuara seperti apa."
Clara terdiam, matanya menatap pada Ben. "Kenapa kamu tidak seriuskan saja hubungan dengan Alan, toh sampai saat ini kalian masih sering bersama."
Ben berjalan ke arah pintu, namun ia tidak menemukan Una di luar. Clara yang ingin kembali membuat Una cemburu tersenyum karena tidak melihat keberadaan Una, artinya rencana dia dan Alan berhasil membuat pasangan ini berada di dalam situasi kesalahpahaman.
Ben mengambil ponselnya yang berada di atas meja kerja, berusaha menghubungi Una. Beberapa kali melakukan panggilan namun tidak dijawab, akhirnya ia menghubungi Leo dan mengetahui bahwa istrinya pulang ke apartement.
"Huhhh," Ben membuang nafasnya lalu menyandarkan punggung pada sandaran kursi kebesarannya. Memijat dahinya pelan, dia mengingat wajah Una saat masuk ruangan yang menyaksikan dirinya dipeluk oleh Clara.
Kembali meraih ponselnya, namun perhatiannya tertuju pada pesan masuk dari nomor tidak dikenal, ia terkejut saat membuka pesan berisi sebuah foto.
Melonggarkan ikatan dasi dilehernya, Ben kembali melihat foto tersebut.
Una bergegas membersihkan diri dan memakai piyama lalu merebahkan tubuhnya, tidak lama ia pun terlelap.
Ben tiba di apartementnya cukup malam, wajahnya terlihat lelah. Karena setelah pertemuannya dengan Clara ia masih harus melakukan pertemuan terkait pembukaan cabang perusahaan. Juga foto yang ada di ponselnya sedikit mengganggu konsentrasi Ben.
Saat membuka pintu, apartementnya dalam keadaan gelap, hanya sedikit cahaya berasal dari kamar. Setelah menghidupkan beberapa lampu, Ben menuju kamarnya.
Menyaksikan wajah istrinya yang terlihat damai saat tidur, menjadi obat lelahnya. Ia pun membersihkan diri lalu ikut berbaring disisi Una menenggelamkan diri dalam mimpi.
Menyiapkan pakaian Ben dan kini ia sedang berada di dapur membuat sarapan untuk mereka berdua. Ben sudah berada di meja makan sambil menatap Una.
Una meletakan secangkir kopi dihadapan Ben lalu mengoleskan selai pada roti bakar. Saat meletakan piring berisi roti, Ben menarik tubuh Una untuk duduk dipangkuannya.
"Kenapa kemarin malah pergi?"
"Takut ganggu, jadi mending pulang," sahut Una lalu berdiri dan duduk di kursi sebelah Ben.
Ben meletakan cangkir yang isinya telah ia minum, "Seingatku, teman reunimu tidak termasuk Alan."
Deg, Una menoleh pada Ben. "Aku enggak tau tiba-tiba Kak Alan datang bersama Clara."
"Tapi enggak harus pelukan juga kan?"
Una menatap heran Ben heran, "Pelukan?" Ben mengeluarkan ponselnya menunjukan foto Alan yang sedang memeluk Una.
Una menghela nafas lalu menyilangkan tangannya di dada, "Abang marah sama aku karena foto itu?" Ben tidak menjawab, ia kembali menyesap kopinya.
"Kenapa enggak cari tau cerita lengkap dari foto itu, cek cctv, tanya saksi atau konfirmasi Bang Leo."
Deg, jantung Ben berdebar seperti saat ia melakukan kesalahan. Apa yang dikatakan Una benar, harusnya ia mencari tau dulu kebenaran foto itu. Apalagi nomor telpon pengirimnya tidak dikenal, sudah jelas hanya ingin memprovokasi Ben dan Una.
"Biasanya juga begitu, punya orang suruhan di mana-mana. Urusan foto aja jadi masalah."
"Aku cuma tidak mau kamu terlalu dekat dengan pria lain, apalagi sampai dipegang atau dipeluk seperti itu."
Una memutar tubuhnya menghadap Bem, "Abang pikir aku mau, aku rela melihat suami aku dipeluk wanita lain."
Deg, dua kali Una mengatakan kesalahan Ben. Una mulai terisak sambil terus mengeluarkan kalimat-kalimat kemarahannya.
"Hey, jangan menangis sayang. Oke, aku salah." Ucap Ben menggeser kursinya lebih dekat dengan Una. "Maaf, harusnya aku bisa menjaga persaan kamu sayang." Menghapus air mata yang membasahi pipi Una.
"Kemarin tuh aku kesal sama kak Alan, ucapannya menghina aku banget. Aku mau nyusul abang, mau cerita uneg-uneg aku, sampai kantor malah makin eneg," ungkap Una.
"Iya, maaf. Aku enggak mungkin kasar sama perempuan Na."
"Rasanya pengen aku jambak rambutnya Clara, greget aku tuh. Lagian kayak enggak ada laki-laki lain aja, nempel sama suami orang."
"Sudah ya," ucap Ben sambil mengelus punggung Una. "Jangan emosi, kasihan anak-anak kita." Ben mengelus perut Una. "Aku sudah atur sebisa mungkin tidak berinteraksi dengan Clara, urusan bisnis dia akan berhubungan dengan Bian. Kamu harus percaya aku Na."
Akhirnya amarah Una mereda, Ben pun lega karena ia bisa memulai aktifitasnya tanpa rasa yang mengganjal.
Ponsel Ben bergetar, melihat layar yang menampilkan nama pihak yang melakukan panggilan.
"Halo bos."
"Hm."
"Nona Arabela sudah tiba di Bandara Bos."
"Pastikan sampai ia naik pesawat."
"Oke Bos."
______________
Hai,,,, salam sayang dr author buat para pembaca
don't forget like, etc sebagai jejak
🥰