
Arabela membuka pintu dan ternyata Dean berdiri di depan pintu unit miliknya. Enggan bertemu Dean membuat Arabela segera menutup kembali pintu apartemennya namun terlambat karena Dean mendorong hingga Arabela mundur beberapa langkah.
Dean menutup pintu dengan kakinya kemudian menghempaskan Arabela pada sofa dan mengukungnya, "Dengar Bela, yang terjadi bukan karena kehendak kita berdua tapi karena sama-sama tidak sadar. Jadi berhenti menghindariku seakan-akan aku penjahat."
"Minggir," ucap Bela sambil mendorong tubuh Dean. Namun Dean bergeming, "Dean, minggir," teriak Arabela.
Dean akhirnya bangun dari posisinya, "Berikan alamat rumah Kak Ben," pinta Arabela.
"Untuk apa?"
"Aku akan tetap dengan rencanaku, berikan saja alamatnya. Jangan khawatir aku enggak akan mengekor kamu."
Dean duduk pada sofa, bersandar dan memejamkan matanya. "Dean," panggil Arabela.
"Tidak usah berteriak, sakit telingaku dengar kamu berteriak terus."
"Berikan alamat Kak Ben lalu keluar dari sini."
"Kamu mau ngapain ke sana? Ide kamu enggak akan ada yang berhasil. Karena kamu cuma pake emosi bukan pake ini," Dean menunjuk kepalanya.
"Terserah ya, aku mau emosi mau pake otak atau pake dengkul pun itu urusan aku. Mending kamu cepat keluar dari sini, percuma juga aku mengharapkan bantuan sama kamu."
"Kalau aku tetap disini, gimana?"
Arabela menghela nafasnya, "Terserah!" Lalu meninggalkan Dean dan masuk ke kamarnya.
Esok pagi Una terbangun, dengan posisi Ben memeluknya dari belakang. Bergerak menyesuaikan posisinya sebelum beranjak bangun. Bahkan saat ini ia masih polos tanpa satu helai benangpun.
"Hmm, sayang. Jangan bergerak-gerak terus," ucap Ben dengan mata yang masih terpejam dan suara sedikit parau.
"Aku mau bangun, Abang. Tangan kamu geser dulu." Bukannya melepaskan tapi Ben malah semakin erat memeluk Una.
"Aku mau mandi, ini sudah siang," ucap Una.
"Lima menit lagi sayang." Ben membenamkan wajahnya di tengkuk Una. "Tapi aku sudah lapar, Bang."
Ben melepaskan pelukannya, "Oke, kita bangun."
Una menggunakan kimono tidurnya masuk ke dalam kamar mandi, di depan wastafel menggosok giginya kemudian masuklah Ben melepas semua pakaiannya dan berada di bawah guyuran shower.
"Abang, ihhh. Kan aku duluan," ucap Una.
"Mau bareng?" tanya Ben sambil mengusapkan sabun pada sekujur tubuhnya, "atau mau aku mandikan? kemarilah!"
"Enggak, yang ada malah kelamaan," sahut Una sambil keluar dari kamar mandi menuju walk in closet menyiapkan semua kebutuhan Ben.
Setelah mengenakan kemeja dan celana panjangnya, Ben meminta Una memakaikan dasi. Una melilitkan dasi pada kerah kemeja Ben dan memakai jasnya. Merengkuh Una namun terhalang perut gendutnya, Una terkikik geli karena Ben sampai menghela nafasnya saat gagal memeluk Una. "Aku sangat merindukan tubuh kita menempel, tidak terhalang seperti ini."
Una memukul pelan lengan Ben, "Yang menghalangi adalah Ben Chandra Junior, jadi kamu salahkan diri sendiri kenapa aku bisa hamil."
"Keenakan Na," ucap Ben. Lalu menangkub kedua pipi Una dan menyatukan bibir mereka, saling bertukar saliva dan saling membelit lidah. Ben menghentikannya saat merasa Una kesulitsn bernafas.
"Aku berangkat, jangan kelamaan nonton drama. Kalau cuma mau lihat yang tampan ya tinggal tatap wajah aku aja," seru Ben.
"Huhhh, kepedean," sambung Una.
"Bukan kepedean tapi kenyataan," ucap Ben lalu mengacak rambut Una dan berjalan keluar, sedangkan Una menuju toilet untuk menunaikan mandi yang tertunda.
#
#
#
Arabela terbangun, ia membuka pintu kamarnya mencari sosok pria yang tidak ingin ditemuinya. Bernafas lega karena ternyata Dean tidak ada disemua sudut ruangan apartemennya.
Arabela berniat menghilangkan beban pikiran akibat perbuatan yang ia dan Dean lakukan, membersihkan dirinya dan mengenakan dress serta kelengkapan lainnya lalu meninggalkan unit apartemen miliknya.
Memilih beberapa jenis perawatan mulai dari rambut, wajah serta badan. Bisa-bisa ia akan menghabiskan hari ini di salon. Tidak masalah ia harus menghabiskan jumlah rupiah yang cukup besar selama ia bisa merilekskan diri.
Berbeda dengan Arabela, Aruna menghabiskan waktu dengan mengecek kembali kamar calon bayi-bayinya. Tempat tidur dan kelambunya, pakaian, kaus kaki, stroler, produk bayi, sampai dengan perlengkapan mandi.
Kini ia bersandar pada sofa menyusui, sambil memperhatikan apa lagi yang belum lengkap. "Sepertinya sudah semua ya, tinggal aku packing untuk persiapan ke rumah sakit."
"Mau pakai pengasuh bayi bu?" tanya Firda.
"Belum tau, aku belum diskusikan dengan suamiku Fir," jawab Una.
"Karena ada 2 bayi, apalagi belum berpengalaman. Biasanya agak kesulitan."
"Aku juga berfikir begitu," ujar Una.
...~~ *** ~~...
Entah dari mana Arabela mendapatkan alamat Ben dan kali ini memutuskan langsung menuju kediaman Ben. Kebetulan Arabela tiba berbarengan dengan kedatangan Ben.
Ben menunggu di sofa ruang tamu, walau bagaimanapun Arabela adalah adiknya.
"Kak, kau sudah kembali ke Jakarta kenapa tidak mengabariku?"
"Untuk apa kamu ke Jakarta?" tanya Ben.
"Ya untuk Kak Ben lah, aku disana kesepian Kak."
Leo yang melihat kehadiran Arabela memasang wajah tidak bersahabat, "Ada ulat keket nih," ucap Leo. Tanpa diduga Dean juga mendatangi kediaman Ben.
"Mimpi apa aku semalam, sampai dua pengacau datang ke rumahku."
Dean terbahak, "Ayolah Ben, masa kamu tidak ingin menjamu kerabatmu ini."
"Tergantung kerabatnya, kalau model kalian aku lebih baik tidak memiliki kerabat," ucap Ben.
"Kamu menyakiti hatiku Ben," ujar Dean sambil terkikik.
"Maaf Tuan, mau makan malam sekarang? Non Aruna juga belum makan tadi katanya menunggu tuan," tanya salah satu asisten rumah tangga.
"Owh, iya sekarang. Sekalian siapkan untuk orang-orang ini," ejek Ben sambil menunjuk Arabela dan Dean.
Mereka telah duduk di kursi meja makan saat Una bergabung. Una menoleh bingung melihat Arabela dan Dean sudah hadir disana. Ben menghampiri Una memeluk dan mencium kening Una.
"Hai, Kakak Ipar," sapa Dean. Una hanya tersenyum.
"Hai, Kak Ipar, kenapa tubuhnya semakin... ups maaf," ujar Arabela.
Una hanya menggelengkan kepalanya. "Kalau tau kalian mau datang, aku akan minta Bibi masak yang spesial," ujar Una.
"Ah, kebetulan kita sudah lengkap. Ada permintaan dariku, bagaimana jika aku tinggal disini. Kita kan kerabat Ben, apa kau tidak takut aku tersesat atau sesuatu terjadi padaku."
Ben tertawa, "Aku lebih senang kamu kenapa-kenapa dan jangan coba-coba tinggal disini. Rumahku bukan lembaga sosial yang bisa menampung anak jalanan."
Dean tertawa, "Ternyata kakak kita yang satu ini galak juga ya."
"Kamu tau Dean, ulahmu membuat kacau perusahaan," ucap Ben pada Dean.
"Ya memang itu tujuannya, agar kita bisa tau sehebat apa orang yang dititipi perusahaan oleh Paman."
"Kak Ben, aku bosan begini terus. Bisa berikan aku pekerjaan? sekretaris atau asistenmu juga tidak apa."
Una tersedak mendengar permintaan Arabela pada Ben, kini ia menoleh kesal pada Ben.
_______
Tinggalkan jejak cinta dengan memberikan like, komentar, favorite, vote dan bintang 5. Salam sayang dari Author 💖💖