Not A Sugar Baby

Not A Sugar Baby
Menghadiri Pesta (2)



Setelah memastikan Ben sudah pergi, Una bergegas masuk ke ruang kerja Ben. Meraih kartu undangan di atas meja kerja Ben, "Apa undangan pesta ini ya?"


Hari sebelumnya Una mendapati undangan pesta ulangtahun perusahaan untuk Ben pada meja kerjanya. Yang sudah pasti rekan bisnis dari Ben, dan tertera nama pimpinan perusahaan itu Lena Magdalena.


Yang Una ketahui Lena adalah mantan kekasih Ben, entah kapan mereka pernah menjalin hubungan yang jelas sebelum bertemu Aruna. Una pernah bertemu di resepsi pernikahan Alan.


Berada di walk in closet memilih apa yang akan dikenakan untuk mendampingi Ben nanti malam, berusaha untuk tampil sempurna demi suaminya.


.


.


.


Sore hari, Dewa baru saja pulang dari aktivitas sekolahnya. “Dewa, seingat Mamih kamu sudah lama tidak bertemu Ibu kamu. Minggu ini kamu mau pulang ke Bandung?” tanya Una sambil duduk di pinggir ranjang Dewa. Anak itu baru saja mengganti seragam sekolahnya.


Dewa menunduk dan duduk di sebelah Una, “Kenapa?” tanya Una sambil mengelus puncak kepala Dewa, “kamu tidak rindu ibumu?”.


“Aku lebih nyaman tidak pulang Mih, Ibu selalu marah kalau bertemu Dewa. Ibu bilang, aku harus bantu Ibu menjadi istri Papih. Aku enggak paham Mih,” jawab Dewa.


Una menghela nafasnya, “Sudahlah tidak usah dipikirkan, sekarang Mamih tanya, kamu rindu ibumu?”


Dewa mengangguk, “Oke, besok hari sabtu, kamu tidak ada kelas tambahan 'kan?”


“Enggak ada,” jawab Dewa.


“Kita pulang ke Bandung, nanti Mamih yang bilang ke Papih.”


Nevan dan Nessa pulang bersama Leo tidak lama setelah Dewa. “Mamiiih,” terdengar teriakan Nessa. Una bergegas menghampiri Nessa agar bocahnya itu tidak berlarian.


“Upsss, kamu sekarang berat ya? Bunda enggak kuat deh gendong kamu.”


“Mih, besok aku menginap di tempat Bunda ya,” ujar Nevan dengan menatap Una. Una menurunkan Nessa, “Iya, Mih aku juga mau.”


“Kalian baru dari sana, kasihan Bunda dong. Kalau ada kalian jadi sibuk,” jawab Una sambil menoleh pada Leo yang baru saja masuk.


Leo hanya mengedikkan bahu lalu meletakan tas milik Nevan dan Nessa di sofa. “Lain kali aja ya, rencananya besok kita ke Bandung,” tutur Una.


Nevan dan Nessa saling tatap, “Kalau gitu ajak Bunda ke Bandung, Mih.”


“Bang Leooo,” panggil Una. Leo yang ingin menuju halaman samping untuk merokok kembali lagi ke ruangan tempat Una berada.


“Firda sedang hamil, mereka pikir bayi itu akan lahir dalam sehari. Jadi mereka ingin melihat bayi yang lahir besok,” ujar Leo.


“Firda hamil?” tanya Una. Leo mengangguk, “Apalagi Bunda sedang hamil, kalian tidak boleh merepotkan.”


“Tapi aku mau lihat bayi,” ujar Nevan.


“Aku juga,” tambah Nessa.


“Bayinya tidak akan lahir besok, masih lama. Tunggu sampai perut Bunda membesar baru bayinya akan lahir.”  Nevan dan Nessa mendengarkan penjelasan Una.


“Kalian minta saja bayi pada Papih kalian,” canda Leo pada si kembar. Nevan dan Nessa saling pandang, lalu berhigh five. Nevan segera mengambil ponselnya dari tas lalu melakukan panggilan video dengan Ben.


Saat makan malam,


Una yang sudah mengenakan one shoulder dress semata kaki dengan belah pinggir sampai atas lutut berwarna hitam serasi dengan dinner suits yang dikenakan Ben. “Setelah makan malam kalian masuk kamar, kerjakan tugas dan tidur. Kamu juga Dewa,” titah Una pada anak-anaknya yang sedang menikmati makan malam.


Dua orang baby sitter duduk mendampingi si kembar, “Aku titip ya Mbak, pastikan mereka tidur tepat waktu.”


Ben keluar dari kamar, “Dengar apa yang Mamih kalian sampaikan,” ucap Ben.


“Jangan lupa ya Pih, kami mau bayi,” ujar Nessa.


“Yes, aku juga.”


“Bayi?” Dewa bingung dengan permintaan duo imut.


Mobil yang membawa Una dan Ben menuju tempat dilaksanakan acara, dengan supir yang biasa mengantarkan Ben beraktivitas. Akhirnya mereka tiba di hotel diselenggarakannya acara, Una sebenarnya tidak terlalu menyukai hadir di acara seperti ini. Namun demi mendampingi Ben, ia bersedia ikut serta.


“Perusahaan kita mengadakan kerja sama dengan perusahaan ini, pimpinannya teman kuliahku dulu. Jadi kalau kita tidak hadir, rasanya tidak baik,” Ben menjelaskan sambil berjalan menuju ball room, dengan Una memeluk lengannya.


Memasuki ruangan, Ben sudah dipanggil dengan kenalannya. Setelah menyapa, ia mengenalkan Una selaku istrinya. Una tersenyum dan menjabat tangan ketika dikenalkan dengan rekan bisnis Ben, hanya itu yang bisa ia lakukan.


“Hai, Ben. Long time no see, aku lihat makin sukses saja.”


“Yah, begitulah. Kau juga semakin sering muncul di pemberitaan.” Kali ini Ben ngobrol dengan salah satu kepala daerah. “Loh, siapa yang mendampingimu?”


“Ah, kenalkan ini Aruna, istri saya.”


Una menerima uluran jabat tangan dari lelaki di hadapannya. Walaupun agak risih karena sorot matanya terlihat memindai lebih ke arah mesum.


“Pintar kamu cari pendamping, cantik dan masih muda pula.”


Ben tersenyum, “Ibu Bupati tidak di ajak?”


“Bingung aku bawanya, mau ajak yang mana?” Mereka lalu tertawa kemudian Ben menggelengkan kepalanya. Lalu Ben pamit menemui yang lain.


“Itu maksud dia, istrinya lebih dari satu?” tanya Una.


“Hemm,” jawab Ben. “Kamu jangan bergaul sama yang seperti itu, nanti ketularan.”


“Ketularan? Memangnya penyakit?”


“Iya, penyakit keganjenan,” jawab Una, Ben hanya tertawa. "Kalau aku termasuk ganjen?"


"Iya, tapi sama aku aja." Ben mencubit hidung Una gemas.


Mereka kini duduk pada kursi yang disediakan, semeja dengan rekan Ben yang sepertinya cukup akrab. "Awet muda juga loe Ben, makanya dapatnya yang bening."


"Udah tobat kayaknya," ucap yang lainnya.


Acara pun di mulai, Lena pemilik perusahaan sedang berada di mimbar menyampaikan sambutan, sesekali pandangannya ke arah meja dimana terdapat Ben dan Una.


Setelah rangkaian acara selesai, berikutnya ramah tamah diisi dengan para tamu yang menikmati hidangan atau sekedar minum. Banyak pelayan hilir mudik membawa nampan berisi gelas-gelas minuman.


"Kamu ambil orange juice saja, yang lain beralkohol."


"Abang, jangan ikut minum, aku enggak mau sampai..."


"Tidak, ini hanya menghargai tuan rumah," ucap Ben mengambil gelas berisi campagne lalu menghampiri Lena.


"Hai, Ben, akhirnya datang juga," ucap Lena.


"Kenalkan Aruna, istriku."


"Lena," ucapnya sambil mengulurkan tangan.


"Aruna," menjabat tangan Lena.


"Ternyata sekarang seleramu yang muda menggemaskan ya."


Ben hanya tersenyum, lalu Lena mengenalkan dengan seorang pria bersama Gema, "Dia asisten ku, kerja sama kita akan melibatkan Gema," jelas Lena.


"Oke," jawab Ben, "Sukses untuk perusahanmu," mereka kemudian beraulang. Aruna berbisik kalau ia hendak ke toilet.


Ben melanjutkan obrolan dengan Lena, Una bergegas ke toilet. Bukan karena memang benar-benar ingin ke toilet, tapi sekedar menghindar. Rekan Lena membuatnya tidak nyaman dengan tatapan mesum yang melihat Una seakan makanan lezat. Sepertinya Ben tidak menyadari hal itu, jadi ia membiarkan Una sendiri.


Setelah mencuci tangannya dan merapihkan tatanan rambutnya, Una hendak kembali menemui Ben.


"Haii," ucap seseorang saat Una keluar dari toilet.


To be continue


Haiiii, terima kasih masih stay dengan Aruna dan Ben, yang bertanya perbedaan umur Una dan Ben ada di episode pernikahan Alan (Kebucinan Pasangan).


Jangan lupa jejaknya yaaaa, thanks you


_______________


Tinggalkan jejak cinta dengan memberikan like, komentar, favorite, vote dan bintang 5. Salam sayang dari Author 💖💖