
...♡~ Selamat Membaca ~♡...
"Abaaang," panggil Una dengan manja lalu memeluk Ben dari belakang saat Ben rapih dengan pakaian kerjanya.
Ben tersenyum dan mengusap lengan Una yang melingkar di perutnya. "Kenapa?"
"Kita seriusan mau pindahan sore ini? Rasanya kok enggak rela ya." Ben memutar tubuhnya kini mereka berpelukan dengan tubuh berhadapan. "Enggak rela gimana?"
"Banyak kenangan di sini," ucap Una. "Hmm, kita akan buat kenangan lebih indah di tempat baru bersama anak-anak kita. Lagi pula mau di simpan di mana keperluan bayi kita."
"Leo dan Firda ada kamar masing-masing di sana, termasuk juga para pekerja lainnya jadi enggak kesepian."
Di apartement berbeda, tepatnya kediaman Alan dan Clara.
"Tapi aku mau honey moonnya ke Maldives atau Afrika selatan," rengek Clara yang sedang duduk dipangkuan Alan. Padahal Alan sudah rapih akan berangkat kerja.
"Ra, kalau perlu kita honey moon ke Kutub utara atau selatan yang penting aman untuk kalian berdua," sahut Alan sambil memegang perut Clara.
"Tapi kamu sedang hamil, bagaimana di pesawat lalu kegiatan kita di sana. Beresiko Ra, lagian kalau cuma mau yang enak-enak di mana aja juga bisa," goda Alan sambil menaik turunkan alisnya.
"Tapi aku dari dulu pinginnya setelah menikah, bulan madu di tempat yang jauh dan romantis. Ini malah gagal total." Clara dengan wajah cemberutnya.
"Bukan gagal tapi di pending, tetap bisa kita laksanakan kalau kamu sudah melahirkan. Kalau perlu kita sewa kamar berdinding kaca di dalam laut, biar bisa disaksikan sama ikan-ikan, adegan live show kita."
"Ishh, nanti siang aku ke kantor ya. Pokoknya makan siang bareng," ujar Clara sambil berdiri. "Oke sayang," jawab Alan, ia lalu berjalan menuju pintu.
"Besok jadwal aku periksa, kamu bisa temani aku kan?"
"Bisa dong, apa sih yang enggak buat kamu." Alan mencium kening Clara lalu meninggalkan apartementnya.
Siang harinya di apartement Ben, Firda dan Una dibantu Leo melakukan packing untuk barang-barang berharga milik majikan mereka. "Segini pindah cuma pakaian dan barang-barang kecil kalo perabot enggak, tapi ribet juga," ucap Una.
"Ini container box mau diisi apa Bu?"
"Itu jam tangan Bos kamu pindahin ke sini, Leo mana sih." Tidak lama Leo masuk ke kamar, "Koper yang ini isinya surat-surat berharga," Una membuka brankas lalu menyerahkan pada Leo. Leo menyusun pindahan brankas ke dalam koper.
Kemudian Una menunjuk kembali koper yang lain, "Kalau yang ini isinya untuk perhiasan," ujar Una.
"Nanti semua ini dibawa ke sana bareng Ibu?" tanya Firda yang sedang menutup container box nya.
"Iya, nanti di sana langsung tempatkan lagi, makanya ini dibawa terakhir. Box yang satu lagi untuk ikat pinggang ya."
"Anak Sultan Fir," ucap Leo.
"Dari pada situ, anak se_tan," ujar Firda. Leo berdecak, "Hati-anak nanti kamu hamil anak se_tan," sahut Leo.
"Hati-hati nanti kalian berjodoh," seru Una. "Amit-amit, jangan dong Bu. Kayak enggak ada laki-laki lain aja," tukas Firda.
"Enggak boleh begitu, yang ada nanti kamu cinta mati sama Leo," jawab Una. "Betul, nanti termehek-mehek dia ngarep ke saya," ejek Leo.
Una menyerahkan kotak-kotak beludru berisi perhiasan pada Leo. Lalu ia duduk di sofa, sejak tadi ia bolak balik lumayan membuat pegal dan sesak.
"Ibu enggak apa-apa?" tanya Firda yang mendekat pada Una. Leo menoleh, "Pucat loh, Fir ajak rebahan dulu atau mau ke rumah sakit," ajak Leo.
"Jangan, enggak apa-apa aku cuma sesak," ucap Una yang menerima botol air minum yang disodorkan Firda.
"Saya hubungi Pak Ben ya Bu."
"Jangan, kalian teruskan biar cepat selesai. Saya baringan dulu di sini." Una menghampiri ranjang dibantu Firda.
Sore harinya dibantu Leo dan satu orang lainnya, memindahkan sisa barang berharga milik Ben dan Una, sedangkan Firda berjalan bersama Una. Una menatap ke dalam apartement sebelum ia keluar.
"Kok sedih Bu?"
"Iya nih, hormon kehamilan juga kali ya, kayak yang enggak rela aku mau pindahnya."
"Nanti langsung rapihkan lagi di laci-lacinya, ada di walk in closet," ucap Una pada Firda dan Leo.
Ternyata Ben sedang bicara dengan seseorang, ada Ilham juga di sana. Ben tersenyum melihat Una, lalu menghampiri Una dan mengajak duduk disebelahnya. "Ini Aruna istri saya," ucap Ben.
Ternyata orang yang sedang berbicara dengan Ben adalah pengacaranya. Entah sedang membicarakan apa Una tidak paham.
"Tadi aku panggil Pak Roy ke sini untuk urus balik nama beberapa berkas. Ada property yang aku balik nama jadi nama kamu."
"Kenapa ?"
"Enggak apa-apa, enggak usah dibahas sekarang," ujar Ben.
"Fir, kalian istirahat dulu. Nanti bereskan ruang baby aku ya. Barang-barang belanjaannya sudah datang tapi belum disusun."
"Oke," kata Firda.
"Abang, besok aku periksa ya, kok rasanya kurang nyaman dari tadi siang."
Ben membawa Una ke kamar untuk istirahat, "Kenapa besok, sekarang aja ya," ajak Ben. Una hanya menggelengkan kepalanya lalu terlelap.
Esok hari, Ben sudah siap akan menemani Una ke rumah sakit. "Ayo," ucapnya sambil merangkul bahu Una.
Sesampainya di poli, Ben dan Una tidak menyangka akan bertemu dengan Alan dan Clara.
"Hayy, Aruna. Kita bertemu lagi." Una hanya tersenyum membalas ucapan Clara.
"Aku bersyukur kamu dulu melepaskan Alan, aku bahagia sekarang bersama Alan," ucap Clara kepada Una dan melirik Ben.
"Clara," panggil Alan agar Clara berhenti mengganggu Una.
Tidak ama kemudian perawat memanggil nama Clara untuk masuk ke ruang dokter.
Una menghela nafas, lalu menoleh pada Ben yang masih merangkulnya.
"Abang," panggil Una.
"Hmm," Ben menatap Una. "Kenapa?"
"Apa rasanya bertemu mantan, berdebar-debar enggak?"
Ben berdecak, "Aku lebih berdebar dan takut sama pertanyaan kamu dibandingkan bertemu mantan."
"Jangan bertanya yang aneh-aneh," ucap Ben dengan wajah datarnya. Una hanya tertawa, "Abang lucu kalau lagi panik."
'Paniklah, kamu yang cara gara-gara nanti kamu yang ngambek, salah ngomong bisa aku yang salah,' batin Ben.
Firda dan Leo duduk agak jauh dari Una dan Ben, "Lihat tuh, para mantan," ucap Leo dan Firda hanya tersenyum.
"Makanya jangan terlalu lama pacaran apalagi banyak mantannya, mending langsung action," tutur Leo. "Action apaan?" tanya Firda sambil melirik Leo.
"Berantem di ranjang, mau loe berantem sama gue?" canda Leo.
"Sorry ya, aku cari yang tampan maksimal," sahut Firda. "Gue kan tampan Fir."
"Ada yang lebih tampan dong."
"Siapa?" tanya Leo.
"Ada deh, kepo," jawab Firda sambil terkekeh. Leo menatap Firda dengan wajah datar dan tatapan mata tajam membuat Firda menjadi salah tingkah karena takut.
__________
Tinggalkan jejak cinta dengan memberikan like, komentar, favorite, vote dan bintang 5. Salam sayang dari Author 💖💖