
Ben masuk ke dalam ruang perawatan Una, menoleh pada Huda yang duduk di sofa sedang melakukan panggilan pada ponselnya. Duduk di kursi sebelah hospital bed Una, mengelus tangan yang tertanam jarum infus.
Hingga tengah malam, Ben masih setia pada posisinya, rasa lelah dan kantuk mulai menyerang. Ia sedang melakukan perjalanan bisnis terkait rencana pendirian perusahaan baru, langsung kembali ke Jakarta mendengar kejadian yang menimpa Una.
Ponsel Huda berdering, disela kantuknya Ben mendengar pembicaraan Huda.
"Bicaralah !" ucap Ben pada Huda.
Huda berdecak, jika bukan atasan dari Una dan dirinya mungkin ia sudah memaki pria itu. "Istri saya pingsan, sekarang sedang dalam pemeriksaan, Una_"
"Pergilah, saya pastikan Una aman, di depan juga sudah ada yang jaga." Ben menyela kalimat Huda.
Setelah Huda pergi, Ben mengusap pipi dan kepala Una. "Putri tidur, kapan mau bangun ? Atau menunggu ciuman dari pangeran." Ben tersenyum lalu mendekatkan wajahnya pada wajah Una, mengecup bibir pucat itu, "Aruna, i love you so much." Kembali mencium Una namun kali ini lebih lama.
Ben tertidur dengan posisi duduk dan menelungkupkan kepala di ranjang Una, tangannya menggenggam tangan Una.
"Hmmm." Perlahan Una menggerakkan tubuh dan mengerjapkan matanya. Menatap sekitar, terpaku pada sosok yang menggenggam tangannya.
Mencoba bangun dari posisinya, namun kepalanya masih terasa pening ia pun berpegangan pada sisi ranjang. Pergerakan Una membuat Ben terbangun,
"Sayang," sapa Ben lalu berdiri, "Are you okey?" tanya Ben lalu menekan tombol memanggil perawat.
"Pelan-pelan saja," ujar Ben ketika Una mencoba duduk. "Aku mau ke toilet," ucap Una.
"Hmm, sebentar tunggu perawat."
Tidak lama dokter dan perawat masuk ke ruangan dan mengecek kondisi Una.
"Kondisi pasien sudah stabil, tinggal menunggu efek obat bius menghilang. Infusnya akan dilepas, ganti dengan makan dan minum yang cukup. Besok sudah bisa pulang." Dokter menjelaskan kondisi Una.
"Efek obat bius, apa akan berdampak jangka panjang ?" tanya Ben.
"Untuk kasus nona Aruna hanya pening dan kantuk berat."
Setelah dokter berlalu, Ben meminta perawat membantu Una ke toilet.
"Om Ben sejak kapan di sini ?" tanya Una setelah ia dari toilet.
"Hm, sejak kamu dipindahkan ke ruangan ini."
"Pinjam ponselnya, aku mau hubungi Kak Huda."
"Huda sedang mengurus istrinya, semalam masuk rumah sakit." Ben memberikan ponselnya pada Una.
"Istrinya kan memang kerja di rumah sakit." Ben memberikan ponselnya pada Una.
Saat Una menghubungi Huda, Ilham datang membawakan dua paper bag untuk Ben yang berisi ponsel baru untuk Una dan pakaian ganti untuk Ben.
Una duduk di pinggir ranjang saat Ben keluar dari toilet untuk membersihkan diri dan mengganti pakaiannya.
Menuju nakas mengambil mangkuk berisi bubur untuk Una, "Makan dulu, kamu tidur cukup lama. Perlu asupan makanan untuk mengembalikan stamina."
"Aku enggak suka bubur, kayak orang sakit aja makannya bubur."
"Ya memang lagi sakit, kalau sehat enggak akan di rawat di sini."
"Sebenarnya apa yang terjadi sampai aku ada di sini?"
Ben duduk di sebelah Una sambil menyodorkan sendok berisi bubur ke depan mulut Una.
"Makanlah, nanti Bian yang akan menceritakan setelah kamu diperbolehkan pulang."
Una akhirnya membuka mulutnya, Ben menyuapi Una sampai buburnya habis. Terdapat sisa bubur di pinggir bibir Una, Ben mengusapkan ibu jarinya di bibir Una untuk membersihkan sisa makanan lalu menjilat jari tersebut. "Kan bisa pakai tisue, jorok tau," ucap Una.
"Kenapa ? Harusnya jangan pakai jari ya langsung aku jilat atau lum*t. Ben tersenyum melihat Una yang cemberut.
Una menunduk, Ben yang melihat itu lalu menghela nafas. Ia tau bahwa Aruna belum bisa memaafkan dirinya, hubungannya dengan Aruna sebelum kejadian ini belum membaik.
Sore harinya, Abil dan Rahmi menjenguk Una. Membuka pintu ruangan, "Kak Una," pangil Rahmi sambil masuk ke ruangan.
Rahmi menutup mulutnya. "Na, pasiennya Pak Ben atau loe. Kok dia yang tidur disitu," ujar Abil.
"Ngantuk kali, katanya semalam dia nungguin aku, terus tadi ngurusin kerjaan lihat aja laptop sama tabletnya berantakan gini," sahut Una menunjuk meja.
"Bukannya ada Kak Huda." Abil ingat bahwa semalam dia ikut dengan Huda membawa Una ke Rumah sakit.
"Kak Huda semalam pulang, istrinya pingsan harus bedrest juga. Kayaknya aku bakal dapat keponakan lagi."
"Kak Una, Pak Ben so sweet banget sih, rela enggak tidur nungguin kekasih hati. Ya Allah, ada lagi enggak yang kayak Pak Ben." Una tersenyum mendengar ucapan Rahmi.
"Ada, tapi masalahnya orang itu enggak mau sama loe," jawab Abil.
"Ih Kak Abil jahat banget. Kak Una, di depan itu siapa sih?"
"Depan mana ?"
"Depan ruangan ini, ada cowok ganteng, tinggi, gagah, pokoknya uwow banget deh. Terus otot di tanganya itu, bikin aku pengen nyubit aja."
Una menoleh pada Abil, "Bang Leo," sahut Abil.
"Dia siapa kak?"
"Kayaknya, bawahan Pak Ben juga," jawab Una.
"Divisi mana kak, kok aku belum pernah ketemu ya."
"Divisi khusus, khusus menghindar dari cewek kepo kayak loe. Samperin sana kalo mau kenalan," ungkap Abil.
"Yah Kak, namanya juga usaha. Lelah hayati, jomblo akut."
Abil menyerahkan ponsel Una yang sudah pecah layarnya. Tidak lama kemudian mereka pamit pulang. Saat melewati Leo di depan ruang rawat Una, Rahmi menoleh pada pria itu. Sedangkan Leo hanya berdehem lalu mengalihkan pandangannya.
"Cepet, gue tinggalin ya," seru Abil pada Rahmi.
"Sabar Kak, mubazir kalau enggak dilihat."
.
.
Bian duduk di sofa, hendak menyampaikan informasi terkait penculikan Una pada Ben. Memastikan Una telah tidur, Ben menghampiri Bian.
"Jadi?"
"Sementara Clara dan Alan bersih. Namun kami masih belum menemukan dalangnya sebab perintah pada para penculik hanya lewat telepon. Jadi pelaku tidak mengetahui dan mengenal siapa yang memberikan perintah."
"Lalu," ucap Ben.
"Gedung tempat nona Aruna disembunyikan, milik salah satu bank hasil penyitaan, pemilik yang lama sudah pindah ke luar kota dan besar kemungkinan tidak ada unsur persaingan bisnis dengan BCP One."
Ben menyandarkan punggung pada senderan sofa, memijat dahinya.
"Aruna besok sudah bisa pulang, jelaskan padanya kronologi kejadian. Apapun keputusan ku, pastikan dia tetap dalam pengawasan. Jangan biarkan kejadian seperti ini terulang."
"Untuk pengawasan sudah diurus, keputusan apa maksudnya pak ?"
Ben tidak menjawab, ia hanya menoleh pada Una yang terlelap di balik selimut.
Ketika Bian meninggalkan ruangan, Ben menghampiri tempat Una terlelap dan ikut membaringkan tubuhnya, memeluk Una dari belakang karena posisi Una membelakangi Ben.
"Jangan terluka karena aku, cerialah seperti dulu dan berbahagia." Ben berbisik di telinga Una dan mengusap Rambut gadis yang sedang terbuai di alam mimpi.
_____
Yuhuuuuuu, gaess ðŸ¤,,, masih setia sama Una dan Ben kan? Iyalah masa enggak