
"Cukup," titah Ben.
"Jangan pernah main-main denganku," ujar Ben lalu kembali ke mobilnya diikuti dengan yang lain.
"Shittt," ujar Gema, "Dilarang makin gue penasaran. Auwww," pekiknya sambil menyentuh wajah yang sudah memar dan sekujur tubuh yang sakit karena dipukuli.
"Bapak enggak apa-apa?" tanya security dan asisten rumah tangga bertanya pada Gema saat menghampirinya.
"Sialan, enggak lihat gue babak belur begini, lo malah nanya gue enggak apa-apa. Dasar be*go, pada kemana waktu gue dipukulin. Makan gaji buta ya lo pada," maki Gema pada para pekerja di rumahnya.
Ia masuk ke dalam kamar, mengobati lukanya dan membuka ponsel menghubungi seseorang.
"Halo Gem."
"Ternyata mantan yang pernah lo bangga-banggain itu banci ya."
"Maksudnya? Mantan yang mana?"
"Mantan pacar waktu lo kuliah, Lena. Siapa lagi kalau bukan Ben Chandra."
Terdengar decakan di ujung telpon.
"Banci gimana? Ini kita sedang bahas apa?"
"Ya bahas mantan loe, berani ngehajar gue keroyokan."
"Tunggu-tunggu, ngehajar loe? Maksudnya Ben mukulin kamu Gema?"
"Iya."
"Tapi pasti ada sebabnya, enggak mubgkin tiba-tiba mukulin kamu."
Sementara di kediaman Ben, Una yang sudah sampai diantar Reza, cemas menunggu Ben. Setelah membersihkan diri dan mengganti pakaian, Una terkadang berjalan bolak balik tidak bisa diam bahkan sesekali keluar. Tingkahnya sudah seperti cacing kepanasan.
Tidak berani menghubungi Ben, khawatir mengganggu tapi penasaran dengan rencana Ben, khawatir dia akan membalas perlakuan Gema. Akhirnya yang ditunggu pun tiba, dua mobil beriringan masuk ke area rumah melewati gerbang. Ben masuk kamar mencari keberadaan Una.
Una yang sedang duduk di pinggir ranjang saat Ben membuka pintu, menghampiri suaminya. "Abang sebenarnya dari mana?" Dan betapa gerkejutnya saat melihat bercak darah pada kemeja yang dipakai Ben.
"Ini darah siapa?"
"Darah orang yang berani mengusik ketenangan hidup aku. Aku mandi dulu," sebelum berlalu, Ben mencium singkat bibir Una.
Ben memakai pakaian yang sudah disiapkan Una, "Sayang, kamu yakin tidak akan kena masalah?" tanya Una.
"Sudah, jangan dipikirkan, Itu urusan aku. Kamu tau aku kalau marah seperti apa," Ben mengerlingkan matanya pada Una lalu mendorong tubuh Una hingga jatuh di renjang dan Ben memlngungkungnya.
"Abang, yang semalam aja pegelnya belum hilang," ujar Una. Ben tertawa, "Nah, itu terjadi karena aku sedang marah."
"Hmm," jawab Una.
.
.
.
"Pak, ada Bu Lena ingin bertemu," info Nora pada line telpon
"Hmm, minta dia masuk."
"Ben, kamu kenapa keroyokan menghajar Gema," tuduh Lena pada Ben saat ia audah memasuki ruang kerja Elang.
"Kenapa kamu tidak tanya langsung pada Gema, kenapa aku memukulinya."
"Apapun masalahnya ini salah, tindak kekerasan."
Ben tertawa, "Ya sudah silahkan laporkan." Ben kembali fokus pada layar komputer dihadapannya. "Aku sedang meninjau ulang, project kesepakatan kerjasama."
"Loh, bukannya kemarin kita sudah deal."
"Aku tidak ingin bekerja sama dengan orang yang berani menrendahkan keluargaku dan mengganggu kehidupan aku."
"Maksud kamu?"
"Asistenmu itu sudah mengganggu ketenangan hidup aku dengan menggoda Aruna."
Sena menarik nafas panjang, ia tidak percaya kebiasaan Gema berani ia lakukan pada istri seorang Ben Chandra.
"Lalu urusan kita bagaimana? Bisa tetap lanjut bukan? Profesional Ben, ini uruaan bisnis." Sena berjalan menghampiri Ben, "Atau kamu mau aku lakukan sesuatu yang bisa membuat kamu senang." Lena berdiri di belakang Ben, lalu meraba tubuh Ben.
"Hentikan Lena," titah Ben.
"Ayolah Ben, dulu kamu tidak pernah menolak hal ini."
"Itu dulu, aku belum menikah dan saat itu kita ada hubungan. Tapi kali ini aku menghargai hubunganku dengan Aruna, jadi tawaranmu tidak menarik."
Ben berdecak, "Bangun atau aku lempar kamu ke luar."
"Kamu berubah ya, Ben." Lena meninggalkan ruangan Ben dengan kesal.
Di tempat berbeda, Gema sedang bersama orang-orang yang ia rekrut untuk melanjutkan aksinya. "Bergerak dari sekarang, jangan sampai lengah," titah Gema.
Tanpa diketahui, ternyata orang-orang suruhan Gema memperhatikan aktifitas drutin keluarga Ben.
Malam harinya Ben sudah berbaring menghadap Una yang sedang duduk membuka ponselnya. "Anak-anak diundang acara ulang tahun Arka," ucap Una.
"Arka?"
"Iya, yang dikejar-kejar putrimu. Katanya nanti mau menikah dengan Arka."
"Putra Clara dan Alan?"
"Iya, putra mantan kamu," ejek Una.
"Sama, putranya mantan kamu juga," sahut Ben. "Ini sudah ada tanda-tanda belum?" tanya Ben sambil mengelus perut Una.
Una menggelengkan kepala, "Kalau gitu kita usaha lagi, harus extra." Ben menarik Una dalam pelukannya.
"Abang, Ihhhh."
"Sttt, kamu nikmati aja." Kemudian suasana kamar itu menjadi panas dan bersahutan erangan Ben juga dessahan Una saat mereka mengarungi lautan cinta menuju kenikmatan surga dunia.
Ben masih menikmati sensasi kenikmatan pelepasannya, sedangkan Una sudah terlelap. Tok tok tok, "Papihhh, papih buka. Aku mau tidur bareng mamih dan papih."
Ben memakai boxernya lalu berjalan ke arah pintu. Setelah dibuka, Nessa langsung berlari masuk naik ke ranjang. "Kenapa enggak tidur di kamar sendiri?"
"Aku mau adek bayi, kata Om Leo minta Papih sama Mamih buat adek bayi. Ayo Pih, cepet buat adek bayi," rengek Nessa. Ben
"Tidur, sudah malam." Ben memposisikan Nessa berada di tengah Ben dan Una. "Mamih sudah tidur, kamu juga cepat tidur."
"Tapi aku mau ..."
"Iya, nanti. Sekarang kamu tidur." Lalu mengelus pelan punggung Nessa agar tertidur.
Setelah memastikan kedua ratu dalam hidupnya terbuai dalam mimpi, Ben memakai bajunya lalu keluar kamar untuk menghubungi Ilham.
...
"Awasi terus. Jangan sampai mengancam keselamatan keluargaku."
"Siap."
.
.
.
"Siang ini ada rapat orangtua wali murid di sekolah Dewa, aku mau hadir," ujar Una sambil memakaikan dasi pada kerah baju Ben.
"Hmm, Reza yang mengantar. Biar Leo yang jemput anak-anak," titah Ben.
Tanpa diduga oleh Aruna, ada hal yang tidak diduga yang akan ia hadapi. Hal besar yang disebabkan oleh dendam kepada Ben.
"Kita langsung pulang aja," ucap Una pada Reza. Dewa yang duduk di sebelah Una bermain dengan ponselnya selama perjalanan. Namun ada mobil yang terus menghimpit, membuat Reza menepikan mobilnya. Mobil itu pun ikut menepi dan berhenti tepat di depan mobil dimana Una berada.
"Mih, kok kita berhenti?" Una tidak menjawab pertanyaan Dewa, ia memperhatikan beberapa orang yang turun dari mobil dan berjalan ke arah mereka.
Una segera merangkul Huda, saat kaca disebelah Reza diketuk bahkan orang itu menunjukan tongkat seakan ingin menghancurkan kaca mobil jika Reza tidak keluar.
"Za, jangan keluar."
"Lebih berbahaya kalau saya enggak keluar," jawab Reza.
Saat Reza membuka pintu, ia ditarik oleh salah satu orang dan mengeroyok serta memukuli. Una menekan sentral lock dan menangkup wajah Dewa pada dadanya agar tidak melihat apa yang terjadi. Kaca mobil dipecahkan lalu Una ditarik paksa keluar.
"Lepassss," Una memberontak.
"Mamihhhhh," teriak Dewa sambil menangis masih duduk pada kursi mobil sedangkan Reza sudah terkulai tak berdaya.
Dua orang yang menarik Una membawa ke mobil mereka. "Dewa, diam dekat Om Reza. Enggak usah nangis. Mamih enggak apa-apa, aaaaahhh," jerit Una dipaksa masuk ke dalam mobil.
to be continue
lanjut silaturahmi \=\=>ig : dtyas_dtyas
_______________
Tinggalkan jejak cinta dengan memberikan like, komentar, favorite, vote dan bintang 5. Salam sayang dari Author 💖💖