Not A Sugar Baby

Not A Sugar Baby
Rencana Jahat



Kalimat Una sore tadi terus terngiang di telinga Ben, saat ini ia sedang bersandar pada salah satu sofa di sebuah Club. Entah sudah berapa banyak ia minum, yang jelas setiap gelasnya kosong Leo akan mengisinya kembali.


"Kamu sengaja buat aku mabuk," ucap Ben dengan mata terpejam merasakan kepalanya yang mulai berat.


"Memang begitu rencananya."


"Maksudmu ?"


"Orang yang sakit karena cinta ketika mabuk pasti akan mencari si wanita."


"Lalu?"


"Tinggal habiskan malam dengan si wanita, habis perkara."


"Jadi, kau pikir dengan aku menemui Una dalam keadaan mabuk dan memaksa bercint* dengannya, dia akan kembali padaku?"


Leo hanya mengedikkan bahu.


"Apa kau pernah mencintai atau menyukai seseorang ?"


Leo hanya menghela nafas, menjawab pertanyaan Ben. Bian datang ke club yang dimaksud oleh Ben melalui pesan, memandang kedua pria di depannya yang sudah tidak sadarkan diri karena mabuk.


***


Abil dan Una berada di ruangan Bara, mereka sedang mendengarkan arahan dari Bara selaku kepala divisi.


"Itu bahan-bahan yang akan kita bahas saat raker dan kalian berdua mewakili divisi keuangan untuk mengikuti raker," ungkap Bara.


"Pelaksanaannya kapan pak ?" tanya Abil


"Dua hari lagi, di Bali. Harusnya diadakan bulan lalu, entah kenapa kegiatannya dipending."


Una yang mendengar kegiatan dilaksanakan dua hari lagi, mengambil dokumen materi dan presentasi dari tangan Abil.


"Wow, Bil. Sepertinya harus lembur nih,"


Selama dua hari divisi keuangan menyiapkan bahan raker yang diarahkan oleh Bara.


Malam sebelum keberangkatan Una menghubungi Huda dan orangtuanya di Bandung menyampaikan terkait keberangkatannya lalu ia mempersiapkan perlengkapan yang harus dibawa.


Jadwal keberangkatan pukul 07.45 dari Bandara Soekarno Hatta dan akan tiba di Denpasar 10.45. Una tiba pukul 06.30, melakukan pemeriksaan kesehatan, penyerahan bagasi dan cetak boarding pass.


Masih 45 menit sebelum keberangkatan, Una menuju ruang tunggu. Rekan-rekan peserta raker sudah lebih dulu tiba, termasuk Abil.


Melihat sekeliling, ada kursi kosong disebelah Dimas, 'Dari pada berdiri,' batin Una.


"Pagi, Pak Dimas," sapa Una.


"Pagi, kamu baru datang?"


"Iya, pak."


Una memakai earphone, lalu memutar musik sambil menunggu keberangkatan. Ben dan Bian sedang berada di Executive Lounge ruang tunggu bandara, "Sampaikan pada Leo jangan sampai gagal lagi, kalau masih betah kerja denganku."


Bian terkekeh, "Siap Bos." Lalu menghubungi Leo untuk menanyakan posisinya.


Saat mendapatkan informasi bahwa Una termasuk sebagai peserta raker yang mewakili divisinya, Ben segera meminta Leo ikut berangkat untuk tetap melakukan pengawasan pada Una.


Tiba di bandara Denpasar, dua mobil Elf short sudah menunggu untuk membawa peserta raker menuju Bali Parag*n Resort Hotel di daerah Jimbaran. Kurang lebih 20 menit mereka tiba di lokasi, setelah itu melakukan check in untuk mendapatkan kamar.


Peserta raker wanita hanya 4 orang termasuk Una, terbagi menjadi dua kamar.


Dua hari sudah dilewati dengan kegiatan full rapat, Ben bersikap profesional dengan fokus pada materi rapat kerja. Hari ketiga di mana menjadi jadwal divisi keuangan melakukan presentasi. Bara menugaskan Una menjelaskan prediksi kenaikan laba sedangkan evaluasi penurunan laba akan dijelaskan oleh dirinya sendiri.


Una mengenakan celana lurus hitam dengan belted top berwarna abu muda serta wedges senada dengan warna celana saat presentasi. Peserta raker memperhatika slide di layar dan handout yang dibagikan.


Ben terlihat serius membaca handout di tangannya. Saat Una selesai menjelaskan, Ben bertanya yang ditujukan untuk divisi keuangan. "Dari mana bahan kalian membuat prediksi kenaikan laba?"


"Kami membuat dua jenis simulasi yang pertama menggunakan data-data keuangan yang sudah lewat, dalam hal ini kami ambil dari laporan keuangan. Simulasi kedua berdasarkan rencana masing-masing divisi, kami olah menjadi nilai dan dibuat persentase."


Una menoleh pada Bara, "Setiap prediksi ada tingkat error tapi simulasi dibuat sekecil mungkin hasil error atau salah, artinya 90% bisa digunakan. Selama__" Penjelasan Bara terjeda.


"Selama para karyawan tetap melaksanakan tugas masing-masing sesuai rencana pencapaian."


"Oke, kita matangkan terkait hal ini. Bara, untuk evaluasi penurunan 5% akan kita bahas ulang. Kita dengar pendapat dari praktisi lain terkait hal ini," ujar Ben.


"Siap, Pak."


Beberapa peserta rapat menghela nafas, termasuk sesi paling menegangkan karena membahas terkait kemungkinan laba dan rugi yang mana pengaruh pada kelanjutan operasional perusahaan.


Moderator menyampaikan dan mempersilahkan peserta rapat menikmati coffe break.


Una yang mendapatkan apresiasi dari Abil dengan menunjukan dua ibu jari pada Una juga merangkul bahu Una dan menepuknya namun segera dihempas Una.


"Jangan pegang-pegang."


"Pokoknya, hari ini loe juaraaa," seru Abil.


Ben sekilas melihat interaksi tersebut, ia tidak menyukai Abil menggoda Una.


"Na, nanti malam jadwal free. Yang lain rencana mau ke luar, mau ikut enggak ?"


"Ke mana?"


"Makan seafood pinggir pantai, tapi tadi ada yang usul ke club, ada yang mau open BO juga," ujar Abil terbahak.


"Ogah, enggak mau ikut mending istirahat aja."


"Udah di sini Na, ya jalanlah ke luar. Enggak usah ikut mereka, kita wisata kuliner aja atau ke tempat oleh-oleh. Ajak juga temen se kamar loe."


Setelah makan malam, Abil menuju kamar Una. Menekan bel, "Apa Bil," ucap Nia rekan sekamar Una.


"Ayo kita ke luar, loe ikut enggak?"


"Ikut dong, Una lagi di toilet."


Abil berdiri di pintu, berbicara dengan Nia sambil menunggu Una. Mengenakan jeans dan kaus putih lengan panjang dan rambut di ikat high ponytail, sedikit memperlihatkan tengkuk Una.


Ben dan Bian berada di Lounge lobby menyambut Gerry yang baru saja tiba. Sedang serius membicarakan perusahaan ayah Ben yang dipercayakan oleh Ben pada Gerry, saat itu Una bersama Abil dan Nia tampak berjalan keluar dari lobby.


Gerry menoleh pada arah pandang Ben, "Hm, wanita yang membuat hati seorang Ben akhirnya percaya cinta," ucap Gerry terkekeh. "Yang mana orangnya ?"


"Kaos putih," jawab Bian sambil tersenyum.


"Wow, pantes bro. Masih muda, bening lagi dan ngegemesin kayaknya."


"Banget, sampai klepek-klepek." Bian ikut menggoda Ben.


Ben berdecak, "Jangan mengejek atau kalian saya pecat." Bian dan Gerry kembali tertawa mendengar ancaman dari Ben.


Ke esokan harinya, merupakan hari keempat pelaksanaan raker. Berjalan sesuai jadwal, bahkan ada sesi Gerry dan Ben menyampaikan rencana membangun perusahan baru, yang merupakan cabang dari perusahaan Ben saat ini.


Setelah makan malam dilanjut dengan hiburan, Una yang duduk satu meja dengan Ina, Abil dan Vino tidak terlalu antusias mendengarkan lagu yang dibawakan oleh pengisi acara.


Ia sedang membaca pesan dari Meisya yang menitipkan suaminya agar tidak macam-macam saat di Bali juga menyampaikan waktu dan tempat pelaksanaan reuni kecil Meisya CS. Una tersenyum membaca pesan tersebut sambil meraih gelas di mejanya.


Meneguk isi hingga separuhnya, ia memandang gelas yang dipegangnya, "Rasanya aneh," gumam Una. Ia menggaruk tengkuknya, berfikir kapan ia mengambil minuman tersebut lalu mengedikkan bahunya.


Beberapa waktu sebelumnya, di salah satu kamar seorang wanita yang hanya menggunakan bathrobe duduk di sofa dengan menyilangkan kaki memperlihatkan kesek_sian tubuhnya. Dengan tangan kanan memegang gelas berisi wine ia berbicara pada seorang pria yang berdiri dihadapannya.


"Pastikan wanita itu meminumnya dan ketika sudah kondusif bawa dia ke kamar yang sudah dipersiapkan."


Pria itu mengangguk, menerima amplop yang cukup tebal sebagai kompensasi tugas yang akan dikerjakannya. "Jika semua sesuai rencana, aku akan berikan sisanya. Jadi pastikan rencana ini berhasil."


__________


Yuhuuuuu, semangat membaca ya, 😊. Seperti biasa jangan lupa kasih Like, koment dan vote syukur-syukur dapat kopi dari para readers.