
Selamat Membaca yaa,,,
______________
Beberapa minggu telah berlalu, semua berjalan seperti biasa. Walaupun Abil, Nia dan Vino masih merasa aneh dengan alasan tidak kembalinya Una ke kamar saat malam itu.
Leo dan Ilham menemukan orang yang mencampurkan obat pada minuman Una, namun orang tersebut bungkam saat ditanya otak di balik kejadian itu. Ben ingin membawa kasus itu ke ranah hukum, namun dilarang oleh Una. Una tidak ingin persoalan tersebut semakin panjang dan semakin rumit.
Ben semakin sibuk dengan rencana bisnisnya, ia pun sering melakukan perjalanan ke luar kota. Karena kesibukannya yang membuat ia tidak bisa langsung berinteraksi dengan Una membuatnya lebih hati-hati dalam melindungi wanita yang dicintainya. Orang yang ditugaskan mengawasi Una dilakukan tidak sembunyi-sembunyi lagi.
Hikmah dari kejadian malam itu, hubungan Ben dan Una lebih baik. Una tidak lagi tertutup pada Ben, walaupun sebenarnya ia juga mencintai Ben hanya kecemburuan pada Clara membuat ia harus menjaga jarak pada Ben.
"Na, besok jadi ikut ?" tanya Abil.
"Tau nih, besok pagi aku kabari yah."
"Ikut ya kak, enggak asyik nih," ucap Rahmi.
"Kepala ku pusing, kalau besok enakan aku pasti ikut."
"Iya, wajah kak Una pucat loh."
"Paling juga sakit rindu, si Bos sibuk terus," ejek Abil.
"Aku duluan ya."
"Mau dianter enggak Na?" tanya Abil.
"Enggak usah, ada bang Leo di basement."
"Salam dari aku ya Kak, untuk bang Leo," pinta Rahmi.
"Oke."
Una menghampiri Leo di pos security, "Bang, antar aku pulang ya!"
"Siap."
Una menyandarkan kepalanya dan memejamkan mata. "Langsung pulang atau ada tujuan lain?"
"Langsung pulang aja bang."
"Tumben, biasanya kalau masih sore enggak langsung pulang."
"Mau istirahat, aku kurang sehat."
"Mau diantar ke dokter dulu kah ?" tanya Leo dengan tatapan fokus ke depan.
Namun Una tidak menjawab, karena sudah tertidur.
***
Weekend ini, Abil akan melaksanakan lamaran. Una yang sejak membuka matanya tadi pagi masih merasakan pening dan mual, akhirnya mengirimkan pesan pada Abil bahwa ia tidak ikut bergabung.
Bahkan Ben yang semalam menghubungi pun tidak terjawab karena Una tidur lebih awal.
Ben saat ini berada di apartement, baru saja kembali dari luar kota. Baru saja mengakhiri komunikasi dengan ibunya, tepatnya ibu sambung yang masih tinggal di Singapura. Sang Ibu mengatakan putrinya Arabela yang sedang menempuh pendidikan di London pulang ke Jakarta, Ia meminta Ben melindungi Arabela.
Meskipun bukan adik dalam arti sesungguhnya, Ayah Ben menikahi Ibu dari Arabela saat anak-anak mereka sudah dewasa. Namun, Ben tetap menganggap Arabela sebagai adiknya.
"Om Bennn!"
Una sudah tiba di apartemen Ben, ia sudah mengetahui pass code kunci digital, setelah memanggil Ben ia lalu merebahkan diri di sofa ruang tamu.
Ben menghampiri, "Hey, kenapa malah tidur." Memindahkan kepala Una ke pangkuannya.
"Hmm."
Ben mengusap pelan rambut Una, "Kapan kau mengijinkan aku menemui orangtuamu?"
Una beranjak duduk, menatap pada Ben, "Bagaimana kalau Ayah tidak setuju ?"
Ben menghela nafas, "Belum juga dicoba, tapi kalau benar tidak direstui kita kawin lari." Ben terkekeh sambil menarik hidung Una.
"Ihh sakit Om, enggak mau ya. Aku maunya orang tau kalau Om Ben milik aku, biar enggak ada lagi perempuan-perempuan yang coba mendekat."
"Biarin aja mendekat. Kalau aku maunya dekat kamu, mereka bisa apa."
"Enggak, enggak boleh ya."
"Kamu juga sama, jangan biarkan para pria mendekat, terutama Abil "
Una terkekeh, "Om cemburu?"
"Menurutmu ? Kalau melanggar siap-siap dihukum."
Una kembali merebahkan kepalanya di pangkuan Ben.
"Om," panggil Una sambil mengusap rahang Ben yang kini ditumbuhi bulu-bulu halus.
"Hm."
"Apa ada masalah ?"
Ben tersenyum, "Masalahnya adalah aku sangat mencintai gadis ini tapi dia selalu membuatku khawatir juga selalu mengulur waktu untuk aku melamarnya," jawab Ben sambil menggelitik pinggang Una.
Una tertawa kegelian lalu bangun dan menghindar, Ben menariknya ke dalam pelukan. Memandang wajah Una lalu perlahan menyatukan bibir mereka.
"Aku mencintaimu Aruna Zara."
Una mengalungkan tangannya di leher Ben, mencium bibir pria itu, "Aku juga mencintaimu Ben Chandra."
Mereka tersenyum, lalu Ben menggendong Una masih dengan mereka saling menatap penuh arti.
Merebahkan Una di ranjang lalu ******* bibir yang terlihat agak pucat itu, "I miss you, so much." Mereka kembali saling memagut, Ben menelusupkan tangan ke balik kaos Una dan meraba dua bukit kembar Una. Melepas pagutannya, Ben menelusuri leher Una dengan tangan meremass salah satu dada Una.
"Akhhhhhh."
Ben menatap Una dengan dahi berkerut namun tangan masih memainkan squishy Una.
"Na, ukurannya agak besar dari sebelumnya."
"Ih, apaan sih. Mana ada ukurannya bisa berubah."
"Bisa, balon aja semakin ditiup makin mengembang."
Una melepaskan tangan Ben, lalu duduk.
"Mau ke mana, urusan kita belum selesai." Lalu melepaskan pakaian Una.
Memberi jejak pada tubuh polos Una lalu menggekspor lidahnya ke dua area sensitif Una.
Una terpejam menahan getaran dan rasa yang sulit diterjemahkan. Sapuan itu perlahan turun terus sampai ke bawah perut sampai ke bagian inti.
Ben membuka kedua kaki Una, menyentuh pusat kelembutan yang sudah cukup basah. Menanggalkan pakaian lalu mengarahkan pusaka yang sudah berdiri tegak, dengan sekali gerakan telah terbenam sempurna.
"Ah sayang, kenapa rasanya semakin nikmat?" Ben menggerakkan pinggulnya.
"Hfttt, owhh."
Ben terus mempompa, "Ohh sayang."
"Om, terus please. Yahhhh, terus. Lebih cepat."
Kamar itu kini terasa lebih panas dan suara lenguhhan keduanya bersahutan. Ketika mereka mencapai pelepasan, milik Ben menyemburkan cairan akibat kenikmatan tiada tara.
Tubuh Ben ambruk pada tubuh Una, "Om geser, berat."
"Kamu luar biasa sayang," ucap Ben sambil mengatur nafasnya.
Una beranjak memungut pakaiannya lalu menuju kamar mandi.
"Hoeek, hoeek."
Ben yang tadinya sedang terpejam, menajamkan pendengaran dan membuka matanya, memastikan suara yang ia dengar.
"Aruna," panggil Ben membuka pintu kamar mandi hanya mengenakan boxer. Una yang sedang terduduk di depan toilet setelah memuntahkan isi perutnya, hanya menggunakan bathrobe. "Om jangan masuk, jijik aku habis muntah."
Ben membantu Una berdiri, mengelap wajah Una dengan handuk kecil yang tersedia di sana. "Wajahmu pucat sekali."
Menggendong Una dan merebahkan Una di ranjang dan menyelimutinya. "Aku buatkan teh hangat dulu."
Saat berada di dapur, ponsel Ben berdering.
"Halo"
"Halo, Kak. Aku Ara, bisa kita bertemu. Aku sedang di Jakarta."
____________
Hai Hai Hai,,,
Gimana, masih ditunggu kelanjutannya kah ?
Jangan lupa goyang jempolnya untuk Like, vote, koment, hadiah dll
Jangan sampai kalah goyangnya sama Ben 🤣🤣🤣