Not A Sugar Baby

Not A Sugar Baby
Pelindung Si Kembar (1)



"Aku enggak mau berbesan dengan mereka, Bang." Una kembali merengek sambil menggoyangkan lengan Ben.


Ben hanya bisa menghela nafas pelan dan bingung kenapa istrinya mempermasalahkan hal yang belum jelas dan masih jauh ke depan.


"Abangggg!"


"Aruna, bayi kita baru berumur dua bulan. Kenapa kamu pusing masalah jodoh mereka."


"Masalahnya, tadi Clara bilang, hhhpppp," Aruna bungkam karena tiba-tiba Ben mendekat dan melu*mat bibir Una. Cukup lama, bahkan Aruna terlena dan refleks mengalungkan tangannya pada leher Ben.


Una terengah saat Ben melepaskan bibirnya, "Kamu terlalu banyak bicara, aku harus menghukum kamu."


Ben lalu merebahkan Una dan kembali memagut bibir yang belum lama masih cerewet bicara hal yang tidak jelas. Tangannya aktif masuk ke dalam gaun tidur yang Una kenakan, mere*mas bo_kong sintal Una.


Bahkan keduanya kini telah polos tanpa busana, sudah pasti Ben yang memulainya. "Aakhhhhh, abang," dessah Una saat Ben sudah membenamkan wajahnya di bagian bawah tubuh Una. Bahkan Una menggelingjang kegelian serasa ada yang ingin tumpah di bawah sana. Ben semakin aktif memainkan lidahnya dan, "ughhhhh," lenguhan lolos dari mulut Una bersamaan dengan cairan yang keluar dari bagian inti Una.


"Selamat menikmati, sayang," ucap Ben sambil mengarahkan miliknya yang sudah menegang pada pusat tubuh Una. Sedikit kesusahan, mungkin efek pasca Una melahirkan sampai akhirnya Ben meracau karena miliknya sudah terbenam sempurna. Ben terus memacu dan menghentakan tubuhnya menggebu-gebu, "Abang, ... jangan kencang-kencang," tangan Una menggapai-gapai di atas sprei namun akhirnya mere*mas sprei di bawah tubuhnya karena rasa luar biasa nikmat.


Ben mengabaikan erangan dan dessahan Una, malah mempercepat gerakan pinggulnya. Bahkan kini badan Una sudah dalam posisi telungkup.


Una hanya bisa pasrah, karena Ben tidak puas hanya bermain sekali. Membiarkan Ben menguasai tubuhnya sampai entah berapa kali ia melakukan pelepasan dan akhirnya terlelap.


"Akhhhhh," erangan Ben lalu rebah disisi Una, "terima kasih sayang, kamu memang nik-mat."


Entah jam berapa namun Una masih merasakan remuk ditubuhnya dan sedikit nyeri di bagian intinya, tapi tangisan si kembar membuatnya bergegas menggunakan kimono tidurnya.


"Eh, jagoannya mamih kenapa nangis, hmm." Kemudian Una menempelkan Nevan pada sumber kehidupannya dan dan membiarkan ASI tersalurkan untuk bayinya.


Setelah bergantian karena Nessa juga menangis saat Una meletakan Nevan yang tertidur, "Mbak, nanti kalau nangis lagi kasih ASI yang di freezer aja ya."


.


.


.


Ketika Una membuka matanya, terlihat kamar sudah terang benderang karena sinar matahari yang masuk lewat kaca jendela.


"Ini jam berapa?" Lalu melihat ruang kosong disebalahnya, artinya Ben sudah bangun. "Hah," terkejut Una melihat jam dinding yang menunjukan sudah jam sembilan pagi.


"Auwww," jerit Una saat ia bergerak turun dari ranjang. "Gara-gara Abang nih, udah kayak pera*wan kebobolan aja."


Mandi dengan metode cepat yang penting bersih dan segar, lalu mengenakan setelan berbahan kaus dengan celana di bawah lutut. Mengeringkan sebentar rambutnya dengan hair dryer.


"Bayi gemesh ku pada kemana ya?" saat ia tidak menemukan siapapun di kamar sebelah. Ternyata sedang berada di taman samping, Nevan yang tertidur distrolernya sedangkan Nessa berada di gendongan Ben.


"Huft," Una menghela nafas lega setelah menemukan ketiga bayi gemeshnya. "Abang, kenapa enggak bangunin aku sih?" Una menghampiri Ben yang berjalan di pinggir kolam renang. "Sudah bangun," ucapnya sambil mengusap kepala Una dengan tangan kanan sedangkan tangan kirinya menggendong Nessa.


"Nih, kebetulan kamu sudah siuman," ujarnya sambil terkekeh lalu menyerahkan Nessa pada Una, "aku berenang dulu."


Melepaskan kausnya dan celana pendek dan byurrrr. Ben bergerak di dalam air, Una menengok pada Nevan yang ada pada stroler agak jauh dari tempatnya berada bersama baby sitternya.


"Bu, kalau mau ikutan berenang biar Nessa sama saya," ajak Firda.


"Enggak ah, dingin. Orang saya baru mandi," sahut Una.


"Abang kenapa enggak ke kantor ya?" Gumam Una.


"Libur bu, weekend."


"Owh iya ya." Una terkekeh.


"Bu, di luar ada perempuan bawa anak katanya adik Ibu. Maksa mau masuk," ucap salah satu le jaga rumah pada Una.


"Biar saya yang kroscek," jawab Leo.


"Katanya ada perempuan di pagar mengaku adikku__"


"Kita tunggu di dalam, biar Leo yang urus." Ben merangkul Una untuk masuk. Saat Ben masih berada di kamar, ia menunggu Leo di ruang tamu.


"Devi bawa anaknya juga, mau diminta masuk atau gimana. Teriak-teriak aja diluar," ungkap Leo.


"Suruh masuk," titah Ben yang tiba-tiba ada di belakang Una.


"Kakak itu bener-bener tega ya sama aku," ucap Devi saat ia sudah duduk dihadapan Una dan Ben. Dewa, anaknya duduk disebelah Devi.


"Tega gimana sih? Kamu ke sini berdua aja? Ayah sama Ibu tau kamu ke sini?"


"Enggak, aku kabur. Sekarang aku perlu pekerjaan untuk menghidupi anakku. Apa kalian tidak bisa beri aku pekerjaan."


"Kalau kamu bekerja bagaimana nasibnya," ucap Ben menunjuk Dewa, "siapa yang menjaganya. Gaji kamu saat bekerja bisa jadi hanya cukup untuk biaya kontrakan dan makan saja. Ini Jakarta tidak seperti kehidupan kalian di kampung."


"Dimana ayahnya?" tanya Ben.


"Aku sudah bercerai, sudah lama. Ayahnya tidak pernah menafkahi Dewa."


"Aku bisa pastikan kamu bekerja di perusahaanku, sesuai dengan pendidikan kamu. Kamu bisa tinggal di salah satu apartemen milik Una." Ben berkata sambil melipat kedua tangannya di dada.


"Kamu punya apartemen kak?" tanya Devi.


Una menoleh pada Ben karena tidak paham maksud suaminya.


"Iya, semua apartement kita sudah aku balik nama atas nama kamu semua."


"Semua? Maksudnya kak Una bukan hanya punya 1 unit?"


"Bukan itu masalahnya," ucap Ben, "kalau kamu bersedia dengan yang saya tawarkan tadi, dia harus tinggal disini." Sambil menunjuk Dewa.


"Oke," jawab Devi cepat.


"Devi, kamu enggak kasihan sama Dewa mau tinggalkan dia?"


"Enggak, karena aku yakin disini dia akan aman dan malah bisa merasakan hidup mewah yang aku sendiri tidak bisa mewujudkan."


"Tapi __" ucapan Una terhenti saat Ben mencengkram lutut Una.


"Dewa, mau tinggal disini? Bareng Om dan Tante?"


Sedangkan bocah empat tahun itu hanya mengangguk pelan.


"Pendidikan, pengasuh dan lainnya akan aku yang atur kamu tidak boleh.terlibat, tapi kalau ingin bertemu atau mengajaknya main silahkan karena kamu memang ibunya," ujar Ben.


"Dewa kemarilah, kamu sudah makan?" tanya Una.


Dewa melirik ibunya dan menggelangkan kepalanya.


"Aku kabur Kak, manalah bawa perbekalan cukup," ucap Devi.


"Kemari sayang, makan bareng tante yuk," ajak Una lalu menggandeng tangan Dewa.


Ben sengaja meminjamkan apartement untuk Devi agar tidak tinggal bersama mereka, dia bisa memperkirakan akan masalah yang muncul jika mengijinkan adik iparnya tinggal serumah. Sedangkan Dewa, Ben ingin mendidik anak itu siap menghadapi kehidupan dan tidak memanfaatkan keadaan seperti orangtuanya.


to be continue


Haiiiii, jangan lupa jejak cinta ya. Tenang para pembaca, yang dilakukan Ben dalam rangka menghindari ular bulu, ulat keket bahkan ular phyton yang akan mengganggu rumah tangganya dengan Una.


_______________


Tinggalkan jejak cinta dengan memberikan like, komentar, favorite, vote dan bintang 5. Salam sayang dari Author 💖💖