Not A Sugar Baby

Not A Sugar Baby
Belum ada judul ( )



Arabela menghampiri meja Una, "Hai, apa kabar calon mantan kakak ipar?"


Una menoleh dan agak terkejut dengan kehadiran Arabela apalagi dengan ucapannya barusan. Leo sudah bersiap dengan segala kemungkinan untuk melindungi Aruna, khawatir dengan rencana jahat Arabela seperti sebelumnya.


"Arabela," ucap Una.


"Iya, ini gue. Kenapa? Kaget, geli banget gue lihat lo. Pura-pura lemah sampe pake dua orang bodyguard begini."


Una menarik nafas panjang, "Aku enggak pura-pura, semua ini Kakak kamu yang atur bukan kemauan aku" jawab Una.


"Wajarlah Pak Ben melindungi orang yang dicintainya, apalagi sebelumnya ada ular yang mencoba jahat. Saya juga enggak yakin kamu berani mendekati Aruna kalau ada Pak Ben," tutur Leo sambil melirik Arabela.


Arabela mendengus, "Berani juga nih orang," batinnya.


"Hai, Aruna," sapa Dean yang menghampiri meja tempat Aruna.


"Oh Mas Dean, ada disini juga?"


Arabela menoleh pada Dean dan menaikan alisnya seraya bertanya, "Kamu udah kenal Aruna?"


"Iya, tadi bareng Arabela" ucapnya.


"Owh iya kalian kan bersaudara, pastinya saling kenal ya,"


Dean melirik arloji di lengannya, "Sepertinya kita harus duluan, lain kali boleh dong aku berkunjung ke rumah?"


Una tersenyum, "Ya boleh dong, keluarga suamiku keluargaku juga." Una belum tau siapa Dean,


Dean mengangguk, senyum terbit di wajahnya.


"Ah, Arabela. Aku enggak paham statement kamu tadi. Aku dan kakakmu saling mencintai jadi jangan berharap kami akan berpisah. Lagian aku heran ya, kamu kok kayak yang suka sama kakak kamu sendiri. Apa enggak ada stok laki-laki lagi sampai menginginkan milik orang lain," tutur Una.


"Hfff," Firda tertawa ditahan mendengar kalimat Una.


Dean yang mendengar penuturan Una menatap wajah wanita itu, "Hmm, rupanya dia sangat mencintai Ben."


Arabela mencibir, "Jangan sombong kamu, kita lihat saja nanti. Ayo Dean," ajak Arabela.


Dean tersenyum dan mengangguk pada Una, lalu berjalan keluar dari tempat mereka saat ini berada.


"Itu adiknya Pak Ben?" tanya Firda. Una mengangguk.


"Kakaknya ganteng jadi inceran cewek-cewek, adiknya juga cantik. Itu keluarga Bapak Emaknya dulu model kali ya," canda Firda yang dijawab dengan tatapan aneh oleh Una dan Leo.


"Kenapa?" tanya Firda.


"Jangan terlalu memuji suami aku nanti kamu kepincut," ujar Una. Firda terbahak, "Cie cemburu," ledek Firda.


"Bukan cuma aku yang cemburu, lihat tuh," ucap Una sambil menunjuk Leo menggunakan dagunya. Firda menoleh ke arah Leo yang sedang menatapnya. Una hanya tersenyum melihat Firda yang salah tingkah.


Setelah menghabiskan makanan yang mereka pesan, Una menghidupkan ponselnya. Ternyata banyak pesan dan panggilan dari Ben. Una hanya mendengus kesal mengingat sebelumnya Ben yang mengacuhkannya.


Kemudian ponsel Una berdering, panggilan dari Ben. Una menghela nafas, bagaimanapun Ben adalah suaminya dan ia tidak boleh mengabaikannya. Juga Una sebenarnya rindu sangat-sangat rindu hanya ego mengalahkan logika.


Akhirnya ia menjawab panggilan dari Ben. "Halo."


"Sayang, syukurlah akhirnya kamu mau jawab juga."


"Hmm."


"Kamu dimana sayang? Bagaimana kondisi kehamilanmu, habis kontrol kan?"


Una mengingat apa yang tadi disampaikan oleh Dokter, bingung bagaimana menyampaikan pada Ben.


"Aku... Aku sibuk Bang, nanti saja telpon lagi."


Una mengakhiri panggilan dengan Ben. Menyandarkan punggung pada kursi, mengatur nafasnya sambil mengelus perutnya. "Sshhh," menahan nyeri karena gerakan kedua janinnya membuat rasa yang tidak nyaman dsn bentuk perutnya yang aneh.


"Ibu enggak apa-apa?" tanya Firda melihat ada yang aneh dengan Una apalagi dahinya kini berkeringat.


Una hanya menggeleng lemah, "Aku bayar dulu," ucap Leo. "Minum dulu, Bu." Firda menyodorkan gelar air pada bibir Una dan diteguk habis olehnya.


"Kita pulang, masih kuat jalan?" tanya Leo. "Bisa, jangan membuat kegaduhan ini ditempat umum," ujar Una. Saat di luar restaurant, ada undakan tangga untuk turun ke jalan dan parkiran.


"Sshhh," Una mencengkram kemeja Leo saat merasakan lagi gerakan di perutnya. Leo langsung menggendong Una dan melewati tangga menuju mobil yang sudah dibuka pintunya oleh Firda.


"Kita ke Rumah sakit?" tanya Leo sambil melajukan mobilnya. "Jangan, kita pulang."


"Loh, Ibu kesakitan begini. Sepertinya mau melahirkan ya?" ujar Firda.


"Ini cuma kram, kita pulang."


Sedangkan Ben setelah panggilannya diakhiri oleh Una menjadi tambah gusar.


"What, Sibuk, dia bilang sibuk." Ben bermonolog, walaupun di ruangan itu ada Gerry dan Ilham. Kedua orang itu hanya bisa mengedikkan bahu melihat atasannya yang menjadi kurang power dan wibawa saat dihadapi dengan persoalan Aruna. Satu kata, BUCIN.


Una merebahkan dirinya di ranjang, setelah mengganti pakaian dengan yang lebih nyaman. Rupanya kram yang dialaminya termasuk dalam laporan Leo pada Ben.


Ben yang baru saja mengakhiri rapat dengan para pemegang saham, membaca pesan dari Leo langsung panik.


Duduk pada kursi kerjanya dan mencoba menghubungi Una. Sekali tidak dijawab. Kedua kali belum dijawab. Ketiga kali terjawab tanpa suara.


"Aruna, sayang. Are You Okey." Ben berkata dengan seramah mungkin tanpa menunjukan kemarahan karena Una mengindahkan apa yang Ben sampaikan.


"Hmm, aku sedang istirahat Bang. Untuk apa Abang telpon, bukannya disana sibuk."


Ben menghela nafas, "Sabar, sabar," batinnya.


"Sayang, ...... Aku perlu mendengar penjelasan kondisimu saat ini."


"Aku baik, tadi hanya kram dan kontraksi palsu."


"Okey, kamu bilang mau kesini. Mau susul aku, aku minta Leo dan Firda atur dan persiapkan keberangkatanmu. It's okey jika kamu melahirkan disini."


"Ng-enggak."


"Enggak apa?"


Terdengar isakan Una, Ben mengusap wajahnya kasar. Belum bisa memahami keinginan istrinya saat ini.


"Aku alihkan video call."


Una yang saat ini bersandar pada headboard menerima video call dari Ben. Ia masih terisak, "Kenapa sayang? Katanya kamu mau ke sini."


Una menggeleng sambil masih terisak, "Enggak jadi."


"Kenapa?"


"Karena ...... Aku mau Abang cepat pulang." Kini isakan Una berubah menjadi tangisan.


Cukup lama Ben melakukan panggilan video dengan Una. Una yang sesekali menjawab dengan singkat atau hanya menggeleng dan mengangguk. Bahkan sesekali masih terisak, tidak ada terbit senyum selama mereka saling memandang.


Sungguh membuat Ben cukup frustasi dan Una tidak mengungkap hasil dari kontrol kehamilannya membuat Ben curiga. Ia menghubungi Leo untuk mencari tau hasil pemeriksaan Una hari ini.


"Fir, jaga bos lo ya. Gue ada tugas dulu. Reza gue minta stay. Hati-hati kalau dua orang tadi ke sini."


"Maksudnya Pak Dean dan Adiknya Pak Ben?" tanya Firda. "Memang mereka berbahaya ya?"


"Udah, nanti gue cerita detail. Pokoknya jagain Bu Bos," titah Leo.


Tidak mudah mendapatkan informasi kondisi pasien, berbekal Leo sebagai seorang yang terlatih untuk hal-hal seperti ini akhirnya ia siap menyampaikan hasil investigasinya pada Ben.


"Pak, hasilnya pemeriksaan Ibu, agak beresiko."


"Beresiko bagaimana?" tanya Ben via telpon dengan Leo.


#######


Hai,, para readers, terima kasih masih setia dengan kisah Neng Una dan Abang Ben, masih ada konflik-konflik gitu jadi belum aku tamatin. Mohon maaf kalau kemarin minta cerita aku tamatin, belum saatnya. Jaga kesehatan selalu dan setia menunggu kelanjutannya.


_______


Tinggalkan jejak cinta dengan memberikan like, komentar, favorite, vote dan bintang 5. Salam sayang dari Author 💖💖