Not A Sugar Baby

Not A Sugar Baby
Menghadiri Pesta (1)



"Aku, sudah tiga kali ini dipanggil ke sekolah karena Nessa kasar dengan temannya," ucap Una dengan posisi duduk miring di pangkuan Ben.


Ben hanya tersenyum, "Kamu tau siapa yang diganggu Nesaa?"


"Siapa?" tanya Ben sambil mencium pipi Una.


"Arka, putranya Clara. Alasannya karena Arka tidak mau menikah dengan Nessa," jelas Una.


"Apa? Menikah?" tanya Ben sambil tertawa.


Una menghela nafasnya, "Tidak usah khawatir sayang, itu hanya kenakalan anak-anak. Masih dalam batas wajar, cukup kita arahkan saja." Ben memainkan ujung rambut Una.


"Kita makan siang di mana?" tanya Una sambil bangkit dari pangkuan Ben, namun Ben mendudukannya kembali.


"Sttt, diam."


"Sayang, ihh. Nanti ada yang masuk, ini kita sedang di ruang kerja kamu," ucap Una. "Siapa yang berani masuk ke ruangan ku tanpa ijin. Paling dua bocah yang membuat kamu teriak-teriak terus."


Brakk


"Papih," teriak Nessa sambil berlari sedangkan Nevan berjalan biasa. Kharisma seorang Ben sudah terlihat pada diri Nevan. Una beranjak dari pangkuan Ben berpindah pada sofa.


"Papih, kita mau makan di mana?" tanya Nessa sambil naik ke pangkuan Ben. Sedangkan Nevan memilih duduk pada sofa disebelah Una.


"Kalian maunya di mana?"


"Aku mau pizza?"


"Enggak, aku mau yang berkuah." Nevan mulai fokus pada ponselnya.


"Lalu, kenapa mamih kalian dipanggil ke sekolah lagi?" Ben menggendong Nessa dan bergabung duduk pada sofa.


"Nessa Pih, bukan aku." Nevan menjawab masih fokus pada ponsel.


Ben menatap Nevan, "Harusnya kamu bisa mencegah, waktu Nessa akan melakukan kesalahan dan bisa melindunginya ketika ada teman kalian berbuat jahat."


"Kan yang jahat Nessa, Pih. Dia yang ikuti Arka kemana pun."


Nessa yang masih duduk pada pangkuan dan tangannya bergelayut di leher Ben menjawab, "Aku akan menikah dengan Arka, jadi harus ikut ke mana pun Arka pergi?"


Ben terkekeh mendengar ucapan Nessa, sedangkan Una hanya menggelengkan kepalanya. "Apa Dewa sudah ada yang jemput?"


"Dia ada les," jawab Una.


"Oke, kita berangkat sekarang."


"Pizza pizza pizza," sorak Nessa.


"Mih, aku enggak mau pizza ya."


Ben berjalan sambil menggendong Nessa sedangkan tangan kanannya merangkul bahu Una yang sedang menggandeng Nevan.


.


.


.


"Sayang, les yang diikuti Dewa apa tidak berlebihan untuk anak seusianya?"


Ben yang sedang bersandar pada head board dan fokus pada ponselnya menoleh ke arah Una, mau tidak mau ia harus mendengarkan apa yang istrinya keluhkan.


"Duduklah!" Ben menepuk ranjang di sebelahnya agar Una duduk bersamanya. Keluar dari walk in closet dengan menggunakan gaun tidur, lalu duduk disebelah Ben.


"Kenapa?" tanya Ben.


"Abang, ikutkan Dewa les bahasa inggris, bela diri dan les musik. Belum tambahan les di sekolah, apa tidak berlebihan. Aku khawatir dia tidak sanggup," ujar Una.


"Aku tau kemampuan anak itu, jangan khawatir aku dulu mengalami apa yang sedang dia jalankan. Pasti ada manfaatnya untuk masa depan dia. Aku harus pastikan anak-anak siap meneruskan apa yang sudah kita jalankan."


"Berhentilah terlalu khawatir, cukup dukung anak-anakmu. Kita pastikan mereka mendapatkan pendidikan terbaik."


"Hmm," ucap Una sambil menyandarkan kepalanya dibahu Ben.


"Kalau diingat, memang kita tidak pernah honey moon ya?"


Terdengar helaan nafas Ben, "Maafkan aku," ujar Ben. Una menegakkan kepalanya dan menghadap pada Ben. "Maaf kenapa?"


"Dari awal kita bertemu, aku memang sudah punya niat tidak baik. Sengaja memanfaatkan insiden saat kamu menabrak mobil aku," ungkap Ben.


"Memanfaatkan, gimana?" Una bertanya karena penasaran.


"Masalah perbaikan mobil itu sepele, aku hanya tertarik dengan gadis yang panggil aku Om dan cerewet sejak pertama kita bertemu." Una mengerjapkan matanya menunggu kelanjutan cerita Ben.


"Kamu tau sendiri, dulu aku sebrengsek apa, aku bisa bersama wanita walau tanpa cinta. Penasaran dengan seorang Aruna, sampai kamu berada dalam situasi untuk menerima tawaran one night stand denganku." Ben tersenyum.


"Tapi aku malah jatuh cinta pada gadis yang memberikan kehormatannya untuk aku, selanjutnya kamu tau seperti apa perjuangan ku mendapatkan dan mempertahankan seorang Aruna walaupun dengan cara yang salah." Ben memejamkan matanya saat dahinya ia tempelkan pada dahi Una.


Tiba-tiba Una merangkulnya dan terisak, "Hey, sayang. Kenapa ..."


"Pertemuan yang mengikat kita mungkin salah, tapi saat ini aku sangat bersyukur. Bertemu dengan Ben Candra yang memberikan aku kebahagiaan. Aku merasakan yang namanya dilindungi dan dihargai."


Ben menangkup wajah Una dan mendekatnya wajahnya untuk mellumat bibir yang sampai saat ini selalu menggoda untuk dieksekusi.


"Jadi, sudah siap untuk menambah Ben junior?"


"Hah, serius?"


"Kenapa enggak, persiapkan saja fisik kamu. Aku akan gempur tiap malam sampai dapat dua garis merah. Dimulai dari malam ini," Ben memulai aksinya dengan menelusuri tubuh Una seakan jalan panjang yang tiada akhir.


Menyapu dan mengu lum ujung puncak dada Una bergantian kiri kanan membuat sang pemilik tubuh membusungkan tubuhnya.


Penyatuan tubuh mereka membuat keduanya mende*sah bersahutan dan membuat suasana kamar menjadi panas begelora. Entah berapa lama dan berapa kali pelepasan yang dilewati, yang jelas Ben benar-benar memporsir tubuh Una.


"Udah, sayang. Capek," ujar Una dengan keringat di dahi dan nafas tersengal.


"Oke, terima kasih cinta. Kamu memang semakin menjadi candu." Memberi kecupan didahi Una lalu rebah di sisinya.


...~ *** ~...


Esok paginya seperti biasa, Una menyiapkan sarapan di bantu oleh bibi yang masih setia bekerja dengannya.


"Mamih, apa aku bisa bawa bekal ke sekolah?" tanya Dewa saat ia sudah duduk di kursinya. Tidak lama setelah Dewa tinggal dengan mereka Ben mengharuskan Dewa memanggil Una dan dirinya dengan sebutan yang sama dengan anak-anak mereka.


"Boleh, nanti Mamih buatkan."


"Besok saja Mih, tapi buatkan denga porsi lebih banyak." Walaupun agak aneh dengan permintaan Dewa namun ia mengiyakan.


Nessa dan Nevan bergabung di ruang makan, Una memperbaiki seragam yang dikenakan Nessa. "Sebentar sayang, ini belum benar posisinya."


"Nessanya enggak mau diam Bu, jadi enggak rapih-rapih," ujar baby sitter Nevan dan Nessa yang masih membantu mengurus kebutuhan si kembar.


"Nevan, habiskan susunya," ujar Una.


Ben baru saja bergabung, ia membelai kepala Nessa saat melewatinya. "Mamih, nanti pulang sekolah aku mau ke rumah Bunda ya," pinta Nessa.


"Jangan, nanti Bunda sibuk dengan kalian berdua."


"Mih, boleh ya Mih. Sudah lama Bunda enggak ke sini," ujar Nevan.


Bunda yang di maksud adalah Firda, sejak menikah dengan Leo memutuskan tidak lagi bekerja. "Tapi jangan nakal ya. Mbak, siapkan pakaian ganti untuk mereka."


Setelah anak-anak berangkat, Ben masih di meja makan. Menyesap kopinya, "Aruna, nanti malam ikut aku. Ada undangan dari salah satu rekan bisnis."


"Pesta?"


"Hmm, aku berangkat," ucap Ben, "habiskan sarapanmu."


Setelah memastikan Ben sudah pergi, Una bergegas masuk ke ruang kerja Ben. Meraih kartu undangan di atas meja kerja Ben, "Apa undangan pesta ini ya?"


_______________


Tinggalkan jejak cinta dengan memberikan like, komentar, favorite, vote dan bintang 5. Salam sayang dari Author 💖💖