
"Aruna," panggil Ben. Sejak ia masuk ke dalam mobil, Una menyandarkan kepalanya pada kaca mobil di sebelahnya.
"Hmm," menjawab dengan mata terpejam.
Ben mendekatkan tubuhnya pada Una, memainkan pipi Una dengan menekan menggunakan telunjuknya. "Abang, ihhhh." Una akhirnya menegakkan tubuhnya.
"Bicara, jangan pakai kode atau ngambek. Aku enggak ngerti." Ben merangkul Una, "Aku enggak ngambek kok."
'Cuma rasanya pengen makan orang' batin Una
"Ini kenapa wajahnya enggak enak dilihat?"
'Habis lihat wajah mantan mana enak lihat wajah istri''
"Enggak ada Bang, cuma enggak nyaman aja," jawab Una. Ben menghela nafasnya, "Lebih cepat Pak," titah Ben pada supirnya.
"Siap pak."
"Sepertinya kamu harus dapat hukuman," bisik Ben ditelinga Una.
Dua hari berada di Bandung, selain bersilaturahmi dengan orangtuanya juga sebagai moment libur weekend anak-anak. Dewa juga bisa melepas rindu dengan ibunya.
Saat bertemu dengan Una dan Ben, Devi tidak se ekstrim seperti sebelumnya. Terang-terangan menyampaikan keinginannya menjadi nyonya Candra.
Una sudah tidak ambil pusing dengan Bu Fatma yang memang sejak dulu membuatnya serba salah. Yang jelas Una aelalu berusaha menjadi anak yang berbakti, bagaimana pun Bu Fatma adalah wanita yang merawatnya sejak Ayah Una menikah dengan Fatma.
Kembali pada aktifitas rutinnya sebagai seorang ibu dan seorang istri, Una menjalankannya dengan penuh cinta.
Namun Ben merasa ada sesuatu pada Una, yang terkadang membuat pendamping hidupnya itu murung.
Drt drt drt
Una memandang layar ponselnya menampilkan panggilan dari nomor yang tidak dikenal.
"Halo." Una akhirnya menjawab.
"Halo, cantik. Apa aku mengganggumu?"
Una mengernyitkan dahi, sambil menjauhkan ponselnya dari telinga lalu kembali melihat nomor telpon yang masuk.
"Sangat mengganggu, karena saya tidak mengenal anda."
Terdengar suara terbahak.
"Maaf sepertinya anda salah sambung."
Una mengakhiri panggilan telponnya.
Tidak lama ponselnya kembali bergetar dan menampilkan nomor yang sama dengan yang tadi. Una tidak menjawab malah menolaknya.
'Kita sudah dua kali bertemu, di acara Lena dan rest area'
Una membaca pesan yang mengingatkannya pada Gema asisten Lena rekan bisnis Ben.
"Ck, mengganggu saja," ucap Una lalu memblokir kontak tersebut.
Tidak lama kembali pesan masuk, namun kali ini pengirimnya adalah Ben.
'Aku tunggu disini, kita makan siang bersama, just you and me'
Una tersenyum membaca pesan dari Ben, walaupun sudah lebih dari lima tahun berumah tangga namun pesan cinta, panggilan sayang dan sentuhan mesra selalu membuat hubungan mereka hangat dan berwarna seakan baru saja jatuh cinta.
'Oke, sayang.'
Balas Una.
Mengenakan wrap dress berwarna dusty dan wedges berwarna senada dengan rambut digerai dan membawa clutch. Una telah tiba di lobbi, berjalan menuju lift yang akan mengantarkan ia menuju lantai tempat Ben berada.
Saat tiba di depan ruang Ben, Nora menyampaikan bahwa Ben sedang rapat dengan rekan bisnismya.
"Aku tunggu di sana saja ya," ucap Una menunjuk sofa ruang tunggu. Una membuka ponselnya, memastikan anak-anaknya sudah dijemput dari sekolah dan membuka media sosialnya.
Ilham akan masuk ke ruangan Ben dengan beberapa map ditangannya. Saat melihat Una, "Loh, Bu Aruna mau bertemu Bapak?" tanya Ilham.
"Iya, beliau yang minta aku ke sini."
"Ditunggu saja dulu, rapatnya agak lama. Padahal sudah dari tadi," ujar Ilham. "Tidak apa, saya tunggu di sini" sahut Una.
Ilham masuk ke dalam ruangan, duduk di sebelah Ben sambil menyerahkan map yang ia bawa. "Pak, ada Ibu Aruna di luar."
"Iya, aku yang minta dia ke sini," jawab Ben. Setelah melanjutkan kembali rapat kerja sama dan mendapatkan solusi untuk kedua belah pihak, rapat pun berakhir. Ben dan Bian mengantarkan tamu mereka sampai keluar dari ruang kerja Una yang ternyata adalah Lena dan Gema.
Una sudah berdiri dan menghampiri saat melihat pintu dibuka, senyum yang terpatri di wajahnya tiba-tiba hilang melihat Gema yang juga menatap ke arahnya.
Ben yang melihat perubahan wajah Una menjadi curiga, "Hai sayang, " sapa Ben sambil merangkul pinggang Una.
"Baiklah, kami permisi dulu, bertemu lagi saat tanda tangan kontrak kerjasama," ucap Lena menyalami Ben, Bian juga Una. Begitu pula Gema, namun saat bersalaman Una segera menarik kembali tangannya.
"Kosongkan jadwal ku sampai sore," titah Ben pada Nora setelah Una masuk ke dalam ruang kerjanya.
"Baik, Pak."
Una berbalik, kini mereka berhadapan, "Cerita apa?" Ben memgedikkan bahunya. "Enggak ada," ucap Una lalu menuju sofa, menghindar dari Ben.
"Kita jadi makan siang,?" tanya Una sebelum ia duduk.
"Jadi, ayo," Ben mengulurkan tangannya.
.
.
.
"Loh, kok kita ke Hotel?" tanya Una saat mobil yang dikendarai Ben memasuki pelataran salah satu hotel di Jakarta, "kita kan mau makan siang?" Una menoleh pada Ben.
"Ya makan siang di sini," jawab Ben.
Setelah menikmati makan siang di restaurant hotel tersebut, Ben yang menggenggam tangan Una menuju resepsionis dan mengambil access card.
"Abang, ini ada apa sih? Kenapa kita bukan keluar malah naik," tanya Una saat mereka berada dalam lift.
"Ikuti saja," ujar Ben.
Kunci pintu terbuka, saat Ben menempelkan kartu akses pintu kamar yang dituju, "Masuklah." Ben membuka pintu dan membiarkan Una masuk lebih dulu. Setelah menghidupkan lampu dan pendingin ruangan lalu mengunci pintu. Ben duduk pada sofa yang tersedia.
Ia juga sudah melepas jas dan dasinya. "Kemarilah," pinta Ben. Una yang hendak duduk direngkuh oleh Ben akhirnya duduk pada pangkuan suaminya dengan posisi duduk miring. "Apa yang membuatmu sering murung, ceritakan!"
Una menatap wajah Ben.
"Cerita apa?"
"Atau kamu mau aku selidiki, kamu tau aku akan bersikap bagaimana jika ada seseorang mengganggu atau menyakiti milikku." Ben sudah mencurigai sesuatu namun ia belum yakin.
"Jangan," ujar Una dengan wajah murung. "Kalau begitu ceritakan!"
Una masih diam.
5 detik
10 detik
15 detik
Mereka masih dalam posisi belum berubah.
30 setik
"Aruna!" Dengan suara sedikit tinggi.
"A-aku tidak nyaman dengan rekan bisnis Abang," ucap Una. Ben menghela nafasnya, "Yang mana?"
"Yang baru saja rapat dengan Abang," Una berucap lirih namun masih didengar oleh Ben.
"Lena?" Una menggeleng.
"Lalu?" tanyanya lagi.
Una membelai wajah Ben, lalu memeluknya. "Aruna," panggil Ben. "Kita belum selesai bicara."
"Jadi siapa yang membuatmu tidak nyaman?"
"Gema," ucap Una. Ben mengurai pelukan Una, "Apa yang ia lakukan hingga kamu tidak nyaman?" Ben sudah menampakan wajah garang.
"Aruna, jawab!"
"Aku tidak suka tatapan matanya, ia pernah pegang tangan aku," jawab Una.
"Kapan?"
"Waktu di pesta."
"Apa lagi?" tanya Ben.
"Dia tadi telpon aku, tapi sudah aku blokir kontaknya."
"Lalu, apalagi? Mana lagi yang sudah ia sentuh."
Una menggelengkan kepalanya, tapi tatapan matanya tersirat kebohongan.
"Jangan bohong padaku," sahut Ben.
"Pe-peluk, waktu aku akan jatuh dia peluk aku Bang." Wajah Ben semakin tidak bersahabat.
to be continue
lanjut silaturahmi \=\=>ig : dtyas_dtyas
_______________
Tinggalkan jejak cinta dengan memberikan like, komentar, favorite, vote dan bintang 5. Salam sayang dari Author 💖💖