Not A Sugar Baby

Not A Sugar Baby
Calon Mantan Kakak Ipar



"Ponselnya sudah aku buang, bilang sama bos kamu enggak usah hubungi aku lagi." Ben disebrang panggilan mendengar dengan jelas apa yang Una sampaikan. Lalu Una meninggalkan ruangan dan Leo dengan raut wajah bingung.


"Mau pulang, mau tinggal selamanya disana terserah. Kemarin-kemarin aku diabaikan terus sekarang minta aku hidupkan ponsel, malas banget," batin Una.


"Leo, apa maksudnya. Kenapa dia marah-marah begitu. Ck, aku mau bicara dengannya."


"Enggak bisa Bos."


"Kasihkan ponsel ini pada Una."


"Sudah masuk kamar dikunci pula."


"Arghhhh."


Ben mengakhiri panggilannya.


"Bu, katanya ada ta__" ucapan Firda terhenti saat melihat Leo ada di depan pintu kamar Una.


Mereka saling menatap, Leo berjalan menghampiri Firda. Firda yang gugup melangkah mundur hingga punggungnya menempel pada dinding.


Leo menjulurkan kedua tangannya disamping lengan Firda membuat gadis itu tidak dapat berkutik.


Leo semakin mendekatkan tubuhnya hingga wajah mereka sangat dekat, Firda menoleh ke arah berlainan karena hembusan nafas Leo terasa dipipi Firda.


"Lain kali jangan turuti segala kemauan majikanmu tanpa melaporkan pada Big Bos," ucap Leo lalu melangkah mundur dan menyentil dahi Firda.


"Auwww," jerit Firda.


"Kemana lo, sampai ada tamu yang ditemui Nona Aruna lo enggak dampingi."


"Aku dari belakang, tadi kan Bu Una sedang sarapan. Jadi aku tinggal sebentar," jawab Firda, "sejak kapan kembali ke Jakarta?" tanyanya.


"Kenapa? Kangen."


"Heran, jadi orang kepedean banget sih," ucap Firda.


"Owh, terus yang waktu itu kirim pesan nanyain posisi dan kabar gue siapa ya?" Leo bertanya namun mengejek Firda.


Firda mencibir, "Wajarlah nanya begitu, biasanya bentar-bengar ngeselin tau-tau menghilang."


"Berarti bener dong loe kangen sama gue?"


"Enggaklah, malah seneng enggak ada yang bawel bin galak kayak kamu. Dunia terasa aman dan damai."


"Owh, gitu. Padahal tadinya gue mau obatin kangen lo ke gue," ujar Leo.


"Obatin gimana ?"


"Adalah," jawab Leo. Firda lalu memukul lengan Leo, "Pasti pikirannya mesum," ujar Firda.


"Yang mesum itu bikin enak Fir, mau bukti gak?"


"Dasar gila, ogahhh. Sorry ya, sama kamu mah enggak level."


"Level lo yang kayak gimana? punya pacar juga enggak. Tungguin Nyonya Bos lagi ngambek dia, gue mau cek cctv,"


Sedangkan Ben serasa frustasi karena kemarahan Aruna, "Shitttt," ucap Ben sambil menyugar rambutnya.


"Bu, tadi Pak Ben telpon. Mau bicara sama Ibu," ucap Firda hati-hati saat Una berada dimeja makan untuk makan malam.


"Kalau dia hubungi kamu lagi, bilang aku sibuk."


Firda menoleh pada Leo, sedangkan Leo hanya mengedikkan bahunya.


Arabela yang sudah tiba di Jakarta, mencari tau alamat tempat tinggal Ben yang baru dengan mendatangi kantor.


"Maaf mbak, saya tidak bisa berikan kecuali atas ijin Pak Ben. Mbak silahkan hubingi dulu pak Ben," titah Nora sekretaris Ben.


"Saya itu adiknya Ben Chandra pemilik Perusahaan," jawab Arabela.


"Maaf Mbak, saya hanya menjalankan perintah."


Arabela pergi dengan kekesalan, lalu mengirimkan pesan pada Dean.


Dean


Hotel, Carikan aku apartement!


"Huhhh, bukan bantu cari Aruna malah suruh-suruh, aku," batin Arabela.


...~***~...


"Bu, cuma mau periksa aja kan? Enggak minta rekomendasi? tanya Firda saat mengantarkan Una ke Rumah Sakit.


"Rekomendasi?" tanya Leo sambil mengemudi.


"Bu Aruna mau minta surat rekomendasi layak terbang dari dokter. Mau menyusul Pak Ben ke Singapur," jawab Firda.


Una hanya memandang keluar melalui kaca jendela mobil. Leo menghela nafas, dia sudah mendengar hal ini dari Ben. "Ini perempuan sifatnya keras juga, ngambek tapi mau nyusul. Dasar bucin," batin Leo.


Telah berada di ruang dokter, sendiri tanpa ditemani suami membuat Una terlihat semakin muram.


Dokter menggeser alat usg pads perut Una yang telah dioles gel, pada layar tampak dua janin yang sedang bergerak aktif.


"Hay, dijenguk bunda nih. Sehat ya, beratnya juga normal untuk ukuran bayi kembar. Tapi ...." dokter menggeser kembali alat usgnya.


"Kenapa dok?" tanya Una.


"Salah satu janin terbelit tali pusar," ucap Dokter.


"Berbahaya Dok?" tanya Una.


"Oke, saya jelaskan ya. Suster, dibantu turun dulu ya."


Una duduk di depan meja dokter, mendengarkan penjelasan dokter.


"Ini hanya 1 kali lilitan, mudah-mudahan bisa terlepas ya, minggu depan kita kontrol lagi ya Bu. Ini juga tekanan darahnya cukup tinggi, banyak istirahat dan jangan stress," nasihat Dokter pada Una.


"Kalau saya akan bepergian naik pesawat apa boleh Dok?"


Dokter tersenyum, "Saya bisa memberikan surat layak terbang jika kondisi ibu hamil sehat. Namun untuk Ibu Aruna yang umur kehamilan sudah masuk 35 minggu dengan janin kembar dan kondisinya seperti yang tadi saya sampaikan, sebaiknya Ibu tidak usah melakukan perjalanan jauh."


Una keluar ruangan dokter dengan raut kecewa, entah kecewa karena tidak mendapatkan surat untuk dia menyusul Ben atau kondisi kehamilannya.


Bahkan saat menunggu Firda mengantri obat dan vitamin, Una terlihat melamun.


"Ada yang mau dituju lagi, Bu?" tanya Firda, saat mobil yang dikemudikan Leo sudah meninggalkan area rumah sakit.


Una menatap sekitar, "Ancol, aku mau ke pantai sekalian makan seafood," ajak Una.


Leo memarkirkan mobilnya di salah satu kawasan pantai ancol. Una berjalan ditemani Firda, sedangkan Leo memgikuti dari belakang.


"Hmm, aku suka bau khas laut dan hembusan angin walaupun agak terik ya," ucap Una sambil menarik nafas panjang. Menatap jauh ke laut lepas, paling tidak bisa menentramkan hatinya.


"Ada pantai yang lebih indah loh Bu," ujar Firda.


"Tapi jauh," jawab Una.


Leo mengambil foto Una dan mengirimkan pada Ben sebagai informasi ada di mana mereka saat ini. Ia juga mengambil foto Firda tanpa diketahui, tersenyum saat melihat hasilnya.


Berjalan menyusuri dermaga jembatan cinta dengan pemandangannya yang cukup menarik. Una sempat tertawa lepas saat dirinya dan Firda saling berbalas canda.



Kini mereka berada di restaurant seafood yang cukup terkenal di kawasan tersebut. Memesan beberapa menu yang menggugah selera.


Di tempat yang sama dengan meja yang berbeda Arabela yang melihat kehadiran Aruna tersenyum simpul, "Wow, lihat itu. Padahal kemarin aku mencari alamatnya seperti dirahasiakan, tapi ternyata takdir berpihak pada Arabela dia ada di sini."


Dean yang berada di hadapan Arabela menoleh ke arah pandangan Arabela, senyum terbit di bibir pria itu tidak menyangka akan bertemu kembali dengan sosok wanita yang menurutnya menarik.


Arabela menghampiri meja Una, "Hai, apa kabar calon mantan kakak ipar?"


Una menoleh dan agak terkejut dengan kehadiran Arabela apalagi dengan ucapannya barusan. Leo sudah bersiap dengan segala kemungkinan untuk melindungi Aruna, khawatir dengan rencana jahat Arabela seperti sebelumnya.


_______


Tinggalkan jejak cinta dengan memberikan like, komentar, favorite, vote dan bintang 5. Salam sayang dari Author 💖💖