
Meraba tasnya untuk mencari ponsel namun Gema segera menarik tas Una. Menggeser duduknya kini ia menempel pada pintu mobil karena Gema semakin mendekatkan tubuhnya.
"Sebaiknya lepaskan aku," pinta Una.
"Sebentar sayang, kita bermain dulu." Menarik pinggang Una hingga mereka kita berhadapan. "Aku bilang lepas."
"Ssstttt."
Bughhhh
“Ahhhh,” Gema kesakitan karena perutnya ditendang Una. “Minggir atau aku tendang yang lainnya.”
“Aahhh ini sakit sekali. Apa sekarang kamu belajar bela diri,” Gema mengaduh sambil memegang perutnya.
Una berdiri meraih sentral lock namun ditahan Gema dan didudukan kembali, “Dengar dulu, aku bukan bermaksud menyakitimu. Aku hanya ingin minta maaf.”
Una melepaskan tangan Gema yang ada di pinggangnya, “Hah, minta maaf?”
“Iya, aku merasa sangat bersalah waktu tau kamu keguguran, tapi Aruna aku bukan hanya ingin membalas perbuatan Ben tapi jujur aku penasaran sama kamu. Perempuan yang menolak aku, entah memang obsesi, menyukai atau hanya mencari tantangan. Aku berfikir Ben akan melepaskan kamu saat aku berani menyentuh tubuhmu,” Gema terkekeh. “Ternyata kalian malah semakin mesra. Bahkan aku ingin bertemu dengan alasan minta maaf lewat pengacara pun ditolak oleh Ben.”
Una memejamkan mata dan menghela nafasnya, “Bisa kau buka pintunya, aku harus pergi. Perbuatanmu ini walaupun dengan judul penyesalan tetap saja kriminal. Aku tidak tau apa yang akan Ben lakukan jika tau kamu berani menyentuhku lagi. Apa rusaknya mobilku juga perbuatan kalian?”
“Okey, tenanglah. Tapi aku serius, jika kamu dan Ben ada masalah lalu kalian...”
“Tidak, tidak akan pernah. Itu Cuma ada di pikiran gila kamu.”
Gema berdecak, “Kalau ada lagi perempuan seperti kamu, aku ...”
“Tidak ada, aku limited editon and the only one. Cepat buka pintunya,” teriak Una.
“Perempuan dimana-mana sama, galak.”
“Laki-laki, dimana-mana sama, bajing*n.”
“Hey, suamimu juga laki-laki,” ujar Gema.
Una mengeram, “Cepat buka pintunya,” jerit Aruna.
Gema membuka pintu mobil di sebelahnya, lalu ia turun dari mobil mempersilahkan Una untuk turun juga. “Jangan pernah coba temui aku lagi,” ucap Una.
Gema hanya mengedikkan bahu, “Aku tidak janji, sayang.” Lalu menyerahkan tas Una yang tadi ia rebut.
“Dasar gilaaaa!”
Una bergegas pergi mencari lokasi Reza memarkir mobilnya.
Dengan sedikit berlari, ia mendudukkan badannya dan terengah saat berada tidak jauh dari Reza yang memperhatikan mobil dengan kaca pecah dan ban yang kempes.
“Za – Reza,” panggil Una.
Reza menoleh, “Loh Ibu habis berlari?”
“Aku salah lantai,” ucapnya bohong. “Info security, CCTVnya mati Bu. Jadi kita tidak bisa tau siapa yang melakukan ini.”
Una melihat sekeliling, “Za, bisa kita pulang aja. Ini diurus nanti, aku ingin pulang.”
“Baik Bu.”
Akhirnya ia meletakan kembali ponselnya lalu membersihkan diri. “Mamihhh,” panggil Nessa saat Una berada di walk in closet.
“Iya,” jawab Una.
“Mamih aku mau ke mall, aku mau main di Time Zon*.”
“Aku juga Mih,” ujar Nevan.
“Aku juga,” seru Dewa. Ketiga anaknya sudah berada di kamar Una.
“Tidak hari ini ya, Mamih lelah.”
“Yahhhhh,” ucap ketiga anaknya serempak.
Nessa naik ke ranjang lalu melompat lompat seperti melompat di trampolin, “Mamih di rumah aja, kita perginya sama Om Leo.”
“Iya betul,” ucap Dewa.
“Tidak sayang, Papih kalian tidak akan ijinkan.” Una merebahkan dirinya diranjang, matanya seakan tidak bisa diajak kompromi untuk terpejam. Seluruh tubuhnya lemas seakan tidak memiliki tulang. “Ma mih perlu is ti ra hat,” ucap Una setengah sadar.
“Mamih sepertinya sakit ya?” ucap Nessa.
“Ya sudah, kita ke mallnya lain kali aja,” ucap Nevan. Lalu ketiga anak itu meninggalkan kamar Una.
Saat malam tiba, Una mengerjapkan matanya. ia meraih ponselnya di atas nakas dan terkejut saat melihat banyak panggilan tak terjawab dari Ben serta pesan masuk yang juga dari Ben. Lebih terkejut lagi saat melihat jam sudah menjelang malam.
Ia bangun duduk dan, “Abang,” ucapnya melihat Ben yang duduk pada sofa menatap ke arahnya dengan melipat kedua tangan di dada. “Maaf aku ketiduran, jadi tidak dengar panggilan telpon. Abang sudah makan malam? Mau aku temani?” Una bergegas turun dari ranjang.
“Diam!”
Una pun diam di tempat sesuai titah Ben, melihat ekspresi wajah Ben ia tau suaminya ini sedang marah. Ben berdiri, lalu mendekat pada pada Una dan mendudukkan kembali istrinya pada pinggir ranjang, sedang ia sendiri masih berdiri.
“Aruna, aku sebisa mungkin untuk melindungi kamu dan anak-anak. Bahkan jika perlu, kamu harus selalu ada di sisiku agar aku bisa lihat langsung apa yang sedang kami kerjakan dan kamu alami. Tapi mengapa kamu belum percaya denganku,” ungkap Ben.
“Maksudnya? A-ku belum paham,” tanya Una.
“Kejadian hari ini, adalalah ulah Gema.”
Jantung Una berdetak lebih kencang, dia khawatir jika Ben akan marah dan berbuat nekat lagi.
“Walaupun CCTV dirusak, tapi CCTV yang ada dimobil sekitar menayangkan bahwa itu memang anak buah Gema. Bahkan sampai kamu dibawa mereka pun, kamu tidak bercerita. Aku butuh penjelasan,” ucap Ben lalu duduk kembali di sofa.
follow ig author ya : dtyas_dtyas
atau fb : dtyas auliah
_______________
Tinggalkan jejak cinta dengan memberikan like, komentar, favorite, vote dan bintang 5. Salam sayang dari Author 💖💖