Not A Sugar Baby

Not A Sugar Baby
Lepaskan Aku



Ilham menuju ruangannya namun tidak mendapati Devi disana, Ilham sedang membuat jobdesk khusus sekretaris Ben yang baru saat Devi datang.


"Dari mana kamu? Kerja hilang-hilangan mulu."


"Yaelah ditinggal bentar aja udah kangen," ejek Devi membuat Ilham menoleh.


"Kerja yang bener jangan aneh-aneh. Kamu mau aku laporkan pada Pak Ben, paling juga dijadikan Office Girl."


"Aku cuma dari pantry bukan ngilang," Devi kembali ke meja kerjanya.


Saat jam makan siang, Ben, Ilham dan Bian masih berada dalam ruang meeting dengan rekan bisnisnya. Nia pun sudah memesan makan siang, artinya mereka akan lama berdiskusi.


'Aku makan di kantin ya?'


Pesa dikirim oleh Una.


'Tidak usah, sudah dipesankan makanan. Kamu makan duluan, sepertinya aku masih lama.'


Nia memberikan nasi box pada Una yang sedang duduk pada kursi meja Ben. Nia menatap Una lalu bertanya, "Kamu siapa sih, kenapa ada di ruangan Pak Ben?" tanya Nia pada Una dengan tangan dilipat di dada.


Una tertawa, "Kenapa enggak tanya langsung ke Pak Ben."


"Aku sedang bertanya kepadamu." Nia mencekal lengan Una. "Singkirkan tanganmu atau aku minta kamu dipecat hari ini juga." Nia mengernyitkan dahinya, "Sombong sekali kamu."


"NIA!!"


Nia menoleh pada Ilham yang berada di pintu, "Lepaskan tanganmu." Nia melepaskan lengan Una, "Sebenarnya dia siapa Pak?"


"Dia istri Pak Ben Candra." Nia terlihat terkejut, "Karena kamu masih baru aku memaklumi kebodohanmu," ujar Una.


"Pak Ben ingin Ibu tetap menunggu dan pulang dengan beliau," ujar Ilham. Una hanya menggangguk.


Saat Ben mengakhiri pertemuannya dan kembali ke ruangan, ia tidak menemukan Una di sana tapi pintu kamar rahasianya tidak tertutup rapat.


Ternyata Una tertidur, Ben menutup pintu dari dalam, melepaskan aepatunya dan menaiki ranjang berbaring disamping Una. Tangannya mulai aktif menelusup dibalik dress yang dikenakan Una, bahkan mere_mas salah satu dada Una. Membuat pemiliknya menggeliat dan terbangun.


Una membalik tubuhnya, "Sudah selesai?" Ben mengangguk dengan tangan masih menelusuri dan menyentuh beberapa titik sensitif Una.


"Kita pulang ya, kasihan anak-anak nanti cari aku." Ben membuka resleting dress Una, "Setelah ini kita pulang."


"Abang, ini dikantor," ucap Una yang telah polos tanpa sehelai benang pun namun Ben masih lengkap dengan kemeja dan celana panjangnya. Ben memainkan salah satu puncak bukit yang membusung indah membuat pemiliknya menggigit bibir bawahnya, lalu Ben mengu_lum ujung puncak lainnya.


Puas bermain di kedua da da Una, Ben membuka gerper dan menurunkan celananya. "Aku masuk sayang," dan "Arghhhhh." Tubuh Una menggelinjang, Ben tersenyum melihat Una yang memejamkan mata menikmati sentuhan Ben. Tubuh Ben bergerak dan salah satu tangannya memainkan puncak dada Una.


Ben sengaja menggerakan pelan tubuhnya, membuat ia mengerang. Entah berapa lama ia melakukan hal itu hingga Una memekik dan menegang menandakan ia telah mencapai kenikmatam surga dunia.


Ben tersenyum ia mempercepat gerakannya lalu mengerang panjang dengan wajah menengadah. Lalu rebah di sisi Una dengan nafas terengah. "Rasa kamu masih sama, sayang. Nikmatttt," ucap Ben sambil terpejam. "Abang, jangan tidur. Ayo pulang." Una menepuk pipi Ben.


"Iya, aku bangun." Ben menaikan celananya dan merapihkan pakaiannya. Sedangkan Una sedang berapa di kamar mandi membersihkan sisa percintaannya.


"Ayo," ajak Ben. Ia merangkul pinggang Una, jasnya dipegang Una sedangkan dasinya berada dalam kantong celana.


Saat melewati meja sekretarisnya, Nia mengangguk namun wajahnya menatap heran pada Una. Ben dengan sengaja membuat tanda cinta di leher Una, dan cukup terlihat.


...~***~...


Waktu berlalu, Ben semakin disibukkan dengan perusahaannya. Bahkan sesekali ia ke Surabaya, perusahaan cabang miliknya.


Una yang sampai saat ini belum kembali hamil setelah keguguran, namun bukan persoalan bagi Ben walaupun awalnya dia menginginkan kembali memiliki anak.


"Jangan jadikan beban, kamu masih muda sayang. Nikmati saja, aku akan berusaha kebih keras," ucap Ben sambil tersenyum.


"Hmm, minta Reza mengantar."


Setelah mengantar kepergian anak-anak sampai mobil dengan segala pesan dan nasihat yang rutin ia ucapkan, juga memberikan kecupan semangat kerja untuk Ben. Namun Ben yang merasa kurang malah menarik pinggang Una dan memagut lebih dalam dan panas.


"Abang, ihhh." Una kembali merapihkan jas yang Ben kenakan. "Aku ada rapat dengan investor, hubungi Ilham jika aku tidak menjawab."


"Hmm."


Menjelang siang, Una sudah siap dengan mengenakan dress, wedges dan sling bagnya. "Bik, nanti anak-anak pulang langsung suruh makan siang ya. Kalau Dewa agak sorean jangan lupa jusnya."


"Baik Bu."


"Mbak, anak-anak pastikan tidur siang," titah Una pada kedua baby sitter si kembar.


Sesuai dengan rencananya, Una pergi ke salah satu mall di Jakarta. Tidak lupa ia mengirimkan pesan pada Ben bahwa ia sudah berangkat bersama Reza.


Setelah tiba di Mall, berjalan sepanjang koridor pertokoan, Reza mengikuti dari belakang. Tidak lama terdengar pengumuman lewat pengeras suara informasi yang menyebutkan nomor polisi mobil yang bermasalah di parkiran. Una menoleh pada Reza karena nopol yang disebutkan adalah mobilnya. "Saya cek dulu, Ibu tunggu sini."


"Oke, saya di toko itu."


Una memasuki salah satu toko kebutuhan anak-anak. Ia tersenyum melihat pernak pernik anak perempuan seusia Nessa. Ponselnya terasa bergetar.


"Halo Za."


"Bu, ini kaca mobil pecah dan bannya kempes. Sepertinya sengaja. Ibu dimana biar saya susul."


"Enggak usah, biar saya aja yang ke sana."


"Baik Bu."


Una berjalan menuju pintu keluar yang mengarah ke basement.


"Aruna!!" Merasa namanya dipanggil, Una menghentikan langkahnya dan menoleh. Ia terkejut dengan sosok pria yang memanggilnya. "Bukannya dia masih dihukum, kenapa sudah berkeliaran," batin Una. Orang yang memanggil Una adalah Gema, Gema yang sebelumnya sedang menjalani masa hukuman.


Una melangkah mundur, "Hei tenang saja. Kamu pikir aku akan lakukan apa ditempat umum begini."


"Aku sudah bebas, kau tau Ayahku punya pengaruh cukup kuat. Baru kali ini aku dinyatakan bersalah karena wanita yang menolakku," ujar Gema sambil tertawa. "Selalu ada yang pertama, bersiaplah nanti ada wanita-wanita yang membalaskan dendamnya," ungkap Una.


Gema terkekeh, kemudian ia memberi tanda dengan tangannya. Dua orang yang terlihat kekar dan tinggi membawa Una. "Lepassss."


"Sebaiknya anda jangan memberontak," ucao salah satu orang suruhan Gema yang memperlihatkan senjata dibalik jaketnya.


Una dibawa ke basement, dan berontak saat dimasukan ke dalam sebuah mobil dengan kaca yang gelap. Kedua orang itu menunggu di luar dan masuklah Gema.


Meraba tasnya untuk mencari ponsel namun Gema segera menarik tas Una. Menggeser duduknya kini ia menempel pada pintu mobil karena Gema semakin mendekatkan tubuhnya.


"Sebaiknya lepaskan aku," pinta Una.


"Sebentar sayang, kita bermain dulu." Menarik pinggang Una hingga mereka kita berhadapan. "Aku bilang lepas."


"Ssstttt."


follow ig author ya : dtyas_dtyas


atau fb : dtyas auliah


_______________


Tinggalkan jejak cinta dengan memberikan like, komentar, favorite, vote dan bintang 5. Salam sayang dari Author 💖💖