
Selamat Membaca ⚘
__________
Una mengira setelah Ben bangun maka akan kembali ke mode sebelumnya tapi ternyata tidak. Entah masalah pelik apa yang dihadapi perusahaan sampai Ben sedingin ini.
"Abang," panggil Una hati-hati.
"Hmm," jawab Ben yang sedang memakai jasnya lalu mengantongi dasinya. Biasanya ia meminta Una yang memasangkan dasinya.
"Semalam aku ketiduran jadi enggak tunggu Abang pulang," Una mendekat ke arah Ben.
"It's oke," jawab Ben lalu berlalu. Saat melewati Una ia hanya mengusap pucuk kepala Una. Una tidak menyerah, ia mengikuti Ben keluar dari kamar.
"Abang mau sarapan apa?"
"Tidak usah, aku ada janji pagi ini. Sekalian breakfast di kantor."
"Minum Kopi dulu atau teh?"
"Aku sudah terlambat." Ben lalu berjalan kearah pintu dan keluar dari apartement.
Una masih berdiri termangu menatap pintu yang baru saja dilewati Ben. Mengingat-ingat apa kesalahan yang sudah ia perbuat hingga menyebabkan Ben marah dan diam seperti ini.
Tanpa disadari oleh Una, ia sejak tadi melamun. Sampai asisten rumah tangga datang pun ia tidak menyadarinya.
"Non, Non Aruna."
"Ehh, iya Bik." Una menoleh, "Non jangan melamun, saya mau masak non Aruna mau dimasakin apa?"
"Hmm, apa aja Bik," jawab Una lemah. "Non bekum sarapan ya? Kok pucat."
"Ehh iya Bik, saya belum makan. Loh sudah siang ya kirain masih jam delapan. Buatkan aku susu dan roti selai saja Bik."
Setelah menghabiskan susu dan rotinya Una kembali ke kamarnya, bersandar di headboard lalu memukul pelan bantal yang ada di pangkuannya.
Pertahananya runtuh, Una akhirnya menangis. Yang awalnya hanya terisak kini ia menangis.
***
Alan membawa Clara bertemu orangtuanya, rencana membawanya kemarin gagal karena Clara yang mual muntah parah.
Duduk di sofa ruang tamu, menunggu orangtua Alan. "Hey, rileks aja sih. Gugup amat," ucap Alan menggoda Clara.
"Kalau mereka tidak suka aku?"
"Tenang aja, mereka baik kok. Pasti kamu diterima dengan baik," Alan yang duduk di samping Clara merangkul bahu wanita itu.
"Ehemm," Ayah dan Bunda Alan bergabung di ruang tamu lalu duduk di sofa bersebrangan dengan Alan dan Clara.
Clara berdiri dan menyapa, "Selamat Pagi Om dan Tante, aku Clara."
"Duduklah Nak," ucap Bunda Alan. Clara pun duduk kembali, Alan tampak senyam senyum melihat Clara yang gugup.
"Kamu serius cinta dengan anak saya?" tanya Ayah Alan pada Clara. Clara dan Alan saling menatap lalu beralih menatap ayah Alan.
"Ayah," ucap Alan.
"Karena anak saya ini pengecut, menghamili anak orang bukannya tanggung jawab malah uring-uringan tidak jelas." Bunda Alan tersenyum mendengar perkataan suaminya.
Alan bersandar pada sofa dan berdecak, "Enggak usah buat malu aku di depan Clara dong Yah."
"Bagaimana Nak Clara?"
"Saya," Clara melirik Alan. "Iya Om, Tante saya cinta dengan Alan. Gaya hidup kami salah, jadi tolong restui kami agar bisa memperbaikinya."
"Tunggu-tunggu, bisa diulang enggak. Mau aku rekam," canda Alan yang dijawab dengan pukulan di lengan oleh Clara.
"Jadi, kapan kami bisa bertemu dengan orangtuamu?" tanya Bunda Alan. "Sebenarnya papih sudah menunggu Alan, dia sangat marah waktu mengetahui kehamilan aku."
"Ya sudah, kamu atur pertemuan kami."
Clara mengangguk, "Terima kasih Om, Tante."
Alan dan Clara sudah berada dalam mobil yang dikemudikan Alan, "Kamu mau diantar ke mana?"
"Hmm, itu kan biasa kalau wanita hamil tiba-tiba ngantuk. Lagipula kamu harus banyak istirahat."
.
.
Una terbangun setelah terlelap sehabis menangis. Melangkahkan kakinya menuju diapenser karena merasakan dahaga.
"Sudah bangun Non, mau langsung makan ?"
"Nanti dulu Bik, aku cuma haus."
"Firda," panggil Una. "Iya." Firda yang berada di balkon menyampaikan informasi tentang Una pada Ben.
"Iya bu," jawab Firda.
"Hubungi Bang El, setelah makan siang aku mau pergi. Panggil aja ke sini kita makan dulu."
Una mengenakan maternity dress selutut dengan lengan pendek, flat shoes dan sling bag.
"Kita mau ke mana Bu," tanya Firda. "Ke mana aja dari pada suntuk."
Una mengarahkan Leo untuk menuju salah satu mall yang ada di Jakarta. Una berjalan bersisian dengan Firda sedangkan Leo mengikuti dari belakang.
Hari ini adalah hari kelahiran Una, bahkan suaminya pun tidak ingat. Apalagi sedang dalam mode cuek yang Una sendiri tidak tau kenapa. Dari pada sedih lebih baik dirinya bersenang-senang.
Pindah dari toko yang satu ke toko lain, Una berbelanja kebutuhannya. Tanpa ia ketahui, Ben yang memang sudah mendapatkan info kemana Una pergi juga dapat tau apa saja yang dibeli oleh Una karena notifikasi penggunaan kartu yang diterima oleh Ben. Ben hanya tersenyum saat tau ke mana uangnya mengalir karena dipakai Una berbelanja.
"Ini disimpan ke mobil dulu ya?" ujar Leo menunjuk banyak paper bag yang ia dan Firda bawa.
"Oke, nanti aku tunggu disitu." Una menunjuk ice cream store.
Sedikitnya hati Una terobati, tidak terlalu merasakan kesedihan. Di saat hari kelahirannya, bahkan orang yang spesial dihatinya pun malah cuek. Paling tidak hari ini bisa ia lewati dengan senyuman walau tidak dengan orang yang diharapkan.
Efek dari berkeliling untuk berbelanja hari ini adalah lelah, dengan perut yang cukup berat karena sedang mengandung anak kembar dan telapak kaki sedikit bengkak.
Sampai di apartement Una mengguyur tubuhnya dengan air hangat, tubuhnya terasa lebih segar. Mengenakan baby doll dress selutut, Una membuka ponselnya berharap ada panggilan atau pesan dari Ben. Namun sia-sia, ternyata tidak ada satu pesan pun.
Duduk bersandar pada headboard ranjangnya, sambil memijat pelan telapak kakinya yang terasa pegal.
Firda sudah diminta olehnya pulang, karena ia tidak berencana ke mana pun. Mengusap pelan perutnya yang sejak tadi terasa pergerakan. "Sabar ya sayang, kalau Papih kalian masih cuek aja besok kita pulang ke Bandung. Kita tinggakan aja papih sendiri, biar kesepian."
Sudah jam tujuh lewat namun Ben belum ada pulang, Una yang sedang mode ngambek enggak menghubunginya. Walaupun ia khawatir dengan keadaan Ben yang sampai saat ini belum pulang juga.
Entah jam berapa, pintu kamar Una diketuk membuatnya yang tadi terlelap bangun untuk melihat siapa yang masuk ke apartemennya.
"Firda," ucap Una. "Maaf Bu, sepertinya ibu harus ikut kami," ujar Firda menoleh pada Leo dengan wajah bingung.
"Ada apa? Kenapa kalian belum pulang?"
"Sebaiknya ibu ganti pakaian setelah itu kita berangkat," jawab Firda.
"Berangkat kemana ? Ini ada apa sih ?" tanya Una karena semakin penasaran.
"Cepat bu, nanti kami jelaskan dalam perjalanan."
Setelah mengganti pakaiannya, Una dan Firda turun ke lobby yang sudah ditunggu oleh Leo. Leo mengemudikan mobil dengan hati-hati, Firda duduk dibelakang bersama Una.
"Ini sebenarnya kita mau kemana dan ada apa?" Una kembali bertanya, karena sejak tadi tidak ada yang menjelaskan.
"Hmm, begini Bu. Kami dapat informasi bahwa Pak Ben berada di suatu tempat sejak tadi siang namun belum ada keluar."
"Kenapa harus bawa aku, team kalian kan banyak masa iya mengeluarkan Ben aja enggak becus," kata Una.
"Masalahnya, Pak Ben berada di hotel Bu."
"Apaaaa!"
__________
Tinggalkan jejak cinta dengan memberikan like, komentar, favorite, vote dan bintang 5. Salam sayang dari Author 💖💖