Not A Sugar Baby

Not A Sugar Baby
Extra Sabar



"Tidak, aku tidak akan minta maaf. Lihat saja, suatu saat kak Ben akan menyadari bahwa yang aku sampaikan itu benar."


"Arabela!!


Ara pergi meninggalkan apartement, "Sudahlah Ben, Ara biar jadi urusan Ibu. Kamu fokus pada rencanamu saja."


Sesuai rencana, Ben menuju Bandung ditemani Bian, Ilham dan supirnya. Sedangkan Huda sudah lebih dulu berangkat.


Awalnya ayah Una kecewa mendengar penjelasan Huda mengenai keadaan adiknya. Juga bersedih karena lalai dan tidak bisa menjaga putrinya.


Pertemuan yang judulnya lamaran dan penetapan rencana pernikahan itu pun selesai dengan kesepakatan pernikahan Ben dan Una minggu depan di adakan di Bandung sedangkan resepsi diadakan di Jakarta.


Sebelum pulang ke Jakarta, mereka bertemu dengan EO yang akan mengurus rencana pernikahan Ben agar tidak merepotkan keluarga Una. Bertempat di salah satu resto, pertemuan itu berlanjut dengan Bian bermaksud menyampaikan hal yang cukup serius.


Mereka baru saja menyelesaikan makan siang yang tertunda, Ben yang memakai kemeja digulung sampai siku dan melipat tangannya di dada.


"Ada informasi bahwa beberapa hari yang lalu, ada seseorang yang mengunjungi penculik Nona Aruna di Lapas. Juga setelah di kroscek cctv kejadian di Bali, orang yang mencampurkan obat pada minuman nona Aruna masuk ke salah satu kamar beberapa jam sebelum kejadian."


Ben masih menyimak mendengarkan laporan dari Bian.


"Ternyata pengunjung lapas dan orang yang ditemui di hotel saat di Bali adalah orang yang sama."


Bian menunjukan foto CCTV dari penjelasannya. Ben menghela nafas melihat wajah orang dalam foto-foto tersebut.


"Ilham, awasi terus pergerakan Arabela. Hubungi Leo, pastikan keselamatan Aruna," titah Ben.


Rencana pernikahan Ben dan Aruna sudah pasti membuat Arabela semakin gusar. Seperti saat ini, Arabela dan ibunya bertemu di salah satu caffe. "Ara sayang, sudahlah kita sebaiknya kembali ke Singapur. Masih ada bisnis ibu yang bisa kita jalani, Ben juga mengijinkan kamu bergabung di perusahaan. Sebagai seorang kakak dia sudah memikirkan untuk masa depanmu."


"Tidak bu, dia bukan kakakku. Kami bersaudara karena pernikahan ibu dengan ayah Kak Ben, kini ayah sudah sudah tidak ada kami bukan saudara lagi. Jadi aku berhak mendapatkan kak Ben, karena aku mencintainya."


"Arabela, Ben akan menikah. Jangan kamu jadi pengganggu, lagi pula Ben tidak mencintaimu dia menyayangimu layaknya seorang adik."


"Kak Ben akan memilih aku Bu, aku akan berusaha untuk menyingkirkan siapapun yang merusak kebahagianku."


"Jangan Ara, itu salah. Ibu tidak ingin kamu tersesat, hanya kamu milik Ibu."


"Ibu sebaiknya diam, kalau tidak bisa bantu aku lebih baik ibu kembali." Arabela berdiri lalu meninggalkan ibunya.


"Arabela," panggil Ibu sambil menitikan air mata.


***


Pagi ini Ben sudah berada di rumah Huda, memegang dahinya karena sejak ia duduk wanita disampingnya terus saja mengoceh dan memohon agar tetap diperbolehkan bekerja.


"Om, please. Aku bisa jaga diri, kerjaanku banyak Om. Paling enggak sampai Pak Bara dapat pengganti aku."


Ben menatap Una, wajah yang dibuat semenggemaskan mungkin agar Ben mengabulkan permohonannya.


Rena yang menyaksikan hal itu hanya menggelengkan kepala.


Akhirnya dengan terpaksa Ben mengabulkan permintaan Una. Una duduk disebelah Ben yang sedang mengemudi, "Jangan memaksakan diri, jika sudah lelah segera istirahat. Ingat, kamu sedang hamil dan ini kenapa kamu pakai celana seperti ini ?"


"Iya, kenapa dengan celanaku?" Una yang saat ini mengenakan celana panjang berwarna putih dan blouse biru langit dilengkapi flatshoes, merasa tidak ada yang salah dengan penampilannya.


"Perutmu apa tidak terjepit dengan celana itu, kasihan anak-anakku."


"Ini karet om, jadi aman." Una mengangkat sedikit blousenya menunjukan celana dengan pinggang karet yang dia kenakan, tanpa disadari menampilkan pula perut dan pinggangnya.


Ben mengalihkan pandangan ke depan fokus kembali pada kemudinya, sungguh penampakan barusan sangat mengganggunya.


"Arghhh."


"Kenapa ?"


"Karena kamu," jawab Ben.


"Kok aku sih."


Mobil yang dikemudian sudah terparkir, segera melepas seat beltnya lalu melepaskan seat belt milik Una dan mendekatkan tubuhnya pada Una. Ben meraih tengkuk Una dan memagut bibir yang sudah disapu lipstick. Sungguh Ben merasa terhanyut dalam pagutan tersebut, namun menyadari tempatnya saat ini berada ia pun melepaskan pagutannya.


Tangan kiri Ben menggenggam jemari tangan kanan Una sedangkan tangan kanannya ia masukan pada kantong celana. Berjalan melewati lobby, banyak pasang mata yang menatap ke arah mereka. Sapaan dan anggukan yang disampaikan para karyawan saat bertemu Ben.


"Pak, enggak enak dilihat orang," bisik Una.


"Hm, kamu calon istri aku. Tidak ada yang perlu ditutupi."


"Tapi___"


"Selamat pagi pak, Nona Aruna," sapa Bian pada Ben dan Aruna.


"Hmm."


"Pagi, pak Bian," jawab Una.


Lift berhenti di lantai ruang kerja Una, "Ingat pesanku," ucap Ben.


"Siap Bos."


Una menuju meja kerjanya, "Na, gimana ? Kening loe oke-oke aja kan ?" tanya Abil.


"Mbak Una, kita kaget loh waktu dengar ada insiden itu, terus kelanjutannya gimana mbak ?" Tanya Rahmi. Juga pertanyaan dari rekan-rekan lainnya.


"Jadi begini teman-teman, saya baik-baik saja. Hanya luka kecil," Una menunjuk dahinya yang masih diplester.


"Tidak ada kelanjutan apapun, karena ini hanya salah paham."


"Oke, semua kembali ke tugas masing-masing, Aruna ikut ke ruangan saya." Pak Bara yang baru datang memberi arahan.


"Baik pak."


Una mengikuti Pak Bara menuju ke ruangannya.


"Saya sudah mendapat perintah dari Pak Bian, untuk mengusulkan pengganti kamu pada HRD. Tapi saya minta sebelum ada pengganti kamu tetap bekerja seperti biasa."


"Siap Pak."


Una kembali ke meja kerjanya, mengerjakan tugas yang selama beberapa hari ini ia tinggalkan. Duduk beberapa jam dengan fokus mata pada layar komputer membuatnya lelah. Apalagi saat ini ia sedang hamil, keluhan-keluhan yang ia rasakan cukup mempengaruhi konsentrasinya.


Menjelang jam istirahat, Una sudah tidak sabar ingin merebahkan tubuhnya. Ia menuju ruangan Ben, untuk istirahat di kamar pribadi milik Ben.


"Mbak Nora, Pak Ben ada di dalam?"


"Ada Mbak, sedang bersama Pak Bian. Silahkan masuk saja Mbak."


Una membuka pintu setelah mengetuknya, Ben yang sedang berdikusi dengan Bian menoleh pada Una. "Hey, kemarilah," ujar Ben sambil melihat arloji di pergelangan tangannya.


"Kita diskusikan kembali setelah makan siang."


"Baik pak," jawab Bian. "Permisi nona Aruna."


Una hanya mengangguk, Ben mendekat lalu memeluk pinggang Aruna. "Mau makan siang di mana ?"


"Aku capek Om, mau rebahan. Punggung ku pegal."


Una sudah terbaring di ranjang, "Aku sudah bilang tidak usah ke kantor, tapi kamu maksa. Bagaimana kalau pengaruh ke___"


"Ish berisik aku mau tidur dulu sebentar, nanti bangunkan aku ya."


"Kita makan dulu sayang, sudah waktunya__"


Ben menghela nafas, melihat Una yang sudah memejamkan matanya. 'Sepertinya harus ekstra sabar sampai beberapa bulan ke depan,' batin Ben.


________


Hayyyyyy, seperti biasa, jangan lupa goyangkan jarinya


Lope lope buat para pembaca💖💖💖💖